
Cia Yonggan dan Gao Mei Gui baru memasuki Kota Nanping sore ini. Tadi di dalam perjalanan mereka berdua telah sepakat akan menemui Hao Zhao begitu mereka sampai di kota ini. Dan Gao Mei Gui telah memberitahukan perihal kedatangan mereka sore ini kepada Hao Zhao lewat aplikasi WeChat.
Alasan kedatangan mereka ini adalah, pertama tentu ingin memberitahukan kepada Hao Zhao bahwa Cia Yonggan yang dia khawatirkan belakangan ini, telah ditemukan. Alasan kedua, Cia Yonggan ingin meminta bantuan Direktur King Palace Hotel itu untuk membantunya membuatkan passport. Dengan pengaruh nama Hao Zhao, tentulah pengurusan dokumen akan lebih gampang diselesaikan, meski pada saat akhir pekan begini. Semakin cepat Cia Yonggan memiliki passport, semakin cepat pula dia bisa menjemput adik kandung Mo Kat, Mo Xiaolian, ke Kota Bushan.
Begitu mobil Gao Mei Gui yang dikendarai oleh Cia Yonggan itu akan memasuki pelataran parkir bawah tanah, dirinya diberhentikan oleh dua orang pria kekar berpakaian bebas.
Cia menurunkan kaca pintu mobil.
Orang itu membungkuk, menengok ke dalam mobil sambil bertanya. "Apakah anda berdua adalah Tuan Cia dan Nona Gao?"
"Ya, memang kami berdua," jawab Cia Yonggan.
"Kami adalah pengawal Direktur Hao, dan kedatangan anda berdua sudah ditunggu oleh Direktur Hao. Biar aku antarkan," kata pria itu sambil memberi kode kepada rekannya untuk mengambil alih mobil yang dikendarai Cia Yonggan.
Meski ini agak mengherankan, tapi Cia Yonggan tetap bersikap wajar. Direktur di tempatnya bekerja mengirimkan orang untuk menyambut mereka, ini adalah peristiwa ganjil.
Mereka berdua lantas turun dari mobil dan mengikuti pria itu berjalan ke arah lift.
Gao Mei Gui melirik Cia Yonggan dengan tatapan kagum. Apakah hubungan Cia Yonggan dengan sang direktur memang sebegini dekatnya, sampai-sampai harus disambut segala?
Begitu memasuki lift, Cia Yonggan yang menyadari tak ada satu pun orang yang biasanya berpakaian penjaga keamanan menjaga di sekitar pintu masuk basement, bertanya kepada pria itu. "Tuan Pengawal, dimana para penjaga keamanan hotel ini?"
"Ah, mereka.. Mereka telah pergi, lebih tepatnya dipaksa pergi," ada sedikit senyum geli yang tersungging di bibir pengawal saat mengatakan ini.
Betapa tidak geli melihat orang-orang Hei Laohu yang pergi dengan terpincang-pincang, bahkan sampai merangkak dari lantai 17 ke lantai dasar gedung ini dengan menuruni tangga darurat. Dapat dibayangkan betapa melelahkannya menuruni undakan anak tangga sebanyak itu, apalagi dalam keadaan cedera.
Dan penjaga-penjaga yang berjaga di pintu masuk lobi dan basement juga ikut-ikutan lari terbirit-birit begitu mendapatkan peringatan dari para pengawal untuk pergi meninggalkan King Palace Hotel secepat mungkin.
Begitu lift berhenti di lantai 17, pengawal itu tetap berjalan di depan memandu kedua muda-mudi itu, menuju kamar VIP yang dijaga oleh dua orang pengawal. Di dalam kamar yang pintunya tak ditutup itu telah menunggu Hao Zhao, Ou Julong dan Guan Zheng.
"Direktur Hao, mereka telah tiba," kata pengawal itu melapor.
"Aha! Mari, ajak mereka masuk," sontak Hao Zhao berseru senang.
Dia terburu-buru bangkit dari duduknya, diikuti oleh Ou Julong yang juga terlihat senang. Guan Zheng tak mau ketinggalan ikut berdiri. Meski Guan Zheng tak terlalu mengenali Cia Yonggan, tapi mendengar anak mendiang Gao Li Liang, Gao Mei Gui akan datang berkunjung kemari, sudah dapat menjadi alasan baginya untuk ikut senang.
Sesaat kemudian Cia Yonggan dan Gao Mei Gui muncul. Hao Zhao memburu ke depan dan menghampiri Cia Yonggan.
"Yonggan, apakah kamu baik-baik saja?" dia bertanya sambil memeriksa sekujur tubuh Cia Yonggan, memastikan keadaan pemuda itu.
"Direktur Hao, aku baik-baik saja," Cia Yonggan menjadi jengah dengan perlakuan Hao Zhao.
"Apakah kamu disakiti oleh Wei Chung itu?" tak menghiraukan hal lain, Hao Zhao bahkan berkeliling memutari tubuh pemuda itu.
Melihat hal ini, Cia Yonggan menjadi geli. "Direktur Hao. Apa yang kamu lakukan ini? Lihat, aku masih berdiri dengan kedua kaki ku."
__ADS_1
Gao Mei Gui yang sejak memasuki hotel ini sudah merasakan keganjilan, tiba-tiba berdehem. "Ehem."
Barulah Hao Zhao tersadar. Dia tak seharusnya bersikap berlebihan begini di depan orang banyak, meskipun yang dia tahu kini Cia Yonggan ini adalah orang yang dianggap spesial oleh majikannya Tuan Besar Shu.
"Eh, Nona Gao, selamat berjumpa.. Tadinya aku mengkhawatirkan mu, makanya aku minta Ou Julong membawa mu kemari," kata Hao Zhao sedikit membungkuk hormat.
Gao Mei Gui juga sedikit membungkuk. "Direktur Hao, terima kasih atas perhatian mu."
Baru sekarang Gao Mei Gui menyadari di kamar ini juga ada Ou Julong dan Guan Zheng. Maka dia menghampiri kedua orang pamannya itu.
"Paman Ou, Paman Guan," sapa Gao Mei Gui sambil menyalami kedua pria paruh baya itu.
"Mei Gui," Guan Zheng balik menyapa.
"Mei Gui, syukurlah kamu baik-baik saja, keponakan ku. Tadi Direktur Hao mendatangi kalian berdua ke lereng Gunung Mangdang, tapi kalian sudah pergi. Kalian berdua membuat kami para orang tua cemas saja. Ada apa-apa kan bisa berkabar," kata Ou Julong yang seperti memberikan teguran halus kepada Gao Mei Gui.
"Paman, maaf tadi... Kami.." kata Gao Mei Gui berusaha menjelaskan tapi dia kehabisan kata.
Untungnya Cia Yonggan tiba-tiba menimbrung. "Paman Ou, tadi kami singgah di suatu tempat, ponsel tidak diperkenankan disana, makanya tidak heran Mei Gui menjadi lupa akan ponselnya."
"Bagaimana dengan kamu sendiri, Yanggan? Apakah kamu berada disana semenjak dua hari yang lalu, makanya tidak bisa menggunakan ponsel mu untuk berkabar?" balas Ou Julong balik menyerang Cia Yonggan dengan pertanyaan.
Belum sempat Cia Yonggan membela diri, Ou Julong kembali mencecarnya. "Dan kamu telah meninggalkan keponakan ku sendirian di pelosok sana tanpa kabar. Bagaimana kamu menjelaskan hal ini kepada ku?"
"Paman Ou, maafkan aku.. Aku.." Cia Yonggan tak dapat membela dirinya.
Tapi Ou Julong sepertinya masih tak terima dan ingin melanjutkan celotehnya. Beruntung Hao Zhao dengan sigap memotong perkataan Ou Julong.
"Ou Julong, kalau kamu terus-menerus marah begini, aku khawatir akan mempengaruhi luka mu. Bukankah kamu ingin ikut malam ini?" kata Hao Zhao.
Mendengar ini, Ou Julong jadi membatalkan keinginannya untuk terus menceramahi Cia Yonggan. Dirinya memang telah mengajukan diri untuk ikut merayakan keramaian di akhir pertempuran ketiga perkumpulan bawah tanah malam ini.
Namun Gao Mei Gui yang mendengar itu bertanya dengan nada khawatir. "Paman Ou, apakah kamu terluka?"
Baru sekarang Gao Mei Gui menyadari ada yang berbeda dengan Ou Julong. Cara berdirinya tak tegap seperti biasanya, pria itu terlihat sedikit membungkuk.
"Paman tidak apa-apa, Mei Gui, kamu tenang saja," jawab Ou Julong santai tapi tetap memelototi Cia Yonggan.
Cia Yonggan yang dipelototi dan menyadari Ou Julong saat ini sedang terluka, dan dapat dia lihat dari pikiran Ou Julong, bahwa penyebab lukanya itu adalah karena mencari dirinya di kediaman Wei Chung. Dia menjadi tak enak hati terhadap Ou Julong. Ou Julong ini memang terlihat keras di luar saja, tapi hatinya benar-benar penuh kasih. Bahkan sampai mendapatkan tusukan senjata tajam dari orang demi mencari dirinya. Dan yang menjadi alasan kekesalan Ou Julong bukanlah karena lukanya itu, melainkan karena Cia Yonggan hilang tanpa kabar, meninggalkan Gao Mei Gui sendirian yang tak pernah berhenti mengkhawatirkan dia.
"Paman Ou, Mei Gui, kalian maafkanlah aku. Aku tiada bermaksud menyusahkan kalian berdua," kata Cia Yonggan dengan penuh penyesalan.
"Aiya.. Ada apa dengan kalian ini? Ayo masuk. Ada apa-apa bisa kita bicarakan sambil duduk," Hao Zhao mencairkan suasana di antara mereka bertiga.
Mereka kemudian duduk di sofa kamar itu. Hao Zhao sebagai tuan rumah, duduk di single sofa menghadap kepada keempat orang itu yang masing-masing duduk di sofa panjang. Cia Yonggan bersama kekasihnya duduk berdampingan, berhadapan dengan Ou Julong dan Guan Zheng
__ADS_1
"Yonggan, Nona Gao, keadaan di luar saat ini sangat kacau. Dengan terpaksa aku harus menahan kalian disini untuk beberapa waktu. Aku telah menyuruh manajer hotel untuk mengosongkan dua kamar di sebelah untuk kalian berdua," kata Hao Zhao membuka topik pembicaraan.
"Terima kasih, Direktur Hao," timpal Gao Mei Gui cepat.
Tanpa dikatakan oleh Hao Zhao, dia sebenarnya sudah mengerti akan keadaan, sejak dia didatangi oleh Wei Heng semalam, ditambah lagi Mo Kat sebelumnya telah menceritakan semuanya kepadanya.
Namun bagi Cia Yonggan yang sudah dapat melihat bayang-bayang rencana yang akan dilakukan oleh Hao Zhao pada malam ini, membuat pemuda itu merasa tertarik. Dia ingin ikut ambil bagian dari rencana Hao Zhao. Tapi tak mungkin dia mengutarakan keinginannya itu di depan Gao Mei Gui.
"Direktur Hao, terima kasih atas perhatian mu terhadap kami," kata Cia Yonggan. Kemudian dia menoleh kepada Gao Mei Gui. "Mei Gui, di King Palace Hotel ini ada spa yang dapat membuat otot-otot menjadi rileks. Bukankah kamu merasakan pegal-pegal karena perjalanan jauh?"
Mendengar itu Gao Mei Gui yang sejak dua malam belakangan kurang tidur, menjadi senang. Memang sejak kepergian Cia Yonggan waktu itu membuat dia banyak berpikir, belum lagi Mo Kat yang mengajak dia melakukan perjalanan jauh menaiki mobil, sehingga menyebabkan tubuhnya menjadi letih dan kurang berstamina.
"Benarkah, Yonggan?" dia terdengar antusias. Lalu timpalnya. "Aku memang merasakan sekujur tubuh pegal-pegal. Dapat bersantai sejenak di spa tentu akan membuat otot-otot ku menjadi rileks."
Melihat reaksi Gao Mei Gui itu membuat Hao Zhao jadi gembira. Dapat menyenangkan hati kekasih pemuda yang diperhatikan oleh majikannya, tentu merupakan sebuah pahala bagi dia.
"Tentu saja, Nona Gao, kamu tenang saja," ujarnya. Kemudian dia menambahkan, "Biar aku panggilkan manager hotel untuk mengantarkan mu kesana."
Hao Zhao lalu mengambil sebuah alat komunikasi khusus yang dipergunakan antar sesama direksi hotel dan memencet tombolnya. Tak lama berselang muncul seorang wanita berusia awal tiga puluhan.
"Direktur Hao, apakah ada yang bisa aku bantu?" kata wanita itu.
"Nona Gao, ini adalah Huang Lanfen, dia manager di hotel ini. Manager Huang, perkenalkan, ini adalah Nona Gao Mei Gui, dia adalah tamu ku," kata Hao Zhao memperkenalkan kedua perempuan itu.
Gao Mei Gui berdiri dan menyalami wanita itu yang dibalas oleh wanita itu dengan senyum ramah.
"Manager Huang, tolong kamu antarkan Nona Gao ini ke pusat kecantikan dan spa kita. Biarkan dia bersantai disana menjelang makan malam," kata Hao Zhao lagi.
"Baiklah, Direktur Hao. Nona Gao, mari ayo ikut aku," ujar Huang Lanfen mengajak Gao Mei Gui pergi.
"Paman Ou, Paman Guan, aku pamit dulu. Direktur Hao, terima kasih sekali lagi," kata Gao Mei Gui membungkukkan badan kepada orang-orang itu.
Tapi Gao Mei Gui tidak berpamitan kepada Cia Yonggan. Dia memang ingin terus bersama dengan pemuda itu. Tentu maksud hatinya dia akan pergi bersama dengan Cia Yonggan.
"Yonggan, ayo," dia menggapai kepada kekasihnya itu.
Namun sebelum Cia Yonggan sempat menjawab, Hao Zhao telah menyela. "Nona Gao, kamu pergi saja. Aku masih ada urusan dengan Yonggan. Nanti kalau kamu sudah selesai, kita makan malam bersama, bagaimana?"
Gao Mei Gui melirik Cia Yonggan. Dia masih berharap pemuda itu untuk ikut dengannya. Dia mana bisa ditinggalkan lagi seperti kemarin itu.
"Ah, ya, benar, apakah kamu lupa, Mei Gui, aku akan meminta bantuan Direktur Hao. Kamu pergi tenangkan sejenak otot-otot mu. Biar aku antarkan kamu ke pintu depan saja," kata Cia Yonggan.
Gao Mei Gui teringat, bukankah Cia Yonggan ingin meminta bantuan Hao Zhao untuk mengurus pembuatan passport. Maka dia dapat memaklumi. Lagian dia dan kekasihnya itu masih berada di dalam gedung yang sama.
"Baiklah, kalau begitu," tandas gadis itu pasrah.
__ADS_1
Cia Yonggan mengiringi Gao Mei Gui dan Huang Linfen sampai ke pintu kamar yang masih dijaga dua pengawal. Dia kembali masuk ke kamar begitu kedua sosok ramping itu menghilang di ujung koridor.