
Siang ini Hao Zhao kembali menerima kedatangan tiga puluh empat orang tentara bayaran di hotelnya. Dia baru saja mengatur pergantian waktu penjagaan di pintu masuk lobi hotel dan pintu masuk basement serta pintu kamar yang ditempati Ou Julong dan Guan Zheng. Yang tidak mendapatkan tugas berjaga di ketiga tempat itu, dia persilahkan untuk beristirahat di kamar hotel di samping kamar Ou Julong berdua. Dan mereka diperintahkan selalu siaga apabila tiba-tiba mendapatkan panggilan darurat.
Khusus bagi pengawal yang berjaga di pintu masuk lobi hotel, Hao Zhao memesan agar kehadiran keenam orang itu tidak terlihat mencolok di mata orang-orang, sehingga mereka tidak dicurigai oleh anggota Hei Laohu yang juga sedang bertugas menjaga keamanan di King Palace Hotel. Sementara enam pengawal di basement ditugaskan memantau dari dalam mobil-mobil yang terparkir disana, sehingga tak terlihat oleh orang lain.
Dia sudah menduga, begitu ponsel Ou Julong dan Guan Zheng sudah aktif, lokasi mereka pasti akan segera ketahuan. Namun dia ingin melihat, apakah Wei Chung berani mencari perkara padanya dengan mengirimkan orang untuk meringkus dua orang itu kemari.
Benar saja, rasa ingin tahu Hao Zhao tak lama langsung terbayar. Dia yang baru saja ingin berbincang-bincang dengan Ou Julong dan Guan Zheng di kamarnya, dihubungi oleh pengawal yang berjaga di lobi melalui radio handy talky.
"Rajawali, disini Elang 1. Ganti," terdengar suara radio HT yang terletak di atas meja sofa kamar VIP ini.
Hao Zhao langsung menyambar radio tersebut. Rajawali adalah kode dia sendiri yang dia pergunakan sebagai inisial selama berkomunikasi via radio HT dengan para pengawalnya.
Dia menekan tombol bicara dan menjawab panggilan itu. "Elang 1, Rajawali disini. Apakah ada informasi? Ganti."
"Lapor, Rajawali. Beberapa orang yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil baru saja memasuki lobi dan naik ke lantai atas. Kalau dihitung, setidaknya ada lima kelompok terdiri dari lima sampai tujuh orang. Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, terlihat mereka memberikan isyarat tubuh kepada para security di pintu masuk tadi. Apakah mereka perlu dicegat? Ganti," terdengar pengawal itu memberikan laporan.
"Ini pastilah orang-orang Hei Laohu," pikir Hao Zhao.
Maka dia kembali bertanya. "Elang 1, kemana tujuan mereka? Ganti."
"Tujuan mereka berbeda-beda. Dua kelompok menaiki lift, menuju ke lantai 15 dan lantai 16, selebihnya menaiki tangga darurat. Demikian, Rajawali. Ganti," jawab pengawal itu.
Hao Zhao tergelitik. Mengapa ada diantara orang-orang itu yang menaiki tangga darurat? Dari lantai 1 ke lantai 17 tempat Ou Julong dan Guan Zheng menginap ini tidaklah dekat, tentu akan sangat melelahkan kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Ini pasti memiliki tujuan tertentu. Apakah mereka itu sedang mengulur waktu, menunggu kawanan lain?
"Pasti mereka sedang berpencar dan akan berkumpul di suatu tempat, tapi dimana?" Hao Zhao bertanya-tanya sendiri.
"Elang 1, tunggu instruksi ku," pungkas Hao Zhao mengakhiri pembicaraan.
Kalau mereka sedang berpencar, pastilah akan ada kelompok-kelompok lainya yang akan datang menyusul. Hao Zhao belum mendapatkan laporan dari pengawal yang berjaga di basement, maka dia berinisiatif menanyakan kondisi di tempat parkir bawah tanah itu.
"Tiger 1, Tiger 1, Rajawali memanggil. Ganti," ujar Hao Zhao.
Terdengar suara seseorang langsung menyahut. "Rajawali, disini Tiger 1. Ada sesuatu yang ingin kami laporkan. Ganti."
Benar apa yang dipikirkan Hao Zhao. Seharusnya memang akan ada kelompok lainnya yang akan datang dari lantai bawah tanah itu.
"Silahkan, Tiger 1. Ganti," timpal Hao Zhao.
"Baru saja sepuluh mobil beriringan masuk ke parkiran basement. Dari masing-masing mobil keluar dua orang pria. Mereka sedang menunggu kedatangan lift. Dapat kami pastikan mereka menyembunyikan senjata di belakang punggung mereka itu. Apakah perlu kami cegat mereka sekarang, Rajawali? Ganti," lapor pengawal itu.
Hao Zhao berpikir sejenak kemudian berkata. "Tidak, biarkan saja mereka naik ke dalam lift, Tiger 1. Yang perlu diperhatikan adalah tujuan mereka ke lantai berapa. Segera laporkan begitu lantai tujuan mereka diketahui. Demikian, ganti."
"Dimengerti, Rajawali," tukas sang pengawal.
Hao Zhao telah memiliki sebuah kejutan untuk para bawahan Wei Chung ini. Letak kamar Ou Julong dan Guan Zheng telah diketahui dengan pasti oleh orang-orang Hei Laohu, pastilah mereka akan mendatangi kamar ini. Sekarang bagaimana dia mencegat orang-orang itu tanpa menimbulkan keributan dan menggangu tamu-tamu hotel.
"Apakah para bawahan si pengkhianat itu sudah menyusul kemari, Direktur Hao?" Ou Julong dari pembaringannya bertanya.
"Sepertinya begitu, Ou Julong," jawab Hao Zhao melirik Ou Julong. Kemudian sambungnya. "Kamu tenang saja, Ou Julong. Aku sudah punya rencana menjebak mereka itu.
"Wah, sepertinya akan sangat menyenangkan, Direktur Hao," Ou Julong terdengar bersemangat.
"Tentu saja," kata Hao Zhao tersenyum. Dia kemudian berdiri dan berkata. "Kamu berdua tunggu disini. Aku perlu berbicara dengan pengawal di luar."
Hao Zhao berjalan keluar dan membuka pintu.
"Suruh para pengawal yang sedang beristirahat di kamar untuk segera bersiap-siap. Segera berkumpul di koridor," kata Hao Zhao memerintahkan salah seorang pengawal di pintu.
"Baik, Direktur Hao," jawab pengawal itu.
__ADS_1
Hao Zhao tanpa menutup pintu itu berjalan kembali ke dalam kamar. Begitu sampai disana, terdengar lagi seseorang sedang memanggil inisialnya lewat radio HT.
"Rajawali, Tiger 1 ingin melapor," kata pengawal yang berjaga di basement.
"Masuk, Tiger 1. Rajawali mendengarkan. Ganti," jawab Hao Zhao.
"Rajawali, semua orang itu masuk ke dalam dua lift. Tujuan mereka sama, yaitu lantai 16. Ganti," lapor pengawal itu terdengar terburu-buru.
"Nah, ini dia. Lantai 16. Pastilah lantai 16 tempat mereka akan berkumpul dan secara bersama-sama akan menyerbu ke lantai 17, tepatnya kesini," pikir Hao Zhao.
Dia lantas memberikan instruksi kepada pengawal itu. "Begitu mereka sampai di lantai 16 kalian segera menyusul naik menggunakan lift dan berkumpul dengan tim Elang 1 di lantai 15. Pastikan orang-orang yang berada di tangga darurat telah naik ke atas, maka kalian ikuti mereka. Ganti."
"Baik, dimengerti, Rajawali," tandas pengawal itu.
Hao Zhao tanpa membuang waktu segera memberikan instruksi yang sama kepada para pengawal yang mengawasi di lobi.
"Elang 1, Rajawali ingin masuk. Ganti," panggil Hao Zhao.
"Rajawali, Elang 1 disini, Silahkan masuk. Ganti," jawab pengawal itu.
"Apakah tadi instruksi ku sudah dipahami? Segera naik menggunakan lift ke lantai 15 dan bergabung dengan tim Tiger 1 disana. Ganti," kata Hao Zhao memastikan.
"Kami sudah mengerti, Rajawali. Kami akan mencegat kelompok mencurigakan itu dari tangga darurat lantai 15 agar mereka tak dapat kabur. Ganti," timpal pengawal itu.
"Baik, segera laksanakan," Hao Zhao mengakhiri pembicaraan.
Hao Zhao menoleh kepada Ou Julong dan Guan Zheng yang duduk diam sedari tadi.
"Aku akan keluar sebentar. Kalian tunggu saja disini," ujarnya.
"Apakah kamu akan mencegat mereka sekarang?" tanya Ou Julong.
Ou Julong mana mau melewatkan momen seperti ini. Dengan bersemangat dia menurunkan kedua kakinya dari ranjang.
"Aku ikut, tidak bisa tidak," katanya sambil berusaha berdiri.
Namun baru saja dia akan berdiri, perutnya yang masih dibalut perban itu terasa sakit, sehingga membuat dia terbungkuk.
"Ugh.." keluhnya sambil memegang perutnya yang besar.
"Ou Julong," Guan Zheng berseru sambil memburu ke arah Ou Julong dan memapahnya.
Sementara Hao Zhao yang melihat semangat pria gendut botak itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Orang ini mengapa begitu bandel?" katanya dalam hati.
Namun di luaran dia berseru. "Baiklah, kalau memang kamu memaksa, Ou Julong. Guan Zheng, papah dia."
Guan Zheng hanya menganggukkan kepalanya sedikit.
Lalu ketiga pria paruh baya itu berjalan keluar. Di koridor sudah berbaris tiga puluh delapan orang pengawal terlatih, siap menunggu perintah Hao Zhao.
"Para pengawal, kita akan menghadang orang-orang yang ingin berbuat onar disini. Mereka membawa senjata tajam. Lumpuhkan mereka semua tanpa menimbulkan keributan. Apakah kalian sudah paham?" ujar Hao Zhao.
"Dipahami, Direktur Hao," jawab mereka serempak.
"Kalau begitu ayo berangkat. Dua orang kawal di belakang kami, dua orang di depan. Selebihnya menghadang di depan," kata Hao Zhao lagi.
Pasukan pengawal itu membuat formasi yang berbaris di depan Hao Zhao bertiga, lalu berjalan ke depan. Sementara empat orang mengawal di depan dan di belakang ketiga orang itu.
__ADS_1
Mereka menunggu di ujung koridor yang mengarah pada tangga darurat lantai 17. Dari sini apabila dilihat dari tangga darurat lantai 16, posisi mereka tidak kelihatan, karena terdapat belokan di setiap pergantian lantai.
Tak lama mereka berdiri disitu, terdengar derap kaki orang ramai datang dari arah bawah menuju kemari. Beberapa detik kemudian mulai bermunculan orang-orang berpakaian preman dengan sebilah golok di tangan masing-masing. Mereka benar-benar telah bersiap untuk menghabisi target.
Tapi yang tak mereka duga, begitu orang terdepan baru saja memasuki koridor lantai 17, terlihat tiga puluh empat pengawal yang berjaga di depan, berjejer memunggungi dinding, sementara Hao Zhao, Ou Julong dan Guan Zheng diapit dua pengawal di depan dan belakangnya. Kalau ingin mencapai mereka itu, tentulah harus menerobos barisan para pengawal di depan terlebih dahulu.
"Apa-apaan ini?" teriak preman yang paling depan.
Mendengar suara orang berteriak, Hao Zhao yang tak ingin menggangu para tamu hotel segera mengisyaratkan para pengawal untuk bertindak.
Tanpa berlama-lama, pengawal terdepan langsung menghajar orang yang berteriak tadi. Tendangan pengawal itu tak dapat dihindari oleh preman tadi, sehingga dia terdorong mundur dan menimpa teman-temannya yang ada di belakang.
Pengawal yang lain juga mulai menghampiri gerombolan preman bersenjata tajam itu dan menghajar mereka sampai tak berkutik. Meski mereka memiliki senjata di tangan, tapi disini, di tempat sempit begini tiada gunanya lagi. Salah mengayunkan senjata malah akan mengenai tubuh kawan sendiri. Mereka hanya menjadi bulan-bulanan saja. Setiap ayunan kaki dan tangan para pengawal, pastilah tak dapat mereka hindari.
"Arrghh...!!"
"Aduh, mak, kaki ku..!"
"Hidung ku patah..!!"
Keluhan kesakitan terdengar sahut-sahutan dari para preman itu. Mereka dipaksa untuk tumpang tindih di tangga darurat, bahkan ada juga yang menimpa orang-orang di belakang barisan yang tentu saja membuat mereka menggelinding ke bawah. Namun baru saja mereka akan berdiri, datang lagi dua belas orang pengawal dari lantai bawah, bersiap menghajar orang-orang ini.
Jadilah puluhan orang bawahan Wei Chung dihajar dari atas dan bawah tangga darurat ini. Mereka terkepung. Mereka tak dapat kabur, melawan pun percuma. Akhirnya mereka hanya menerima pasrah dihajar orang.
"Ampun, ampuni kami, jangan pukul lagi," orang-orang itu memohon ampun sambil bersujud di undakan anak tangga.
Tapi para pengawal mana mau akan berhenti kalau tidak mendapatkan perintah Hao Zhao. Lagian siapa yang tak senang mendapatkan mainan empuk begini? Mereka terus saja memukuli para bawahan Wei Chung, mau kaki, tangan, kepala, terserah yang mana saja yang dapat mereka jadikan sasaran pukul.
"Sudah, cukup," ujar Hao Zhao.
Begitu suaranya terdengar, kontan saja semua pengawal dari lantai atas dan lantai bawah menghentikan pemukulan. Paling tidak, jumlah anggota Hei Laohu yang sedang tumpang tindih kesakitan disini ada sekitar lima puluh orang. Mereka semuanya meringkuk dan bersujud.
Hao Zhao, Ou Julong yang di papah Guan Zheng berjalan ke ujung undakan anak tangga. Kalau dilihat dari bawah, tempat komplotan Hei Laohu sedang mengerang-ngerang kesakitan, ketiga orang itu tampak begitu berwibawa.
"Apakah kalian sudah tahu salah?" Hao Zhao menuruni satu anak tangga.
"Ampun, Direktur Hao. Kami yang salah. Kami ingin berbuat keonaran di properti milik mu ini. Kami mohon, ampuni kami," kata salah seorang preman sambil bersujud.
"Mengapa kalian ingin berbuat onar disini? Apakah kalian orang-orang Hei Laohu sudah tak memandang ku lagi?" tanya Hao Zhao.
"Bukan begitu, Direktur Hao. Kami.. Kami kesini atas perintah Ketua Wei untuk meringkus kedua orang itu," jawabnya sambil menunjuk Ou Julong dan Guan Zheng.
"Oh, ketua kalian ingin menggangu tamu ku, begitu?" balas Hao Zhao sinis.
Sebaliknya preman itu menjadi gemetaran. Ini tentu akan berdampak kepada kerja sama antara Hei Laohu dan King Palace Hotel ke depannya.
"Bukan begitu, Direktur Hao. Ketua kami hanya..." dia ingin menjelaskan.
Tapi Hao Zhao langsung memotong. "Sampaikan kepada Wei Chung. Karena dia sudah mengganggu tamu ku, maka kerja sama kedua belah pihak berakhir disini. Kalian orang-orang Hei Laohu silahkan angkat kaki dari hotel ku ini, jika masih ada yang tertinggal, maka akan ku patahan kakinya, kalian paham?"
"Kami paham, Direktur Hao," jawab preman-preman itu beramai-ramai.
"Tunggu apa lagi? Tidak cepat menggelinding dari sini?" Hao Zhao menaikkan kedua alisnya, seperti menakuti orang-orang ini.
"Kami pergi. Kami pergi. Ayo.." kata preman itu mengajak rekan-rekannya pergi dan meninggalkan senjata-senjata tajam yang berceceran di lantai dan undakan anak tangga.
"Jangan ada yang lewat lift. Kaki kalian terlalu kotor untuk menaiki lift hotel ku ini. Dan bawa juga para security yang sedang berjaga di lobi dan basement bersama kalian. Kalau tidak, maka mereka pun akan ku patahkan kakinya," Hao Zhao menghardik.
Sambil menahan rasa sakit, puluhan preman itu dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga, bahkan ada juga yang merangkak karena mengalami patah kaki.
__ADS_1