The Investor

The Investor
Bab 39


__ADS_3

Sebuah mobil pada malam hari ini terlihat membelah jalan raya kota Nanping dengan kecepatan tinggi. Pengemudi mobil itu terlihat seperti sedang dikejar setan. Dengan lihai dia menyalip kesana kemari di tengah padatnya kendaraan di jalan raya ini.


Sekitar satu kilometer di belakang juga menyusul empat mobil berisikan preman-preman. Orang-orang di dalam mobil itu menjulurkan kepalanya ke luar jendela sambil mengacung-acungkan senjata tajam dan tongkat pemukul. Sesekali mereka mengayunkan senjata di tangan masing-masing untuk merusak mobil yang dirasa menghalangi laju kendaraan mereka.


"Prang..!!


"Tiiiiiiiiiiiin.."


Terdengar suara kaca mobil pecah yang disusul suara klakson dari mobil yang kaca jendelanya pecah akibat dipukul senjata orang.


"Beruntung bukan kepala mu yang pecah!" preman itu menghardik pengemudi yang hanya bisa melongo.


Sementara mobil yang dikejar itu terus melaju ke depan, terus menyalip mobil di depannya. Sesekali pengemudi mobil itu menoleh ke arah jok belakang, dimana seseorang sedang tergolek lemas dan bersimbah darah. Darah segar mengalir dari perutnya yang membuncit dan membasahi jok belakang dengan darahnya itu. Tangannya terus berusaha menutup luka di balik kemeja kotak-kotak yang dikenakannya. Orang itu adalah Ou Julong.


"Julong, kamu bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," kata pria itu.


Pengemudi itu keadaannya juga tidak lebih baik daripada Ou Julong. Dari kedua tangannya yang sedang menyetir itu terlihat tetesan-tetesan darah mengalir seperti tersayat senjata tajam. Namun pria sebaya Ou Julong itu tidak mengindahkan diri sendiri, malah sebaliknya lebih mengkhawatirkan keadaan Ou Julong.


"Tolol! Jangan bawa aku ke rumah sakit. Si pengkhianat itu pasti akan dengan mudah menemukan kita, apabila kita ke sana!" bukannya bersyukur, sebaliknya Ou Julong mendamprat pengemudi itu.


Pengemudi itu terpaku sejenak, mencerna kata-kata Ou Julong. Benar adanya yang dikatakannya, apabila mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, tentu mereka takkan selamat dari orang-orang yang saat ini sedang mengejar mereka di belakang. Para pengejar itu akan segera menyantroni rumah sakit dan klinik-klinik pengobatan di kota ini untuk memburu mereka. Itu adalah kebiasaan mereka para anggota perkumpulan bawah tanah. Dia tentu paham maksud Ou Julong ini.


"Lalu kemana kita harus melarikan diri? Apakah perlu melarikan diri ke luar kota?" dia bertanya ragu.


Mendengar pertanyaan orang itu, Ou Julong seperti baru tersadar, dia berusaha bangkit dari dan menggapai ke arah jok depan sambil berkata. "Guan Zheng, jangan pikirkan itu dulu, kamu sebaiknya segera hubungi anak-anak dan istri mu terlebih dahulu, suruh mereka cepat-cepat pergi dari kota ini."


Pria itu adalah Guan Zheng, dia merupakan salah satu dari empat orang kepercayaan pemimpin perkumpulan Hei Laohu terdahulu, Gao Li Liang. Dia dan Ou Julong ini memang sudah bergabung dengan organisasi Hei Laohu sejak masih usia remaja, jauh sebelum Wei Chung dan seorang kepercayaan Gao Li Liang lainnya, Po Yang., berkecimpung di dunia bawah tanah. Maka tak heran apabila dia berusaha menyelamatkan Ou Julong mati-matian dan memberontak dari pemimpin Hei Laohu yang baru, Wei Chung.


Beberapa waktu yang lalu secara tak sengaja dia singgah ke kediaman Wei Chung di pemukiman Jinshan. Baru saja dia memasuki pekarangan rumah itu, dia melihat segerombolan bawahan Hei Laohu sedang mengerubungi seseorang yang tampak sudah tak berdaya. Di antara kerumunan itu juga terlihat Wei Chung dan Po Yang yang meminpin langsung aksi pengeroyokan terhadap orang itu.


"Bukankah kamu mencari pemuda itu? Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan dia akhirat sana," terdengar Wei Chung berkata.


Buru-buru Guan Zheng mendekati kerumunan itu dan alangkah terkejutnya ia begitu mengetahui Ou Julong tengah berbaring tak berdaya sambil tangannya berusaha menutup luka di perutnya. Sepertinya dia baru saja ditusuk dengan pisau.

__ADS_1


"Kakak Wei, ada apa ini? Mengapa menyiksa Ou Julong begini? Kalau ada apa-apa di antara sesama kita sebaiknya dibicarakan baik-baik," sembari dia berjongkok dan berusaha menegakkan tubuh Ou Julong.


"Jangan kamu sentuh bajingan itu, biarkan saja dia sekarat!" Wei Chung melihat itu berteriak marah.


"Apa yang kamu bicarakan, Kakak Wei? Lihat, dia sedang terluka. Kalau tidak segera dirawat, khawatirnya dia tak tertolong," Guan Zheng tak menghiraukan teriakan Wei Chung dan memapah tubuh Ou Julong.


Dia dalam kesehariannya terbilang kalem. Biasanya Guan Zheng ini dalam mengatur para bawahan, akan selalu berbicara pada intinya. Dia disegani orang banyak karena sikapnya yang tak suka neko-neko.


"Huh! Kamu tahu apa, Guan Zheng? Bandot ini telah berusaha mencelakai Kakak Wei dengan kedua tangannya. Kamu bilang bicarakan baik-baik? Heh, pemberontak begini diperlakukan baik-baik, takutnya malah akan membahayakan semua orang," berkata pula Po Yang sambil mengacungkan tongkat kayu yang ada di tangannya kepada Ou Julong.


"Apakah benar demikian, Julong?" Guan Zheng menolehkan kepalanya kepada Ou Julong.


Ou Julong yang sedang dipapah Guan Zheng ini mengiyakan. "Benar, aku sangat ingin membunuh pengkhianat itu dengan kedua tangan ku ini."


Guan Zheng yang tak mengerti persoalan, kaget mendengar pengakuan Ou Julong. "Mengapa kamu melakukannya? Apakah kamu sudah lupa peraturan di dalam perkumpulan kita, tak boleh ada yang memberontak?"


"Mana ada peraturan perkumpulan di dalam otaknya itu. Dia sebagai orang lama di perkumpulan ini saja sudah berani memberikan contoh kepada para bawahan," jengek Po Yang. Lalu dia menambahkan. "Guan Zheng, jangan ditanya alasan dia ingin mencelakai Kakak Wei. Sudah tentu dia tak ingin Kakak Wei memimpin perkumpulan kita dan dia ingin merebutnya begitu ada kesempatan."


"Wah, wah, kamu telah melanggar peraturan perkumpulan, Julong. Memang pantas dihukum," kata Guan Zheng mulai termakan ucapan Po Yang dan melepaskan tubuh Ou Julong.


"Banyak bicara! Pukul dia!" Wei Chung bersorak marah dan memerintahkan para bawahannya untuk memukul Ou Julong.


"Tunggu dulu," Guan Zheng mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan orang-orang itu. Lalu dia kembali bertanya kepada Ou Julong. "Julong, mengapa kamu mengatakan Kakak Wei sebagai pengkhianat?"


"Aku bilang dia pengkhianat ya artinya dia memang berkhianat. Tahukah kamu, Guan Zheng, si pengkhianat ini telah mencelakai Kakak.."


"Tutup mulut mu!" Wei Chung yang tak ingin kedoknya terbuka di hadapan Guan Zheng ini buru-buru memotong ucapan Ou Julong.


"Kakak Wei, tolong biarkan dia berbicara dahulu," kata Guan Zheng dengan berwibawa.


Wei Chung agak jeri juga kepada Guan Zheng ini. Dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri keganasan Guan Zheng dalam berkelahi. Guan Zheng yang kalem ini merupakan seorang jago bela diri yang membuat dia disegani oleh para bawahan. Pernah suatu waktu Guan Zheng dikeroyok oleh tujuh orang pemuda, namun ketujuh pemuda itu berakhir dirawat di rumah sakit. Orang seperti Guan Zheng ini sangat berguna baginya di masa yang akan datang. Maka sebaiknya Wei Chung berusaha melunak terhadap Guan Zheng ini.


"Julong, kamu lanjutkan. Siapa yang telah dicelakai oleh Kakak Wei?" dia meminta Ou Julong untuk melanjutkan kata-katanya yang terputus barusan.

__ADS_1


"Guan Zheng. Aku sudah peringatkan mu untuk tidak usah ikut campur urusan ku. Tapi kamu terlalu memaksa, ya sudahlah. Dengarkan aku baik-baik, si pengkhianat ini telah bekerja sama dengan perusahaan pengawalan Naga Laut untuk menyingkirkan Kakak Gao. Bahkan orang bermarga Lu itu jauh-jauh sengaja mengirimkan orang untuk mengeroyok Kakak Gao," Ou Julong mengeluarkan segala uneg-unegnya.


Mendengar itu, wajah Guan Zheng terlihat kelam. Apakah Ou Julong ini sedang mengarang cerita di hadapan orang banyak untuk membenarkan kesalahan yang telah dia perbuat?


"Julong, kamu berbicara begini apakah ada bukti?" dia menyangsikan keterangan Ou Julong.


"Heh, dia hanya asal bicara, jangan dengarkan dia," Po Yang terdengar menyela.


"Kamu diamlah dulu, Po Yang, biarkan dia melanjutkan keterangannya," dengan tajam dia menatap Po Yang.


Po Yang yang ditatap begitu hanya bisa mendelik kepada Ou Julong.


"Bukti? Kamu ingin bukti? Lihatlah kesitu," kata Ou Julong menunjuk ke arah tempat parkir halaman rumah ini.


Serentak semua orang menolehkan kepalanya ke arah tempat parkir. Di situ terlihat beberapa mobil sedang terparkir, namun ada yang mencolok di mata Guan Zheng, yaitu sebuah mobil BMW seri 2 warna biru dengan nomor plat B F50031. Itu adalah mobil Gao Mei Gui yang dikendarai oleh Cia Yonggan sebelum pemuda itu menghilang.


"Itu kan mobil Mei Gui," pikir Guan Zheng.


"Apakah kamu sudah lihat? Kamu mengenali pemilik mobil itu, tidak?


"Apa anehnya? Itu memang mobil Gao Mei Gui. Dia sedang berlibur untuk menenangkan diri setelah kematian ayahnya. Kemarin dia menitipkan mobilnya disini," Wei Chung menerangkan.


Guan Zheng jadi berkerut kening. Menurutnya tidak aneh apabila Gao Mei Gui menitipkan mobilnya di rumah Wei Chung, selaku orang yang sudah dia kenal lama. Kalau hanya ini bukti yang dibicarakan oleh Ou Julong, tentu saja tidak masuk di akal.


"Tidak. Mei Gui memang pergi menenangkan diri bersama pacarnya. Mereka menggunakan mobil ini untuk pergi ke tempat itu. Tahukah kamu siapa pacar Mei Gui itu?" kata Ou Julong mendebat keterangan Wei Chung.


Namun di mata Guan Zheng, keterangan Ou Julong ini semakin berbelit-belit. Dimintai bukti malah sebaliknya dia bermain teka-teki menanyakan nama pacar putri mendiang Gao Li Liang.


"Julong, langsung saja kepada intinya, jangan berbelit-belit begini," Guan Zheng mengingatkan.


"Dengar, pemuda yang kamu lihat di rumah sakit pada malam itu dan di pemakaman Kakak Gao itu adalah pacar Mei Gui. Dia adalah orang yang telah berupaya menyelamatkan Kakak Gao dari keroyokan anggota Naga Laut. Dan dia sempat bergebrak dengan para pengeroyok Kakak Gao di basement King Palace Hotel, bukankah demikian, pengkhianat? Bukankah kita berdua telah memergoki pemuda itu sedang bertarung dengan salah seorang pengeroyok itu?" beber Ou Julong sambil bertanya kepada Wei Chung.


Sementara Wei Chung yang ditanyai hanya diam dan menatap Ou Julong dengan tajam. Dia tak mengerti bagaimana Ou Julong akan memecahkan rangkaian skenario yang telah dibuatnya dengan rapi itu.

__ADS_1


"Dia adalah saksi hidup yang mengetahui rencana keji si pengkhianat ini. Malam itu sebelum aku menjenguk Kakak Gao, secara tak sengaja kembali memergoki dia di tempat parkiran rumah sakit. Tahukah kamu, pemuda itu telah mendengar si pengkhianat ini berbicara dengan seseorang di telpon yang dia sebut sebagai Master Mo. Kemarin pemuda itu berkendara dari tempat berliburnya dengan mengendarai mobil Mei Gui dan sampai sekarang tiada kabar lagi. Bahkan aku sudah menyambangi Mei Gui secara langsung ke tempatnya, karena tiba-tiba pemuda itu menghilang. Dan sekarang sama-sama bisa dilihat, mobil yang dikendarainya berada disini. Demi apa? Demi menutupi kebusukannya, pemuda itu telah dia lenyapkan oleh si pengkhianat ini! Dia adalah saksi yang mengetahui segala perbuatan jahat si pengkhianat ini! Dan dia telah melenyapkannya untuk menutupi kebusukannya itu!" dengan tangan kirinya dia menunjuk hidung Wei Chung


Wei Chung yang menghadapi itu wajahnya menjadi semakin kelam seperti hendak menelan Ou Julong hidup-hidup. Terbongkar sudah semuanya.


__ADS_2