
Begitu memasuki ruangan, Gao Mei Gui yang sedari tadi terlihat tegar, langsung melepaskan tangan Cia Yonggan, dia berlari menuju ranjang dimana ayahnya tengah berbaring tak sadarkan diri.
Hampir sekujur tubuh Gao Li Liang dibalut dengan perban. Kemungkinan ada beberapa bagian tubuhnya yang patah. Gao Mei Gui menangis terisak-isak di samping ranjang itu, hatinya hancur melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya. Meski begitu, dia tak berani menangis dengan heboh, suara isak tangisnya dia redam sedapat mungkin. Gadis ini benar-benar tegar, tak banyak gadis yang bisa mengontrol emosi di saat-saat seperti ini.
Di sisi lain ranjang itu, Ou Julong juga terlihat menangis tersedu-sedu. Tangisannya juga tak mengeluarkan suara, hanya air matanya terus mengalir di pipinya. Siapa pun takkan pernah mengira pria pemarah seperti Ou Julong ini bisa menangis tersedu-sedu begini.
Sementara Cia Yonggan secara tak sadar juga beringsut ke arah ranjang di samping Gao Mei Gui. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia tak pernah merasa telah menyelamatkan pria ini. Dia hanya berusaha membela diri dari orang-orang yang menyerangnya. Ditambah lagi dia tak mengenal pria yang sempat dia sebut sebagai mertuanya itu. Satu-satunya perasaan dia untuk pria itu hanyalah rasa kagum, karena pria itu tak pernah takut meski sudah dihajar babak-belur oleh musuh-musuhnya. Dia hanya terdiam mematung menatap Gao Li Liang dan Ou Julong bergantian dan sesekali melirik Gao Mei Gui dengan kagum.
Saat ini dia mendapati ponsel di sakunya mengeluarkan getaran. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal, dia tau itu adalah direktur King Palace Hotel, Hao Zhao. Dia memang belum sempat menyimpan nomor kontak Hao Zhao sejak terakhir kali mengakhiri panggilan pria itu. Buru-buru dia pergi ke sudut ruangan dan menjawab panggilan itu.
ini sambil berbicara agak berbisik. "Direktur Hao, maaf, aku belum bisa datang," katanya dengan suara berbisik.
Hao Zhao di seberang telepon bertanya dengan tidak sabar. "Cia Yonggan, dimana kamu saat ini? Apakah kamu sudah menjadi orang mati sehingga masih belum sampai kesini?"
"Direktur Hao, aku tak bisa pergi, Ou Julong dan putri Gao Li Liang menahan ku disini. Saat ini aku sedang di ruang rawat inap, tidak bisa kemana-mana," kata Cia Yonggan pasrah.
"Hhh... Sialan Ou Julong itu!" kata Hao Zhao menyesal. Lalu dia menanyakan. "Apakah kamu mendapatkan ancaman?"
"Tidak. Aku tidak merasa terancam. Aku baik-baik saja. Direktur Hao tak perlu terlalu khawatir," jawab Cia Yonggan.
Hao Zhao terdiam sejenak sebelum kembali berkata. "Baiklah, kamu kalau memiliki suatu kendala, segera hubungi nomor ini, mengerti?"
__ADS_1
"Iya, aku mengerti, Direktur Hao," pungkasnya.
"Oke, jaga dirimu." Hao Zhao langsung menutup telepon dari seberang sana.
Cia Yonggan segera menyimpan nomor kontak Hao Zhao di ponselnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana kemudian dia menghenyakkan dirinya di sudut sofa panjang sambil menatap kedua orang yang masih menangis dalam diam itu dari kejauhan.
Namun setelah satu jam berlalu, dua orang itu tak hentinya menangis. Mereka berdua seolah-olah sedang berlomba menangis dalam diam, siapa yang paling lama menangis, maka dialah pemenangnya. Hal ini tentu saja menimbulkan jengkel di hati Cia Yonggan, dia mulai merasa mengantuk namun terus saja disuguhi pemandangan seperti ini. Apakah dia kesini hanya untuk menonton mereka menangis?
Dia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Untuk mengurangi kebosanan, dia perlahan menuju ke arah dispenser air, dua orang ini sudah menangis satu jam lebih, tentu mereka haus. Lalu dia menuangkan dua gelas air putih dan memberikan kepada Ou Julong yang dibalas dengan ucapan terima kasih dari pria itu. Pria gemuk dan botak ini tak terlihat garang saat ini, bahkan sebenarnya saat ini dia ingin tertawa melihat pria itu mengeluarkan suara cegukan karena terlalu lama menangis.
Kemudian dia berjalan ke arah Gao Mei Gui dan mengangsurkan gelas lain yang ada di tangannya kepada gadis itu. Gao Mei Gui yang juga mengeluarkan suara cegukan itu sejenak menatap ke arah Cia Yonggan yang tampan, saat ini sebenarnya dia membutuhkan bahu seorang pria untuk menumpahkan kesedihannya, namun tentu saja dia tak akan melakukan hal itu, ditambah lagi, bahu pria mana yang akan dia jadikan sebagai tempat sandaran, bahkan kekasih saja dia tak punya?
Perlahan dia mendekati Gao Mei Gui dan bergumam dengan pelan. "Nona Gao, sebaiknya kamu istirahat dulu di sofa itu, biar aku yang menggantikan disini," kata Cia Yonggan lembut.
Gadis cantik itu memang mulai merasa capek dan matanya perih dan merah karena sudah terlalu lama menangis, tanpa diminta dua kali dia menuruti Cia Yonggan. Namun celakanya saat dia akan melangkah, kakinya keseleo akibat terlalu lama berdiri. Untung Cia Yonggan secara spontan langsung menangkap gadis itu sehingga dia sekarang berada di dalam rengkuhan pemuda itu.
Kedua muda-mudi itu tak menyangka akan berada pada posisi seperti ini, mereka saling tatap sejenak. Mereka selama ini belum pernah memiliki kontak fisik sedekat ini dengan lawan jenis, ini menyebabkan debaran jantung mereka menjadi berdetak lebih kencang. Kedua orang ini seakan terhipnotis tanpa bisa bergerak, layaknya patung saja.
"Aiya... Cepat bopong Mei Gui ke sofa itu, dia sudah terlalu lelah," saat ini Ou Julong menyadarkan kembali pikiran mereka yang sudah melayang entah kemana.
Cia Yonggan langsung saja membopong gadis cantik itu ke arah sofa. Dia dapat mencium aroma wangi khas perawan asli yang menguar dari tubuh gadis ini. Sebenarnya dia tak ingin ini berakhir begitu saja. Aroma wangi yang baru saja tercium dari tubuh sang gadis membuat dia candu. Tapi bagaimanapun, jarak antara ranjang pesakitan dengan sofa itu hanya beberapa langkah saja, mau tak mau Cia Yonggan harus menurunkan gadis ini dari bopongannnya.
__ADS_1
Sementara Gao Mei Gui juga merasakan hal yang belum pernah dia rasakan. Jantungnya terus berdetak semakin kencang, namun dia tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah pemuda tampan yang sedang membopongnya ini, bahkan dia secara naluriah mengalungkan kedua tangannya ke leher Cia Yonggan. Berada di dalam dekapan pemuda ini terasa begitu nyaman baginya.
Begitu sampai di sofa itu, perlahan Cia Yonggan menurunkan tubuh gadis itu dan mendudukkannya di sudut sofa yang tadi dia duduki. Saat ini bukan hanya matanya saja yang memerah, wajahnya pun ikut berubah merah seperti kepiting rebus. Semakin dipandang, semakin Cia Yonggan menyadari gadis ini memiliki kecantikan tak biasa.
Setelah mendudukkan Gao Mei Gui, dia buru-buru hendak kembali ke ranjang itu seperti yang dia katakan tadi, untuk menggantikan posisi Gao Mei Gui di sisi pembaringan Gao Li Liang.
"Kamu juga istirahatlah disini, kita semua harus beristirahat. Pamau Ou, kamu juga kesini, duduklah bersama kami disini," kata gadis itu pelan mengajak semua orang untuk duduk.
Ou Julong tanpa mengucapkan sepatah kata pun berjalan dan duduk di samping Cia Yonggan kemudian mengempitkan kedua tangannya pada tangan kanan Cia Yonggan, berkata pelan. "Mei Gui, apabila kita tidak tetap memegang tangan pemuda ini, takutnya dia kabur disaat kita tertidur."
Lalu Ou Julong menyandarkan kepalanya pada sofa itu dan memejamkan matanya.
Mendengar itu Gao Mei Gui juga mengempitkan kedua lengannya pada tangan kiri Cia Yonggan. Bedanya dia malah seenaknya mengatur posisi tubuhnya menjadi bersandar pada bahu kiri Cia Yonggan. Tak lama berselang, kedua orang itu benar-benar tertidur lelap.
"Sial. Kalau aku mau kabur pasti sudah ku lakukan saat kalian berlomba menangis tadi," ucap Cia Yonggan dalam hati.
Namun dia tak ingin mengganggu kedua orang ini, khususnya Gao Mei Gui ini, dia harus melindungi gadis ini dari kekejaman Wei Chung yang licik. Meski belum dapat dipastikan apakah Gao Li Liang akan mampu bertahan melawan maut, namun takkan ada bedanya, meskipun pria itu berhasil bertahan hidup, tetap takkan bisa menghentikan kekejaman Wei Chung.
Sementara terhadap Ou Julong, dia sedikit mulai merasa simpati pada pria itu. Apabila dia bersandiwara menangisi Gao Li Liang, takkan mungkin bisa sampai satu jam lebih kan? Pria itu memang terlihat pemberang di permukaan, namun Cia Yonggan dapat melihat sisi lembut yang dimiliki Ou Julong, ditambah lagi hubungannya dengan Gao Mei Gui terlihat begitu alami, seperti layaknya paman dan keponakan kandung saja.
Demikian juga halnya dua orang ini terhadap Cia Yonggan, mereka telah menganggap Cia Yonggan bukan sebagai orang asing meski hingga saat ini mereka belum mengetahui siapa nama pemuda itu dan latar belakangnya. Bagi mereka, pemuda ini telah menyelamatkan orang yang mereka cintai, Gao Li Liang, tak mungkin dia akan mencelakai mereka.
__ADS_1