The Investor

The Investor
Bab 35


__ADS_3

Merasa belum puas, Cia Yonggan berusaha masuk lebih jauh ke dalam rumahnya. Dari kamar depan, dia sekarang berjalan sambil meraba-raba dinding ke arah belakang. Dalam gelap begini dia tak merasa perlu memiliki penerangan, toh dia juga telah hapal seluruh struktur bangunan rumahnya ini.


"Yonggan," saat ini terdengar suara Xiao Meilin memanggil namanya dari depan.


Xiao Meilin mulai merasa tak sabaran karena di luar mulai terasa angin semakin terasa dingin. Setidaknya di dalam rumah, takkan sedingin ketika di luar.


"Aku disini, Cici, kamu tunggu sebentar," jawab Cia Yonggan.


Samar penciumannya menangkap aroma lezat yang biasanya keluar dari makanan yang belum lama matang. Aroma yang mengundang serela itu berasal dari ruang makan, maka ke sanalah dia melangkah.


Disini terasa jauh lebih gelap, sambil terus meraba-raba, tangannya akhirnya menyentuh meja makan. Aroma itu berasal tak jauh dari ini, pastilah ada makanan di meja ini.


Tidak aneh apabila rumah yang dihuni terdapat aroma lezat makanan, namun menurut pikiran Cia Yonggan tetap saja aneh, dia mencium aroma makanan, tapi tak ada orang di rumah.


Sambil berjalan memutar meja, tangannya terus meraba-raba permukaan meja sampai kemudian dia meraba panci berisi makanan. Panci itu tak lagi panas, namun permukaannya masih menyisakan sedikit rasa hangat yang menandakan makanan di dalam panci dimasak belum lama ini. Artinya Gao Mei Gui beberapa waktu lalu ****** memasak disini, namun mengapa dia tak memakan masakannya?


"Degh," dia tersentak.


"Mobil itu. Mobil terakhir tadi itu, pasti dia ada di dalam mobil itu!" Cia Yonggan berseru secara tak sadar.


Dia mengira-ngira Gao Mei Gui dipaksa orang pergi dari sini, kalau tidak tentu dia akan menghabiskan masakan yang baru dia masak. Mereka baru saja berpapasan di jalan. Mobil terakhir yang berpapasan dengan mereka, mobil yang sama-sama hampir tertimpa pohon tumbang dengannya itu tadi, ternyata ada Gao Mei Gui di dalamnya!


"Siapa yang ada di dalam mobil?" tiba-tiba Xiao Meilin sudah berada di belakang Cia Yonggan.


"Cici, mengagetkan saja," Cia Yonggan tentu saja kaget dengan kehadiran Xiao Meilin yang tiba-tiba ada di situ.


Xiao Meilin tak menggubrisnya, sebaliknya gadis itu berjalan ke sisi Cia Yonggan sambil mengarahkan senter yang ada di tangan untuk menerangi permukaan meja. Barulah terlihat dengan jelas, di dalam panci itu berisi kwetiau yang masih hangat dan belum terletak sumpit di situ.


"Hmmm.. Masakan ini aromanya lezat, pasti rasanya enak," kata Xiao Meilin mendekatkan hidungnya ke dalam panci dan menghirup aroma kwetiau buatan Gao Mei Gui itu


Cia Yonggan teringat, sebelum dia berpisah dengan Gao Mei Gui, gadis itu sempat menitip daging untuk dia akan memasak kwetiau ini. Bagaimana bisa sekarang tiba-tiba dia dapat memasak kwetiau, bukankah mereka saat itu kehabisan stok makanan? Semakin banyak pertanyaan muncul di benak Cia Yonggan, pertanyaan yang tentu takkan dapat dia jawab untuk saat ini.


"Ini belum lama matang. Masih sedikit hangat. Yonggan, menurut ku kekasih mu baru saja meninggalkan tempat ini," kata Xiao Meilin.


"Benar, Cici. Perkiraan ku dia berada di dalam mobil terakhir yang berpapasan dengan kita di hutan itu tadi," dia menjawab. Lalu dia bertanya. "Cici, maafkan aku, aku ingin minta bantuan mu."

__ADS_1


"Hal apa itu?" Xiao Meilin bertanya balik.


"Cici, dengan terpaksa aku harus merepotkan mu. Bisakah kita kembali ke Nanping? Aku rasa kita bisa menyusul mobil tadi itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah dia dijemput oleh pamannya," kata Cia Yonggan bersemangat.


Menurut dia, apabila Gao Mei Gui dijemput oleh Ou Julong, maka tak ada yang perlu dia khawatirkan lagi. Namun bagaimana kalau orang itu bukan Ou Julong?


"Aku justru kemari untuk bertanya pada mu, apakah ada jalur lain selain jalur yang tadi kita lewati? Jalan itu tadi sudah pasti tak dapat kita lewati. Kamu tahu sendiri pohon tadi memblokir jalan. Dan apakah disini biasanya memang tak terdapat jaringan seluler? Sebab handphone ku tak terdapat jaringan sama sekali," kata Xiao Meilin.


Semangat Cia Yonggan tiba-tiba hilang mendengar itu. Dia baru ingat, pohon yang tersambar petir itu tadi tumbang tepat di badan jalan. Biasanya kalau ada kejadian begini, warga sekitar sini akan menghubungi petugas pemeliharaan jalan dan bersama-sama mereka menyingkirkan pohon itu dari badan jalan. Namun sekarang jaringan seluler pun tak tersedia, bagaimana hendak mengabarkan kepada petugas?


Kemungkinan petugas pemeliharaan jalan akan datang besok pagi. Alhasil, mereka terjebak disini malam hari ini. Keinginan untuk menyusul Gao Mei Gui pun menjadi buyar seketika.


"Hhhh... Sayangnya tidak ada jalur lain lagi, Cici. Dan memang seperti biasanya, jaringan seluler akan ikut hilang kalau listrik padam begini," dia berkata pasrah.


Menyadari Cia Yonggan yang pasrah itu, Xiao Meilin lantas berpikir beberapa saat. Dia memiliki sebuah ide. Meski idenya tak lantas dapat menyelesaikan masalah Cia Yonggan dengan segera, namun terlambat beberapa waktu juga tidak apa-apa. Toh, apabila mereka bisa keluar dari sini, Cia Yonggan masih bisa menyusul Gao Mei Gui ke tempat pamannya.


"Kamu tunggu sebentar," kata Xiao Meilin dan dengan penerangan senter di tangannya, dia berjalan ke depan rumah.


Cia Yonggan masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Lalu kalau sudah begini, apa lagi yang dapat dia perbuat? Sementara untuk menghubungi nomor Ou Julong secara langsung, dia juga tak bisa, selain tak ada jaringan, dia juga tak memiliki handphone, dan nomor Ou Julong ada di handphonenya yang tak tahu entah kemana. Pastilah anak buah Wei Chung yang mengambil handphonenya. Dan apakah Xiao Meilin yang sepertinya memiliki pengaruh cukup kuat itu pernah menyimpan nomor ponsel Ou Julong?


"Ah..." dia menggeleng-geleng sendiri.


Tak lama kemudian dia mendengar mobil di depan rumahnya sepertinya bergerak meninggalkan kediamannya. Lalu sosok Xiao Meilin kembali masuk menyusulnya. Tapi di tangan gadis itu tak lagi terdapat senter, Xiao Meilin berjalan dengan menghidupkan senter yang ada di perangkat ponselnya yang tentu saja kalah jauh kalau dibandingkan dengan penerangan yang dihasilkan oleh senter sebelumnya.


"Cici, aku mendengar suara mobil berjalan. Apakah itu mobil mu?" Cia Yonggan menanyakan.


"Benar. Aku memerintahkan kedua bawahan ku untuk mencari sinyal ponsel. Kalau mereka berhasil, maka akan ada alat berat yang datang kemari malam ini juga. Sementara kita terpaksa menunggu disini," jawab Xiao Meilin sambil menarik kursi di meja makan dan duduk di situ.


"Kemana mereka akan mencari sinyal? Bukankah jalan itu terhambat, dan tak bisa dilewati?" Cia Yonggan heran dan mengkhawatirkan kedua bawahan Xiao Meilin.


"Tak peduli mereka pergi kemana, mau jalan kaki atau bagaimana. Mau hujan atau tidak, pokoknya mereka harus berhasil membawa alat berat kemari sesegera mungkin" kata Xiao Meilin tegas. Lalu dia menyambung. "Yonggan, kwetiau ini terlalu sayang kalau tidak dimakan, aku kebetulan lapar. Aku tahu kamu juga sedang lapar, ayo makan."


Cia Yonggan hanya pasrah menuruti permintaan Xiao Meilin. Tak baik menyia-nyiakan makanan, seperti yang kedua orangtuanya ajarkan. Dia mengambil piring dan sumpit dan berdua mereka makan hanya dengan penerangan ponsel Xiao Meilin.


Saat keduanya usai menyantap kwetiau itu, mereka terlibat percakapan ringan. Terlihat Xiao Meilin lebih mendominasi percakapan, sementara Cia Yonggan lebih sering terlihat termenung.

__ADS_1


Bagi Xiao Meilin, tak masalah menunggu disini di kegelapan ini bersama pemuda yang masih tergolong orang asing baginya, daripada dia ikut kedua bawahannya dan menunggu mereka di dalam mobil. Bukankah tempat tumbangnya pohon tadi berada di hutan? Bagaimanapun sebagai seorang gadis, dia masih merasa ngeri kalau ditinggal sendirian di hutan.


Selain itu tak ada yang perlu dia khawatirkan akan Cia Yonggan. Dari tutur sapa dan penampilannya, dia adalah pemuda yang bisa dipercaya. Lagian dia sedang cedera begitu, takkan bisa berbuat macam-macam kepadanya, itu pun kalau pemuda itu memiliki niat yang tidak baik.


Sementara Cia Yonggan sebenarnya agak canggung berduaan saja dengan gadis ini. Di tempat ini biasanya dia dan Gao Mei Gui makan bersama dan mengobrol, namun sekarang yang hadir disini bukanlah Gao Mei Gui, melainkan gadis lain. Meski dia tak memiliki ikatan apapun dengan Xiao Meilin, tetap saja ada rasa bersalah Cia Yonggan terhadap Gao Mei Gui.


Belum lagi nanti, kalaupun kedua bawahan Xiao Meilin berhasil melaksanakan perintah, pastinya akan memakan waktu lama untuk sampai ke tempat ini. Alhasil dia berpikir, lalu dimana Xiao Meilin ini akan tidur, bukankah dia hanya memiliki satu ranjang saja yang biasa dipakai oleh Gao Mei Gui? Semakin rasa bersalah menghantuinya.


Namun apa yang harus dikata, memang sudah keadaan. Maka sebelum gadis itu mulai merasakan kantuk, ada baiknya dia kembali ke kamar itu dan menyediakan tempat bagi Xiao Meilin kalau sewaktu-waktu gadis itu ingin tidur, sementara dia akan tidur di luar seperti biasanya, dengan beralaskan tikar.


"Cici, tunggu sebentar ya," kata Cia Yonggan sambil berdiri.


"Kamu mau kemana?" Xiao Meilin bertanya sedikit khawatir.


Bagaimanapun ia tetaplah seorang gadis yang akan ketakutan saat ditinggal sendirian saat gelap.


"Aku mau ke kamar depan sebentar. Ada perlu sebentar, kamu tunggu saja disini, Cici," katanya lagi.


"Kamu jangan lama-lama, aku takut disini," Xiao Meilin mulai menghidupkan layar ponselnya.


Selama pemuda itu pergi, kalau dia tak menyibukkan diri dengan ponsel, tentu pikirannya akan berkeliaran kemana-mana.


Cia Yonggan kembali membuka pintu kamar itu begitu dia sampai. Penerangan di kamar ini masih sama dengan ketika saat pertama dia menengok kesini. Dengan samar dia dapat melihat siluet ranjang yang ada di kamar. Bukankah ini aneh? Kalau tadi dia bisa menangkap pencahayaan di dalam kamar karena adanya pantulan lampu mobil, sekarang mobilnya sudah pergi, tapi cahaya di kamar ini masih tertinggal.


Mata Cia Yonggan langsung tertuju ke lantai di pojok itu, sumber cahaya di dalam kamar berasal dari lantai itu. Sudah umur segini, dan dibesarkan di rumah ini, belum pernah dia melihat cahaya yang datang dari lantai kamar itu seperti saat ini.


Dengan penasaran dia berjalan ke sudut itu dan melihat ukuran cahaya dari bawah lantai keramik ini cukup besar. Di kamar ini lantainya merupakan keramik berwarna putih, begitupun lantai yang ada di pojok, semuanya sama. Namun mengapa bisa ada cahaya dari bawah itu?


Sambil berjongkok, dia mengetok-ngetok lantai bercahaya itu. "Tok tok tok.."


Berkali-kali dia mengetok dan membandingkan bunyi yang dikeluarkan antara lantai yang mengeluarkan cahaya itu dengan lantai yang tak bercahaya. Sepertinya lantai bercahaya itu memilih ruang kosong di dalamnya, tidak padat seperti kebanyakan lantai keramik.


Kalau lantai ini memiliki ruang kosong di bawahnya, pastilah cahaya itu bersumber dari ruang itu. Dan pasti lantai ini juga bisa dibuka. Untuk memastikannya, dia menyapukan jarinya di sekeliling lantai terang itu dan menemukan sebuah tuas berupa tombol kecil. Tanpa ragu sedikitpun dia menekan tombol itu.


Secara tak terduga lantai seukuran dua meter dan lebar satu meter itu tiba-tiba membuka ke atas dan karena didorong oleh pegas yang terdapat pada bagian ujung. Begitu lantai itu membuka, mata Cia Yonggan langsung tertuju kepada sumber cahaya. Di bawah sana, sekitar tiga meter dari permukaan lantai ini dia melihat sebuah bola seukuran dua kali kepalan tangan orang dewasa terletak pada sebuah meja.

__ADS_1


Dari sini terlihat benda bulat itu berwarna hitam, namun mengapa bisa mengeluarkan cahaya putih yang lumayan terang? Bukankah benda gelap begitu takkan mungkin mengeluarkan cahaya lain selain warna aslinya?


Semakin penasaran, Cia Yonggan menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan di bawah itu. Di hadapnnya terdapat undakan anak tangga terbuat dari batu yang menyambung sampai ke dasar permukaan ruangan di bawah itu. Perlahan, sepertinya bola kehitaman-hitaman itu menarik dirinya untuk mendekat, dia mulai berjalan menuruni anak tangga.


__ADS_2