The Investor

The Investor
Bab 16 : Manfaatkanlah Apa yang Kamu Punya


__ADS_3

"Mei Gui, aku masih ada hal lain yang ingin disampaikan kepadamu, semoga saja kamu tak keberatan," kata Cia Yonggan membuka suara memecah kebisuan.


"Hmm.. Katakan saja, aku mendengarkan mu," jawab Gao Mei Gui malas-malasan.


Cia Yonggan terdiam sesaat. Dia membayangkan, di kampung halamannya, dia hanya memiliki sebuah rumah sederhana. Rumah orang tuanya yang sempat habis dilalap api lalu dia bangun kembali secara menyicil setiap kali dia berkesempatan pulang serta beberapa perabotan rumah tangga sederhana khas orang-orang di pelosok, jauh dari kata mewah seperti yang biasa digunakan oleh orang-orang di perkotaan. Dia ragu, Gao Mei Gui sebagai orang yang sudah terbiasa hidup di kota, apakah bersedia untuk tinggal di perkampungan dengan peralatan seadanya?


"Mei Gui, tadi Direktur Hao menyarankan kamu untuk mengambil waktu menenangkan pikiran sejenak setelah peristiwa yang dialami ayah mu. Bagaimana menurut mu?" dia menyampaikan apa yang disarankan oleh Hao Zhao tadi.


"Bagaimana dia bisa berpikiran seperti itu?" Gao Mei Gui balik bertanya sambil menegakkan badannya, tak lagi bersandar pada bahu pemuda itu.


Cia Yonggan tentu saja tak ingin memberitahukan alasan sebenarnya kepada gadis ini, dia takkan mau membuat gadisnya itu khawatir.


"Aku tak tahu, mungkin dia berpikir kematian ayah mu membuat mu terpukul dan kamu perlu mencari suasana yang baru untuk menenangkan pikiran barang sejenak di tempat yang baru," kata Cia Yonggan agak ragu.


"Hihihi... Bagaimana dia seorang tua itu dapat mengerti keinginan seorang gadis seperti aku ini, melebihi pengertian mu pada ku?" tanya Gao Mei Gui yang membuat Cia Yonggan bingung.


"Mei Gui, aku..." Cia Yonggan hanya mampu terdiam.


"Oh ya, menurut mu tempat seperti apa sebaiknya yang harus kita datangi?" Gao Mei Gui bertanya lagi seperti tak ingat bahwa dia telah mencuri dengar pembicaraan antara Cia Yonggan dengan Hao Zhao sebelumnya.


"Aku hanya punya satu tempat yang sekiranya dapat membuat mu jauh menjadi lebih tenang, yaitu kampung halaman ku," kata Cia Yonggan.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu kapan kita akan berangkat ke Gunung Mangdang itu?" dia bertanya tak sabaran.


"Sebaiknya besok pagi-pagi sekali kita sudah berangkat," Cia Yonggan menjawab cepat.


Tapi kemudian dia sadar, ada sesuatu yang tak beres. "Tunggu dulu, bagaimana kamu bisa tahu kampung halamanku berada di lereng Gunung Mangdang?"


"Ups... Hahahaha!!!" Gao Mei Gui tertawa terbahak-bahak.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi saat fajar belum lama menyingsing dari ufuk timur, terlihat sebuah mobil berjalan pelan melintasi jalan raya Nanping menuju ke arah barat daya. Mereka hanya membawa sedikit barang bawaan. Cia Yonggan menyempatkan diri untuk singgah ke rumah sederhana yang disediakan oleh Hao Zhao untuknya. Dia juga membawa beberapa barang bawaan untuk digunakan selama menjalani kehidupan di kampungnya.


"Mei Gui, kamu kalau masih merasa mengantuk, tidur saja," kata Cia Yonggan kepada Gao Mei Gui yang duduk di jok sebelahnya sambil tak berhenti menguap.


"Mungkin karena malam sebelumnya kamu kurang tidur, jadi sebenarnya tubuh mu masih membutuhkan istirahat. Tidurlah, aku akan membangunkan mu begitu kita sudah sampai," kata Cia Yonggan lagi.


"Baiklah," jawab gadis itu sambil mengatur posisi jok yang didudukinya menjadi setengah berbaring, kemudian dia memejamkan matanya.


Gadis itu tak langsung tertidur. Bagaimanapun dia masih teringat, pada malam tadi dia kembali tertidur dengan bersandarkan pada bahu Cia Yonggan, entah mengapa bahu pemuda itu terasa sangat nyaman baginya. Dan pagi ini saat terbangun, dia mendapati dirinya sudah berada di ranjang empuk kamarnya sementara Cia Yonggan tertidur di sofa ruang tengah.


Apakah pemuda itu tadi malam kembali menggendongnya? Apakah Cia Yonggan tidak mengambil keuntungan darinya saat dia tengah tertidur lelap? Memikirkan ini membuat dia secara tak sadar tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Cia Yonggan dapat menangkap senyuman gadis itu dari sudut matanya. Dia tak habis pikir, entah mengapa gadis secantik ini bisa mempercayainya begitu saja dan mau menjadi kekasihnya yang hanyalah orang biasa. Kalau gadis itu mau, dia pasti bisa mendapatkan pemuda dari keluarga kaya. Entah ini berkah atau kutukan, yang pastinya dia telah bertekad untuk tak mengabaikan gadis ini.


Perjalanan ke kampung halaman Cia Yonggan memakan waktu sekitar dua jam. Mobil itu berhenti di pekarangan sebuah rumah sederhana namun berukuran luas. Inilah rumah orang tuanya yang dibangun kembali oleh Cia Yonggan pasca peristiwa kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya.


Dia turun dan membawa semua barang bawaan dari mobil Gao Mei Gui ke dalam rumahnya. Saat dia kembali, dia mendapati Gao Mei Gui sedang berjalan ke arah belakang rumah ini. Disitu terlihat hamparan tanah kosong yang luas namun sudah dipenuhi semak belukar. Di situlah biasanya kedua orang tuanya dulu bertani, menanami aneka sayur mayur.


Tak jauh di belakang area pertanian itu, terpampang barisan bukit hijau yang ditumbuhi pepohonan hijau sehingga menjadikan wilayah di sekitar sini terasa sejuk. Di sebelah kanan perbukitan situ, di sanalah letaknya Gunung Mangdang yang terlihat menjulang lebih tinggi daripada perbukitan yang ada di sekitarnya.


Gao Mei Gui sendiri merasa sangat senang dengan udara disini. Meski di Kota Nanping juga terdapat perbukitan dan pepohonan mengelilingi kota itu, namun karena sudah terlalu banyak gedung-gedung dan pembangunan di sana-sini, membuat kota kelahirannya itu tak sesejuk disini. Atmosfer di sini membuat dia lebih betah.


"Yonggan, apakah ini lahan pertanian yang dulu biasa digunakan orang tua mu?" Gao Mei Gui bertanya saat Cia Yonggan menyusulnya kemari.


Cia Yonggan tadi malam telah menceritakan sedikit tentang dirinya kepada Gao Mei Gui.


"Iya, tapi aku masih belum menggarap kembali lahan ini," Cia Yonggan menjawab, matanya menerawang jauh.


"Kenapa? Bukankah orang tua mu menginginkan mu menjadi orang sukses di bidang pertanian? Apakah tidak terlalu sia-sia, punya ilmu dan lahan, tapi tak dipergunakan?Manfaatkanlah apa yang kamu miliki, Yonggan," Gao Mei Gui menatap pemuda tampan di sampingnya.


Cia Yonggan terdiam sesaat. Dia sendiri tak tahu, mengapa dia masih mengharap pertemuannya kembali dengan Jia Xiu. Bukankah Jia Xiu mengatakan kepadanya untuk bisa membuktikan dirinya menjadi lebih baik? Dia tiba-tiba tersadar, Jia Xiu tidak pernah mengatakan bahwa dia harus tetap bekerja di King Palace Hotel selama lima tahun, tapi orang tua itu ingin melihat pembuktian dari dirinya bahwa dia mampu menjadi lebih baik daripada sekedar menghabiskan masa mudanya dengan bergaul bersama anggota kelompok bawah tanah. Sekarang dia sudah menamatkan pendidikannya. Bukankah kalau ingin terlihat menjadi lebih baik, dia harus menunjukkan kepada orang tua itu, bahwa dia mampu menerapkan ilmu yang dia kuasai dan menghasilkan uang sendiri?


Ternyata dia selama ini telah salah mengartikan kalimat Jia Xiu!

__ADS_1


"Mei Gui, apakah menurut mu aku harus menggarap kembali lahan ini?" dia meminta pendapat gadis itu.


Gao Mei Gui tersenyum, meraih kedua tangan pemuda itu dan dengan mesra berkata. "Tentu saja, Yonggan. Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi?"


__ADS_2