
Hao Zhao baru saja menerima kedatangan enam belas orang pasukan elit bayaran seperti yang dijanjikan Shu Han Thian kemarin. Mereka datang dengan menaiki dua unit helikopter yang dikirimkan langsung dari Kota Beijing pagi tadi. Sebanyak tiga puluh empat pasukan elit juga sedang datang menyusul kemari menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Shu yang akan mendarat di bandara Kota Fuzhou.
Hao Zhao telah mengirimkan orang untuk menjemput mereka dengan speedboat. Diperkirakan sekitar empat jam ke depan, orang-orang itu akan segera sampai di Kota Nanping. Waktu segitu cukup bagi Hao Zhao untuk bolak balik memastikan keberadaan Cia Yonggan di kediamannya di lereng Gunung Mangdang sana.
Dia memberikan pengarahan kepada para bawahannya ini dalam formasi baris berbaris di lantai teratas King Palace Hotel, dimana dua unit helikopter sedang terparkir disana. Pria itu dengan penuh percaya diri mengatur strategi keberangkatan ke lereng Gunung Mangdang. Dan telah diambil keputusan dia akan membawa empat orang diantara mereka, dua orang bergantian menjaga pintu kamar Ou Julong, selebihnya dipersilahkan beristirahat di kamar-kamar hotel yang telah dia sediakan untuk sementara waktu. Nantinya ke lima puluh pasukan itu akan dia pindahkan ke apartemen-apartemen, sehingga tidak membebani kapasitas kamar di King Palace Hotel.
Sementara Ou Julong masih beristirahat di ranjang salah satu kamar VIP yang disediakan oleh Hao Zhao untuk dirinya dan Guan Zheng. Pria tambun dan berkepala plontos itu semalam telah sadarkan diri setelah mendapatkan jahitan oleh dokter pada perutnya yang terluka.
Karena kondisi tubuhnya yang masih belum memungkinkan untuk banyak beraktifitas maka Hao Zhao hanya meminta bantuan Ou Julong untuk menunjukkan lokasi kediaman Cia Yonggan melalui citra satelit dan mencocokkan dengan lokasi yang dikirimkan oleh Gao Mei Gui kepada Ou Julong kemarin.
Sebelum pergi, Hao Zhao menanyakan sesuatu kepada Guan Zheng yang dengan setia menjaga Ou Julong di kamar itu.
"Guan Zheng, apakah ada kabar terbaru dari perkumpulan bawah tanah?" tanya Hao Zhao.
Guan Zheng tak langsung menjawab, sebaliknya dia menoleh kepada Ou Julong, seakan-akan meminta persetujuannya.
Setelah Ou Julong menganggukkan kepala, barulah dia menjawab. "Tuan Hao, untuk saat sekarang aku dan Ou Julong telah terputus dengan informasi dari perkumpulan. Kami berdua telah dikeluarkan dari grup WeChat, sehingga informasi yang kami dapatkan sangat sedikit."
"Oh, begitu," Hao Zhao jadi terbengong mendengarnya. Lalu dia menambahkan. "Sedikit bukan berarti tidak ada, kan?"
"Ya, ada beberapa orang bawahan kami yang setia masih memberikan informasi tadi malam. Wei Chung telah menyiarkan kabar di luaran bahwa kami berdua telah memberontak dan mengadakan sayembara bagi siapa saja yang dapat menemukan kami, akan diberikan hadiah uang," Guan Zheng menjawab tenang.
Dia tak terlihat seperti terganggu dengan berita dirinya dan Ou Julong sedang diburu orang dan yang berhasil menemukan dia akan diberikan hadiah. Pria satu ini benar-benar kalem.
"Wow.. Wei Chung sampai mengadakan sayembara!" Hao Zhao terlihat terkejut. Kemudian dia bertanya lagi. "Apakah ada yang lain?"
"Karena ada sayembara begitu, maka orang-orang mulai berlomba mencari ahli IT untuk melacak keberadaan kami melalui ponsel yang kami miliki. Beruntung bawahan kami itu mengabarkan cepat, sehingga aku mematikan kedua ponsel kami agar tak dapat dilacak orang," terang Guan Zheng lagi.
Hao Zhao seperti tersadar dari mimpi. Seharusnya dia yang lebih waspada dengan meminta kedua pria yang menjadi tamunya kini itu untuk mematikan ponselnya.
"Ah, maafkan aku Guan Zheng, juga Julong," dia menyesali dirinya yang teledor mengabaikan hal ini sebelumnya.
"Tidak apa-apa, Tuan Hao," balas Guan Zheng.
Merasa tak enak hati, Hao Zhao buru-buru ingin undur diri dari kamar ini untuk segera berangkat ke lereng Gunung Mangdang.
Maka dia berjalan ke arah ranjang tempat Ou Julong yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Julong, hari telah semakin siang. Aku harus pergi ke lereng Gunung Mangdang sekarang," katanya kepada Ou Julong.
"Direktur Hao, kamu hati-hati di perjalanan. Semoga pemuda itu ada disana," kata Ou Julong menimpali.
Hao Zhao sedikit mengangguk.
Lalu dia menoleh menoleh kepada Guan Zheng dan memberitahukan. "Guan Zheng, di luar pintu ada dua orang pengawal yang menjaga kalian. Kalau ada keperluan apapun kamu kabarkan saja kepada mereka."
"Baik, Tuan Hao. Terima kasih atas perhatian mu," kata Guan Zheng dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Kamu jangan terlalu sungkan. Aku pergi dulu," sambung Hao Zhao.
__ADS_1
Namun sebelum Hao Zhao melangkah jauh, Guan Zheng kembali berkata. "Tuan Hao, ada satu informasi lagi."
Hao Zhao menghentikan langkahnya dan menoleh untuk bertanya. "Hmm? Informasi apa itu?"
"Perkumpulan Bao kemarin telah menunjuk pemimpin baru pengganti mendiang Hong Gan, bernama Khong Guan. Kabarnya malam ini dia akan mengerahkan anggotanya untuk menyerang markas Xiongmeng de Shizi," terangnya.
Hao Zhao terdiam sejenak seolah-olah sedang berpikir, lantas dia bertanya. "Lalu bagaimana dengan Hei Laohu? Apakah Wei Chung juga akan bergabung dengan Khong Guan itu?"
"Sepertinya begitu, Tuan Hao," jawab Guan Zheng.
Kembali Hao Zhao terdiam. Sepertinya Wei Chung sudah tidak sabar lagi untuk mengambil alih kekuasaan atas perkumpulan bawah tanah di Kota Nanping. Dia dapat memprediksi, begitu Perkumpulan Hei Laohu dan Perkumpulan Bao berhasil menumbangkan pemimpin Perkumpulan Xiongmeng de Shizi, Kang Fang, Wei Chung akan berbalik menghabisi Khong Guan dan mengambil alih tampuk kekuasaan sebagai satu-satunya pemimpin bawah tanah di Kota Nanping ini. Strategi Wei Chung cukup jitu.
Namun Hao Zhao telah memiliki rencana tersendiri. Dia tidak menyukai Wei Chung. Di samping itu, Wei Chung telah dengan nyata mencari perkara dengannya karena telah menyebabkan Cia Yonggan menghilang.
Dia kini memiliki lima puluh pasukan elit, rasa percaya dirinya menjadi naik berpuluh kali lipat. Tak ada lagi yang perlu dia khawatirkan terhadap Wei Chung ini, kapan perlu dia yang akan menghabisi Wei Chung dengan bantuan para pengawalnya itu.
"Guan Zheng, Julong, katakan pada ku, berapa orang bawahan Hei Laohu yang berada di bawah perintah mu?" Hao Zhao bertanya.
"Dulu mendiang kakak Gao telah membagi rata orang-orang yang kami bawahi. Masing-masing kami berempat memiliki dua ratus orang bawahan. Total anggota Hei Laohu ada lebih dari delapan ratus orang, Tuan Hao," jawab Guan Zheng.
"Apakah mereka itu setia terhadap kamu berdua?" bertanya lagi Hao Zhao.
"Tentu, Tuan Hao. Mereka hanya mengikuti perintah kami sebagai atasan langsung," Guan Zheng menegaskan.
"Baiklah, kalau begitu hidupkan kembali ponsel kalian berdua. Perintahkan bawahan kalian untuk berpencar dan tak ikut terlibat aksi penyerangan terhadap Xiongmeng de Shizi malam ini. Biarkan saja Wei Chung hanya membawa beberapa orang bawahan untuk bergabung bersama Perkumpulan Bao. Nantinya bawahan kalian akan datang menjelang pesta usai. Ya, pastinya mereka yang nanti akan menikmati pesta terakhir," kata Hao Zhao dengan bersemangat.
Dia tentu saja khawatir, kalau posisi dia dan Ou Julong diketahui, Wei Chung akan menyuruh orang kesini dan mempersulit Hao Zhao.
"Jangan khawatir, biarkan saja dia tahu. Aku akan perintahkan orang-orang ku untuk berjaga di lobi dan pintu masuk basement. Ingin ku lihat, apakah Wei Chung itu berani mengirimkan orangnya kesini," ujar Hao Zhao.
"Baiklah, kami mengikuti arahan mu saja, Tuan Hao," kata Guan Zheng.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, kalian beristirahat saja, nanti malam sepertinya kalian akan membutuhkan energi lebih," pungkas Hao Zhao.
Dia kemudian naik ke lantai paling atas gedung ini. Tiga pengawal berpakaian santai telah menunggu, serta pilot telah siaga menantikan perintah berangkat.
Begitu Hao Zhao naik ke helikopter, barulah ketiga pengawal itu ikut naik. Tak lama kemudian helikopter itu telah terbang menuju lereng Gunung Mangdang.
Hanya berselang tiga puluh menit, helikopter tersebut telah mendarat tak jauh dari samping rumah Cia Yonggan.
Mereka segera turun dan bergegas menuju ke pintu depan rumah itu. Begitu sampai disana, Hao Zhao mengetuk pintu.
"Tok tok tok...!!"
Namun tiada jawaban.
Hao Zhao berkerut kening. Menurut Tuan Besar Shu, seharusnya pemuda itu berada disini sekarang. Belum lagi sepengetahuannya, gadis muda putri Gao Li Liang bukankah kemarin masih berada disini, tapi kenapa tidak ada yang menyahut dari dalam?
"Tok tok tok...!!"
__ADS_1
"Nona Gao, apakah kamu berada di dalam?" dengan rasa penasaran Hao Zhao berseru memanggil orang di dalam rumah.
"Tok tok tok...!!"
Tetap tidak ada yang menjawab.
"Dobrak," Hao Zhao memerintahkan para pengawal untuk mendobrak pintu.
Begitu pintu berhasil dibuka paksa. Mereka lantas memasuki rumah dan menggeledah rumah yang tiada berpenghuni itu. Di dalam kamar depan, ranjang yang belum sempat dibersihkan oleh Cia Yonggan itu terlihat jelas masih sedikit basah dan berlumpur, juga ada kursi kayu di samping ranjang.
Hao Zhao semakin heran. Mengapa ranjang itu basah dan berlumpur? Siapa yang tidur disini dengan tubuh berlumpur?
Hao Zhao mengatur dua pengawal untuk menyelidiki dari arah depan rumah Cia Yonggan, sementara dia dan dua orang lainnya tinggal dan terus memeriksa setiap jengkal rumah ini.
Yang pastinya pintu belakang yang baru saja diperbaiki oleh Cia Yonggan pagi ini, masih menyisakan jejak-jejak pekerjaannya. Juga di kamar mandi, ditemukan pakaian kotor yang sepertinya sudah disiram dengan air bersih, tapi masih menyisakan sedikit lumpur.
Kemudian kedua pengawal itu membuka pintu belakang dan terlihat sangat jelas dua garis lurus panjang tercetak di tanah. Garis pertama seperti cetakan tubuh dua orang, berasal dari pintu belakang rumah ini dan berakhir di tanah pertanian jauh di belakang sana. Garis kedua seperti cetakan tubuh satu orang yang berawal dari lahan pertanian kosong ini kemudian berakhir di pintu belakang rumah Cia Yonggan. Pada garis kedua itu, tertinggal jejak cetakan sepatu, berbeda dengan garis pertama.
Garis pertama itu merupakan jejak tubuh Cia Yonggan dan Xiao Meilin yang diseret keluar oleh kekuatan ajaib mustika naga semalam. Dan garis kedua adalah jejak cetakan tubuh Cia Yonggan yang diseret oleh Xiao Meilin menuju pintu masuk.
Kedua tentara bayaran terlihat beberapa kali berjalan bolak balik di sepanjang garis-garis yang tercetak di tanah. Sekali waktu mereka berjalan ke depan rumah mengikuti arah datangnya jejak lain yang berakhir di pintu belakang rumah.
Beberapa waktu kemudian, mereka berdua berunding untuk menyimpulkan hasil investigasi yang mereka dapatkan. Kemudian menyampaikannya kepada Hao Zhao.
"Direktur Hao, disini semalam terjadi hujan lebat. Menurut jejak yang tertinggal pada tanah, jelas ada dua orang disini semalam, entah bagaimana caranya mereka seperti bermain seluncuran dari pintu ini kesana," kata salah seorang pengawal itu sambil menunjuk arah berakhirnya garis pertama.
"Menurut kalian kedua orang itu bermain seluncuran?" Hao Zhao heran.
Dengan ragu pengawal itu membenarkan. "Ya, benar, kami juga tak yakin. Tapi menurut garis kedua, sepertinya salah seorang dari keduanya pingsan atau bagaimana, sehingga temannya menyeretnya kembali ke dalam."
Tentu saja Hao Zhao menjadi bingung. Berapa usia kedua orang itu sehingga masih bermain seluncuran di saat hujan, mana malam hari lagi.
"Teruskan," katanya.
"Selain itu ada orang ketiga yang datang dari arah depan rumah, membantu mengangkat orang yang pingsan itu. Karena yang satunya tak sadarkan diri, maka temannya membaringkan dia di ranjang depan dalam keadaan tubuhnya masih basah dan berlumpur. Menurut kami, orang yang masih sadarkan diri itu adalah seorang gadis, dan yang pingsan adalah laki-laki, makanya dia tak mengganti pakaian si lelaki. pakaian kotor sedikit berlumpur di kamar mandi itu adalah pakaian si laki-laki. Baru pagi ini mereka meninggalkan rumah ini, ini bisa dilihat dari sisa-sisa pekerjaan memperbaiki pintu ini. Sepertinya si lelaki itu telah sadarkan diri," terang pengawal itu lagi.
"Laki-laki pingsan? Apakah itu Cia Yonggan? Dan si gadis yang menyeret tubuh Cia Yonggan yang pingsan? Kemungkinan itu Gao Mei Gui. Lalu siapa orang ketiga itu? Dan sepertinya Cia Yonggan memang baru saja meninggalkan tempat ini bersama gadis itu. Apakah benar dia masih hidup? Apakah benar yang dikatakan Tuan Besar bahwa Cia Yonggan adalah naga sejati yang takkan mati begitu saja" pikir Hao Zhao.
Makin dia berpikir, semakin dia bingung.
Lalu datang lagi kedua pengawal yang dia tugaskan memeriksa di bagian depan rumah.
Salah seorang dari mereka berkata. "Direktur Hao, kami menemukan beberapa jejak ban mobil. Setidaknya ada tiga mobil yang datang dan pergi dari sini semalam. Dua mobil pergi meninggalkan tempat ini semalam, sementara satu mobil terakhir baru berangkat dari sini pada pagi hari ini."
Meski sedikit ragu, Hao Zhao meyakinkan dirinya bahwa Cia Yonggan masih hidup dan baru saja meninggalkan tempat ini pagi tadi.
Maka dia memerintahkan para pengawal itu untuk kembali ke Kota Nanping.
"Perbaiki kembali pintu depan, kita balik ke Nanping," ujarnya.
__ADS_1