
"Byur..!!"
Cia Yonggan tersadar dari pingsan setelah seember air dingin dengan telak menyembur wajahnya. Seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkan dia.
Hal pertama yang dia lihat adalah lantai tempat dia saat ini berdiri. Tidak, dia tidak berdiri, lebih tepatnya tangannya digantung orang pada sebuah besi di atas kepalanya, kakinya menjuntai di udara, sejengkal dari permukaan lantai beton itu. Satu-satunya yang menyangga tubuhnya saat ini adalah ikatan tali pada kedua tangannya yang mulai mati rasa, sepertinya dia sudah cukup lama digantung pada posisi begibi sehingga tulang lengannya terasa seperti hampir lolos dari tubuhnya.
Cia Yonggan mendongakkan kepalanya namun sebuah lampu sorot yang sengaja diarahkan padanya membuat matanya terasa silau.
"Ugh.." dia melenguh pendek.
"Hahaha.. Bangun juga kamu rupanya," kata seseorang di depannya sambil tertawa lantang.
Cia Yonggan menyipitkan matanya untuk bisa melihat jelas siapa orang yang berdiri di depannya itu. Setelah dia mulai terbiasa dengan sinar yang menyilaukan matanya, dia mulai dapat melihat wajah orang itu samar-samar.
Dia merupakan seorang pemuda yang kira-kira sepantaran dengan Cia Yonggan, atau mungkin sedikit lebih muda. Saat dia perhatikan lebih jauh, pemuda itu sangat mirip dengan Wei Chung.
"S... S... Siapa kamu?" dia bertanya ragu karena belum pernah melihat pemuda itu sebelumnya.
"Apakah kamu benar-benar sudah lupa pada ku?" pemuda itu malah balik bertanya.
"Aku tidak pernah melihat mu sebelumnya. Pasti ada kesalahpahaman di sini," kata Cia Yonggan lirih.
"Salah paham kamu bilang?" pemuda itu langsung menyarangkan kepalan tinjunya ke perut Cia Yonggan dengan keras.
"Bugh..!!"
"Uhuk uhuk uhuk uhuk..!!"
Cia Yonggan terbatuk-batuk akibat pukulan pemuda itu yang tepat bersarang di ulu hatinya, terasa begitu ngilu. Untuk sesaat dia sulit bernafas karenanya.
"Kamu telah berani mendekati Gao Mei Gui, sekarang kamu mengatakan salah paham?" kembali pemuda itu melayangkan pukulan.
Kali ini bukan hanya tangannya yang bekerja, tapi dia juga menyelingi dengan beberapa tendangan ke tubuh Cia Yonggan, membuat tubuh Cia Yonggan terayun-ayun di udara karena tangannya masih terikat ke atas.
Cia Yonggan mulai mengerti, pemuda di depannya ini kemungkinan besar adalah pengagum kekasihnya, Gao Mei Gui, makanya begitu cemburu kepadanya. Kalah bersaing dalam urusan percintaan tidak musti harus membalas dengan cara menyekap dan menyiksa orang, bukan?
Pemuda itu terus-menerus memukuli Cia Yonggan, menyebabkan tubuh orang yang dia jadikan sasaran kemarahan itu berputar semakin cepat, diameter ayunan tubuh Cia Yonggan pun menjadi semakin lebar, yang membuat pemuda itu semakin sulit menargetkan tubuhnya.
Namun sebaliknya, bagi Cia Yonggan ini malah menjadi sebuah peluang. Dia melihat pemuda itu sulit menjangkau tubuhnya yang terayun kadang mendekati pemuda itu, kadang juga menjauh darinya.
Kesempatan itu dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dia menjulurkan kedua kakinya yang tak terikat dan menendang dada pemuda itu menyebabkan sang empunya terjengkang ke belakang.
"Akh..!!" pemuda itu menjerit kaget karena tak menduga akan mendapatkan serangan balasan dari lawan yang sudah terikat.
"Kaparat!! Kamu berani-beraninya?" katanya penasaran sambil berusaha bangkit.
"Hahaha...!! Lihatlah putra mu itu, Tuan Wei. Bahkan dia tak bisa memukuli orang yang sudah terikat dengan benar, sebaliknya ditendang orang sampai jatuh begini. Hahaha..!!" terdengar seseorang tawa mengejek pemuda itu dari kegelapan yang tak tersorot oleh sinar lampu.
"Kamu!!" diejek begitu, pemuda itu mendelik marah kepada si pengejek.
"Wei Heng, cukup! Kamu mundur," terdengar lagi suara seseorang dari kegelapan itu.
"Tapi, ayah..." katanya berusaha membantah.
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian. Mengurus ini saja tak becus! Membuat malu saja!" bentaknya lagi.
Pemuda itu tak mampu lagi mendebat orang itu. Dia berdiri dan berjalan ke arah kegelapan dengan muka ditundukkan. Menggemaskan sekali, mau memukul orang tapi malah dia yang kena dihajar. Belum lagi orang sialan itu, datang-datang langsung menertawakan dia.
"Sial," dia hanya bisa mengutuk di dalam hati.
"Nyalakan lampu ruangan ini," kata orang yang tertawa tadi memberikan perintah.
Tak lama lampu di ruangan itu menyala, sebaliknya lampu sorot yang mengarah pada Cia Yonggan tadi dimatikan, membuat ruangan di sini menjadi terang-benderang.
Cia Yonggan dapat melihat ruangan ini cukup luas, hampir seluas lapangan basket, di dinding terdapat berbagai ragam senjata tajam.
Ruangan ini hanya memiliki satu pintu. Di depan pintu itu berdiri tiga orang pria sedang berdiri menghadap ke arahnya. Orang pertama adalah Wei Chung, orang kedua adalah orang yang pernah dia pergoki tengah melakukan pengeroyokan terhadap mendiang pemimpin Hei Laohu yang lama, Gao Li Liang atau yang disebut oleh Wei Chung sebagai Master Mo. Dan orang yang ketiga adalah pemuda yang tadi memukulinya, pemuda itu adalah putranya Wei Chung.
Kini Cia Yonggan semakin terang akan duduk perkara. Ternyata aksi penculikan terhadap dirinya dikomandoi oleh Wei Chung. Pria yang disebut sebagai Master Mo itu tentu saja yang membekinginya. Dan putra Wei Chung itu, disini selain untuk ikut campur urusan ayahnya, juga sekalian ingin melampiaskan kekesalannya karena merasa kalah bersaing merebut hati Gao Mei Gui.
Di sekeliling ruangan ini juga berdiri setidaknya belasan pria berpakaian preman. Orang-orang inilah yang tadi pagi menghadang dan mengeroyoknya.
"Plok plok plok..!!"
Terdengar Mo Kat bertepuk tangan sambil berjalan mendekati Cia Yonggan yang tergantung.
Begitu dia sudah tiba di harapan Cia Yonggan, dia berkata. "Masih bisa memukul orang saat terikat begini, kamu benar-benar berbakat."
"Ah, tak disangka kita berjumpa lagi di sini," kata Cia Yonggan berusaha terlihat setenang mungkin, dia tak ingin lawannya memandang dia sebagai orang penakut.
"Hahaha...!!! Bagus bagus, kamu memang punya nyali tak sedikit, pantas menjadi menantu orang bermarga Gao itu," katanya lagi.
"Hehehe.. Terima kasih atas sanjungan mu, orang bermarga Mo," Cia Yonggan sedikit menimpali sambil melirik ke arah Wei Heng, yang tentu saja membuat pemuda itu hanya bisa menggertakkan giginya.
"Kita masih mempunyai pertarungan yang tertunda, bagaimana menurut mu kita harus menyelesaikannya?" terdengar lagi Mo Kat bertanya.
Cia Yonggan sudah tak punya pilihan lain. Dia sadar apa yang dikhawatirkan oleh Hao Zhao ternyata benar adanya, orang-orang ini takkan mau melepaskan dirinya begitu saja. Dia hanya punya satu pilihan, harus bertarung, meski akhirnya dapat dipastikan dialah pihak yang akan kalah.
"Pertarungan di antara dua pria hanya akan dilakukan secara jantan," dia menekankan kata jantan itu agar dapat menantang Mo Kat berduel kembali seperti malam itu di basemen King Palace Hotel.
"Baik. Lepaskan ikatan tangannya!" Mo Kat memberikan perintah yang langsung saja dituruti oleh dua orang berpakaian preman.
Begitu tali dilepas, alhasil kaki Cia Yonggan menjejak ke lantai dan menyebabkan dia sedikit sempoyongan kehilangan keseimbangan.
Mo Kat sedikit mundur dan melirik ke arah Wei Chung sambil berkata. "Tuan Wei, apakah kamu ingin mempersilahkan putra mu untuk mencoba kebolehan pemuda ini?"
Ada sedikit senyum meremehkan tersungging di bibir Mo Kat saat mengatakan hal ini.
Wei Heng yang sedari tadi sudah panas mendapatkan ejekan terus-menerus dari Mo Kat ini langsung saja berlari ke arah Cia Yonggan sambil menendang.
Cia Yonggan tak berusaha menghindar, sebaliknya dia hanya sedikit menggeser tubuhnya ke kiri dan mengangkat siku kanannya saat tubuh Wei Heng mendekat. Alhasil siku kanan Cia Yonggan dengan telak menghajar dada Wei Heng.
Wei Heng jatuh bergedebuk ke lantai karena mendapat pukulan keras di dadanya. Kepalanya pusing seketika, karena saat jatuh tadi kepalanya membentur lantai dengan keras.
"Bugh...!!
"Akh...!!" Wei Heng langsung meringkuk di kaki Cia Yonggan.
__ADS_1
"Ck ck ck. Lihat putra mu ini, Tuan Wei, mengapa tak pernah belajar dari pengalaman? Sebegitu cemburunya sampai-sampai tak memikirkan keselamatan diri," kata Mo Kat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti menunjukkan rasa prihatin.
Wei Chung menjadi marah melihat kelakuan putranya yang sangat memalukan ini, apalagi Mo Kat tak henti terus mengejek. Sudah tau tak memiliki kemampuan, masih saja berlagak.
"Seret orang sialan itu ke sini! Menyusahkan saja," hardiknya.
Dua bawahannya langsung menyeret Wei Heng menuju ayahnya. Baru saja sampai, Wei Chung meluapkan rasa malunya kepada putranya itu, dia menampar pemuda itu berkali-kali.
"Plak plak plak plak."
"Anak tak berguna!" dia bahkan menginjak-injak Wei Heng.
"Ayah, maafkan aku, aku yang salah. Baiklah, aku akan duduk disini saja," Wei Heng berlutut, dapat terlihat dia begitu takut akan kemurkaan ayahnya.
"Adik kecil, apakah kamu sudah siap?" Mo Kat kali ini beralih pada Cia Yonggan dan tak menghiraukan drama dua orang ayah dan anak itu.
"Mari, aku sudah siap," ujar Cia Yonggan sambil memasang kuda-kuda.
"Hiya..!!"
"Ciat..!!"
Mo Kat langsung menyerbu ke arah Cia Yonggan yang sudah bersiap. Kedua ahli bela diri itu kembali dipertemukan, mereka kembali saling memukul dan menghindar seperti pertarungan tempo hari.
Cia Yonggan sememangnya dari awal sudah tak prima karena tulang-belulangnya masih terasa sakit akibat pengeroyokan tadi pagi, namun dia tetap berusaha terlihat tegak. Dia tak akan sudi meminta belas kasihan dari lawan.
Sebaliknya Mo Kat, pada malam ini tampil dengan tenaga penuh. Ketidakseimbangan mulai terlihat setelah beberapa jurus berlalu. Mo Kat dapat merasakan pukulan lawannya ini begitu lembek. Untuk itu dia sengaja menerima saja sebuah pukulan dari Cia Yonggan yang mengarah pada dadanya sambil mengayunkan tinju ke rahang Cia Yonggan.
"Bugh..!!"
"Bugh..!!"
Tinju Cia Yonggan tepat bersarang pada dada Mo Kat, namun sebaliknya Cia Yonggan terpukul mundur sambil meraba rahang kirinya yang terasa sangat sakit, sebaliknya Mo Kat tetap tak bergeming dari posisinya.
Mo Kat mengejar dengan sebuah tendangan menyasar kepala Cia Yonggan yang tak siap karena dipukul mundur barusan. Cia Yonggan berusaha memblok tendangan itu dengan tangan kanannya, namun apa daya, tenaganya tak cukup kuat. Alhasil sebuah tendangan mendarat lagi di kepala sebelah kanan Cia Yonggan, dia sempoyongan.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Mo Kat. Kali ini dia melayangkan kakinya pada lutut kanan bagian belakang Cia Yonggan, memaksa pemuda itu bertekuk sebelah lutut. Lalu Mo Kat menambahkan tinjunya dengan kekuatan yang sangat besar, tepat bersarang di tulang rusuk sebelah kiri Cia Yonggan.
"Krak..!!"
"Arghhh...!!!"
Pukulan keras Mo Kat menumbangkan Cia Yonggan. Darah segar menyembur keluar dari mulut pemuda itu. Dia tahu ada beberapa tulang rusuknya yang patah. Maka dia sudah tak berdaya lagi mempertahankan selembar nyawanya.
"Sayang sekali harus berakhir seperti ini. Sejujurnya aku merasa kagum pada mu. Seandainya kita bertemu lagi di kehidupan mendatang, aku pasti memilih berada di pihak mu," kata Mo Kat sambil berlalu meninggalkan Cia Yonggan yang ngos-ngosan.
Ada rasa kagum yang terpancar dari kedua mata Mo Kat yang biasanya dingin itu. Kalau diperhatikan dengan lebih seksama, sepasang mata itu terlihat sedikit berkaca-kaca. Sepertinya dia begitu dilanda emosi saat menumbangkan pemuda itu.
Akibat pukulan pamungkas tadi, Cia Yonggan hanya bisa bernafas pendek-pendek karena tulang rusuknya telah patah. Tubuhnya terasa remuk semua, kesadarannya perlahan hilang.
Namun sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran, dia menggumamkan sebuah nama. "Mei Gui..."
Gumanan Cia Yonggan dapat didengar jelas oleh Mo Kat.
__ADS_1