The Investor

The Investor
Bab 30


__ADS_3

"Tuan, baguslah anda sudah siuman. Anda kembali berbaring saja, biar kami periksa," berkata salah seorang perawat itu sembari menyodorkan stetoskop untuk memastikan denyut jantung pemuda itu.


Namun Cia Yonggan tak menggubrisnya, sebaliknya bertanya. "Suster, saya dimana?"


Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari dia berada di sebuah kamar yang luas dan memiliki perabotan mewah serta tertata rapi. Seumur hidup Cia Yonggan belum pernah dia masuk ke dalam kamar semewah ini.


"Anda sedang berada di kediaman Nona Xiao, Tuan. Biarkan kami periksa denyut jantung dan nadi anda dulu," berkata pula perawat satunya sambil memegang peralatan medis cek denyut nadi.


"Nona Xiao? Siapa Nona Xiao?" Cia Yonggan kembali bertanya tanpa menghiraukan kedua perawat itu.


Kedua perawat itu sebenarnya sedikit jengkel karena tak dihiraukan orang, namun demi melihat sang pasien tampan ini serta bayaran yang disediakan oleh Xiao Meilin mereka tetap berusaha membujuk Cia Yonggan dengan halus.


"Tuan, Nona Xiao adalah Nona Xiao, takkan berubah jadi orang lain. Hihihihi," perawat pertama terkikik geli dengan pertanyaan Cia Yonggan.


"Hihihihi.. Iya, takkan mungkin dia berubah jadi seorang laki-laki," perawat kedua menimpali dengan candaan pula.


Menghadapi dua perawat muda yang riang begini, mau tak mau Cia Yonggan sedikit tersenyum. Dia pun mengikuti instruksi kedua perawat itu.


Namun saat akan merebahkan diri, barulah dia sadar kalau sekujur tubuhnya sedang kesakitan, khususnya pada bagian rusuk kirinya. Dia teringat pada malam itu dia mendapatkan pukulan keras dari Mo Kat pada rusuk kirinya, kemungkinan ada beberapa tulang rusuknya yang patah yang menyebabkan dia tak dapat bernafas secara normal. Selain itu, dia juga merasakan sakit pada bagian kepalanya yang benjol akibat pukulan benda tumpul pengeroyoknya dan kedua tangannya pun kesakitan serta meninggalkan bekas memar akibat pengeroyokan itu.


Sembari kedua perawat itu memeriksa denyut nadi dan denyut jantung Cia Yonggan, ingatannya kembali kepada momen mimpi bertemu dengan kedua orangtuanya. Mimpi itu terasa nyata membekas di ingatannya, seolah-olah itu adalah peristiwa yang dia alami di kehidupan nyata. Kedua orangtuanya menyuruh dia untuk segera pulang, mengendalikan sesuatu yang dia sendiri tak tahu entah apa. Dan sepertinya hal itu begitu mendesak, tak dapat lagi ditunda.


Ya, kembali ke rumah, dia harus segera pulang. Di rumah itu dia meninggalkan Gao Mei Gui sendirian tanpa bekal makanan, tanpa kendaraan. Memikirkan ini, dia menjadi gelisah. Dia tak tahu entah sudah berapa lama dia terbaring disini, apakah Gao Mei Gui masih berada disana dan menunggu kepulangannya?


Di dalam hatinya, dia berharap semoga gadis itu tak menunggunya dan pulang kembali ke kediamannya di Nanping. Dia tak dapat membayangkan orang yang dicintainya itu menderita karena terlalu lama menunggunya di pelosok sana.


"Mei Gui, ku harap kamu baik-baik saja, maafkan aku," dia berkata di dalam hati.


"Denyut nadi dan jantung anda berjalan dengan normal, Tuan. Namun begitu sebaiknya anda jangan terlalu banyak bergerak dahulu, takutnya gips yang membalut dada anda akan bergeser dan longgar sehingga menyebabkan pemulihan berjalan lambat," salah seorang perawat berkata begitu usai melakukan pemeriksaan sehingga membuyarkan lamunan Cia Yonggan.


"Baik, suster. Terima kasih," kata Cia Yonggan lirih.


Di permukaan dia terlihat tenang, namun di dalam hatinya sedang bergejolak, bagaimana dia melepaskan diri dari sini dan segera pulang untuk menengok keberadaan gadis yang dicintainya sekaligus mencari tahu yang dimaksudkan oleh kedua orangtuanya.


Nona Xiao yang disebut-sebut oleh kedua perawat itu tentulah orang yang telah menyelamatkannya dari perbuatan jahat Wei Chung yang bersekongkol dengan Mo Kat, sang algojo. Bagaimana ceritanya Nona Xiao ini dapat melepaskan dia dari ancaman maut Wei Chung? Sebenarnya siapa dia?


Banyak pertanyaan mengenai nona yang diduganya sebagai penyelamatnya itu. Apabila dia bersikukuh untuk segera pergi dari sini tanpa menemui sang penyelamat, tentunya dia akan menjadi orang yang tak tahu diri.

__ADS_1


"Suster, bolehkah saya dipertemukan dengan Nona Xiao? Saya ingin berterimakasih kepadanya," kata Cia Yonggan menggapai ke arah salah seorang perawat.


Baru saja perawat itu hendak menjawab, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka disusul sesosok ramping masuk ke dalam kamar itu. Perempuan itu terlihat sangat menawan dalam balutan blazer dan rok selutut yang menandakan dia baru saja pulang dari kantor. Wajah bulat telur yang dimilikinya terlihat sepadan dengan hidungnya yang kecil dan mancung. Perempuan ini memiliki karisma yang tak banyak dimiliki oleh perempuan lain. Membuat siapa saja orang yang baru bertemu dengannya akan merasa sedikit gugup.


Bagitupun Cia Yonggan, saat memandangi gadis yang baru masuk itu berjalan gontai ke arahnya, dia hanya mampu melongo memandangi gadis itu. Hanya sekilas dia sudah tahu bahwa usia gadis itu berada di atas dia paling tidak tiga atau empat tahun.


"Akhirnya kamu bangun, baguslah," Xiao Meilin berkata ketus saat melihat pemuda itu melongo memandanginya.


Dalam pikiran Xiao Meilin, semua lelaki sama saja, mata keranjang yang apabila melihat perempuan matanya jadi melotot seperti Cia Yonggan saat ini.


Begitu sampai di sisi pembaringan, dengan gusar dia berkata sambil memelototi pemuda itu. "Apakah kamu belum pernah melihat perempuan?"


Tentu saja Cia Yonggan menjadi kelimpungan. Pasti gadis di depannya ini telah berprasangka buruk padanya.


"Nona.. Cici.. Maaf saya.." kata Cia Yonggan terbata-bata.


"Cici Cici! Emang aku ini terlihat seperti kakak mu?" Xiao Meilin malah menjadi marah.


Melihat gelagat yang kurang baik, salah seorang perawat tadi memotong dengan nada halus. "Nona Xiao, Tuan ini kondisinya sudah normal, meski belum boleh terlalu banyak bergerak dan harus banyak beristirahat."


Xiao Meilin sejenak menatap perawat itu dan memberikan isyarat untuk meninggalkan ruangan ini yang dapat ditangkap oleh kedua perawat itu. Mereka keluar kamar meninggalkan kedua orang itu.


"Siapa nama mu?" Xiao Meilin bertanya, kali ini terlihat serius.


Cia Yonggan sebelumnya telah dibuat merasa tak enak karena memandangi gadis itu, sekerang tak lagi berani balas menatap gadis itu. Dia menatap lurus ke arah langit-langit kamar ini.


"Nama saya Yonggan marga Cia, Nona," dia menjawab.


Xiao Meilin terus menatap wajah pemuda itu. Tak dapat dia pungkiri, pemuda tampan itu memang terlihat sedikit lebih muda dari dia.


"Cia Yonggan, kamu jangan terlalu sungkan begitu," kata Xiao Meilin. Lalu dengan gamblang dia kembali bertanya. "Apa hubungan mu dengan perkumpulan Hei Laohu?"


Cia Yonggan tentu saja tak mengerti harus menjawab apa, karena memang dia tak memiliki ikatan apa-apa dengan perkumpulan bawah tanah itu. Di samping itu dia pun bingung entah bagaimana seharusnya dia menyebut gadis di sampingnya ini. Disebut cici (sebutan kakak perempuan) salah, disebut nona juga dianggap terlalu sungkan.


Maka dengan pasrah dia menjawab. "Nona.. Cici.. Eh.. Saya tak memiliki hubungan apa-apa dengan Hei Laohu."


Xiao Meilin yang mendapati Cia Yonggan menjadi serba salah itu mau tak mau menjadi geli sendiri. Dia menyadari, sikap serba salah Cia Yonggan karena bersumber dari dirinya.

__ADS_1


"Hahaha.." gadis itu terkekeh sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Kemudian dia melanjutkan. "Sepertinya aku ini memang lebih tua dari mu. Baiklah, kamu boleh memanggil ku Cici."


"Baik, Cici," sedikit Cia Yonggan melirik Xiao Meilin dan kembali dia menatap langit-langit kamar. Kemudian dia menyambung. "Cici, terima kasih telah menyelamatkan ku. Tapi aku tak tahu entah dengan cara apa kamu mengeluarkan ku dari sana."


Pembicaraan mereka terdengar lebih akrab saat ini. Cia Yonggan sepenuhnya memperlakukan Xiao Meilin bak berbicara kepada seorang kakak perempuan. Sebaliknya melihat kepolisian Cia Yonggan, Xiao Meilin pun merasa lebih cepat akrab dengan pemuda ini.


"Dengan cara apa? Tentu saja dengan berenang. Tak mungkin aku terbang lalu mengangkat mu dari permukaan air," ujarnya.


Cia Yonggan kaget. Kenapa berenang, bukankah dia kala itu sedang berada di dalam sebuah ruangan seluas lapangan basket?


"Maksudnya bagaimana, Cici?" Cia Yonggan bertanya heran dan balas menatap Xiao Meilin.


"Dengar ya, aku menemukan mu terapung di bawah Jembatan Shuinan dengan kaki terikat. Sepertinya seseorang berupaya menenggelamkan mu, tapi entah orang itu memang bodoh atau bagaimana, dia tak tahu tali yang mengikat kaki mu itu terlalu panjang, alih-alih menenggelamkan, justru kamu menjadi terapung. Hikhikhik.." dia menertawakan kebodohan orang yang berusaha menenggelamkan Cia Yonggan kala itu.


Ah, jadi demikian. Di pikiran Cia Yonggan, ini pasti akibat keteledoran Wei Heng. Berkemungkinan pemuda yang membenci dia itu yang turun tangan menenggelamkannya setelah dirinya tak sadarkan diri. Namun karena Wei Heng tidak becus, maka dia tak dapat menentukan kedalaman Sungai Minjiang. Secara tak sadar dia berterimakasih kepada pemuda sembrono itu. Kalau saja Wei Heng sedikit lebih teliti, tentu dia sudah mati tenggelam.


Melihat Cia Yonggan yang diam saja, Xiao Meilin lanjut bertanya "Jadi bagaimana?"


"Bagaimana apanya, Cici?" Cia Yonggan bingung.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, apa hubungan mu dengan Hei Laohu?" Xiao Meilin masih penasaran.


"Tadi sudah ku katakan padamu, Cici, bahwa aku tak punya hubungan apa-apa dengan Hei Laohu," Cia Yonggan menjawab tegas.


"Jangan berbohong. Kamu hampir mati dengan luka lebam di sekujur tubuh mu. Kalau bukan berurusan dengan anggota perkumpulan bawah tanah, lantas itu akibat ulah siapa? Dan kamu juga terlihat di barisan terdepan pada saat pemakaman mendiang Gao Li Liang. Masihkah kamu akan menyangkal tak punya hubungan dengan Hei Laohu?" kata Xiao Meilin tajam.


Kata-kata Xiao Meilin bagaikan petir menyambar di siang bolong bagi Cia Yonggan, mengejutkan. Ternyata Xiao Meilin pernah melihatnya saat di pemakaman Gao Li Liang dan gadis itu juga dapat menghubungkan peristiwa yang dialaminya dengan kehadirannya pada pemakaman Gao Li Liang kala itu.


"Sial!" Cia Yonggan mengumpat di dalam hati.


Sebaliknya di permukaan, dia menjawab. "Aku tak tahu harus bagaimana menjawabnya, karena memang aku tak punya hubungan apa-apa dengan Hei Laohu."


"Baik. Bagaimana dengan putri mendiang pemimpin Hei Laohu? Apakah kamu tak memiliki hubungan juga dengannya? Siapa itu namanya, yang selalu kamu sebut saat mengigau. Aha, Mei Gui! Mei Gui, kamu tunggulah aku, begitu kata mu saat mengigau. Benar kan, dia putri mendiang Gao Li Liang? Apakah dia gadis cantik yang ada di samping mu saat pemakan itu? Apakah dia kekasih mu?" ada nada cemburu saat Xiao Meilin mengutarakan itu.


"Cici, ini.. Itu.." Cia Yonggan malu kalau harus membicarakan hubungan percintaannya dengan gadis lain.


"Ini itu apa? Jawab yang benar!" Xiao Meilin menekan.

__ADS_1


"Benar, Gao Mei Gui adalah putri mendiang Gao Li Liang dan dia adalah kekasih ku," Cia Yonggan berkata mantap sambil menatap Xiao Meilin.


__ADS_2