
Mobil mewah yang dikendarai Cia Yonggan berhenti tepat di depan sebuah gerbang rumah yang terbilang cukup mewah. Rumah bertingkat dua itu dikelilingi dinding tembok yang tinggi, membuatnya tampak seakan-akan mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Pintu gerbang berbahan besi itu juga tak kalah tingginya dari dinding tembok yang mengelilingi rumah Ou Julong.
Sewajarnya Cia Yonggan tidak mengetahui dimana letak kediaman Ou Julong, karena memang dia baru mengenal orang itu belum cukup lama, dan Cia Yonggan juga belum pernah bertamu ke rumah Ou Julong sebelumnya. Namun berkat koneksi Xiao Meilin yang meminta bawahannya mencarikan alamat Ou Julong, membuat pencarian Cia Yonggan menjadi lebih mudah.
Sekilas pandang saja, dapat dilihat pagar itu sedang digembok dengan rantai besi. Sementara di dalam, melalui sela-sela jeruji pagar itu terlihat lengang, tak ada tanda-tanda adanya kehidupan di dalam pekarangan rumah.
"Sepertinya tak ada orang di rumah ini, Yonggan," kata Xiao Meilin.
"Cici, apakah kamu sudah yakin disini alamatnya?" tanya Cia Yonggan sambil celingak-celinguk.
Xiao Meilin memeriksa kembali ponselnya, memastikan alamat yang dikirimkan bawahannya sudah benar. "Tidak salah lagi, memang disini rumahnya."
Cia Yonggan menyipitkan matanya ke arah dalam rumah itu. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya saat ini, dia dapat mengetahui bahwa memang tiada seorang pun di dalam rumah. Agaknya seluruh penghuni rumah ini memang sedang tidak berada di tempat.
"Tidak ada orang di dalam, Cici," kata Cia Yonggan sambil menginjak pedal gas untuk berangkat ke apartemen tempat tinggal Gao Mei Gui.
Di dalam hati Cia Yonggan bertanya-tanya ada apa dengan Ou Julong, mengapa kediamannya sunyi begini, apakah dia orang tua tak memiliki keluarga sama sekali? Bagaimanapun, Cia Yonggan belum mengenal Ou Julong terlalu lama. Bisa saja Ou Julong memang hidup sendiri saja, tanpa keluarga. Namun mengapa pada saat dia memperingatkan Ou Julong kala itu untuk tak bertindak ceroboh menghadapi Wei Chung, Ou Julong tampak seperti termenung memikirkan anggota keluarga? Benar-benar membikin dia penasaran.
Meski begitu, dia lebih memilih untuk mencari tahu keberadaan Gao Mei Gui terlebih dahulu, urusan selain itu nanti saja. Lagian dia kemari juga karena urusan mencari gadisnya itu.
Sekarang mobil itu telah memasuki gerbang apartemen kediaman Gao Mei Gui. Dia berencana akan turun saja disini dan menghampiri Gao Mei Gui langsung, sehingga dia tak perlu lagi merepotkan Xiao Meilin.
"Cici, aku turun disini saja," katanya ringkas.
"Apakah kamu yakin?" Xiao Meilin bertanya. Kemudian menyambung. "Bagaimana kalau dia tak juga berada disini?"
"Tak mungkin dia ada di tempat lain, Cici," Cia Yonggan berusaha berkilah.
"Tidak. Bawa dulu mobil ini kesana," Xiao Meilin menunjuk ke arah tempat parkir.
Mau tak mau Cia Yonggan membelokkan mobil ke arah yang ditunjuk Xiao Meilin. Dia tak melihat mobil Gao Mei Gui terparkir di sekitar sini.
Tentu saja, tak mungkin Wei Chung atau anaknya yang pecundang itu serta merta menyerahkan mobil Gao Mei Gui. Kalau itu mereka lakukan, tentu akan memantik rasa curiga di hati Gao Mei Gui, bahwa hilangnya Cia Yonggan ada sangkut pautnya dengan ayah dan anak itu.
"Baiklah, kamu tunggu disini saja, Cici, aku ke atas dulu untuk melihat apakah dia ada disini atau tidak," kata Cia Yonggan sambil membuka sabuk pengaman.
Tapi baru saja dia selesai, Xiao Meilin ternyata sudah turun dari mobil dan menutup kembali pintu mobil.
"Cici, mengapa kamu keluar?" Cia Yonggan terburu-buru turun.
"Jangan banyak tanya. Kamu sudah tahu apa yang ingin ku lakukan," kata Xiao Meilin melangkahkan kakinya yang panjang.
Apa yang akan dilakukan oleh Xiao Meilin tentu Cia Yonggan sudah tahu, dia tadi mendengar bisikan hati Xiao Meilin bahwa gadis itu ingin bertemu dengan sang kekasih hatinya, Gao Mei Gui. Entah apa maksud Xiao Meilin ini.
Maka dia sambil menyengir menyusul langkah Xiao Meilin yang masih mengenakan setelan piyama dan selimut tebal membalut tubuh bagian atasnya hingga ke lutut.
"Cici, pelankan sedikit langkah mu," ujar Cia Yonggan. Saat dia berhasil menyusul gadis itu, dia lantas berkata. "Cici, aku rasa sebaiknya kamu tunggu di bawah saja. Aku khawatir nanti Mei Gui akan berpikiran yang bukan-bukan."
Xiao Meilin menoleh ke samping dan berkata. "Kenapa? Apakah aku ini terlihat seperti pesaing cintanya?"
"Bukan begitu maksud ku, Cici," Cia Yonggan menjadi serba salah.
__ADS_1
Bagaimana cara dia menghentikan gadis ini dari keinginannya untuk bertemu dengan Gao Mei Gui? Apa yang akan dipikirkan oleh Gao Mei Gui nanti jika bertemu dengan Xiao Meilin ini? Sudah dua hari dia tak berkabar dengan Gao Mei Gui, takutnya kehadiran Xiao Meilin disini akan memunculkan dugaan yang tidak-tidak dari Gao Mei Gui.
Mereka disambut oleh security di pintu masuk. Melihat dua muda mudi asing yang tak dikenalnya hendak menuju kemari, dia buru-buru menyusul dan menanyakan urusan mereka.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona," kata security itu ramah.
"Selamat pagi," jawab Cia Yonggan dan Xiao Meilin hampir bersamaan.
Security itu agak heran melihat penampilan Xiao Meilin yang berselimut kain tebal. Apakah gadis ini merupakan penghuni baru disini? Kalau tidak, bagaimana dia bisa berjalan-jalan dengan mengenakan selimut di sekitar apartemen ini?
"Maaf, apakah Tuan dan Nona ini penghuni baru disini?" dia bertanya lagi
Sebelum Cia Yonggan sempat menjawab, Xiao Meilin sudah mendahuluinya. "Kami kesini hendak bertemu Gao Mei Gui. Apakah dia ada?"
Security itu buru-buru mempersilahkan mereka memasuki pintu utama apartemen. Lalu dia memeriksa daftar penghuni kamar apartemen. Biasanya pengelola apartemen memiliki catatan nama-nama penghuni kamar serta waktu keluar masuk masing-masing penghuni.
Setelah dia memeriksa, memang ada nama Gao Mei Gui yang merupakan pemilik salah satu kamar di lantai 10. Tapi gadis itu sudah tak pulang sejak lebih dari seminggu.
Sang security kembali menemui Cia Yonggan serta Xiao Meilin dan berkata. "Maaf, Nona Gao Mei Gui belum pulang sejak 10 hari yang lalu. Menurut catatan disini dia sedang pergi berlibur."
"Apa? Bagaimana dia..." kata Xiao Meilin tak percaya.
Namun Cia Yonggan yang langsung paham kemana ini mengarah, buru-buru menjawab. "Terima kasih. Cici, kalau memang dia tidak ada, sebaiknya kita cari di lain waktu saja. Nanti setelah dia pulang dari berlibur, kamu bisa menagih hutang dari dia itu. Enak saja, hutangnya belum dibayar, tapi dia sudah pergi berlibur. Kami mohon diri dulu."
Dia menarik Xiao Meilin yang tentu saja heran dengan perkataan Cia Yonggan.
"Kamu..." dia memelototi Cia Yonggan yang menyeret dia setengah paksa.
Awalnya dia tak percaya Cia Yonggan dapat berkata seolah-olah kedatangan mereka kemari mencari Gao Mei Gui untuk menagih hutang. Namun dia paham bahwa pemuda ini tak ingin urusannya diketahui orang lain.
"Rumah siapa yang ingin kamu cari?" Xiao Meilin mulai mengerti.
"Aku ingin mendatangi kediaman mendiang ayahnya, yaitu Gao Li Liang," jawabnya. Setelah berpikir sejenak, Cia Yonggan berkata lagi. "Juga alamat Wei Chung."
Cia Yonggan berencana, apabila dia tak juga dapat menemukan Gao Mei Gui di kediaman mendiang ayahnya, maka sudah barang pasti Wei Chung yang membawa kembali Gao Mei Gui ke Kota Nanping. Tapi mengapa dia tak memulangkan gadis itu ke apartemennya sendiri?
Dia sendiri juga tidak mengetahui alamat Wei Chung. Karena memang dia tak sadarkan diri saat dibawa ke rumah Wei Chung dan baru tersadar sewaktu dia diikat orang dengan posisi tergantung di sebuah ruangan seluas lapangan basket. Dia merasa beruntung sekali Xiao Meilin ini masih ingin mengiringinya pergi, sehingga memudahkan dia mencari alamat orang.
Beberapa waktu kemudian, mereka sudah meninggalkan apartemen itu. Di dalam mobil, Xiao Meilin sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Ya.. Rumah mendiang Gao Li Liang," katanya.
Hening.
"Alamat Wei Chung juga. Ya, mereka itu. Tolong cepat, mengerti?" dia menutup panggilan selulur.
Tatapan Cia Yonggan lurus ke depan dan mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dialami Gao Mei Gui. Dirinya sendiri telah dikeroyok dan sedianya ingin dimusnahkan oleh Wei Chung melalui tangan Mo Kat. Apakah pria itu juga tak melewatkan seorang gadis yang kini hidup hanya sebatang kara dan menyekapnya di kediamannya? Benar-benar keterlaluan Wei Chung!
Memikirkan ini mau tak mau emosi Cia Yonggan menjadi tidak stabil. Dia memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.
"Yonggan, tak perlu kebut-kebutaan begini. Apabila terlihat kamera pengawas jalan, kita akan memiliki masalah dengan petugas patroli jalan. Bukankah kamu sedang tidak memegang surat izin mengemudi?" Xiao Meilin mengingatkan.
__ADS_1
Cia Yonggan tersadar. Bukankah segala bentuk identitasnya hilang saat Xiao Meilin menemukannya? Tentu saja disita oleh Wei Chung, berikut ponselnya. Padahal di dalam akun Alipay-nya terdapat semua tabungan yang selama ini dia tabung dari hasik gajinya beberapa tahun. Juga uang seratus ribu yuan yang ditransfer oleh Gao Mei Gui juga berada di rekening Alipay-nya.
"Maafkan aku, Cici. Aku terbawa suasana," kata Cia Yonggan menyesal.
"Apa yang kamu pikirkan, Yonggan?" Xiao Meilin bertanya.
"Entahlah, Cici," dia seperti tak bersemangat. Lalu menambahkan. "Aku seperti punya firasat, orang yang ingin membunuh ku dengan orang yang membawa Mei Gui adalah orang yang sama."
"Siapa orangnya?" tanya Xiao Meilin lagi.
"Wei Chung," jawab Cia Yonggan pasti.
Saat ini notifikasi ponsel Xiao Meilin berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Gadis itu segera membuka layar dan membaca pesan yang masuk dari bawahannya.
"Alamatnya sudah dapat, Yonggan," seru Xiao Meilin.
"Baguslah kalau begitu. Kerja para bawahan mu sangat cepat, Cici," balas Cia Yonggan senang.
"Yonggan, kamu mau kemana terlebih dahulu?" Xiao Meilin bertanya.
"Rumah siapa yang terdekat dari sini, Cici?" Cia Yonggan balik bertanya.
Xiao Meilin melihat kembali layar ponselnya dan membanding-bandingkan jarak antara kedua alamat itu dari lokasi mereka saat ini.
"Kalau dilihat, yang terdekat dari sini adalah.. Jinshan. Rumah Wei Chung," jawab Xiao Meilin yakin.
"Kalau begitu aku akan kesana," kata Cia Yonggan terlihat dengan emosi meluap-luap.
Ada api amarah di mata pemuda itu yang dilihat oleh Xiao Meilin yang membuatnya bergidik. Pemuda itu sejak peristiwa semalam mempunyai banyak hal di luar dugaan Xiao Meilin. Sorot matanya yang tajam menatap ke depan saja, meski hanya dilihat dari samping oleh Xiao Meilin, telah membuat bulu kuduknya berdiri. Apakah pemuda ini masih akan memiliki hal lainnya yang tak dia ketahui? Apakah dia akan membunuh orang yang bernama Wei Chung, yang telah berusaha menenggelamkannya ke dasar sungai Minjiang kala itu?
"Itu rumahnya," kata Xiao Meilin menunjuk ke sebelah kiri jalan.
Cia Yonggan melewati rumah Wei Chung sekitar seratus meter dan menepikan mobil.
"Cici, dengan terpaksa kita harus berpisah disini dulu. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan-kebaikan yang telah kamu perbuat pada ku. Sejujurnya aku tak tahu entah dengan bagaimana membalas kebaikan mu," kata Cia Yonggan sambil memperhatikan Xiao Meilin dengan muka serius.
"Yonggan, apa yang kamu bicarakan? Aku ingin ikut dengan mu," kata Xiao Meilin yang masih belum ingin berpisah dengan pemuda itu.
"Disini terlalu berbahaya bagi mu, Cici. Wei Chung adalah orang yang beringas. Sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini. Suatu hari aku akan berkunjung ke tempat mu. Bukankah aku sudah tahu alamat mu, dan tak memerlukan orang untuk menanyakan alamat rumah mu?" dia berusaha berseloroh agar gadis itu segera pergi.
"Benarkah?" Xiao Meilin sedikit senang. Kemudian imbuhnya. "Yonggan, sejujurnya aku tidak mengkhawatirkan kamu. Yang justru aku takutkan adalah kamu menghilangkan nyawa orang dan terjerat kasus hukum nantinya."
"Kamu tenang saja, Cici. Aku punya cara sendiri menghukum orang," dia turun dari mobil itu.
Xiao Meilin lantas bergeser duduk ke kursi pengemudi. Matanya tak lepas memandang Cia Yonggan yang sudah berdiri di luar dan juga sedang memandangi Xiao Meilin. Mata mereka bertemu. Ada rasa tak rela untuk berpisah dengan pemuda ini bagi Xiao Meilin.
"Sudahlah, Cici. Kita pasti berjumpa lagi dalam waktu dekat. Kamu jangan khawatir begitu," Cia Yonggan yang dapat membaca isi hati Xiao Meilin berkata dengan senyum dikulum.
"Baiklah kalau begitu," dengan berat hati Xiao Meilin akhirnya menjalankan mobilnya sambil melambaikan tangan ke luar jendela.
"Hati-hati di jalan, Cici," Cia Yonggan membalas lambaianya.
__ADS_1