The Investor

The Investor
Bab 9 : Wasiat Terakhir Gao Li Liang


__ADS_3

Saat ini, setelah dia sadar kembali, Gao Li Liang menyapukan pandangannya ke sekeliling. Ya, semuanya berwarna putih, dia hampir saja percaya bahwa saat ini dia sudah berada di dunia lain sampai dia melihat ada tiga orang sedang tertidur duduk di sofa ruangan ini.


Orang pertama adalah putri semata wayangnya, orang yang paling dia cinta di dunia ini. Dia terlihat sedang menyadarkan kepalanya pada bahu seorang pemuda. Ya, pemuda itu. Itu dia pemuda tampan yang tadi datang saat dia dikeroyok oleh orang-orang perusahaan pengawalan Naga Laut. Dia pemuda yang tadi mengaku sebagai menantu Gao Li Liang.


Putrinya itu tertidur damai bersandar pada bahu si pemuda dan dia juga menggamit lengan kiri pemuda itu, seolah tak ingin lepas. Dia melihat kedua muda-muda ini merupakan pasangan serasi, tak ada cela sedikitpun, putrinya cantik bak putri salju, sementara pria itu sangat tampan seperti seorang pangeran.


Di samping pemuda itu juga sedang tertidur lelap seorang pria tambun dan botak, dialah Ou Julong, orang ini memiliki banyak kemiripan dengannya. Sebenarnya dia adalah pria paruh baya yang periang, sifat pemarah yang dia perlihatkan di luaran hanyalah untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa dia seorang yang ganas, sehingga disegani oleh para bawahan. Ou Julong terlihat bersandar pada sandaran sofa dengan mulut menganga, sementara kedua tangannya juga menggamit lengan kanan pemuda itu, hampir sama dengan perlakuan putrinya saat ini.


Tidak aneh kalau hanya putrinya saja yang tak ingin melepaskan lengan pemuda itu, namun Ou Julong ini? Apakah dia masih merupakan pria normal? Mengapa dia turut latah mengikuti perilaku putrinya dan tak melepaskan tangan pemuda itu?


Ini tentu saja membuat dia geli dan ingin tertawa terbahak-bahak, tapi baru saja dia ingin mengeluarkan bersuara, perutnya terasa sakit teriris, perih. Barulah ia sadar bahwa sekujur tubuhnya sedang kesakitan.


"Ugh..." dia hanya bisa mengeluh pendek.


Namun suara yang dia keluarkan cukup membuat Cia Yonggan terbangun. Dia menoleh ke arah ranjang itu dan melihat bahwa Gao Li Liang sudah siuman. Maka dia melepaskan lengan kanannya dari pegangan Ou Julong dan dengan jari-jari tangan kanannya itu dia menowel pipi Gao Mei Gui.


Gadis itu bergerak sedikit dan semakin menggamit erat lengan pria itu seperti dia hendak memeluk lengannya saja.


Hal ini tak luput dari pandangan Gao Li Liang yang terus memperhatikan mereka dari ranjangnya. Tentu saja Cia Yonggan menjadi gugup, dia takut ayah gadis ini mengira dia adalah pria cabul.


Maka segera dia berbisik pelan di telinga si gadis. "Nona Gao, ayah mu telah siuman."


Si gadis langsung terbangun. Mata yang merah sembab itu sekarang bercampur sayu mendongak menatap Cia Yonggan, rambutnya juga sedikit acak-acakan. Semakin membuat Cia Yonggan berdebar.


"Ayo, Nona Gao, kita temui ayah mu, sepertinya ada yang ingin dia katakan," Cia Yonggan semakin gugup yang menyadari mereka terus diperhatikan oleh Gao Li Liang.


Gadis itu menoleh ke arah ranjang ayahnya dan baru menyadari bahwa ayahnya sudah siuman dan saat ini sedang tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Gao Mei Gui segera berdiri dan menarik lengan Cia Yonggan kemudian bersama Cia Yonggan dia berjalan ke ranjang saja.


"Ayah..." suaranya bergetar, melepaskan pegangan tangan Cia Yonggan kemudian memeluk ayahnya yang terbaring dan menangis di dada ayahnya.

__ADS_1


Saat ini tangan kiri Gao Li Liang sudah dipatahkan orang, maka dia hanya bisa menggerakkan tangan kanannya yang meski tak patah, tapi tetap saja sulit digerakkan karna terlalu banyak dia gunakan menangkis pukulan orang. Dia membelai sayang kepala putrinya untuk menenangkannya.


"Sudah, tak perlu terlalu manja, Mei Gui. Ini adalah kesalahanku yang bersikukuh tak ingin ditemani oleh paman-paman mu," kata Gao Li Liang lembut.


Gao Mei Gui mengangkat kepalanya, sambil menghapus air matanya dia berkata. "Ayah, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu. Pasti sekujur tubuhmu sedang kesakitan. Maafkan aku ayah, ini semua gara-gara aku, kalau bukan karena rencana pesta ulang tahun itu, ini semua tak akan terjadi."


"Putri ku, jangan kamu menyalahkan diri mu, toh ide itu berasal dari ayah mu ini. Oh ya, tadi aku sudah menyiapkan sebuah hadiah ulang tahun mu, entah dimana benda itu sekarang," katanya sembari berusaha menggapai saku bajunya.


Tapi dia tak mendapati benda itu, karena tenaga medis disini sudah mengganti pakaiannya dengan setelan pasien pada umumnya, sementara semua barang kepunyaannya sudah diamankan.


"Ayah, aku tak ingin hadiah saat ini, satu-satunya keinginanku saat ini adalah kamu cepat sembuh," kembali gadis itu menangis terharu melihat sikap ayahnya yang meski sedang sakit masih ingat akan hadiah ulang tahunnya.


Gao Li Liang menyerah, meski dia berusaha keras mencari kotak perhiasan itu tetap tak dia temukan.


Lalu dia menoleh ke arah Cia Yonggan dan menatap pria itu lama, matanya mengisyaratkan terima kasih kepada Cia Yonggan. Dia ingin berbicara, tapi dia merasa sesak.


"Hhh...hhh..hhh.."


Namun Gao Li Liang tak mengindahkannya, sebaliknya dia menggapai ke arah Cia Yonggan.


"Menantu..."


"Ayah..!!"


"Paman."


Mereka serentak bereaksi. Namun mereka tak bisa menemukan kalimat yang pas. Orang tua itu sedang kesakitan, sebaiknya mereka mengikuti alur saja.


Saat ini Gao Mei Gui merasa sangat malu saat ayahnya memanggil pemuda itu sebagai menantu. Ayahnya hanya punya seorang putri, yaitu dirinya, sudah pasti ayahnya menduga pemuda ini adalah kekasihnya.

__ADS_1


Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Ayah, paman Ou bilang, dia yang menyelamatkan ayah saat dikeroyok orang, apakah benar demikian?" tanyanya menunjuk Cia Yonggan.


"Benar. Uhuk..!! Menantu ku datang menyelamatkan ku saat itu," dia membenarkan. Kemudian dia bertanya kepada Cia Yonggan, "Menantu ku, siapa nama mu?"


"Nama ku Cia Yonggan, Paman," jawab Cia Yonggan canggung.


Dia melirik Gao Mei Gui, takut gadis itu akan marah padanya.


"Nama yang bagus," Gao Li Liang bergumam. Kemudian dia menimpali. "Kalian merupakan pasangan serasi, satu-satunya yang akan menjadi penyesalanku adalah aku tak bisa hadir saat pernikahan kalian kelak."


"Ayah, jangan bicara sembarangan. Biar ku panggilkan dokter kesini untuk mu," Gao Mei Gui semakin malu dan gelisah.


Dia hendak keluar memanggil dokter agar ayahnya diberikan obat penenang dan kembali beristirahat.


"Tidak perlu. Mei Gui, kamu tenanglah disini, dengarkan ayah, waktu ayah tak banyak lagi," katanya dengan masih tersengal. Lalu kembali dia berkata kepada Cia Yonggan "Menantu, aku mempunyai beberapa permintaan. Semoga kamu tak keberatan," kata Gao Li Liang mulai bernafas pendek-pendek.


Gao Mei Gui ingin mendebat ayahnya, dia berpikir tidak seharusnya ayahnya memberatkan pemuda ini. Lagian, ayahnya mulai bernafas pendek-pendek, sebaiknya dia kembali istirahat.


Namun Cia Yonggan di sampingnya memegang dan menahan pergelangan tangannya, dia mengisyaratkan untuk diam dan mendengarkan ayahnya saja.


Gao Mei Gui kembali menangis, dia tau saatnya hampir tiba. Waktu untuk berpisah selama-lamanya akan segera tiba, maka dia hanya bisa menangis dan mendengarkan wasiat ayahnya.


"Paman, katakan saja, aku tidak akan keberatan," Cia Yonggan semakin menggenggam erat tangan gadis itu untuk menenangkannya.


Tubuhnya juga sedikit bergetar, ini kali pertama dia menyaksikan orang berjuang menghadapi maut.


"Menantu, Nanping akan segera bergetar, kamu harus meredam itu semua, kamu harus mengambil alih kekuasaan bawah tanah, jangan biarkan para perusak menguasai Nanping. Dan satu lagi... Tolong... Jaga putri ku... Jangan sia-siakan dia..." kemudian dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

__ADS_1


"Ayaaaaaaaaaaah...!!!"


"Paman Gao...!!!"


__ADS_2