The Investor

The Investor
Bab 47 : Hantu Cia Yonggan Bergentayangan


__ADS_3

Wei Heng semenjak kabur dari kediaman Cia Yonggan, benar-benar merasa tersiksa akan perbuatan Mo Kat terhadap dirinya. Orang kepercayaan Lu Meng, sang direktur perusahaan pengawalan Naga Laut itu entah mengapa terus-menerus berusaha mempermalukan dirinya. Bahkan terakhir, Mo Kat tak lagi sekedar mempermalukan lagi, tapi benar-benar menyiksa dirinya. Ya, Mo Kat telah membuat dia mengalami disfungsi ereksi. Kelelakiannya yang selama ini dia banggakan telah hilang di tangan Mo Kat. Sungguh kejam perlakuan orang itu.


Dia tidak berani memeriksakan diri ke rumah sakit. Kalau dia bersikeras meminta bantuan dokter di rumah sakit, dikhawatirkan akan tersiar kabar dengan cepat mengenai keadaan dirinya kini, sehingga sampai ke telinga ayahnya. Entah bagaimana caranya dia akan menghadap ayahnya. Apabila dia berkata jujur mengenai perbuatan Mo Kat, takutnya dia yang akan disemprot ayahnya, karena telah bertindak gegabah hendak menodai Gao Mei Gui. Bukankah Gao Mei Gui sudah ditargetkan oleh Lu Meng yang berada di Taiwan? Gadis itu adalah salah satu bentuk upeti yang diminta oleh Lu Meng kepada ayahnya. Memang ayahnya telah mengatur strategi agar dia dapat bersama dengan Gao Mei Gui, tapi tentu dengan mengikuti pengaturan ayahnya, bukan main serobot seperti yang hendak dia lakukan kemarin malam.


Kini menyesal pun tiada guna. Garis keturunan ayahnya dipastikan berakhir di tangan Wei Heng. Dia takkan mampu melahirkan generasi penerus lagi. Sementara kedua adiknya adalah perempuan yang tentu akan melahirkan garis keturunan suami-suami mereka kelak.


Dan Mo Kat itu telah turun tangan menjemput gadis yang telah dipujanya sejak lama, pastilah karena suruhan Lu Meng. Sepicik itukah Lu Meng, sehingga tak dapat menunggu ayahnya bekerja mengirimkan gadis itu secara langsung? Mengapa Lu Meng itu memberikan perintah langsung kepada Mo Kat, untuk menjemput Gao Mei Gui terlalu awal begini?


Sudah putus harapan mendapatkan Gao Mei Gui, fungsi kelelakiannya juga hilang. Sekarang muncul lagi masalah baru, yaitu Cia Yonggan. Tidak, itu adalah hantu Cia Yonggan yang bergentayangan. Tentu saja kedatangannya kemari hendak menuntut balas kepada dirinya. Karena memang hanya dirinya seorang yang ada di rumah.


Tubuh Wei Heng menggigil seperti orang keinginan. Sekujur tubuhnya menjadi pucat pasi. Seandainya dia dihadapkan dengan Mo Kat saat ini pun, mungkin dia takkan terlalu takut begini. Namun ini berbeda. Sepengetahuannya Cia Yonggan telah mati. Mati tenggelam di Sungai Minjiang di bawah Jembatan Shuinan. Bagaimana caranya melawan hantu?


"Weeeeeeei Heeeeeeeeng... Weeeeeeei Heeeeeeeeng.. .!!" suara Cia Yonggan terdengar seperti bersenandung di dalam rumah itu.


Suaranya bergema, seakan-akan datang dari segala penjuru rumah. Itu adalah suara yang dikeluarkan dari dalam perut Cia Yonggan. Tinggi melengking menusuk pendengaran Wei Heng.


"To.. To.. Tolooooong... Hantuuuuuu..!!" Wei Heng menjerit-jerit tak tahu entah kepada siapa permintaan tolong itu dia alamatkan.


Dia ketakutan setengah mati. Secara tidak sadar dia berdiri dari meringkuk dan berusaha memanjat sudut dinding kamarnya itu. Tapi bagaimanapun takkan bisa dia memanjat sudut dinding itu.


Apalagi saat secara perlahan, dengan gerakan slow motion, Cia Yonggan menggeser kakinya sedikit demi sedikit memasuki kamar itu, Wei Heng sontak saja jadi mengompol saking takutnya.


Ingin rasanya Cia Yonggan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Wei Heng saat ini. Pemuda ceroboh itu sebegitu takutnya kepada hantu, tak sadar telah melakukan hal konyol begitu. Kasur yang dia injak menjadi basah seketika, apalagi celananya. Belum lagi kakinya yang basah itu terus-menerus membuat gerakan seperti memanjat, mengakibatkan cat dinding yang dia injak menjadi luntur mengotori alas tempat tidur berwarna putih itu.


Namun Cia Yonggan berusaha sekuat mungkin menahan diri agar tak merusak sandiwaranya sendiri. Dia begitu menikmati menyiksa Wei Heng dengan cara begini.


"Weeeeeeei Heeeeeeeeng... Kembalikaaaaaan nyawa kuuuuuuu...!!" terdengar lagi suara Cia Yonggan bergema dengan nada tinggi.


"Kyaaaaaaaaaaaaa... Tolooooong.. Tolooooong....!!!" kembali Wei Heng melolong histeris.


Gerak langkah sangat perlahan terus diperagakan Cia Yonggan. Dia terus masuk berusaha mendekati ranjang Wei Heng. Sesekali tangannya menggapai ke depan dengan gerakan yang tak kalah lambatnya dari gerakan langkah kakinya, seolah-olah seluruh persendian Cia Yonggan ini memang susah digerakkan, karena raganya yang tak lagi memiliki nyawa.


Sejak pertama kali melihat sosok hantu yang menyerupai Cia Yonggan, tak pernah sekalipun Wei Heng berhenti berteriak minta tolong, melolong dan menjerit-jerit. Apalagi saat 'hantu' itu telah sampai kemari, di ujung ranjang yang berseberangan dengannya. Semakin membuat tinggi suara Wei Heng menjerit-jerit.


"Kaaamuuuuuuu telaaaaaaaaahhhh membunuh kuuu Weeeeeeei Heeeeeeeeng...!!" mata Cia Yonggan semakin membelalak, seakan-akan kedua bola mata itu hendak melompat keluar.


"Tidaaak tidaaak..!! Akuuu.. Aku... Tidaaak...!! Master Mo..! Mo Kat!!!" kata Wei Heng terputus-putus.


Dia sebenarnya hendak menyangkal bahwa dialah yang telah menghabisi nyawa Cia Yonggan, melainkan Mo Kat. Tapi nyalinya sudah benar-benar terbang entah kemana sehingga apa yang diucapkannya menjadi tak jelas.


Cia Yonggan tentu saja paham. Sememangnya Mo Kat yang mengalahkan dia salam duel kala itu. Sementara pemuda pecundang di depannya sama sekali tak berkutik dan bahkan dua kali dia mempermalukan Wei Heng di depan ayahnya dan Mo Kat sehingga pemuda itu berkali-kali mendapatkan ejekan dari Mo Kat.

__ADS_1


Itulah, Cia Yonggan benar-benar iseng, sengaja dia menuduh Wei Heng ini sebagai pelaku utama atas hilangnya nyawa dia orang. Malah sekarang dia semakin menjadi-jadi. Sebelah kakinya dia naikkan, dengan tetap menggunakan gerakan sangat lambat. Dia hendak naik ke ranjang itu!


Tak terbayangkan lagi rasa takut yang menghinggapi hati Wei Heng. Apa yang akan dilakukan 'hantu' itu kalau sudah di dekatnya? Apakah dia akan mencekiknya? Atau jangan-jangan dia akan dibawa terbang ke awang-awang? Entahlah, dia sendiri takut untuk membayangkannya.


"Tidak.. Tidak.. Jauh.. Pergi.. Pergi..!!" seperti orang gila saja dia mengusir 'hantu' itu.


Sebelah kaki Cia Yonggan sudah berada di atas ranjang itu, kemudian kaki yang lain hendak menyusul dengan gerakan yang sama lambatnya.


"Kaaamuuu.. Ikuuuuuutttt... Akuuuuuuu... Weeeeeeei Heeeeeeeeng..!!" tangannya seperti menggapai ke tempat dimana Wei Heng berada


"Tidak... Aku tidak mau!! Pergi...!! Pergi dari ku..!!" mata Wei Heng menjadi melotot demi melihat kedua kaki 'hantu' itu telah menaiki ranjangnya.


Matanya yang melotot itu menatap liar kesana kemari ke setiap sudut kamarnya. Dia hendak mengambil ancang-ancang untuk kabur saja dari sini. Kalau tidak, tentu 'hantu' Cia Yonggan akan membawa dia pergi entah kemana.


Dia melihat ada celah untuk kabur, yaitu pintu kamarnya yang masih terbuka, itulah arah yang harus dia tuju. Dia harus dapat keluar dari pintu itu secepat mungkin. Maka sontak dia melompat ke samping Cia Yonggan, berharap dia dapat mengecoh 'hantu' itu.


Namun sayang, niatnya sudah diketahui oleh Cia Yonggan. Dia menjulurkan tangan kirinya ke samping kiri dan menangkap pergelangan kaki kiri Wei Heng yang hendak kabur itu. Setelah dia berhasil mencekal sebelah kaki Wei Heng, lantas dia berdiri di atas ranjang itu, sehingga kini posisi Wei Heng tergantung di udara dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Kepala Wei Heng tergantung sekitar setengah meter dari permukaan lantai.


Wei Heng tak menduga 'hantu' itu akan dapat menangkap pergelangan kakinya, padahal tadi dia sudah bergerak secepat apa yang dia bisa. Semakin yakinlah dia bahwa itu benar-benar hantu Cia Yonggan, kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa tertangkap begini?


Kakinya dia gerakkan untuk meronta-ronta melepaskan diri, tangannya berusaha menggapai sisi ranjang yang dijadikan pijakan oleh Cia Yonggan. Tapi Cia Yonggan malah mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengangkat kaki Wei Heng sedikit lebih tinggi, sehingga Wei Heng tak dapat menggapai sisi ranjang itu.


"Kyaaaaaaaaaaaaa....!!!! Lepas... Lepas... Lepas..!!" jeritnya.


Kali ini matanya melotot ke bawah, menatap langsung wajah Wei Heng dari atas, semakin terasa menyeramkan bagi Wei Heng.


"Tidaaak... Tidaaak... Mau...!!" dipelototi begitu, dia menutup matanya dengan kedua belah tangannya.


"Hikhikhik... Mauuuuuuuu?? Ayoooooo..." Cia Yonggan terkikik menggoda namun terasa semakin menyeramkan bagi Wei Heng.


"Tidak mauuuuuuuu...!!" teriak Wei Heng berusaha meluruskan perkataannya tadi. .


"Weeeeeeei Heeeeeeeeng... Akuuuuuuu adalaaaaaahhh penguasa Sungai Minjiang!!" kata Cia Yonggan lagi.


"Tidak mau!! Jangan bawa aku kesana! Aku tidak mau! Aku mohon...!!" jawab Wei Heng semakin meronta-ronta.


Di pikirannya, pastilah 'hantu' ini akan membawa dia ke Sungai Minjiang dan menenggelamkannya disana.


Cia Yonggan merasa sudah saatnya dia menuju kepada inti tujuan dia kemari. Kalau terlalu lama dia bersandiwara, khawatirnya otak Wei Heng ini menjadi tidak waras lagi sehingga dia gagal mendapatkan informasi keberadaan Gao Mei Gui.


"Kalau begituuuuuu.. Beritahukan kepada kuuuu..." kata Cia Yonggan seakan-akan ingin mengetahui sesuatu hal dari Wei Heng.

__ADS_1


"Apaa... Apa yang ingin kamu ketahui.. Biar aku katakan..!" jawab Wei Heng cepat.


Siapa tahu begitu dia memberitahukan apa yang menjadi keinginan 'hantu' ini, dia akan dilepaskan.


"Dimanaaaaa... Dimanaaaaaaaaa.. Gao Mei Gui kamu sembunyikaaaaaaan...??" Cia Yonggan bertanya seperti hantu penasaran.


Pikiran Wei Heng langsung melayang teringat kembali momen dia dihajar dan diusir oleh Mo Kat dari kediaman Cia Yonggan. Lalu terbirit-birit kabur dengan mobilnya, tak peduli apa, melaju dengan kencang di sepanjang jalan sampai ke rumahnya.


Cia Yonggan yang sekarang dapat membaca pikiran orang, sebenarnya tak perlu lagi menunggu jawaban dari Wei Heng. Dia telah dapat mengetahui dari pikiran Wei Heng yang kabur dengan terburu-buru di bawah tatapan dingin Mo Kat. Sementara di sudut ruangan itu Gao Mei Gui duduk meringkuk.


"Aku tidak tahu... Mo Kat... Master Mo..!" dia hendak menjelaskan bahwa Mo Kat yang telah membawa kabur Gao Mei Gui.


Tapi bagaimana dia bisa berbicara normal saat-saat begini?


Cia Yonggan terheran. Mengapa Wei Heng dan Mo Kat bisa hadir bersamaan dengan Gao Mei Gui di rumahnya? Dan dari apa yang dia lihat dari pikiran Wei Heng, gadis itu seperti sedang ketakutan sehingga meringkuk di pokok ruangan.


Apakah Mo Kat hendak membawa kabur Gao Mei Gui, kemudian Wei Heng ini datang ingin menyelamatkan gadisnya, namun karena Wei Heng tak dapat melawan Mo Kat, maka dirinya dihajar Mo Kat sehingga lari terbirit-birit?


Hanya itu sepintas ingatan yang melintas di benak Wei Heng. Dia tak pernah lagi mengingat upayanya yang ingin menodai Gao Mei Gui.


Maka Cia Yonggan menjadi tak dapat mengetahui niat jahat Wei Heng ini terhadap Gao Mei Gui. Kalau dia tahu, tentu dia akan segera meremas ******** pemuda cabul yang sedang dia gantung ini hingga remuk.


Barulah Cia Yonggan paham, mobil yang melaju kencang di jalanan berlumpur semalam, yang berpapasan dengannya itu adalah Wei Heng ini. Wei Heng melarikan diri dengan rasa sakit di selangkangannya. Maka tak heran dia menjadi kebut-kebutan di jalanan berlumpur.


Sedikit banyak Cia Yonggan menjadi bersimpati terhadap Wei Heng. Dirinya mengira, Wei Heng telah bersusah payah ingin menyelamatkan Gao Mei Gui, tapi malah dirinya yang menjadi korban keganasan Mo Kat.


"Kemanaaaaa... Kemana dia membawaaaaa Gao Mei Gui?" Cia Yonggan mulai melunak terhadap Wei Heng.


"Ke Taiwan. Pasti ke Taiwan! Lu Meng..!! Naga Laut..!!" dengan terpatah-patah dia berusaha menjelaskan.


"Bruk..!!"


Cia Yonggan melepaskan cekalannya pada pergelangan kaki kiri Wei Heng. Cukup sudah apa yang ingin dia ketahui dari Wei Heng.


"Biarlah kali ini aku melepaskan mu karena telah berusaha menolong Mei Gui," pikir Cia Yonggan.


Wei Heng yang telah dilepaskan 'hantu' itu, dengan kecepatan penuh langsung merangkak keluar dari kamar. Tak lama kemudian terdengar suara seperti benda berguling-guling di sepanjang tangga turun. Itulah suara Wei Heng yang terjatuh di tangga turun dan berguling-guling ke lantai dasar rumah ini.


"Weeeeeeei Heeeeeeeeng... Selagi kamuuuuu berada di jalur Sungai Minjiang, aku pasti kembali mendatangi muuuuuuu... Hakhakhakhak!!" Cia Yonggan terus berteriak agar didengar Wei Heng yang sudah membuka pintu depan rumah.


Tentu saja Wei Heng mendengar dengan jelas apa yang dikatakan 'hantu' itu. Satu-satunya yang ada di pikirannya saat ini adalah lari sejauh mungkin. Jauhi jalur Sungai Minjiang, mulai dari hulu sampai ke muara Sungai Minjiang. Kalau tidak, maka 'hantu' itu akan kembali menggentayanginya. Dia berlari keluar gerbang dan menghilang dari balik dinding pagar tembok. Entah apakah setelah ini pemuda itu menjadi tak dapat mengendalikan pikirannya, sehingga menjadi gila? Benar-benar mengerikan efek ketakutan yang ditimbulkan akibat ulah jahil Cia Yonggan.

__ADS_1


Bukannya apa-apa, meski sepengetahuan Cia Yonggan, Wei Heng telah berusaha menyelamatkan Gao Mei Gui, namun dirinya pada dasarnya tidak menyukai putra Wei Chung itu. Orang itu memiliki sebuah sifat yang paling tidak dia sukai, yaitu suka bersikap sewenang-wenang. Dia paling benci melihat melihat orang berlaku kesewenang-wenangan dan penindas seperti Wei Heng dan kebanyakan anggota perkumpulan bawah tanah.


"Semoga saja dia pergi sejauh mungkin dari Kota Nanping," lirih Cia Yonggan.


__ADS_2