
Selama perjalanan pulang kembali ke King Palace Hotel, tak henti-hentinya Hao Zhao memikirkan kembali apa yang telah dia dapati selama kunjungannya ke kediaman Cia Yonggan barusan.
Pakaian berlumpur di kamar mandi itu pastilah pakaian Cia Yonggan, tak mungkin ada lelaki lain di rumah itu selain Cia Yonggan. Lalu kalau dia sudah kembali, mengapa anak gadis mendiang Gao Li Liang itu tak memberikan kabar kepadanya? Bukankah Ou Julong sampai menderita begitu karena mencari tahu keberadaan pemuda itu?
Maka dia mencoba menghubungi nomor Gao Mei Gui dari atas Helikopter.
"Tuuuuut... Tuuuuut... Tuuuuut..."
Panggilan itu berdering, menandakan nomor Gao Mei Gui sedang aktif. Tapi mengapa dia tak menjawabnya? Bahkan setelah Hao Zhao mencoba berkali-kali tetap tak diangkat oleh si empunya yang punya nomor.
Sementara Gao Mei Gui kini sedang berada di atas sebuah mobil Land Cruiser hitam. Dia duduk di depan, sementara di sebelahnya, Mo Kat sedang membelokkan kemudi mobil itu memasuki gerbang dermaga umum di Kota Fuzhou.
Gao Mei Gui terlihat tenang-tenang saja, sama sekali tak seperti seseorang yang sedang diculik. Bahkan saat mendapati nomor Hao Zhao yang terus-menerus menghubunginya, dia melaporkannya kepada Mo Kat.
"Kakak Mo Kat, Direktur Hao Zhao terus menelpon. Bagaimana baiknya?" dia menanyakan pendapat Mo Kat. Kemudian menambahkan. "Dia pasti khawatir, aku belum memberikan kabar sama sekali kepada dia."
Bahkan dia memanggil Mo Kat layaknya kakak sendiri. Ada apa dengan gadis ini?
Gao Mei Gui menunduk sedikit murung. Dirinya tentu khawatir akan dicap sebagai orang tak tahu balas budi oleh Hao Zhao karena tak pernah memberikan kabar kepadanya. Padahal Direktur King Palace Hotel itu sedang mengkhawatirkan dia dan kekasihnya, Cia Yonggan.
Mo Kat menoleh sedikit kepada Gao Mei Gui dan menjawab. "Mei Gui, sebaiknya kirimkan saja pesan kepadanya, katakan kamu dan Cia Yonggan sedang baik-baik saja agar dia tak khawatir lagi. Kalau berbicara di telepon, takutnya nanti akan menjadi runyam."
"Baiklah, Kakak Mo Kat," kata Gao Mei Gui.
Kemudian gadis itu mengetikkan kalimat di ruang obrolan Hao Zhao.
"Direktur Hao, maafkan aku tidak memberikan kabar. Aku dan Cia Yonggan saat ini sedang baik-baik saja. Dia sudah berada di tempat yang aman, anda tak perlu khawatir, nanti kalau ada kesempatan, kami pasti datang berkunjung."
Dan pesan itu dikirim.
"Mei Gui, begitu sampai disana, kamu harus berganti nomor. Aku khawatir nomor mu akan dilacak Lu Meng. Kamu belum tahu saja bagaimana dia. Sekali orang itu menargetkan seseorang, akan susah lepas," Mo Kat berkata serius.
Kini saat sedang bersama Gao Mei Gui, tak terlihat tatapan dingin ciri khas Mo Kat seperti yang biasa dia tunjukkan. Malah tergambar seraut wajah cemas. Pria dingin itu sedang mencemaskan sesuatu hal.
Sementara Hao Zhao yang membaca pesan Gao Mei Gui menjadi terkejut. Benarkah Cia Yonggan masih hidup dan baik-baik saja? Lalu mengapa gadis itu tak memberitahukan melalui panggilan suara saja? Sangat mencurigakan.
Meski begitu, dia juga sedikit lega mendengar kabar bahwa Cia Yonggan masih hidup. Artinya kini dia bisa fokus menjalankan tantangan yang diberikan Tuan Besar Shu kepadanya. Shu Han Thian menantang apa yang akan Hao Zhao lakukan kepada orang yang telah berusaha mencari gara-gara dengan Tuan Besar Shu!
Di waktu bersamaan, di dermaga penyeberangan laut Kota Fuzhou, mobil yang dikendarai Cia Yonggan bersama Xiao Meilin juga baru saja memasuki gerbang pelabuhan.
Dermaga disini dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian memiliki fungsi yang berbeda. Seperti tempat pembongkaran barang-barang dari kapal kargo maupun kapal tanker serta tempat muat barang yang akan dikirimkan ke luar negeri. Kesemuanya itu dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ekspor dan impor.
Selain dermaga untuk bongkar muat barang, tersedia pula satu dermaga umum yang digunakan sebagai tambatan perahu-perahu dan kapal-kapal mewah pribadi berbahan fiberglass. Biasanya orang-orang kaya di Kota Fuzhou yang memiliki hobi memancing ikan laut menambatkan kapalnya di dermaga ini. Sebagian perahu itu ada yang menyerupai kapal dan ada pula yang berupa speedboat biasa. Tak jarang diantaranya disewakan kepada siapa saja yang menginginkan.
Dermaga umum ini dikelola oleh Xiao Chang Fu, kakak tertua Xiao Meilin. Keluarga Xiao memiliki banyak sekali bisnis yang bergerak di bidang properti di Provinsi Fujian, bahkan telah merajai di sembilan wilayah prefektur yang ada di provinsi itu.
Xiao Meilin sendiri yang merupakan anak bungsu dan putri satu-satunya di keluarga Xiao, dipercayai mengelola bisnis keluarga di dua wilayah setingkat prefektur, yaitu Kota Nanping dan Kota Ningde.
__ADS_1
Meskipun Xiao Meilin jarang kesini, tapi nama keluarganya sangat dikenal oleh orang-orang disini, termasuk pegawai kantor-kantor pelayanan masyarakat yang ada di dermaga ini.
"Yonggan, disini ada kantor cabang kementerian keamanan umum kalau kamu ingin mencari tahu apakah nama Gao Mei Gui tercatat pernah menyeberang dari sini ke Taiwan," kata Xiao Meilin.
"Ah, ya, sebaiknya kita tanyakan kesitu saja, Cici," kata Cia Yonggan menanggapi ide itu.
Kementerian Keamanan Umum biasanya mengeluarkan surat izin masuk warga Taiwan yang baru saja datang ke Kota Fuzhou. Selain itu biasanya mereka juga mencatat nama-nama warga Tiongkok yang akan berangkat ke Taiwan.
Beruntung sekali Cia Yonggan ini. Dia ditemani oleh gadis kaya dan memiliki banyak pengetahuan di Kota Fuzhou. Kalau seandainya dia sendirian yang datang ke kota ini, kemungkinan besar dia akan menjadi kebingungan dan tak tahu apa yang akan dia lakukan untuk mencari Gao Mei Gui, bahkan uang sepeser pun dia tidak punya. Hanya dengan bermodalkan nekat bagaimana dia akan berhasil?
Tak lama kemudian Cia Yonggan telah memarkirkan mobil itu di samping kantor cabang Kementerian Keamanan Umum dan masuk ke dalam.
Mereka disambut oleh petugas wanita disana dan dengan ramah menyapa.
"Selamat siang, Tuan dan Nona, ada yang bisa dibantu?" sapa petugas itu sambil tersenyum ramah.
"Aku Meilin dari keluarga Xiao. Aku ingin melihat daftar orang yang berangkat ke Taiwan sejak kemarin malam sampai hari ini. Apakah bisa?" ujar Xiao Meilin.
Dia sengaja menonjolkan nama keluarganya agar urusan menjadi lebih cepat selesai, karena dia memang sedang terburu-buru.
Sang petugas terdiam sebentar. Setelah menyadari bahwa gadis di depannya ini adalah putri keluarga Xiao, senyumannya menjadi semakin lebar.
"Tentu saja bisa, Nona Xiao," katanya. Lalu membolak-balik lembaran kertas yang ada di sampingnya sambil berkata lagi. "Tidak banyak orang yang berangkat ke Taiwan sejak kemarin malam, Nona Xiao. Kalau boleh tahu, siapa nama orang yang ingin anda cari?"
"Namanya Gao Mei Gui, usianya.." Xiao Meilin bingung, karena dia memang tidak tahu berapa usia Gao Mei Gui.
"Dua puluh dua tahun," sahut Cia Yonggan cepat.
Petugas itu membaca deretan nama orang di lembaran kertas itu satu per satu. Namun dia tak menemukan nama yang disebutkan oleh Xiao Meilin.
"Mohon maaf, Nona Xiao. Nama itu tidak ada dalam daftar warga yang akan pergi berkunjung ke Taiwan. Disini hanya ada sepuluh warga yang berangkat kemarin. Dan hari ini baru ada tiga orang," petugas itu menerangkan.
Mendengar itu Cia Yonggan menjadi sedikit berlega hati. Setidaknya kekasihnya itu masih berada di kota ini. Maka dia tak harus pergi mencari ke Taiwan.
Sementara Xiao Meilin menunjukkan gestur bertanya kepada Cia Yonggan. Dia ingin menanyakan kemana lagi harus mencari informasi, yang dijawab Cia Yonggan dengan mengangkat kedua bahunya.
Cia Yonggan sendiri tak terlalu mengerti soal birokrasi. Dirinya tentu lebih mengandalkan Xiao Meilin ini.
"Kalau begitu terima kasih atas informasinya, Nona. Kami pergi dulu," kata Xiao Meilin dan berjalan keluar.
Cia Yonggan mengikuti gadis itu.
Meski Gao Mei Gui belum tercatat berkunjung ke Taiwan, tapi tak menutup kemungkinan gadis itu akan segera pergi sewaktu-waktu. Cia Yonggan mengambil keputusan untuk menunggu saja di dermaga ini.
"Cici, kamu pulanglah dulu. Bukankah kamu telah ditunggu di rumah? Aku ingin bersantai disini barang sejenak," kata Cia Yonggan beralasan untuk tinggal.
Memang gadis itu sedang ditunggu oleh orang tua dan kakak-kakaknya untuk makan siang bersama di kediaman keluarga besar Xiao. Dan Xiao Meilin sebenarnya ingin mengundang pemuda ini untuk makan siang bersama keluarganya. Tapi demi melihat urusan Cia Yonggan yang tak bisa ditunda ini, bagaimana dia bisa mengundangnya?
__ADS_1
Xiao Meilin melihat jam tangan yang sudah menunjukkan lewat pukul satu siang. Dia tidak bisa melewatkan makan siang bersama keluarga kali ini. Ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh ayahnya mengenai bisnis, begitupun sebaliknya, dia harus memberikan laporan perkembangan usaha yang dia kelola di Kota Nanping kepada ayahnya.
"Yonggan, aku harus pergi. Apakah kamu tidak sebaiknya kembali lagi kesini setelah makan siang? Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantar mu kembali kesini, bagaimana?" kata Xiao Meilin.
Seperti biasa, gadis ini selalu keberatan untuk berpisah dengan Cia Yonggan.
" Tidak, Cici. Aku disini saja dulu. Kamu pergilah," Cia Yonggan menolak halus tawaran gadis itu.
"Tapi kamu belum makan siang ini. Hanya sarapan tadi pagi itu saja," dia mengkhawatirkan Cia Yonggan.
Dia tahu betul, Cia Yonggan sedang tidak memiliki ponsel, apalagi akses ke rekening banknya. Tentu pemuda itu akan kelaparan karena tidak punya uang sama sekali.
"Tidak apa-apa, Cici. Kamu jangan khawatir begitu, aku belum merasa lapar," Cia Yonggan terus berkilah.
Dia lalu membukakan pintu depan menyuruh Xiao Meilin segera berangkat. Gadis itu naik dan duduk di belakang kemudi. Tapi dia terus menatap Cia Yonggan.
"Pergilah, Cici," ujar Cia Yonggan sambil menutup kembali pintu mobil dari luar.
Maka mau tak mau Xiao Meilin menghidupkan mesin mobil. Sesaat sebelum dia menginjak pedal gas, dia menyodorkan ponselnya langsung ke tangan Cia Yonggan.
"Passwordnya adalah tanggal lahir ku," kata gadis itu yang langsung tancap gas dari situ.
"Cici, tidak perlu..." Cia Yonggan mengejar mobil itu.
Tapi Xiao Meilin sudah pergi. Dia meninggalkan ponselnya kepada Cia Yonggan apabila sewaktu-waktu pemuda itu membutuhkan apa-apa, dapat memakai ponselnya. Sebegitu percayanya Xiao Meilin kepada Cia Yonggan, sampai-sampai dia tak merasa khawatir pemuda itu akan menguras isi rekeningnya. Cia Yonggan tentu saja dapat tahu tanggal lahir Xiao Meilin saat dia menyebutkan kalimat terakhir tadi.
"Ah, Cici, kamu..." mau tak mau Cia Yonggan memasukkan ponsel itu ke dalam kantong celananya.
Dia kemudian berjalan ke arah dermaga. Dimana disitu terdapat banyak kapal dan perahu yang sedang tertambat.
Secara tidak sengaja dia melihat sesosok tubuh ramping sedang berdiri di haluan sebuah kapal. Tatapan gadis itu lurus ke depan, ke arah laut luas. Rambut sepunggungnya yang hitam berkibaran karena ditiup angin laut.
"Degh!"
Jantung Cia Yonggan berdegub kencang demi melihat sosok itu. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Gao Mei Gui. Bahkan saat gadis tersebut berdiri menyamping kira-kira 100 meter di depannya, dia tak dapat meragukan lagi, ya itu adalah kekasihnya yang sedang dia cari-cari.
Seorang ABK terlihat sedang melepaskan tali kapal pada sisi kiri dari besi tambatan dermaga. Dan ABK itu sedang menuju kepada tali kedua. Mesin kapal berbahan fiberglass itu terdengar meraung dari posisi Cia Yonggan berdiri saat ini. Artinya kapal itu akan segera meninggalkan dermaga usai tali kedua dilepaskan.
Begitu tali itu terlepas, terlihat kapal mulai bergerak sedikit ke depan. Maka tanpa membuang waktu, Cia Yonggan memburu ke arah kapal itu. ABK tak melihat ada seseorang yang sedang berlari menuju kapal. Dia sedang sibuk menggulung tali dan menarik polyform buoy ke atas kapal.
Begitu sampai di ujung dermaga, Cia Yonggan melompat ke dalam air.
"Hap!"
Hampir saja dia tak dapat meraih sudut belakang bagian bawah kapal. Seluruh tubuhnya terendam air laut. Tangan kirinya berpegangan pada bodi kapal dan tangan kanannya menyangga tubuhnya pada mesin berkekuatan 100 PK yang tengah meraung-raung. Sedikit meleset, bisa saja baling-baling mesin kapal itu menghancurkan badannya.
Dia berusaha naik ke kapal, kakinya berpijak pada sisi-sisi yang terdapat di mesin kapal. Dan dengan ringan dia melompat naik.
__ADS_1
Mengabaikan Gao Mei Gui yang berdiri di haluan depan, dia perlahan masuk ke dalam anjungan kapal itu. Di dalam berjejer beberapa kursi penumpang di kiri dan kanan. Sementara di depan, nakhoda kapal sedang memegang kemudi kapal. Di samping kiri nakhoda itulah Mo Kat dengan postur tinggi kurus sedang memandang lurus ke depan, membelakangi Cia Yonggan yang melangkah pelan mendekatinya.
Mo Kat merasakan lantai kapal tempat dia berpijak kini menjadi basah. Ada air yang mengalir dari belakang. Dia menundukkan muka ke bawah. Benar saja, air itu berasal dari arah belakang dan menetes dari atas. Namun saat dia hendak menoleh ke belakang, seseorang yang mengejutkan dia telah berdiri tepat di sampingnya, memandang lurus ke depan, ke arah sosok Gao Mei Gui yang sangat jelas terlihat punggungnya dari sini.