
Mentari pagi ini belum naik terlalu tinggi. Ou Julong dan Gao Mei Gui baru saja menyelesaikan sarapan di kediaman Cia Yonggan.
Sepagi ini dia sudah dipaksa untuk berkendara selama hampir dua jam menuju ke Qianshan, tempat dimana Gao Mei Gui berada. Dia datang dengan membawakan pesanan Gao Mei Gui yaitu beberapa bahan makanan serta aneka hidangan siap saji untuk dia makan bersama Gao Mei Gu.
Melihat penampilan lusuh Gao Mei Gui, dia dapat memaklumi perasaan anak mendiang pimpinannya itu, jadi dia sengaja menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sedang berkecamuk di benaknya sejak keberangkatannya dari Nanping pagi tadi.
Mereka menyantap makanan dalam diam. Gao Mei Gui terlihat makan dengan sangat lahap karena seharian kemarin dia belum makan.
Ou Julong sebenarnya juga sedang memiliki kekalutan tersendiri. Perkumpulan Hei Laohu sudah diambil alih oleh Wei Chung hanya berselang dua hari sejak Gao Li Liang meninggal dunia. Ditambah lagi kejadian dua hari yang lalu, Ketua Perkumpulan Bao, Hong Gan dan seorang bawahan yang merupakan tangan kanannya juga dibunuh orang. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa kematian kedua pentolan perkumpulan bawah tanah Kota Nanping itu dibunuh oleh orang-orang suruhan dari Ketua Perkumpulan Xiongmeng de Shizi, Kang Fang. Tujuannya sudah pasti ingin melemahkan Perkumpulan Hei Laohu dan Perkumpulan Bao lalu dia akan menyatukan ketiga kekuatan itu di bawah pengaruhnya.
Tentu saja desas-desus itu mulai memancing perseteruan antara Perkumpulan Xiongmeng de Shizi kontra Perkumpulan Bao dan Perkumpulan Hei Laohu. Malah Wei Chung sebagai pemimpin baru di Perkumpulan Hei Laohu juga telah menyerukan persatuan kedua kubu untuk bersama-sama melenyapkan Kang Fang karena dianggap telah mencurangi Perkumpulan Hei Laohu dan Perkumpulan Bao.
Sementara menurut pemahaman Ou Julong, berdasarkan sumber informasi dari Cia Yonggan, seharusnya pembunuh Hong Gan adalah orang suruhan Wei Chung yang diketahui bernama Master Mo. Dengan artian, Wei Chung saat ini tengah menjalankan taktik adu domba kepada Perkumpulan Xiongmeng de Shizi. Apalagi Perkumpulan Bao saat ini belum mendudukkan pemimpin yang baru, mereka sedang terpecah menjadi dua bagian, yang tentu semakin memudahkan bagi Wei Chung melakukan aksinya.
Dan Ou Julong telah dapat membaca di Perkumpulan Hei Laohu sendiri, ternyata salah seorang kepercayaan mendiang Gao Li Liang, Po Yang juga berpihak kepada Wei Chung. Saat ini hanya Guan Zheng, dulunya seorang kepercayaan Gao Li Liang, yang dapat dia jadikan sekutu di dalam perkumpulan Hei Laohu.
Kedatangannya kali ini selain atas permintaan Gao Mei Gui, juga sekalian ingin menanyakan pendapat Cia Yonggan mengenai perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini di Kota Nanping. Tapi saat dia telah datang ke sini, dia tak mendapati pemuda itu. Dia sendiri juga masih berupaya menahan diri seperti apa yang dikatakan oleh Cia Yonggan dahulu, jadi dia terpaksa hanya mengikuti perkembangan tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi kalau dibiarkan, takutnya kelak dia tidak akan dapat membendung pengaruh Wei Chung yang semakin memantapkan posisinya.
"Paman Ou, terima kasih atas kedatangan mu. Maaf aku merepotkan mu untuk datang ke sini sepagi ini," Gao Mei Gui tiba-tiba memecah keheningan begitu dia menghabiskan makanan di piringnya.
Ou Julong buru-buru menjawab. "Mei Gui, kamu jangan terlalu sungkan pada Paman mu ini. Ada apa-apa kamu katakan saja pada ku."
Ou Julong sejenak menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Ukuran rumah ini terbilang luas dan memiliki dinding beton yang kuat, sementara di bagian loteng terlihat belum lama ini direnovasi ulang. Rumah sederhana ini sebenarnya bisa terlihat lebih megah apabila dilakukan renovasi menyeluruh seperti melakukan cat ulang pada dinding yang telah memudar dan kehitam-hitaman, apalagi kalau diisi dengan beberapa perabotan rumah tangga.
Dia dapat menyimpulkan bahwa rumah ini sebelumnya pernah mengalami peristiwa kebakaran yang menghanguskan seluruh perabotan di rumah ini dan hanya menyisakan bagian dinding beton dan lantai yang tak dapat dilalap api.
"Mei Gui, katakan pada ku, mengapa kamu bisa sampai ke sini? Terakhir kita bertemu, kamu masih bersama Cia Yonggan, entah kemana dia saat ini?" Ou Julong bertanya.
Dia ingin memancing pertanyaan mengenai keberadaan Cia Yonggan, karena dia sedari tadi tak melihat pemuda itu bersama Gao Mei Gui, dan pemuda itu belum sekalipun berkirim kabar padanya sejak pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu.
__ADS_1
Gao Mei Gui tak lantas menjawab pertanyaannya. Sebaliknya dia berdiri dari kursi makan itu dan berkata.
"Paman Ou, aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mu. Ayo ikut dengan ku," katanya sambil berjalan menuju pintu belakang rumah ini.
Di belakang rumah terlihatlah hamparan lahan kosong yang luas dan telah melalui proses penggemburan tanah namun belum ditanami bibit apapun. Di belakang sana terdapat hutan hijau dan perbukitan.
Ou Julong menduga Gao Mei Gui ini sedang merintis sebuah usaha pertanian di sini. Dia berkerut kening, ini tentu saja bertentangan dengan jurusan pendidikan gadis itu yang mengambil jurusan teknik sipil.
"Mei Gui, apakah kamu sedang belajar ilmu pertanian atau bagaimana?" dia tak bisa menahan diri untuk tak bertanya begitu mereka mendekati lahan pertanian itu.
"Bukan, Paman. Ini adalah usaha Cia Yonggan. Kami sudah memulai ini sejak seminggu belakangan," Gao Mei Gui mulai menjelaskan.
"Ah, bagus. Kalian orang semuda ini sudah memulai usaha seperti ini, tentu masa depan kalian akan lebih cemerlang kelak," kata Ou Julong terlihat senang.
"Terima kasih, Paman. Tapi kami... Dia..." Gao Mei Gui menundukkan muka.
"Ada apa dengan dia? Mengapa dari tadi kamu tidak mengatakan dimana dia itu? Ada hal yang ingin ku katakan padanya," Ou Julong terlihat mulai tak sabaran.
"Maksud mu, dia pergi dan meninggalkan mu disini sendiri sejak kemarin lalu tak memberikan kabar?" dia terlihat geregetan.
"Ya. Begitulah adanya, Paman," kata Gao Mei Gui lagi.
"Dan kamu menduga pasti terjadi sesuatu padanya?" tanya Ou Julong mulai khawatir.
"Betul, Paman. Makanya aku meminta mu datang kesini. Kamu sebagai orang yang punya banyak koneksi di Nanping, pasti bisa membantu mencari keberadaannya," Gao Mei Gui berkata.
Dia sengaja menutupi kenyataan yang telah didapatinya tadi malam saat berhasil menghubungi nomor ponsel Cia Yonggan. Dia tak akan bisa memberitahukan suara-suara mencurigakan yang telah dia dengar itu kepada Ou Julong. Nalurinya selalu berkata itu bukanlah perilaku Cia Yonggan yang sebenarnya. Pemuda itu tak harus mematikan kembali ponselnya setelah menjawab teleponnya.
Terlebih lagi pada zaman modern ini, sebuah nomor ponsel berarti banyak hal.
__ADS_1
Di Tiongkok, orang-orang tak lagi menggunakan uang tunai untuk transaksi apapun, semua transaksi sudah serba non tunai yang dapat dilakukan cuma melalui ponsel. Orang-orang hanya perlu melakukan scan barcode saat berbelanja. Aplikasi pembayaran Alipay dan aplikasi chatting Wechat yang paling banyak digunakan saat ini, menyingkronkan antara akun bank dan nomor ponsel pemilik akun. Apabila Cia Yonggan menghapus nomor ponselnya, tentu akan menyulitkan dirinya sendiri.
"Apakah dia tidak meninggalkan pesan pada mu sebelum dia berangkat?" Ou Julong bertanya kembali.
Gao Mei Gui menggelengkan kepala dan sejenak berpikir sambil mengetuk-ngetuk bibirnya lalu mengatakan. "Dia hanya mengatakan untuk jangan kemana-mana dan menunggunya di sini saja."
"Lalu apakah ada hal lainnya yang mungkin dapat dijadikan petunjuk, seperti apa kendaraannya, atau pakaian apa yang dia gunakan saat berangkat? Biar aku perintahkan bawahan ku untuk mencari keberadaannya, siapa tahu dia berada di Kota Nanping," Ou Julong lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.
"Oh ya, aku hampir lupa. Dia mengendarai mobil ku. Mungkin kamu dapat memulainya dari situ, Paman," terang Gao Mei Gui lalu dia menyebutkan nomor pelat serta jenis dan warna mobilnya.
"Baik, kamu tunggu sebentar," kata Ou Julong lalu melakukan panggilan telepon.
Begitu panggilan terhubung, dia lantas berkata kepada orang di ujung sana. "Kamu bantu aku melacak keberadaan mobil BMW seri 2 warna biru dengan nomor pelat B F50031. Coba telusuri apakah mobil itu melintas melalui pantauan CCTV lalu lintas di Kota Nanping kemarin."
"Baik, Kakak Ou, aku akan minta bantuan dari orang di kantor manajemen lalu lintas Nanping," terdengar orang di seberang telepon menjawab cepat
"Segera beritahu aku begitu ada hasil," kemudian Ou Julong mematikan panggilan dan menyimpan kembali ponselnya.
Dia kemudian berkata kepada Gao Mei Gui. "Mei Gui, kita tunggu saja kabar dari bawahan ku. Jika dia memang pernah melintas di Kota Nanping, pasti tak akan luput dari pengawasan kamera CCTV lalu lintas."
Gao Mei Gui hanya mengangguk. Lalu dia tiba-tiba ingat satu hal. Bukankah Cia Yonggan juga cukup akrab dengan Direktur King Palace Hotel, Hao Zhao? Kalau mereka tidak memiliki hubungan akrab, bagaimana Cia Yonggan bisa langsung berbicara dengan orang itu melalui ponsel dan menyarankan Cia Yonggan untuk mengasingkan diri sejenak di lereng Gunung Mangdang ini?
Lantas dia mengatakan kepada Ou Julong, "Paman, masih ada satu hal lagi. Cia Yonggan dan Direktur Hao punya hubungan dekat. Kamu coba tanyakan pada dia, siapa tahu dia dapat membantu."
Ou Julong tentu saja terkejut mendengar itu. Seorang Cia Yonggan diklaim oleh Gao Mei Gui memiliki hubungan dekat dengan seorang yang status sosialnya sangat tinggi di Kota Nanping, siapa yang bakal percaya? Kalaupun Cia Yonggan bekerja sebagai pesuruh rendahan di King Palace Hotel, tak lantas seorang Hao Zhao akan menaruh perhatian padanya.
"Maksud kamu Direktur Hao Zhao?" dia bertanya seperti tak percaya.
"Benar, dia orangnya, Paman," jawab Gao Mei Gui membenarkan.
__ADS_1
Ou Julong dengan enggan mengeluarkan kembali ponselnya dari kantong celananya.