
Mobil yang ditumpangi oleh Cia Yonggan dan Xiao Meilin berjalan pelan membelah jalan tanah di sepanjang arah ke kediaman Cia Yonggan. Di luar hujan disertai angin kencang mulai turun. Sesekali terlihat kilat di langit menyambar-nyambar disertai guruh.
Ini merupakan perjalanan pertama Xiao Meilin ke lereng Gunung Mangdang, tak heran dia lebih fokus memandang ke luar jendela. Dia hanya dapat menikmati pemandangan lahan pertanian dengan tanaman dalam pekatnya malam. Semakin kesini semakin jarang ditemui rumah-rumah petani di sepanjang jalan ini. Dan sesekali juga mereka melewati hutan kecil. Pemandangan disini benar-benar asri, membuat siapa saja akan merasakan rileks sejenak dari hiruk pikuk perkotaan.
Sementara Cia Yonggan semakin mendekati kediamannya, dirinya malah merasa berdebar-debar. Ini sama dengan perasaan saat dia pulang begitu mendapat kabar akan kematian kedua orangtuanya lima tahun silam. Kala itu pun dia merasakan debaran yang sama seperti saat ini. Hal ini membuat dia menjadi gelisah.
Rasa gelisah ini mulai dia rasakan tak lama setelah mobil ini berpapasan dengan sebuah mobil dari arah berlawanan. Itu adalah mobil berjenis crossover. Meski ia tak dapat melihat orang di dalam mobil itu, namun sekilas semua orang di dalam mobil Xiao Meilin ini dapat mendengar suara umpatan dan makian laki-laki dari dalam mobil itu. Sepertinya orang di dalam mobil itu melampiaskan kemarahannya di sepanjang jalan ini. Bahkan pengemudi itu dapat dikatakan tengah mengalami gangguan kejiwaan atau sedang terpengaruh alkohol karena mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan tanah yang licin ini dan hampir menyerempet mobil SUV yang ditumpangi Cia Yonggan.
"Apakah orang itu sudah gila?" pria yang duduk di samping kemudi bertanya gemas sambil melirik kaca spion untuk memastikan mobil yang berselisih barusan baik-baik saja.
"Ck ck ck.. Orang itu seperti dikejar setan saja," seloroh pria yang mengemudikan mobil sambil geleng-geleng kepala.
Bagi orang lain di mobil ini mungkin terlihat biasa saja, namun tidak dengan Cia Yonggan. Sepengetahuannya, penduduk di sekitar sini umumnya memiliki mobil jenis pick up truk baik single maupun double cabin, karena lebih memudahkan bagi mereka yang merupakan petani untuk mengangkut hasil pertanian mereka.
"Pengemudi tadi pastilah bukan orang sini," pikir Cia Yonggan.
Dia merasakan ada yang tidak beres dengan pengemudi tadi itu. Dadanya berdesir seperti mendapat firasat buruk, tapi entah hal apa.
Apakah Gao Mei Gui masih menantikan kedatangannya, ataukah dia sudah pergi? Dalam hatinya harap-harap cemas dan berdo'a semoga gadis itu baik-baik saja.
"Kalaupun dia orang sini, ada keperluan apa sehingga harus terburu-buru seperti itu?" pikirnya lagi.
"Yonggan, apakah kediaman mu masih jauh?" Xiao Meilin tiba-tiba bertanya kepada Cia Yonggan.
Cia Yonggan yang tengah melamun itu sedikit tersentak. Dengan pelan dia menyahut.
"Tidak jauh lagi, Cici. Biasanya kalau cuaca sedang bagus, paling dari sini hanya sekitar seperempat jam," Cia Yonggan berusaha menutupi kegelisahannya.
"Baguslah," Xiao Meilin menyahut. Lalu dia menyambung. "Oh ya, Yonggan, sepertinya aku menyukai suasana di pedesaan ini. Kelak apakah aku dapat berkunjung kesini lagi?"
"Ah, tentu, Cici. Kamu bisa datang dan pergi kapan saja," Cia Yonggan menjawab sekedarnya.
Kemudian hening. Semua orang di dalam mobil itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya suara lantunan musik yang terdengar pelan mengiringi perjalanan mereka.
__ADS_1
Di luar hujan semakin deras. Kilat dan petir beserta angin juga semakin terasa lebih intens dari sebelumnya. Pepohonan di hutan kecil di depan sana terlihat bergoyang semakin kencang akibat dihembus angin kencang. Rumah Cia Yonggan hanya terletak sekitar 5 kilometer setelah melewati hutan kecil ini.
Tepat saat mereka melintas di hutan kecil ini, dari arah depan terlihat sebuah mobil jenis SUV berjalan dengan pelan. Saat kedua mobil mereka berselisih, tiba-tiba dari langit datang petir menyambar dahsyat.
"Blar...!!!"
"Krak..! Kaboooom..!!
Petir itu menyambar sebatang pohon yang menyebabkan pohon itu tumbang ke arah jalan. Sedikit saja terlambat, maka kedua mobil itu dipastikan akan ringsek ditimpa pohon tersebut. Beruntung pohon itu jatuh di jalan tepat di belakang kedua mobil yang berselisih itu. Hanya saja pohon tumbang itu menimpa kabel listrik yang tentu akan memutus aliran listrik ke kediaman Cia Yonggan.
Petir itu juga mengagetkan keempat orang di dalam mobil Xiao Meilin
"Hampir saja!" pengemudi Xiao Meilin berseru.
"Ngeri, terlambat sedikit saja kita pasti kena," menimpali pula pria di samping pengemudi itu.
"Mobil itu tidak apa-apa, kan?" sambung sang sopir lagi sambil melirik kaca spion.
Sementara Cia Yonggan dan Xiao Meilin hanya diam saja mendengarkan komentar kedua orang pembantu Xiao Meilin itu. Mereka hanya saling menatap sejenak.
Cia Yonggan tentu saja mengkhawatirkan Xiao Meilin, biasanya seorang gadis akan merasa terkejut yang berlebihan begitu mendengar suara petir, apalagi petir barusan sempat menyambar sebatang pohon dan hampir menimpa mereka. Namun Xiao Meilin yang dikhawatirkan terlihat tenang-tenang saja.
Yang tak diketahui Cia Yonggan, sebenarnya Xiao Meilin tadinya kaget setengah mati dan sempat telonjak dari duduknya dan sempat akan melompat ke pelukan Cia Yonggan yang berada di sampingnya. Namun beruntung pikirannya terkontrol dengan baik sehingga dia dapat mengendalikan tubuhnya dengan cepat. Kalau tidak, tentu dia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Cia Yonggan dan kedua orang bawahannya. Sebagai orang terpandang, dia harus tetap menjaga wibawa dan karismanya di depan orang banyak, khususnya di mata para bawahan.
Tak lama berselang, Cia Yonggan berseru. "Itu rumah ku sudah terlihat, di sebelah kiri."
"Ah, aku melihatnya, Tuan," kata sang sopir.
"Sepertinya listrik disini padam," gumam pria satu lagi saat melihat tiada penerangan di rumah Cia Yonggan saat ini.
"Iya, gelap. Mungkin karena pohon tumbang tadi, aliran listrik jadi padam," sopir menimpali.
Cia Yonggan semakin merasa berdebar. Apabila Gao Mei Gui masih menunggunya disini, tentu gadis itu kini berada di tengah-tengah kegelapan seorang diri saja. Dia merasa kasihan kepada kekasihnya itu.
__ADS_1
Begitu mobil berhenti, tanpa mematikan mesin mobil, kedua pria di depan dengan payung di tangan masing-masing buru-buru membukakan pintu bagi Cia Yonggan dan Xiao Meilin. Cia Yonggan setelah keluar dari mobil, langsung dipapah oleh salah seorang bawahan Xiao Meilin.
Menyadari orang akan membantu memapahnya berjalan, Cia Yonggan menepis tangan pria itu dengan halus sambil berkata. "Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri.
"Tapi, Tuan. Anda..." pria itu tetap berusaha ingin memapah Cia Yonggan.
Cia Yonggan lantas berjalan ke depan diiringi sang pria yang memayunginya. Dirinya sedari melihat rumahnya merasa heran, debaran di dadanya semakin terasa kencang. Rumahnya saat ini sedang gelap karena putus aliran listrik, hanya diterangi sorot lampu mobil saja. Tapi yang menjadi tanda tanya, mengapa pintu rumahnya tidak tertutup? Mengapa pintu rumah itu terbuka begitu saja? Apakah Gao Mei Gui lupa menutup pintu dan ketiduran.
"Kita sudah sampai. Cici, kamu tunggu disini sebentar," seru Cia Yonggan yang diiyakan oleh Xiao Meilin.
"Kalian tunggulah di dalam mobil. Tapi tetap nyalakan lampu untuk penerangan," kata Xiao Meilin memerintah kedua bawahannya.
"Baik, Nona," jawab kedua pria itu hampir berbarengan.
Cia Yonggan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah tak seterang cahaya di luar, namun cukup baginya untuk menerangi jalan ke dalam.
"Mei Gui," dia memanggil pelan.
Hening. Tiada yang menjawab.
Cia Yonggan meneruskan langkahnya dan berseru. "Mei Gui, aku pulang."
Kembali tiada orang yang menjawab.
Cia Yonggan jadi penasaran. Kemana Gao Mei Gui? Mengapa dia tak menyahut?
"Mei Gui!"
Terus menyeret langkah, dia membuka pintu kamar. Cahaya di kamar ini tidak terlalu gelap, hanya samar saja. Dengan lampu penerangan mobil di depan, seharusnya di kamar ini lebih gelap lagi. Namun tidak demikian dengan kamar ini. Di kamar ini memiliki cahaya temaram yang cukup baginya untuk mengetahui tak ada orang di dalam kamar. Dia telah pergi. Gadis itu tak lagi disini.
"Mei Gui, maafkan aku, aku telah salah meninggalkan mu sendiri," dia berkata pelan menyesali diri lalu menutup kembali pintu kamar itu.
Satu hal yang tak disadari oleh Cia Yonggan, begitu pintu kamar itu ditutup, cahaya di dalam kamar itu terasa lebih terang daripada saat pintu itu terbuka. Sekarang cahaya itu terkumpul menjadi satu di dalam kamar, tak lagi menyebar keluar. Cahaya tersebut berasal dari lantai di sudut kamar itu. Setidaknya cahaya pada lantai itu berukuran panjang dua meter dan lebar satu meter.
__ADS_1