
"Kamu.. Kamu.." Mo Kat terbengong.
Ada rasa tak percaya ketika Mo Kat melihat pemuda itu tiba-tiba ada disini, di sampingnya, dalam keadaan basah kuyup. Sepengetahuannya Cia Yonggan kini tengah dirawat di kediaman putri bungsu keluarga Xiao. Bagaimana dia tiba-tiba berada disini?
"Ya, ini aku," Cia Yonggan masih dengan memandang ke depan menjawab sinis. Kemudian imbuhnya. "Tentu kamu terkejut, bukan?"
"Adik kecil, aku.. Aku.." Mo Kat menjadi terbata-bata.
Cia Yonggan dengan tenang menoleh ke kanan, ke arah Mo Kat. Dia sekilas melihat perasaan gelisah dan cemas yang menghantui Mo Kat kini. Dia melihat dari pikiran Mo Kat, seorang gadis tengah duduk gelisah di dalam kamar sebuah hostel murah. Ada pernak pernik khas Korea di dalam kamar itu, dimana sang gadis tengah ketakutan. Entah takut pada apa.
Cia Yonggan menjadi semakin benci kepada Mo Kat. Dalam anggapannya, Mo Kat ini pastilah selain menjadi algojo Lu Meng, juga berperan sebagai orang yang menyediakan gadis-gadis bagi Lu Meng. Entah akan diapakan gadis-gadis itu. Yang jelas bagi Cia Yonggan, orang ini harus segera dia musnahkan. Apalagi dia telah berani-beraninya membawa Gao Mei Gui.
"Mo Kat, kamu dengarkan aku, aku ini bukan adik mu," kata Cia Yonggan sinis. Lantas dia bertanya. "Apakah kamu sudah siap?"
Mo Kat semakin gelisah. Dia tahu benar akan maksud Cia Yonggan, yaitu menantang berduel kembali. Bukannya apa-apa, Mo Kat saat ini sedang terburu-buru, ada hal mendesak yang harus dia selesaikan.
"Cia Yonggan, kamu dengarkan aku dulu.." Mo Kat berusaha menahan keinginan lawan.
"Tidak ada yang perlu didengarkan lagi!" bentak Cia Yonggan.
Dia tiba-tiba melompat sedikit dan mengangkat siku kanannya. Dia bersiap menghajar Mo Kat yang berdiri di samping kanannya dengan tulang sikunya itu!
Bukan Mo Kat namanya kalau tidak dapat membaca gerakan lawan. Dia serta merta mengangkat pula tangan kirinya untuk memblokir serangan siku Cia Yonggan.
"Dugh!"
Terjadi benturan antara siku Cia Yonggan dan tangan Mo Kat yang membuat Mo Kat sempoyongan ke kanan, menimpa tubuh nakhoda kapal yang tengah memegang kemudi kapal.
Nakhoda yang tertimpa tubuh Mo Kat juga oleng ke kanan, ke arah dinding kapal, menyebabkan sebelah tangannya tak sengaja memutar kemudi kapal ke ke kanan dengan keadaan masih melaju kencang! Alhasil kapal yang mereka tumpangi mendadak berputar haluan ke arah kanan dan mencipratkan percikan air yang besar. Setelah berputar, kapal itu kembali melaju dengan kencang ke depan yang tentu telah melenceng dari arah semula.
Perputaran kapal yang mendadak itu menyebabkan Mo Kat mau tak mau akhirnya roboh juga karena kehilangan keseimbangan dan kembali menimpa nakhoda yang telah terlebih dahulu membentur dinding. Mo Kat mana akan menyangka, kekuatan yang dia terima dari Cia Yonggan begitu besar. Seingatnya dalam dua kali berduel sebelumnya, kekuatan Cia Yonggan selalu setara dengannya. Tapi mengapa kini kekuatan pemuda itu sebegitu besarnya, sampai-sampai dia tak sanggup menerima kekuatan itu. Bukan hanya itu, tangan yang dia pergunakan untuk menahan serangan Cia Yonggan barusan pun terasa begitu sakit.
Sementara Gao Mei Gui yang berdiri di haluan depan sana hampir tercebur ke laut, beruntung dia dengan cepat memegang besi pagar pembatas yang ada di sekeliling kapal itu sehingga dia dapat menahan tubuhnya untuk tetap berada pada posisinya. Dia tentu saja kaget. Mengapa kapal tiba-tiba berputar dan terus melaju dengan cepat. Maka dia menoleh ke anjungan kapal.
Melalui kaca di depan anjungan dia hanya dapat melihat kepala seseorang sedang menunduk. Orang itu tengah melayangkan sebuah pukulan pada sasaran yang berada di lantai kapal itu. Dalam pikiran Gao Mei Gui, pasti terjadi sesuatu yang membuat Mo Kat emosi dan menghajar nakhoda. Entah ada persoalan apa di antara mereka itu.
Maka Gao Mei Gui dengan tetap berpegangan pada besi pagar pembatas, berusaha berjalan ke belakang kapal.
Memang di ruang anjungan kini, Cia Yonggan kembali mengayunkan pukulan ke bawah, menyasar Mo Kat. Dia menghajar Mo Kat yang masih tumpang tindih dengan nakhoda kapal dan belum sempat berdiri.
"Wuzzz.."
"Bugh!"
"Aaaaaaarghhhhh...!!
Terdengar dengan keras pukulan itu menghantam muka seseorang, namun itu bukan muka Mo Kat, melainkan sang nakhoda kapal yang menyebabkan dia meraung kesakitan.
Mo Kat telah dengan sigap berguling ke kiri menghindari pukulan Cia Yonggan.
Cia Yonggan yang mendapati dirinya telah salah sasaran, menjadi serba salah.
"Maaf, Tuan Nakhoda, bukan maksud ku..." Cia Yonggan terdengar menyesal.
__ADS_1
"Arrrgh.. Hidung ku sakit sekali. Tolong jangan sakiti aku," kata nakhoda itu ketakutan melihat Cia Yonggan.
Dia mendekap hidungnya dengan kedua tangan. Terlihat darah berlumuran dari hidung sang nakhoda dan mengalir melalui sela-sela jari-jari kedua tangannya.
"Cia Yonggan, aku sedang terburu-buru dan tak punya banyak waktu meladeni mu. Semoga kelak kita berjumpa lagi. Tangkap ini!" seru Mo Kat tiba-tiba.
Dia melemparkan sebuah benda yang langsung ditangkap oleh Cia Yonggan. Tanpa membuang waktu, Mo Kat segera berlari ke belakang kapal dan melompati jejeran empat buah mesin 100 PK yang meraung karena terus melaju dengan kencang tak terkendali itu. Dia telah melompat ke dalam laut!
Cia Yonggan melihat benda yang ada di tangannya kini. Itu adalah sebuah handphone. Sesaat dia hanya bisa melongo. Apa-apaan Mo Kat ini, melemparkan handphone demi berusaha untuk melarikan diri dari dia. Maka dengan masih memegang handphone itu, dia memburu ke belakang. Mo Kat tak terlihat lagi, mesin kapal yang terus menyala dan tetap melaju kencang telah meninggalkan tubuh Mo Kat jauh di belakang. Tak diketahui apakah Mo Kat telah tenggelam di dasar laut atau masih terapung-apung.
ABK yang baru sadar dari keterkejutan akibat kapal yang berbelok secara tiba-tiba tadi, sekarang dikagetkan akan kehadiran Cia Yonggan yang sedang melongokkan kepalanya mencari-cari sesuatu di belakang. Kemudian dia berlari ke dalam anjungan kapal dan melihat nakhoda tengah duduk tersandar pada dinding kapal dengan berlumuran dari di hidungnya, dia buru-buru menurunkan tuas gas, menyebabkan kapal menjadi berhenti.
Beruntung tadi selama kapal melaju dengan sendiri, tidak bertabrakan dengan kapal lain. Kalau tidak, tentu akan terjadi kecelakaan kapal.
Sementara Gao Mei Gui yang baru saja tiba di bagian belakang kapal, terkejut bercampur girang melihat Cia Yonggan yang tengah bengong menatap perairan.
"Yonggan?" dia berseru.
Cia Yonggan sontak menoleh ke arah suara itu.
"Mei Gui!" ujar Cia Yonggan.
Gao Mei Gui meloncat ke dalam pelukan Cia Yonggan yang dengan sigap disambut pemuda itu. Sesaat kedua muda-mudi itu hanyut ke dalam perasaan haru setelah berpisah selama beberapa waktu.
Dalam anggapan Cia Yonggan, tentulah gadisnya ini menderita karena kepergiannya yang tiada kabar, belum lagi mendapatkan tekanan dari Mo Kat. Dia mana sempat membaca pikiran gadis itu. Yang ada di benaknya kini, dia bahagia telah berhasil menyelamatkan kekasihnya dari usaha penculikan Mo Kat.
Sementara bagi Gao Mei Gui, dia sangat bahagia akhirnya dipertemukan kembali dengan kekasihnya ini. Menurut apa yang dia dengar dari Mo Kat, kekasihnya itu tengah mengalami cedera dan sedang berada di suatu tempat aman. Nantinya setelah waktunya tiba, mereka akan dipertemukan kembali oleh Mo Kat. Tapi ternyata tanpa harus menunggu waktu yang lama, akhirnya dia dapat berjumpa kembali disini.
Cia Yonggan mendekap erat tubuh gadis itu seperti sudah berpisah selama bertahun-tahun saja. Dan akhirnya kerinduan itu sekarang dapat terobati.
"Tentu saja ini nyata, Mei Gui. Maafkan aku yang tak memberi kabar kepada mu," jawab Cia Yonggan semakin mengeratkan pelukan.
"Aku mengerti, kok. Kakak Mo Kat sudah menceritakan semuanya," kata Gao Mei Gui lagi.
Cia Yonggan menjadi kaget. Apa yang diceritakan Mo Kat kepada Gao Mei Gui? Mengapa kekasihnya itu menyebut Mo Kat sebagai kakak? Bukankah Mo Kat tengah menculik Gao Mei Gui?
"Mei Gui, apa maksud mu?" dia ingin bertanya.
Namun tiba-tiba ABK telah kembali dari anjungan, dan dengan marah dia menghampiri Cia Yonggan berdua.
"Tuan, anda tidak bisa semena-mena seperti ini memukuli orang. Lihat apa yang telah kamu lakukan kepada nakhoda," kata ABK itu tidak puas.
Cia Yonggan yang tahu salah, buru-buru meminta maaf.
"Maaf, Tuan ABK, aku benar-benar tidak bermaksud memukuli dia. Aku hanya sedang memukuli orang lain, tapi malah salah sasaran," kata Cia Yonggan menyesali diri.
"Tidak bisa begitu. Kalau ada masalah di antara kalian, jangan melibatkan kami begini, dong," ABK menjawab sewot.
Melihat suasana yang panas, Gao Mei Gui menimpali. "Yonggan ada apa?"
Namun sebelum sempat Cia Yonggan menerangkan kepada Gao Mei Gui, ABK itu menyela. "Tuan ini telah memukuli nakhoda, makanya tadi kapal menjadi berbelok tiba-tiba. Untung kita tidak bertabrakan dengan kapal lain."
Saat ini nakhoda kapal juga muncul dengan masih berlumuran darah pada hidung dan mengalir ke mulutnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Tadi hanya terjadi sedikit kesalahpahaman. Tadinya tuan ini ingin menghajar Tuan Mo, tapi malah aku yang terkena," sang nakhoda berusaha meluruskan.
Dia yang mendapatkan bogem mentah tentu masih merasa ngeri terhadap pemuda di depannya ini. Bagaimana kalau pemuda itu kembali mengamuk dan memukuli dia dan ABK?
Namun bagi Gao Mei Gui, penjelasan nakhoda ini mengejutkan dia. Dirinya tak menyangka Cia Yonggan ternyata memiliki sifat temperamen dan berusaha menyerang Mo Kat, orang yang telah menyelamatkan dia dari keganasan Wei Heng pada malam itu. Dan bahkan Mo Kat juga sedang berupaya untuk menyelamatkan dia dari ancaman Lu Meng, direktur perusahaan pengawalan Naga Laut di Taiwan.
"Yonggan, mengapa kamu ingin memukuli Kakak Mo Kat?" Gao Mei Gui bertanya dengan nada kecewa.
Cia Yonggan yang ditanya menjadi heran. Sepertinya Gao Mei Gui tak terima kalau dirinya telah menghajar Mo Kat.
"Mei Gui, aku..." dia ingin memprotes Gao Mei Gui.
Tiba-tiba handphone di tangan Cia Yonggan berdering nyaring membuyarkan konsentrasi semua orang. Dia melihat ke layar handphone, dimana sebuah foto profil seorang gadis sedang menghubungi nomor Mo Kat melalui sebuah panggilan video.
"Angkat, Yonggan. Itu penting," kata Gao Mei Gui demi melihat siapa yang menghubungi.
Yonggan mengusap layar.
"Kakak, apakah kamu sudah berangkat? Aku takut, Kakak. Kamu cepatlah kemari," kata gadis itu langsung menyerobot begitu Cia Yonggan menjawab panggilan.
Cia Yonggan merasa pernah melihat gadis ini. Ya, itu adalah gadis yang dia lihat barusan melalui pikiran Mo Kat, gadis yang tengah gelisah di dalam kamar hostel bernuansa Korea itu. Bahkan saat ini pun, di belakang gadis itu terlihat jelas dinding kamar yang memiliki nuansa sama seperti yang tadi dia lihat melalui Mo Kat. Siapakah gadis ini?
Namun belum sempat Cia Yonggan berpikir lebih lanjut, begitu gadis itu yang menyadari orang di balik layar itu bukanlah Mo Kat, melainkan Cia Yonggan, buru-buru bertanya.
"Kamu siapa? Mengapa ponsel kakak ku ada pada mu? Mana kakak ku?" dia bertanya bertubi-tubi.
Tentu saja Cia Yonggan menjadi bingung. Dia tak mengerti apa yang telah terjadi.
Gao Mei Gui yang melihat Cia Yonggan hanya bengong, mengambil alih ponsel itu dan menjawab gadis di seberang telepon itu.
"Xiaolian, ini aku. Sebentar, aku akan panggilan Kakak Mo Kat, biar dia berbicara dengan mu," kata Gao Mei Gui. Dia lalu bertanya kepada semua orang yang ada disitu. "Dimana Kakak Mo Kat?"
Gao Mei Gui melongokkan kepalanya ke dalam anjungan kapal, tapi tak mendapati Mo Kat berada di dalam.
"Nona, tadi aku melihat tuan itu melompat ke dalam air," ABK menjawab.
"Sepertinya dia menghindari tuan ini, maka dia kabur begitu saja," menimpali pula sang nakhoda sambil menunjuk Cia Yonggan.
"Apa?" terdengar suara gadis di dalam layar ponsel itu.
"Yonggan, apa-apaan kamu ini?" Gao Mei Gui memberengut marah.
"Mei Gui, bukankah dia ingin menculik mu dan akan membawa mu ke Taiwan? Mengapa kamu marah kapada ku?" balas Cia Yonggan membela diri.
Namun sebaliknya Gao Mei Gui menjadi berang.
"Yonggan, Kakak Mo Kat adalah orang yang telah menyelamatkan kamu. Kalau dia tidak membuat mu cedera pada malam itu, maka kamu sudah mati dibunuh oleh Wei Chung. Dan dia juga yang telah mengatur agar tubuh mu tetap terapung sehingga ditemukan oleh seseorang yang selalu melewati tempat itu setiap pagi. Dia yang mengatur semua itu, Yonggan. Dia adalah orang yang telah berjasa kepada mu, kamu mengerti tidak?" kata Gao Mei Gui dengan emosi meluap-luap.
Cia Yonggan semakin kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa.
"Dan kamu tahu tidak, Kakak Mo Kat juga yang telah menyelamatkan aku dari niat jahat Wei Heng yang ingin.. Yang ingin..." Gao Mei Gui tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Dia tak sanggup mengingat peristiwa semalam yang hampir menjadi korban perkosaan oleh Wei Heng. Maka dia menangis sesenggukan, menyesali perbuatan kekasihnya yang tak tahu akan balas budi kebaikan orang ini.
__ADS_1