
Pikiran Hao Zhao semakin ruwet. Belum habis terpecahkan satu misteri, sekarang muncul lagi misteri lainnya. Keberadaan pemuda itu hingga kini belum dapat dia ketahui, entah masih hidup atau sudah mati, kini muncul lagi fakta baru yang mencengangkan.
Kalau saja Jia Xiu mengatakan ini sejak lima tahun yang lalu, tentu dia lebih memperhatikan segala keperluan Cia Yonggan sejak dulu.
Bagaimana nanti jika seandainya majikannya, Tuan Besar Shu tahu bahwa selama ini dia hanya memfasilitasi Cia Yonggan dengan seadanya, yaitu sebuah rumah sederhana? Belum lagi nanti jika Tuan Besar Shu mempertanyakan mengapa selama ini dia hanya mempekerjakan Cia Yonggan sebagai pelayan kamar di hotelnya?
"Aiya..."
Dia berkeluh menyesali diri mengapa waktu itu menuruti saja apa yang diperintahkan oleh Jia Xiu untuk memperlakukan pemuda itu dengan sewajarnya tanpa terlihat mencolok di mata Cia Yonggan.
Selagi dia melamun, ponselnya berbunyi, di layar tertera nomor Jia Xiu.
"Halo, Asisten Jia," dia menyapa singkat.
"Halo, Hao Zhao. Ini aku," terdengar suara yang tak asing di telinga Hao Zhao, itulah suara bos besarnya, pemilik King Palace Hotel sebenarnya, Shu Han Thian.
"Selamat malam, Tuan Besar. Maaf sebelumnya, aku tak berniat ingin merepotkan anda malam-malam begini," kata Hao Zhao.
"Tidak apa-apa Hao Zhao. Sebaliknya aku mengapresiasi tindakan mu ini yang langsung memberikan laporan kepada Jia Xiu," jawab Shu Han Thian kalem. Lalu dia menambahkan. "Tadi aku sudah mendengar sedikit dari Jia Xiu apa yang barusan kamu sampaikan mengenai Cia Yonggan."
"Baguslah, kalau anda sudah tahu, Tuan Besar," dengan begini Hao Zhao merasa tak perlu mengulang kembali apa yang telah dia sampaikan kepada Jia Xiu tadi.
"Namun begitu, aku ini sudah lanjut usia, Hao Zhao, tak langsung dapat mengerti apa yang disampaikan orang. Hehehehe.." Shu Han Thian berbahasa politis yang secara tak langsung meminta Hao Zhao menceritakan kembali kronologi bagaimana pemuda itu bisa menghilang.
Hao Zhao tentu saja paham akan maksud sang majikan. Maka dia menceritakan peristiwa pengeroyokan Gao Li Liang yang secara tak sengaja dipergoki oleh Cia Yonggan waktu itu. Dia juga menceritakan bagaimana dia memberi saran kepada pemuda itu untuk mengambil cuti berlibur ke kampung halamannya di lereng Gunung Mangdang dengan membawa serta putri Gao Li Liang. Sampai kemudian pemuda itu menghilang, sementara mobil yang dikendarainya ditemukan berada di kediaman Wei Chung.
Dia juga menceritakan kekacauan yang terjadi pada perkumpulan bawah tanah Kota Nanping baru-baru ini. Dimana Hei Laohu telah berganti kepemimpinan, sementara Perkumpulan Bao tengah bersiap memilih pemimpin baru setelah kematian pemimpinnya yang baru-baru ini mati dibunuh orang.
Terakhir, Perkumpulan Xiongmeng de Shizi disebut-sebut terancam akan diserang oleh Perkumpulan Bao dan Hei Laohu karena kematian mendiang pemimpin Perkumpulan Bao, Hong Gan, dikabarkan tak lepas dari campur tangan Kang Fang, sang pemimpin Xiongmeng de Shizi. Kang Fang diisukan ingin mengangkangi Kota Nanping di bawah pengaruh perkumpulannya sendiri, sehingga melenyapkan dua pimpinan terdahulu perkumpulan bawah tanah yang menjadi saingannya.
"Ah, begitu rupanya. Nah, sekarang aku sudah paham, Hao Zhao," Shu Han Thian berkomentar.
"Jadi bagaimana menurut anda, Tuan Besar?" Hao Zhao menanyakan pendapat Shu Han Thian.
"Aku ingin mendengarkan pendapat kamu terlebih dahulu," Shu Han Thian malah melempar balik.
"Aku.. Kalau menurut ku dia sudah dipantau orang sejak dia menyaksikan pengeroyokan pimpinan geng Hei Laohu itu. Kalau tidak, orang-orang itu tak mungkin dapat menemukan keberadaannya di lereng gunung sana," Hao Zhao mengutarakan pendapatnya.
"Kita sependapat, Hao Hao," kata Shu Han Thian menyela. Lalu imbuhnya. "Teruskan."
"Pemimpin Hei Laohu yang baru ini sengaja membunuh dia untuk melenyapkan saksi, agar tiada orang yang mengetahui boroknya," Hao Zhao melanjutkan.
"Ya, memang begitu. Tak percuma selama ini ku berikan kamu kepercayaan di kota Nanping, Hao Zhao," Shu Han Thian terdengar memuji.
__ADS_1
"Aih, anda jangan terlalu memuji ku, Tuan Besar," Hao Zhao menjadi tak enak mendapatkan pujian begitu.
"Lalu, apakah menurut mu, Kang Fang itu benar ingin menguasai Kota Nanping sendiri?" Shu Han Thian tak menghiraukan rasa sungkan Hao Zhao barusan.
"Menurut ku dia tidak akan melakukan itu, Tuan Besar," ujar Hao Zhao menyangkal keterlibatan Kang Fang sebagai dalang pembunuhan Gao Li Liang dan Hong Gan.
"Oh? Lalu siapa yang ingin menguasai Kota Nanping itu sendiri?" kembali Shu Han Thian menguji.
"Tentu saja Wei Chung, Tuan Besar. Wei Chung sang pemimpin Hei Laohu yang barulah yang berulah. Kalau tidak, tak mungkin dia melenyapkan Cia Yonggan sebagai satu-satunya orang yang mengetahui aksi bejatnya itu," Hao Zhao semakin bersemangat mengeluarkan pendapatnya.
"Tepat!" Shu Han Thian berseru kegirangan. Lalu imbuhnya. "Apa yang aku katakan, Hao Zhao. Kamu tak percuma aku utus bertugas disana."
"Tuan Besar, anda terlalu membesar-besarkan," Hao Zhao meski malu dipuji begitu, meski tak dapat menampik rasa bangga di dalam hatinya.
"Hao Zhao. Dengarkan aku. Itu orang bermarga Wei telah berusaha mencari perkara dengan ku. Apakah kamu sebagai orang kepercayaan ku di Kota Nanping hanya akan diam saja melihat upayanya ingin melenyapkan orang yang selama ini ku jaga?" kali ini nada bicara Shu Han Thian terdengar serius.
"Tuan Besar, aku.. Aku.." Hao Zhao menjadi serba salah.
Ingin sekali dia menyampaikan, bahwa dia ingin menghukum Wei Chung, tapi bagaimana caranya? Bahkan pengawal pribadi saja dia tak punya. Apakah tidak sebaiknya dia manfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat basisnya di Kota Nanping dengan meminta beberapa pengawal bersenjata api?
Namun itu adalah urusan belakangan. Yang agak menggelitik baginya, barusan Shu Han Thian mengatakan tentang upaya Wei Chung melenyapkan Cia Yonggan. Mengapa sang majikan bisa berpendapat itu adalah sebuah upaya? Meski masih sekedar dugaan, dia yakin Cia Yonggan memang telah dibunuh oleh Wei Chung, apalagi melihat kejadian Ou Julong yang telah dilukai oleh Wei Chung.
"Tuan Besar, aku masih tidak mengerti akan maksud anda barusan. Ehem.. Maaf," dia berdehem.
"Kamu tanyakan saja, Hao Zhao," kata Shu Han Thian memotong.
"Apakah kamu sudah menemukan mayatnya, Hao Zhao?" Shu Han Thian bertanya.
"Tidak.. Belum, Tuan Besar," Hao Zhao jadi tergagap.
"Kalau begitu dia belum bisa dikatakan sudah mati," kata Shu Han Thian percaya diri. Lalu dia menambahkan. "Naga sejati takkan mati dengan begitu saja."
"Apa.. Apa yang anda maksud dengan naga sejati, Tuan Besar?" Hao Zhao semakin bingung.
"Sudahlah, Hao Zhao," kembali Shu Han Thian menyela. Dia kemudian lanjut bertanya. "Kamu belum menjawab bagaimana seharusnya kamu memberikan hukuman kepada Wei Chung itu?"
Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Hao Zhao. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
"Tuan Besar, aku ingin sekali membalas upaya dia itu, tapi bagaimana aku bisa melakukannya? Dia memiliki ratusan anggota, sedangkan aku disini hanya sendiri, bahkan pengawal saja aku tak punya. Seandainya saja aku punya beberapa orang pengawal disini tentu aku sudah mendatangi dia orang," Hao Zhao akhirnya menyampaikan keluhannya selama ini.
Sudah belasan tahun dia dipercaya menjadi direktur di King Palace Hotel ini, namun karena kearifan lokal di Kota Nanping yang selalu menjalin mitra kerja sama dengan perkumpulan bawah tanah, menyebabkan para pengusaha disini menjadi terlena. Segala urusan keamanan atas usaha mereka dipercayakan kepada perkumpulan bawah tanah. Dan ketika secara tak sengaja berbenturan dengan perkumpulan bawah tanah, seperti masalah yang terjadi saat ini, menjadi kelabakan sendiri, Hao Zhao sendiri menjadi tak berdaya.
"Berapa orang yang kamu butuhkan, Hao Zhao?" Shu Han Thian menanyakan kebutuhan Hao Zhao.
__ADS_1
Tentu saja Hao Zhao menjadi girang, dengan mantap dia berujar. "Aku membutuhkan setidaknya sepuluh sampai dua puluh tenaga ahli dalam bertempur dan menembak yang memiliki intelijensi tinggi, Tuan Besar."
Menurut Hao Zhao jumlah segitu cukup untuk melindungi dia dari ancaman dominasi perkumpulan bawah tanah di masa mendatang. Setidaknya dia akan memiliki beberapa orang petugas pengintai, termasuk yang memiliki keahlian bela diri dan menembak. Kalau sudah begini, apakah perkumpulan bawah tanah itu masih akan berani bertingkah seenaknya? Bahkan sampai-sampai dia musti menyediakan tempat bagi Hei Laohu untuk membuka arena perjudian di hotel yang dia kelola ini. Benar-benar tidak masuk akal.
"Hmmm? Apakah jumlah itu sudah cukup?" Shu Han Thian meragukan jumlah yang diminta Hao Zhao.
"Aku rasa cukup, Tuan Besar," kata Hao Zhao yakin.
"Apakah ada yang lainnya?" Shu Han Thian bertanya lagi.
Hao Zhao berpikir sejenak. Hotelnya ini merupakan hotel terbesar di kota ini, sering kedatangan orang-orang penting. Di Kota Nanping ini, alternatif transportasi hanya tersedia lewat jalur darat serta jalur sungai, sementara akses udara masih belum ada disini. Apabila di hotelnya ini memiliki helikopter, tentu akan memperlancar pelayanan King Palace Hotel.
"Jika anda tidak keberatan, aku butuh helikopter, Tuan Besar. Kebetulan King Palace Hotel kita ini memang sudah dirancang memiliki helipad pada lantai teratas," kata Hao Zhao lagi.
"Bagus. Bagus. Kamu memang bagus. Baik, aku segera mengirimkannya untuk mu," seru Shu Han Thian.
Lalu dia berkata kepada Jia Xiu yang sedari tadi berada di dekatnya. "Jia Xiu, kamu catat dan urus ini. Kirim lima puluh orang tentara elit bayaran kita. Serta sebagai penunjang operasional di Kota Nanping, kirimkan dua unit helikopter. Besok pagi sudah mulai dikirim dari sini, kamu paham?"
"Aku sudah mendengarnya, Tuan Besar," jawab Jia Xiu samar terdengar di telinga Hao Zhao.
Lima puluh tentara elit bayaran? Ditambah dukungan operasional dua unit helikopter! Sepertinya Tuan Besar Shu ini tidak sedang main-main.
"Hao Zhao, besok pagi akan ku kirimkan beberapa orang tentara elit bayaran, sisanya menyusul dengan jet pribadi keluarga Shu di bandara Fuzhou. Kamu siapkan saja beberapa speedboat di Dermaga Minjiang Selatan Kota Fuzhou, biarkan mereka datang sendiri ke Kota Nanping dengan speedboat," ujar Shu Han Thian.
"Terima kasih, Tuan Besar," Hao Zhao bernafas lega.
"Kamu jangan khawatir, segala biaya mereka itu termasuk perawatan helikopter dicatat atas pengeluaran kantor pusat di Beijing. Dan kamu yang mengomandoi mereka secara langsung. Semua tindak tanduk mereka berada di bawah kendali mu. Biarkan begundal-begundal itu melihat bagaimana kekuatan keluarga Shu. Keterlaluan sekali para begundal itu," kata Shu Han Thian geregetan.
"Tuan Besar, aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih kepada anda, ini benar-benar di luar dugaan ku.." Hao Zhao menjadi terharu atas perhatian Tuan Besar Shu terhadapnya.
"Oh ya, satu hal yang pertama harus kamu lakukan begitu beberapa tentara elit dan helikopter datang, kamu pergi cari keberadaan Cia Yonggan di lereng Gunung Mangdang. Seharusnya dia berada disana saat ini," Shu Han Thian terus saja berkata tanpa menghiraukan reaksi Hao Zhao barusan.
"Baik, Tuan Besar. Aku akan kesana besok," kata Hao Zhao menyanggupi. Lalu dia bertanya. "Bagaimana kalau seandainya dia tak berada disana, Tuan Besar?"
"Bukankah kamu yang mengomandoi para pasukan elit itu? Kamu yang paling tahu apa yang harus dilakukan," Shu Han Thian balik bertanya.
"Baik, Tuan Besar, aku sudah mengerti apa yang harus dilakukan," jawab Hao Zhao dengan yakin.
"Pesan ku hanya satu, jangan sampai apa yang mereka kerjakan sampai terendus oleh pihak kepolisian, kamu paham?" Shu Han Thian berkata tegas.
"Tentu, Tuan Besar. Terima kasih telah mengingatkan aku," tandasnya.
"Baiklah, kalau begitu cukup sampai disini dulu, Hao Zhao. Kamu teruslah berkirim kabar, khususnya mengenai pemuda itu," kata Shu Han Thian berniat mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1
"Dimengerti, Tuan Besar," pungkas Hao Zhao.
Lalu sambungan telepon itu putus.