
Tak jauh dari situ, di lereng perbukitan sebelah timur Kota Nanping, terdapat sebuah mansion besar nan megah. Itulah kediaman putri bungsu keluarga Xiao di Fujian, Xiao Meilin. Bangunan itu baru direnovasi dua tahun belakangan, semenjak Xiao Meilin dipercayai mengelola usaha ayahnya di Kota Nanping. Xiao Meilin memilih tinggal di lereng perbukitan ini disebabkan atmosfer disini benar-benar menyegarkan, khas udara perbukitan yang ditumbuhi pepohonan. Serta apabila dari sini memandang ke arah barat, panorama Kota Nanping beserta dua sungai yang membelah kota itu terlihat sangat jelas. Lampu perkotaan dan lalu lintas jalanan pada malam hari semakin mempercantik pemandangan kalau dilihat dari mansion itu.
Di mansion itu Xiao Meilin tidak tinggal sendirian, dia mengharuskan para pelayannya seperti asisten dan pengurus kebutuhan rumah tangga untuk tinggal bersamanya. Mereka diberikan kamar masing-masing oleh sang majikan muda itu, kecuali beberapa security yang berjaga-jaga disana, mereka tak diperbolehkan untuk menetap, karena mereka adalah anggota organisasi bawah tanah Hei Laohu. Xiao Meilin tentu tak ingin mengambil resiko dengan menyediakan orang-orang itu tempat tinggal di mansionnya. Mereka hanya bertugas menjaga di pintu gerbang saja.
Di atas ranjang di salah satu kamar lantai 3, disitulah tubuh Cia Yonggan terbaring masih tak sadarkan diri. Di kamar itu terlihat dua perawat wanita muda dengan wajah bosan sibuk dengan smartphone masing-masing, karena memang tak ada yang dapat mereka kerjakan selain menunggu pemuda itu siuman. Hanya sesekali mereka menghampiri Cia Yonggan di saat pemuda itu bergumam, seperti mengigau menyebutkan nama seorang gadis.
Kali terakhir pemuda itu mengigau adalah sekitar satu jam lalu, setelah itu hingga kini, pemuda itu tak lagi pernah mengigau, makanya kedua perawat itu merasa jenuh. Siapa yang takkan merasa bosan, meski pemuda yang terbaring itu sangat tampan, tapi dia hanya berbaring diam seperti orang mati. Akan berbeda halnya jika pemuda itu dalam keadaan sadar, tentu kedua perawat tersebut akan berebut untuk mencari perhatiannya. Sebagai orang muda, kedua perawat itu sangat senang apabila merawat pemuda ganteng seperti Cia Yonggan ini.
Di dalam ketidaksadarannya, Cia Yonggan saat ini seperti berada di alam semesta lain. Kemana arah mata menuju, semuanya hanya terlihat warna putih. Terasa telah berhari-hari dia berlari ke segala penjuru, tapi dia sendiri tak tahu entah kemana dia hendak menuju. Dia bingung, putus asa, dia hanya seorang diri, dia seperti terjebak di semesta ini. Tempat ini seperti sebuah wadah yang sangat besar dan dia hanyalah seekor semut yang terperangkap pada wadah itu. Tempat ini seperti tak memiliki ujung dan batasan.
Dia terduduk lemas, setelah letih berlari-lari mencari ujung tempat ini, sampai tubuhnya tak kuat lagi.
"Hhhhh... Hhh... Hhhh... Hhhh... Hhhh..."
Keringatnya bercucuran, kepalanya tertunduk dengan nafas tersengal dan hidung kempas kempis seperti kehabisan udara. Di pikirannya saat ini muncul hanya satu dugaan, dia sedang berada di gerbang menuju akhirat, tempat dia akan bereinkarnasi, tempat dimana dia akan dilahirkan kembali, dicampakkan kembali ke kehidupan dunia fana. Maka dia harus menemukan gerbang itu, kalau tidak maka dia akan selamanya terjebak di semesta ini tanpa terlahir kembali. Dengan masih kelelelahan, dia tetap berupaya bangkit kembali dan bersiap-siap melangkahkan kakinya untuk kembali berlari.
Namun baru saja dia hendak mengayunkan kakinya, terdengar suara wanita di belakangnya. "Yonggan, kamu telah berlari cukup jauh, Nak. Jangan paksakan dirimu, nikmati hidup secara perlahan, tak perlu terburu-buru."
Suara itu tak asing bagi pendengarannya. Suara yang lembut, penuh kasih sayang namun berwibawa. Tanpa menoleh lagi, dia langsung menyerbu ke arah sosok ramping itu dan melompat ke pelukannya. Namun saat dia berhasil sampai ke pangkuan wanita itu, tubuhnya seolah-olah menyusut seperti seorang bocah berusia 7 tahun. Dan dia merengek layaknya anak manja di pelukan wanita itu.
Wanita itu anggun, masih terlihat muda dibalut gaun putih yang tak kalah putihnya dengan ruangan yang melingkupi sekitarnya. Dia tersenyum bahagia menyambut sosok bocah yang berhampur ke dalam pelukannya itu.
__ADS_1
"Ibu... Hhhk.. Hkk.. Hkk.." Cia Yonggan kecil tersedu-sedan di pelukan wanita yang ternyata adalah ibunya itu.
Waktu seperti diputar kembali, kala ayah dan ibunya masih hidup dan dia baru memasuki jenjang sekolah dasar. Saat itu dia dibully oleh teman-teman sekelasnya, yang mengejek dia sebagai anak gunung, tak layak bergaul dengan anak-anak lain. Sampai-sampai pada saat pulang sekolah, saat kedua orang tuanya menjemput ke sekolah, dia tak ingin menaiki mobil pick-up yang dikendarai ayahnya. Dia terus berlari di sepanjang pinggir jalan pulang ke rumah, sementara ayahnya tetap mengendarai mobilnya dengan pelan dan ibunya yang duduk di samping kemudi menjulurkan kepala ke luar membujuk dia untuk naik. Saat itu dia terus berlari sampai kemudian benar-benar letih dan memaksa dia hanya bisa menangis ketika dipeluk ibunya. Itulah kali terakhir dia menangis di hadapan kedua orang tuanya.
Saat ini pun, dia merengek seperti itu, seperti waktu pertama kali bersekolah. "Ibu, aku bingung.. Hkkk.. Hk.. Hkk.."
"Apakah begitu sikap seorang lelaki? Apakah lelaki menangis saat ada masalah? Apakah dengan menangis masalah akan selesai? Apakah kamu tidak malu?" terdengar suara seorang pria di belakangnya, suara yang tak kalah asing bagi Cia Yonggan, kalem, tegas juga menyiratkan kasih sayang.
Cia Yonggan kecil buru-buru melepaskan diri dari pelukan ibunya dan menyeka air matanya, sepertinya kata-kata pria di belakangnya itu benar-benar menusuk hatinya. Ibunya yang di depannya hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
Cia Yonggan memutar tubuhnya menghadap pria di belakangnya lalu berlutut di kaki pria itu. "Ayah, aku salah."
Mendengar itu, pria yang tak lain adalah ayah Cia Yonggan adanya, tersenyum dan menggapai kedua bahu putranya mengisyaratkan agar pemuda itu berdiri. Saat Cia Yonggan kecil berdiri, tiba-tiba tubuhnya kembali seperti sedia kala, tubuh tegap seorang pemuda di usia awal dua puluhan. Dan saat kedua pria ini berhadapan, mereka terlihat sangat mirip satu sama lain.
"Ayah, aku mendengarkan mu," jawab Cia Yonggan.
"Ketahuilah, Anakku, kamu tidak sebatang kara hidup di dunia, masih banyak saudara-saudara mu, tujulah mereka," kata ayahnya.
"Siapa mereka, Ayah? Dimana mereka?" dengan bersemangat Cia Yonggan bertanya mendengar dia hidup bukan hanya sebatang kara di dunia.
"Yonggan, kelak kamu pasti menemukan mereka. Mereka tak sulit dicari karena mereka dikenali oleh banyak orang. Namun sebelum itu kamu harus mampu mengendalikan sesuatu yang ayah mu gagal mengendalikannya," ibunya menyela sambil menghampiri ayah dan anak itu.
__ADS_1
"Maksud Ibu?" Cia Yonggan bertanya bengong.
"Ayah telah gagal, Yonggan. Harapan kami sekarang hanya bertumpu kepada mu. Sesuatu itu hanya dapat dikendalikan oleh pemuda suci seperti mu, yang belum ternodai oleh nafsu syahwat duniawi. Apabila kamu berhasil mengendalikannya, maka kamu juga berhasil melepaskan kami dari tempat ini," kata ayahnya penuh harap.
"Ayah, Ibu, apa yang tengah kalian bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti," Cia Yonggan semakin bingung dibuatnya.
"Pergilah, Nak, dia telah menunggu mu. Pulanglah ke rumah kita, jangan ditunda lagi," ayahnya menegaskan namun tak menjelaskan rasa penasaran Cia Yonggan.
Lalu secara serentak kedua sosok ayah dan ibunya membentangkan telapak tangan kanan kemudian perlahan mengarahkan ke wajah Cia Yonggan.
"Pesan ibu hanya satu, janganlah menjadi pembenci, maafkanlah kesalahan orang-orang yang zalim pada mu di masa lalu," kata ibunya.
Lalu secara tak terduga kedua telapak tangan di wajahnya itu mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan mata Cia Yonggan, membuat mata pemuda itu terbelalak.
"Hhhhhhhhhhhhhhkkkk... Hhhhhhhhkkkk....!"
Cia Yonggan tiba-tiba terbangun dan terduduk di atas pembaringan itu sambil mengambil nafas panjang tapi tersendat, layaknya orang bernafas saat sedang sekarat dan matanya melotot.
"Dia sadar!"
"Dia telah bangun!"
__ADS_1
Hampir berbarengan kedua perawat itu berseru kaget dan berlari ke arah Cia Yonggan.