
Wei Chung dan istrinya tengah menyantap makan siang di sebuah restoran. Pasangan paruh baya ini tadi pagi telah berjanji akan menyempatkan waktu untuk makan siang bersama. Disinilah mereka kini, tengah menikmati kebersamaan, tanpa mengetahui bahwa putra sulung mereka, Wei Heng telah kabur dari rumah dan tak tahu entah kemana.
"Istri ku, bagaimana dengan anak itu? Apakah kamu sudah jadi berbicara kepadanya?" Wei Chung menanyakan keadaan putranya.
"Suami ku, tadi aku sudah mendatanginya ke kamar dan mengajak dia bicara. Tapi dia tak mau bicara dengan ku. Dia katanya akan menunggu mu, dia ingin berbicara sebuah urusan antar sesama lelaki dan tak ingin memberitahukannya kepada ku. Kalau sudah begitu bagaimana aku dapat memaksa dia?" jawab istri Wei Chung.
Wei Chung berkerut kening. Ada apa dengan anaknya itu, tidak biasanya Wei Heng ingin berbicara secara pribadi dengannya begini.
Maka dia menimpali. "Baiklah, kalau begitu aku akan berbicara dengannya nanti. Kamu setelah makan siang ini pulang saja terlebih dulu, biarkan urusan di salon mu diurus bawahan mu. Sebentar aku akan menyusul pulang."
"Baiklah suami, ku," timpal istrinya sambil tersenyum.
Tengah menikmati santap siang itu, ponsel Wei Chung berbunyi. Po Yang, tangan kanannya yang dia tugaskan memburu Ou Julong dan Guan Zheng berdua, sedang menghubunginya.
Dirasa urusan perkumpulan bawah tanah tak seharusnya diketahui oleh sang istri, dia berpamitan untuk menjawab panggilan itu.
"Ini urusan perkumpulan, aku jawab sebentar," katanya sambil mengisyaratkan istrinya untuk menunggunya, sementara dia berjalan ke arah toilet restoran.
"Ada apa, Po Yang?" serunya.
"Kakak Wei, ahli IT yang kita mintai bantuan sudah berhasil melacak keberadaan kedua pemberontak itu," kata Po Yang di seberang telepon.
"Bagus, Po Yang, kerja mu memang bagus," kata Wei Chung girang. Kemudian dia melanjutkan. "Kalau begitu tunggu apa lagi, segera ringkus mereka. Ingat, bawa anak buah agak banyak kali ini, Guan Zheng keparat itu tidak dapat dipandang sebelah mata."
Dia sudah melihat dan merasakan sendiri kelihaian Guan Zheng saat dia menangkis dua kali tendangan Guan Zheng kemarin. Apalagi tiga puluhan anak buahnya sempat dibuat tak berdaya meski di tangan mereka memiliki senjata tumpul.
"Kakak Wei, aku pasti akan meringkus mereka itu jika keadaan memungkinkan. Tapi titik koordinat ponsel mereka menunjukkan mereka berada di King Palace Hotel, Kakak Wei. Mereka bersembunyi disana. Aku tidak berani mengambil keputusan sendiri. Kalau aku perintahkan anak buah kita menangkap mereka kesana, khawatirnya akan membuat Direktur Hao marah dan berdampak kepada kerja sama kita, makanya aku melaporkan ini, agar Kakak Wei memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan," kata Po Yang menjelaskan situasi terkini.
Mendengar Ou Julong dan Guan Zheng bersembunyi di King Palace Hotel, Wei Chung jadi terdiam. Bagaimana bisa mereka bersembunyi di hotel itu? Dirinya memang ingin segera menghabisi kedua orang itu, tapi bagaimana dia bisa berbuat keributan di King Palace Hotel? Hao Zhao pasti tidak akan tinggal diam kalau dia memerintahkan anak buahnya menggeledah hotel itu.
Mendapati Wei Chung yang diam, Po Yang mendesak. "Bagaimana Kakak Wei?"
"Po Yang, kamu perintahkan kepada anak buah yang saat ini sedang bertugas di King Palace Hotel. Suruh mereka menyelidiki nomor kamar tempat mereka berdua itu menginap. Kita tidak seharusnya membuat keributan di sana, maka kalau nomor kamarnya sudah diketahui, langsung cegat ke kamar itu saja," kata Wei Chung mengutarakan pendapatnya.
"Kakak Wei, biar ku katakan terlebih dahulu, tadi begitu aku mengetahui posisi mereka, aku sudah memerintahkan bawahan yang sedang bertugas disana. Tapi nama mereka berdua tidak terdaftar sebagai penghuni kamar manapun," terang Po Yang.
Wei Chung tercengang mendengar itu. Dia berpikir kalau nama Ou Julong dan Guan Zheng tidak terdaftar sebagai tamu di hotel itu, tentu mereka sengaja meminta kepada manager hotel untuk menyembunyikan keberadaan mereka. Dan untuk itu tentu manager hotel akan meminta persetujuan Hao Zhao. Atau jangan-jangan Hao Zhao sendiri yang telah menyembunyikan mereka berdua di dalam kamar hotel itu?
"Bahkan tadi ada beberapa orang bawahan menyisir kamar-kamar kosong. Tapi memang kamar-kamar itu tidak berpenghuni. Hanya saja, Kakak Wei, salah satu kamar VIP di lantai 17 dijaga oleh dua orang pengawal. Bawahan kita yang lewat kesitu mereka usir," terdengar lagi Po Yang menjelaskan.
Wei Chung semakin heran. Belum pernah ada selama ini orang di Kota Nanping dijaga oleh pengawal. Apakah penghuni kamar itu merupakan orang penting dari luar kota yang sedang bermalam di kota ini?
"Katakan pada ku, Po Yang, siapa yang bermalam di kamar itu?" Wei Chung terdengar tak sabar ingin mengetahui siapa gerangan penghuni kamar yang dijaga oleh pengawal itu.
"Tadi anak buah kita sudah memeriksa, tapi kamar itu dinyatakan sedang tidak dihuni oleh siapapun. Aku curiganya di situ, Kakak Wei. Jangan-jangan kamar yang dijaga oleh pengawal itu adalah mereka berdua," kata Po Yang lagi.
Wei Chung menjadi berang. Bagaimana bisa Ou Julong dan Guan Zheng memiliki pengawal di dalam hotel di kota ini? Bukankah dia adalah salah satu pimpinan perkumpulan bawah tanah? Maka dia merasa tidak kurang ajar kalau melumpuhkan kedua pengawal itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hao Zhao.
__ADS_1
"Kalau begitu lumpuhkan kedua pengawal itu. Kalau memang kedua pemberontak itu berada di dalamnya, segera habisi mereka! Lakukan dengan senyap, jangan membuat keributan, kamu paham?" Wei Chung memberikan perintah.
"Baik, Kakak Wei. Aku akan menyuruh orang-orang kita berpencar dan berkumpul di lantai 17 kemudian melumpuhkan kedua pengawal itu," kata Po Yang mengiyakan.
"Kalau begitu sampai disini dulu, Po Yang. Terus kabari aku," pungkas Wei Chung, kemudian mematikan sambungan telepon.
Dia kembali ke meja makan dimana istrinya terlihat seperti sedang memotret diri sendiri dengan kamera ponselnya. Wei Chung geleng-geleng kepala melihat istrinya yang berganti-ganti pose untuk mengabadikan potret dirinya. Istrinya yang hampir menginjak usia lima puluh tahun itu seperti remaja saja, yang masih suka narsis.
Baru saja Wei Chung duduk, ponselnya kembali berbunyi. Seorang bernama Khong Guan sedang menghubungi nomornya. Khong Guan adalah pemimpin baru di Perkumpulan Bao, menggantikan mendiang Hong Gan yang tewas dibunuh orang beberapa hari lalu.
Kali ini Wei Chung menerima panggilan itu tanpa berpamitan lagi kepada istrinya. Dia langsung menjawab panggilan Khong Guan.
"Halo, Ketua Khong. Aku disini," sapa Wei Chung ramah.
"Selamat siang, Ketua Wei," jawab Khong Guan menyapa balik.
"Ah, aku seharusnya mengucapkan selamat atas terpilihnya Ketua Khong sebagai pemimpin Bao yang baru secara langsung. Tapi karena kita sudah bicara begini, aku ucapkan selamat disini saja dahulu," kata Wei Chung.
"Hehehe.. Ketua Wei, aku terpilih menduduki posisi ketua begini adalah berkat adanya campur tangan mu yang memberikan aku dukungan, seharusnya aku yang berterima kasih," ujar Khong Guan.
"Ah, itu jangan terlalu dipersoalkan. Aku mendukung mu, karena kamu memang layak untuk memimpin perkumpulan mu," kata Wei Chung berasa-basi.
"Ketua Wei, apakah kamu punya waktu bertemu untuk membahas rencana kita malam ini?" Khong Guan bertanya.
Yang dimaksud oleh Khong Guan adalah rencana menyerang markas Perkumpulan Xiongmeng de Shizi yang diketuai oleh Kang Fang. Dia baru saja terpilih semalam, namun dirinya sudah tidak sabar untuk menghabisi Kang Fang, orang yang diduga telah menjadi dalang di balik pembunuhan dua pemimpin perkumpulan bawah tanah Kota Nanping terdahulu.
"Tunggu saja, apabila waktunya sudah tiba, kamu pun akan segera ku habisi, Khong Guan," bisik Wei Chung di dalam hati.
"Aku berharap siang ini kita bisa mengadakan pertemuan membahas strategi malam nanti, Ketua Wei. Kalau kamu ada waktu, temui aku di KTV Song Xiang," ujar Khong Guan.
"Baiklah, begitu saja. Kamu tunggu aku disitu, Ketua Khong, aku segera kesana," kata Wei Chung menyanggupi.
Wei Chung lantas mengatakan kepada istrinya. "Istriku ku, kamu pulanglah terlebih dahulu, aku masih ada urusan."
Istri Wei Chung yang tadi mendengar percakapan suaminya dengan orang ditelepon, tentu saja mengerti akan kesibukan suaminya itu. Itu adalah urusan perkumpulan bawah tanah, dia tak berhak untuk ikut campur.
Maka dia berdiri dan berkata. "Baiklah, suami ku, kamu jangan lama-lama. Ingat, Wei Heng sedang menunggu mu di rumah."
Istrinya mengingatkan akan putranya yang ingin berbicara empat mata dengan Wei Chung membahas persoalan lelaki.
"Aku mengingatnya, istri ku. Kamu tenang saja," jawab Wei Chung.
Setelah membayar tagihan makan, Wei Chung lalu berpisah dengan istrinya di pelataran parkir. Istrinya pulang, sementara dia mengemudikan mobilnya ke tampat janji temu dengan Khong Guan siang ini.
Di tengah perjalanan, dia menelepon Po Yang. Dia merasa Po Yang sebagai tangan kanannya, harus ikut dalam pertemuan penting ini.
"Po Yang, kamu bawalah beberapa anak buah, temui aku di KTV Song Xiang. Kita akan mengadakan pertemuan dengan Perkumpulan Bao. Tapi urusan meringkus kedua pemberontak itu harus tetap kamu pantau," kata Wei Chung.
__ADS_1
Po Yang yang diajak ikut serta menghadiri pertemuan tentu menjadi senang mendengar ini, tanpa berpikir dua kali dia mengiyakan saja. "Baik, Kakak Wei. Aku segera kesana."
Hanya berselang beberapa menit setelah dia mematikan panggilan itu, ponselnya kembali berdering. Saat Wei Chung melihat pada layar ponsel, dia terlihat senang. Itu adalah nomor Lu Meng, direktur perusahaan pengawalan Naga Laut, sekutunya di Taiwan yang membekingi aksinya untuk menguasai perkumpulan bawah tanah di kota ini.
Dia menepikan mobilnya. Ini adalah panggilan penting bagi dia.
"Halo, Tuan Lu," ujar Wei Chung.
"Halo Tuan Wei, kamu tidak sedang sibuk, bukan?" kata Lu Meng di seberang telepon.
"Aku baru saja akan mengadakan pertemuan dengan ketua Bao, Tuan Lu. Kami akan bergabung malam ini untuk menghabisi Kang Fang," kata Wei Chung bersemangat.
"Woow.. Kamu sangat cepat, Tuan Wei. Memang tak salah aku memilih orang seperti kamu," Lu Meng terdengar memuji.
"Ah, jangan terlalu dilebih-lebihkan, Tuan Lu," Wei Chung senang dipuji orang. Lalu dia bertanya.. "Tuan Lu, apakah jagoan mu, Master Mo sudah siap mengerahkan orang-orangnya malam ini?"
Lu Meng terdiam sejenak, dan dengan nada menyesal dia berkata. "Ah, Mo Kat tidak ada kabar, dia menghilang sejak kemarin. Tapi kamu tenang saja, Tuan Wei, aku yang akan memimpin langsung orang-orang ku untuk membantu mu mengalahkan perkumpulan Xiongmeng de Shizi dan akulah yang akan menobatkan mu sebagai satu-satunya pemimpin bawah tanah di Kota Nanping malam ini."
Wei Chung sebenarnya sedikit penasaran mendengar Mo Kat yang menghilang begitu saja. Tapi saat ini mana sempat dia berpikir banyak. Bukankah Lu Meng baru saja menjanjikan akan membantu dia secara langsung memerangi perkumpulan Xiongmeng de Shizi malam ini? Ini akan menjadi malam yang takkan pernah dia lupakan seumur hidup. Dia akan menjadi satu-satunya pemimpin perkumpulan bawah tanah di kota ini!
"Terima kasih atas perhatian mu, Tuan Lu. Aku merasa mendapatkan kehormatan karena kamu yang turun tangan langsung malam ini," kata Wei Chung dengan haru.
"Ah, tak perlu sungkan begitu, Tuan Wei. Bukankah ini demi kebaikan kita bersama? Dan memang secara kebetulan aku baru saja mendarat di bandara Kota Fuzhou. Sepertinya ini memang sudah digariskan demikian, Tuan Wei," ujar Lu Meng percaya diri.
"Apakah kamu memiliki urusan di Kota Fuzhou, Tuan Lu?" tanya Wei Chung.
"Ya. Aku sedang memburu Mo Kat. Enak saja orang itu ingin melarikan diri dari ku," jelas Lu Meng.
Wei Chung yang tidak paham persoalan kembali bertanya. "Master Mo? Ada apa dengan dia itu, Tuan Lu?"
"Ah, tidak perlu dibahas, Tuan Wei. Kamu kirimkan saja lokasi markas Kang Fang itu. Dan kabari aku waktu penyerangan, biar aku dapat mengatur waktu tiba disana. Aku akan membawa seratus orang ahli bela diri, untuk membantu mu," pungkas Lu Meng.
"Baik, Tuan Wei, aku akan mengirimkan lokasi serta waktu penyerangan setelah aku dan Perkumpulan Bao selesai melakukan pertemuan," kata Wei Chung llagi.
"Kalau begitu, sampai disini dulu, Tuan Wei," Lu Meng seperti ingin mengakhiri pembicaraan. Namun kemudian dia mengimbuhkan. "Kamu sudah siapkan putri Gao Li Liang itu, kan? Agar sekalian ku bawa dia ke Taiwan besok pagi."
Mendengar itu Wei Chung tertegun sesaat. Orang ini masih saja menagih janjinya untuk menyerahkan Gao Mei Gui sebagai barang mainannya. Tapi saat begini tentu dia hanya bisa mengiyakan saja perkataan orang. Meski sebenarnya dia juga tak rela harus menyerahkan gadis itu kepada Lu Meng. Bukankah putranya memiliki perasaan terhadap putri mendiang Gao Li Liang itu?
"Tentu saja, Tuan Lu. Dia berada di bawah pengawasan ku, kamu tenang saja," jawab Wei Chung.
"Ya sudah, aku tutup dulu, Tuan Wei," kata Lu Meng mengakhiri panggilan telepon itu.
Baru saja panggilan itu terputus, sebuah pesan WeChat dari istrinya masuk. Isi pesan tersebut mengagetkan dia.
"Suami ku, Wei Heng menghilang!"
"Apa?!"
__ADS_1