
Pagi itu sesosok tubuh tinggi dan ramping terlihat sedang berlari-lari kecil di sepanjang pinggiran Sungai Minjiang. Gadis itu mengenakan setelan olahraga tank top dan celana training ketat yang membalut kaki panjangnya. Rambutnya yang sepundak terkuncir ke belakang, mempertegas kecantikan wajahnya.
Dia adalah Xiao Meilin, putri termuda keluarga Xiao di Fuzhou, ibukota Provinsi Fujian. Keluarganya memiliki usaha pada bidang properti di sembilan wilayah prefektur Provinsi Fujian, tak terkecuali di Kota Nanping ini.
Saat berlari, tak terlihat sedikitpun nafasnya tersengal, menandakan dia sudah terbiasa berolahraga. Udara segar pada pagi hari di Kota Nanping merupakan salah satu hal yang dia sukai dari kota ini. Apalagi dengan kehadiran taman kecil di sepanjang sungai ini selalu dapat meningkatkan semangatnya.
Tanpa terasa saat ini langkah kakinya telah membawanya sampai ke bawah Jembatan Shuinan, disinilah biasanya dia selalu mengambil istirahat barang sejenak. Begitu berhenti, dia melakukan beberapa gerakan senam aerobik sambil kadang berpegangan pada pagar pembatas sungai.
Secara tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang sedang mengambang di permukaan air dan tampak seperti diseret oleh arus sungai. Dikatakan terseret, tapi benda itu tertahan oleh sesuatu yang menyebabkannya tetap pada posisi mengambang, tak jauh dari pinggir sungai ini.
Sejenak dia menyadari itu merupakan tubuh seseorang, maka dia menghentikan gerakan senam dan menyipitkan matanya untuk mempertegas penglihatannya kembali. Benar, itu adalah tubuh manusia dengan posisi telentang dan kedua tangan terentang ke kiri dan kanan.
Setelah yakin dengan penglihatannya, maka tanpa ragu dia membuang ponsel yang sedari tadi terselip di saku celananya, kemudian dengan gerakan ringan dia melompati pagar pembatas dan melompat ke dalam air.
"Byur...!!!"
Hanya beberapa detik, tubuh rampingnya telah sampai ke tempat dimana tubuh Cia Yonggan mengapung. Ya, itu adalah tubuh Cia Yonggan yang ingin dijadikan makanan ikan Sungai Minjiang oleh Wei Chung.
Xiao Meilin dapat melihat bahwa kaki pemuda ini terlilit oleh tali yang menyebabkan dia tertahan dan tak terseret oleh arus sungai. Dia lantas membuka ikatan tali pada kaki Cia Yonggan. Tak peduli apakah orang ini masih hidup ataukah sudah mati, dia berupaya menyelamatkannya terlebih dahulu.
Dengan berenang dia menyeret tubuh Cia Yonggan ke tepi sungai. Begitu sampai di tepi sungai, dia berlari mengambil ponselnya lalu menekan beberapa angka dan menelepon.
"Halo.. Ambulance. Aku membutuhkan ambulance, cepat, di bawah Jembatan Shuinan," katanya panik.
Dia kembali berlari ke tepi sungai dimana tubuh Cia Yonggan berada. Dia berusaha menyeret tubuh itu ke daratan, tapi dia tak punya tenaga yang cukup untuk melakukannya, tubuh itu terlalu berat untuk dia seret sendirian.
__ADS_1
Dia lalu memeriksa denyut nadi di tangan Cia Yonggan dan terlihat raut wajahnya menjadi lega begitu mendapati masih ada denyut nadi disitu, kemungkinan nyawa pemuda ini dapat tertolong meski dari tadi tubuhnya tidak menandakan adanya tanda-tanda kehidupan.
Dia lalu menatap wajah pemuda itu. Wajah yang tampan meski mulai nampak pucat kebiru-biruan karena terlalu lama terendam air sungai. Dia merasa pernah melihat wajah pemuda ini di suatu tempat, tapi entah dimana. Dia mencoba mengingat kembali dimana pernah bertemu dengan pemuda ini, tapi semakin berusaha, dia semakin tak dapat mengingat.
Tak lama datanglah dua orang pria berseragam rumah sakit dari kejauhan. Xiao Meilin melambaikan tangan memberi isyarat mendekat kepada dua orang itu.
"Di sini!" ujarnya.
Kedua petugas ambulance itu langsung membawa tandu ke sana dan tanpa banyak tanya mengangkat tubuh Cia Yonggan menggunakan tandu dan menaikkannya ke mobil ambulance diikuti oleh Xiao Meilin menuju ke rumah sakit.
"Ngiiing ngiiing ngiing..!!"
Bunyi sirine ambulance membelah sepinya jalanan di Kota Nanping pagi ini.
Sementara dari kejauhan, tampak sebuah mobil Land Cruiser hitam terparkir tak jauh dari situ. Seorang pria berusia awal tiga puluhan sedang duduk di belakang kemudi sambil menghentikan fungsi rekaman video pada ponselnya. Dia tak melewatkan sedikitpun kejadian pagi ini di bawah Jembatan Shuinan. Dia telah mengabadikan peristiwa gadis itu yang menyelamatkan Cia Yonggan. Wajahnya yang dingin itu menyunggingkan sedikit senyum. Dialah orang yang sebelumnya bertarung dengan Cia Yonggan dan mematahkan tulang rusuk pemuda itu, Mo Kat.
Gao Mei Gui pagi ini bangun dengan suasana hati yang buruk. Kepalanya terasa sakit karena kurang tidur, ditambah lagi dengan beban pikiran karena mengetahui betapa jahatnya Cia Yonggan. Dia telah kabur dengan membawa sebagian uang tabungannya. Tak hanya itu, pemuda itu juga membawa lari mobilnya, sehingga dia tak dapat pergi dari sini.
Baru pagi ini dia merasakan lapar yang sangat karena seharian kemarin dia hanya sempat sarapan bersama Cia Yonggan, setelah itu tak satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Kini dia ingin memasak sarapan untuk dirinya sendiri, sementara sayuran di dapur sudah menunjukkan perubahan warna, tak lagi hijau, membuat dia mengurungkan niatnya.
Maka dia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya kemudian dia menelepon seseorang.
"Paman Ou..." kata Gao Mei Gui begitu panggilan itu tersambung.
Ou Julong, orang kepercayaan ayahnya semasa hidup yang berada di balik panggilan itu.
__ADS_1
"Halo Mei Gui, kamu kemana saja, beberapa waktu ini tak penah menghubungi aku, Paman mu ini. Apakah kamu sudah melupakan Paman? Ingat, meski ayah mu telah meninggal, aku tetap menganggap kamu sebagai keponakan ku sendiri," kata Ou Julong yang langsung saja menceramahi Gao Mei Gui.
Mendengar itu, Gao Mei Gui menjadi terharu. Mengapa selama ini sejak dia bersama dengan Cia Yonggan, dia tak pernah sekalipun memberi kabar kepada Ou Julong, bukankah selama ini hubungan mereka berdua cukup akrab, layaknya paman dan keponakan?
"Paman, aku.. Maafkan aku, Paman. Aku saat ini sedang tidak berada di Nanping. Aku.. Aku.." suara Gao Mei Gui terdengar seperti sedang menahan isak tangis.
Gao Mei Gui tentu saja seperti mendapatkan tempat untuk mencurahkan isu hati setelah melewati masa sedih. Bukankah mencurahkan uneg-uneg adalah salah satu hal yang bisa dilakukan untuk melepaskan beban pikiran?
"Mei Gui, katakan pada Paman, apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?" Ou Julong mulai merasakan keganjilan dari nada suara anak mendiang pemimpinnya itu.
Gao Mei Gui tak dapat lagi menahan tangisnya.
Sambil terisak dia menjawab. "Paman, aku sedang berada di Qianshan dekat lereng Gunung Mangdang, aku terjebak disini..."
"Hah? Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai ke sana?" Ou Julong langsung saja memotong.
"Panjang ceritanya, Paman. Hiks.. Paman, kamu kalau sedang tidak sibuk datanglah kemari," kata Gao Mei Gui.
Ou Julong menyadari gadis itu sedang menghadapi masalah, makanya tak ingin berbicara di telepon, maka dia buru-buru mengiyakan saja permintaan gadis itu.
"Baiklah, kamu kirimkan lokasinya, Paman kesana sekarang juga."
"Baik aku akan mengirimkan di Wechat," kata Gao Mei Gui. Lalu dia menambahkan. "Paman, kamu tolong bawakan beberapa bahan makanan untuk ku. Kalau bisa sekalian pesankan aku kwetiau daging sapi."
"Hah?" Ou Julong jadi terbengong.
__ADS_1
Ada apa dengan Gao Mei Gui ini, tiba-tiba minta dibawakan bahan makanan dan kwetiau juga. Bukankah dia bisa memesan sendiri? Di jaman seperti ini apa sih yang tak bisa dipesan secara online?
Gao Mei Gui bukannya tak bisa memesan bahan makanan ataupun makanan siap saji melalui ponselnya, namun dengan keadaannya sekarang, otaknya benar-benar tumpul, tak lagi dapat berpikir jernih, maka dia meminta Ou Julong yang membawakan beberapa bahan makanan, sekalian dia ingin bercerita dengan Ou Julong, karena sepengetahuannya, Ou Julong ini cukup akrab dengan Cia Yonggan.