The Investor

The Investor
Bab 55 : Masalah Datang Bertubi-tubi


__ADS_3

Usaha penyergapan anggota Wei Chung terhadap Ou Julong dan Guan Zheng siang ini benar-benar merugikan organisasi Hei Laohu secara pribadi. Setidaknya ada lima puluhan anggotanya mengalami cedera akibat dipukuli orang. Dapat dipastikan mereka itu tidak dapat ikut serta saat menyerbu Perkumpulan Xiongmeng de Shizi nanti malam.


Kabar ini membuat geram Wei Chung. Dia yang tengah membahas strategi penyerangan malam ini bersama Ketua Bao, Khong Guan, jadi tak dapat berkonsentrasi lagi begitu Po Yang yang duduk di sampingnya membisikkan kabar tersebut ke telinganya.


Tadi dalam kesepakatan bersama, mereka telah setuju untuk mengerahkan masing-masing bawahan sebanyak lima ratus orang dan bersama-sama melakukan penyerbuan secara terbuka ke markas musuh.


Markas Xiongmeng de Shizi terletak di Zheng Rong, sebuah kawasan yang berada di pinggir kota di jalur sungai Jianxi. Di sekeliling markas perkumpulan itu merupakan tanah lapang arena pacuan kuda yang dikelola langsung oleh perkumpulan itu.


Hei Laohu rencananya akan menyusuri jalan ke arah utara, kemudian memutari Sungai Jianxi dan berbalik menyerbu ke arah selatan. Sementara Bao akan melintasi Sungai Minjiang dari arah selatan. Nantinya kedua kubu ini akan bertemu di pusat penyerangan dan secara bersamaan membombardir perkumpulan Xiongmeng de Shizi dari dua arah.


"Ketua Wei, malam ini kita pasti akan berhasil. Bagaimana nanti kita akan mengatur pembagian wilayah?" Khong Guan belum apa-apa sudah menanyakan soal pembagian wilayah.


Khong Guan ini paling banter baru berusia awal empat puluhan, masih enerjik dan memiliki semangat yang tinggi. Menurut pemahamnya, begitu mereka menumbangkan Xiongmeng de Shizi, maka daerah kekuasaan harus dibagi dua. Dirinya pribadi mengincar arena pacuan kuda Zheng Rong, sebab itu adalah sebuah arena perjudian yang paling banyak menghasilkan profit bagi Perkumpulan Xiongmeng de Shizi selama ini. Makanya dia menyinggung urusan ini terlebih dahulu sekaligus ingin menunjukkan sinyal bahwa Perkumpulan Bao menginginkan arena pacuan kuda itu.


Namun sebaliknya bagi Wei Chung, tiada yang namanya pembagian wilayah. Semua wilayah Xiongmeng de Shizi akan jatuh ke tangannya, begitu pula wilayah yang kini dikuasai oleh Perkumpulan Bao. Seluruh Kota Nanping hanya akan menjadi miliknya seorang!


Maka dia tak ingin membahas urusan pembagian wilayah dengan Khong Guan. Dirinya malah ingin cepat-cepat pergi dari sini, karena ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan.


Pertama, urusannya dengan pihak King Palace Hotel yang kini telah diputuskan oleh Hao Zhao secara sepihak dengan dalih telah mengganggu tamunya. Dia mana akan pernah menyangka kalau Ou Julong dan Guan Zheng ternyata dilindungi oleh Hao Zhao dengan puluhan pengawal.


Kedua, urusan putranya, Wei Heng. Istrinya sejak tadi tak pernah berhenti mengirimi dia pesan-pesan WeChat.


"Suami ku, Wei Heng menghilang!"


"Kamarnya berantakan, isi lemari dibongkar keluar."


"Tapi ponselnya tertinggal."


"Kamu cepatlah pulang, suami ku. Atau perintahkan orang untuk mencari dia."


Demikian serentetan pesan-pesan yang dikirim istrinya, lengkap dengan foto-foto kondisi kamar yang berantakan karena sebelumnya sempat diacak-acak oleh Cia Yonggan saat mencari dokumen-dokumennya yang disembunyikan oleh Wei Heng.


"Apakah menurut mu dia telah mengompol, suami ku?"


Pesan ini pun disertai pesan gambar yang memperlihatkan sudut ranjang Wei Heng tengah basah bercampur cat tembok yang luntur mengotori alas tempat tidur.


Tapi Wei Chung mana sempat membalas pesan-pesan istrinya saat tengah sibuk begini.


Untuk itu Wei Chung tak lagi ingin berlama-lama disini. Biarlah untuk sementara dia menyenangkan hati Khong Guan saja.


"Ketua Khong, mengenai pembagian wilayah, kita atur nanti saja. Aku percayakan kepada mu mengenai hal ini. Aku tahu kamu adalah orang yang memiliki jiwa keadilan," kata Wei Chung yang membuat mata lawan bicaranya berbinar senang.


"Ah, jangan begitu, Ketua Wei. Aku menjadi tak enak hati kalau mengatur pembagian wilayah sendirian saja. Aku pasti akan meminta saran mu di kemudian hari," seloroh Khong Guan.


"Baiklah, kita lihat nanti saja," balas Wei Chung cepat. Lalu dia menambahkan. "Ketua Khong, aku rasa perencanaan kita ini sudah matang. Aku ingin mengumpulkan orang-orang ku dan menyampaikan beberapa patah kata kepada mereka. Kalau kita terlalu lama disini, takutnya waktu akan semakin mendesak dari yang telah kita sepakati."


Khong Guan tersentak. Benar juga yang dikatakan oleh Wei Chung ini. Bukankah waktu kini hampir mendekati sore hari? Kalau mereka masih berleha-leha begini, akan membuat dia kocar-kacir mengumpulkan para bawahan.


"Benar juga, Ketua Wei. Maafkan aku yang kurang berpengalaman ini," katanya spontan. Lalu dia mengisyaratkan dua bawahannya untuk berdiri sambil berkata. "Kalu begitu biarlah kami antarkan Ketua Wei sekalian ke luar."


Wei Chung mengangguk dan berdiri. Po Yang juga ikut berdiri, disusul oleh tujuh orang bawahannya yang duduk di meja terpisah. Lalu dengan diantar oleh Khong Guan, rombongan Wei Chung keluar dari gedung tempat hiburan itu.

__ADS_1


"Ketua Khong. Sampai berjumpa kembali di arena Zheng Rong nanti malam" kata Wei Chung.


"Ya, tentu, Ketua Wei. Nanti akan ada pesta besar," Khong Guan berkata pula.


"Akan ada kejutan pada malam ini," tentunya ini dialamatkan oleh Wei Chung kepada Khong Guan.


Tapi Khong Guan mana mengerti, sebaliknya dia dengan bersemangat menimpali. "Ya, ini akan menjadi kejutan besar."


"Kalau begitu kami pergi dulu, Ketua Khong dan anggota Bao sekalian," ujar Wei Chung dengan sedikit membungkukkan badan, diikuti oleh Po Yang dan bawahannya.


Khong Guan bersama para bawahannya membalas perlakuan yang sama kepada Wei Chung sekalian. "Baiklah, sampai berjumpa lagi, Ketua Wei."


Begitu kedua rombongan itu terpisah, sambil berjalan ke parkiran mobil, Wei Chung bertanya. "Po Yang, berapa orang jumlah pengawal yang ada di King Palace Hotel itu?"


"Dari informasi bawahan kita, jumlah mereka tidak kurang dari yang orang-orang yang ku kirimkan, Kakak Wei," jawab Po Yang.


"Berapa orang yang kamu kirim tadi?" Wei Chung bertanya lagi.


"Aku mengirimkan lima puluh orang, Kakak Wei," timpal Po Yang.


"Sebanyak itu?" Wei Chung jadi berkerut kening.


Adalah sebuah komitmen tak tertulis yang disepakati oleh para pengusaha di Kota Nanping untuk tak memiliki pengawal pribadi. Dengan menjalin hubungan mitra dengan perkumpulan bawah tanah, maka segala urusan keamanan sudah terjamin. Mengapa tiba-tiba Direktur King Palace Hotel memiliki pengawal pribadi sebanyak itu tanpa sepengetahuan dia?


"Kurang ajar, Hao Zhao. Dia telah melanggar komitmen," Wei Chung berkata geram.


Menyalahkan pihak lain, sementara kesalahan sendiri tak disadari, adalah sifat kebanyakan manusia, termasuk Wei Chung. Dia mana menyadari, begitu dia berhasil menguasai kota ini, dia sendiri malah yang akan memaksa para pengusaha di Kota Nanping untuk menyewa jasa pengawal dari perusahaan pengawalan Naga Laut.


Wei Chung seperti berpikir sejenak. Urusan dengan Hao Zhao akan diselesaikan nanti, setelah Lu Meng datang kemari. Dengan jumlah pengawal yang dimiliki Hao Zhao, apakah dapat menandingi jumlah pengawal yang akan dibawa oleh Lu Meng pada malam ini? Meski keluarga Shu memiliki banyak harta kekayaan, apakah bisa kurang ajar di Kota Nanping yang akan dia kuasai ini?


Maka dia lantas menjawab. "Untuk sementara biarkan saja dia, tapi kirimkan dua orang bawahan memantau King Palace Hotel dari jauh."


"Apakah kalian sudah mendengar?" Po Yang melayangkan pandangannya kepada tujuh bawahannya.


Ketujuh orang itu seperti celingak-celinguk sebentar. Kemudian salah seorang di antara mereka sambil menyeret tangan seorang kawannya maju ke depan.


"Biar kami berdua yang melakukannya, Ketua," kata orang itu.


Wei Chung memperhatikan kedua bawahannya itu sebentar, lalu katanya. "Baik, kalian terus pantau disana. Jangan sampai dicurigai. Ada apa-apa beritahukan kepada Po Yang ini. Kalian paham?"


"Kami paham, Ketua," kata mereka serempak, lalu memisahkan diri dengan kelompok itu.


Setelah mereka pergi, Wei Chung bertanya kepada lima orang bawahan yang tersisa. "Apakah ada di antara kalian yang tahu letak kediaman pemuda yang kemarin disekap?"


Maksud Wei Chung adalah letak kediaman Cia Yonggan di lereng Gunung Mangdang. Dia akan mengutus orang untuk mencari Wei Heng kesana. Menurut perkiraannya, putranya menghilang kali ini pasti ingin membawa kabur anak gadis mendiang Gao Li Liang itu, seperti yang dulu dia sepakati dengan Wei Heng. Yang dia sayangkan adalah, mengapa putranya itu tidak sabaran, pergi sendirian tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Membuat orang cemas saja.


Salah seorang bawahan itu maju ke depan dan dengan bangga menjawab. "Aku tahu, Ketua. Aku sebelumnya ikut mengintai dia orang ke pelosok sana. Bahkan aku juga ikut saat menyergap dia dua hari yang lalu."


"Bagus, bagus. Kamu punya jasa tidak sedikit," kata Wei Chung mengangguk-angguk memuji bawahannya itu.


"Terima kasih, Ketua," dia dengan malu-malu menjawab.

__ADS_1


"Aku punya tugas untuk mu. Kamu bawalah mereka semua pergi kembali kesana. Coba lihat, apakah Wei Heng ada disana atau tidak. Perhatikan juga di sepanjang jalan, siapa tahu kalian berpapasan di tengah jalan," Wei Chung memberikan perintah untuk diikuti kelima bawahan itu.


"Baik, Ketua, kami berangkat sekarang juga," jawab bawahan itu sambil bersiap-siap mengajak semua rekannya.


Namun Wei Chung menahannya dengan berkata. "Tunggu dulu. Kirimkan nomor rekening Alipay mu pada ku segera. Ada sedikit imbalan jasa yang akan ku kirimkan. Kamu bagi-bagilah dengan mereka."


Wei Chung ini begitu pandai mengambil hati para bawahan. Yang dia bilang sedikit, tentu terasa berarti bagi para bawahannya. Pergaulan antara sesama preman, tak melulu soal uang, namun mereka lebih memperhatikan rasa setia kawan. Ada bonus dari atasan, tentulah akan mereka bagi. Namun bonus yang diberikan oleh atasan tanpa diminta, adalah merupakan bentuk penghargaan pemimpin atas apa yang telah mereka kerjakan.


"Baik, terima kasih, Ketua " katanya sambil mengajak rekan-rekannya pergi dari situ.


Dengan masih berjalan ke arah mobil, dia mengirimkan nomor rekening Alipay kepunyaannya ke nomor WeChat Wei Chung. Tak lama kemudian Wei Chung telah mengirimkan sejumlah uang kepada dia yang membuat dia semakin merasa bangga.


"Kakak Wei, ada apa dengan Wei Heng?" Po Yang tiba-tiba bertanya.


Dengan singkat dijawab oleh Wei Chung. "Dia menghilang, Po Yang."


Melihat orang yang tak ingin membahas persoalan dengannya, Po Yang tak lagi lanjut bertanya. Sebaliknya dia memberikan informasi lain kepada Wei Chung.


"Kakak Wei, agaknya kita tidak bisa mengirimkan lima ratus orang malam ini," ujarnya.


"Mengapa begitu?" Wei Chung yang sedang membuka pintu mobil menjadi terhenti.


Dengan was-was, Po Yang menjawab. "Para anggota yang dipimpin oleh Ou Julong dan Guan Zheng menolak untuk ikut, mereka bahkan tak menghiraukan panggilan ku, Kakak Wei."


"Sial, mengapa aku melupakan hal ini?" rutuk Wei Chung dalam hati.


Po Yang mengatakan bawahan yang dipimpin oleh Ou Julong dan Guan Zheng. Itu artinya masing-masing dua ratus orang yang berada di bawah kendali kedua orang itu tak ingin ikut campur. Dia akan kekurangan tenaga sebanyak empat ratus orang malam ini, itu jumlah yang tidak sedikit.


Dirinya mengira begitu dia menguasai Perkumpulan Hei Laohu, maka seluruh bawahan di perkumpulan itu akan tunduk kepada dia. Namun dia lupa, dulunya mendiang pemimpin Hei Laohu sebelumnya, Gao Li Liang telah membagi rata jumlah anggota mereka masing-masing. Dan Wei Chung belum sempat merombak kembali para bawahan itu namun Ou Julong kemarin tiba-tiba sudah datang mencari masalah dengannya.


"Aiya..." Wei Chung mengeluh.


Mengapa tiba-tiba masalah datang bertubi-tubi dalam waktu yang mendesak begini? Membuat dia merasa pusing.


Dia duduk di kursi pengemudi. Sejenak memijit kepalanya sambil berpikir. Wei Chung terlihat jauh lebih tua saat ini. Begitu banyak yang menjadi beban pikirannya.


"Kakak Wei, kalau kamu tidak bisa mengemudi, biar aku yang mengantar mu pulang," ujar Po Yang dari luar pintu mobil.


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," Wei Chung berusaha menolak.


Sekarang dia hanya memiliki separuh kekuatan. Belum lagi barusan lima puluh orang cedera dihajar para pengawal Hao Zhao. Kalau Pihak Bao mengetahui akan hal ini, tentu akan merepotkan dia sendiri. Satu-satunya yang menghibur dia kini adalah perkataan Lu Meng tadi yang menyanggupi akan membawa seratus orang pengawal memiliki keahlian bela diri. Pastilah mereka dapat dia andalkan.


"Po Yang, liburkan semua bawahan yang bekerja untuk para pengusaha malam ini. Tarik mereka semua," perintah Wei Chung.


Po Yang terkejut. Kalau ini dilakukan, dapat dipastikan akan banyak terjadi masalah keamanan di gedung-gedung para pengusaha. Para pengunjung tentu akan bertindak semaunya kalau gedung-gedung seperti pertokoan, hotel, pusat perbelanjaan, maupun tempat hiburan tidak dilengkapi penjaga keamanan.


"Kakak Wei, ini sangat beresiko.." kata Po Yang ingin mengutarakan keberatannya.


Tapi Wei Chung memotong cepat. "Sudah kepalang tanggung, Po Yang. Kita tidak punya cara lain lagi. Segera panggil mereka semua dan kumpulkan mereka, malam ini mereka harus ikut."


"Baiklah, Kakak Wei," Po Yang mau tak mau harus ikut perintah ketua.

__ADS_1


__ADS_2