
"Yonggan," Xiao Meilin mendekati punggung Cia Yonggan. Lalu dia menambahkan. "Bagaimana dengan cedera mu?"
Xiao Meilin tentu ingin memastikan lebih lanjut, sebab apa yang dikatakan oleh orang tua semalam itu terlalu sulit diterima oleh akal sehatnya, meski sebagian dari dirinya yang lain meyakininya.
"Eh, Cici. Kamu sudah bangun rupanya. Lihat, aku memasak sup daging dan sayuran, aku rasa ini bagus dikonsumsi setelah semalam kita kehujanan," tanpa menoleh dia berkata sambil tetap mengaduk-aduk masakan di dalam kuali.
Melihat orang tak menjawab pertanyaannya, malah dengan suara riang membicarakan masakan, membuat Xiao Meilin sedikit sebal. Namun aroma masakan itu memang betul-betul menggugah selera, maka mau tak mau dia mendekat dan berdiri di samping kiri Cia Yonggan dan menghirup aroma masakan yang menguar dari dalam kuali.
"Hmmm.. Sepertinya enak," kata Xiao Meilin.
"Ini, coba sedikit, Cici," Cia Yonggan tiba-tiba menyodorkan sendok berisi sedikit kuah sup.
Dengan spontan Xiao Meilin membuka mulutnya menerima kuah sup itu dan mencicipinya.
"Bagaimana, enak tidak, Cici?" tanya Cia Yonggan.
"Sssshhhh... Rasanya lezat, Yonggan," puji Xiao Meilin, lidahnya berdecak.
"Sudah ku duga kamu pasti akan menyukainya, Cici," kata Cia Yonggan lagi.
Xiao Meilin bertanya-tanya, ada apa dengan pemuda ini. Dia benar-benar terasa berbeda dari Cia Yonggan yang pernah dikenalnya. Kemarin pemuda ini seperti pemuda pemurung, tak banyak bicara. Namun Cia Yonggan yang dia lihat pagi ini sangat ceria, seperti tak pernah ada masalah yang menimpa dirinya.
Cia Yonggan kembali fokus kepada masakannya. Sementara Xiao Meilin dengan diam terus memperhatikan pemuda itu. Sepertinya memang cedera pemuda itu sudah hilang.
"Yonggan, bagaimana dengan..." dia masih saja ingin bertanya.
Namun tiba-tiba pertanyaannya dipotong oleh Cia Yonggan. Pemuda itu meraih pundaknya dan dari belakang dia sedikit mendorong tubuh gadis itu ke depan, ke arah kamar mandi.
"Cici, kamu mandi dulu saja. Begitu kamu selesai, masakan ku juga pasti sudah matang," ujar Cia Yonggan.
"Baiklah," jawab Xiao Meilin menuruti saja pemuda itu dan menutup pintu kamar mandi.
Kamar mandi di rumah Cia Yonggan ini jauh dari kesan mewah seperti yang biasa digunakan oleh Xiao Meilin. Tak ada shower, apalagi pemanas air. Hanya ada bak air yang besar dan gayung serta perlengkapan mandi tergantung pada dindingnya.
Di sudut kamar mandi, tertumpuk pakaian basah yang kemarin dipakai Xiao Meilin, lengkap dengan set pakaian dalamnya. Sebagai keturunan orang kaya, dia tak pernah mencuci pakaian sendiri, biasanya semua keperluannya disiapkan oleh para pelayan. Maka tak heran Xiao Meilin jadi tak tahu apa yang harus dia lakukan kepada pakaian kotornya itu.
Pastilah pemuda itu sudah melihat tumpukan pakaian kotor itu dan menyadari saat ini dia sedang tak mengenakan pakaian dalam sama sekali. Apalagi tadi bahunya cukup lama disentuh oleh pemuda itu. Memikirkan hal ini tentu membuat Xiao Meilin menjadi malu. Mukanya bersemu merah. Tak mungkin juga dia mengenakan pakaian dalam Gao Mei Gui, itu benar-benar terasa memalukan.
Piyama Gao Mei Gui yang saat ini dikenakan oleh Xiao Meilin terlihat sedikit kekecilan, karena memang Xiao Meilin ini lebih tinggi dan ramping ketimbang Gao Mei Gui. Celananya juga terasa sedikit longgar pada bagian pinggangnya.
"Aihhhh.." Xiao Meilin hanya bisa berkeluh pasrah karena memang tiada pilihan lain lagi.
Buru-buru Xiao Meilin mencuci mukanya. Cuaca dingin begini membuat dia enggan untuk mandi. Dan bukankah baru beberapa jam yang lalu dia juga telah mandi?
__ADS_1
Kini dia terlihat lebih segar, bagaikan sekuntum bunga melati sehabis diguyur air hujan. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari dagunya yang lancip semakin mempertegas raut wajahnya yang cantik.
Sementara Cia Yonggan mulai merasakan ada yang aneh pada dirinya sejak bangun pagi ini. Pertama, dia dapat mengetahui Xiao Meilin telah bangun, padahal jaraknya dengan kamar depan itu cukup jauh. Kedua, dia juga dapat mendengar apapun yang dikatakan Xiao Meilin di dalam hatinya, bahkan Xiao Meilin yang kini tengah dilanda rasa malu di kamar mandi itu dapat dia ketahui.
Maka dia segera masuk ke kamar belakang dan mengambil sebuah kain panjang agar gadis itu tak merasa malu lagi ketika berhadapan dengan dia nanti saat menyantap hidangan.
Xiao Meilin baru kembali dari mengantar pakaian kotornya ke dalam mobil. Dia bisa saja meninggalkan pakaian kotor itu disini, namun tentu saja tak dia lakukan itu, karena pemuda itu tak memiliki mesin cuci di rumahnya dan sudah pasti Cia Yonggan yang akan mencucinya dengan kedua tangannya sendiri.
"Ayo duduk, Cici. Mereka telah menunggu mu," kata Cia Yonggan sambil menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh Xiao Meilin.
Yang dimaksud mereka oleh Cia Yonggan adalah masakan-masakan yang baru dihidangkannya. Dia mengumpamakan hidangan itu selayaknya para peserta rapat yang menunggu Xiao Meilin untuk membuka rapat, barulah acara kemudian bisa dimulai.
Tentu saja ini membuat suasana hati Xiao Meilin menjadi cair, dari yang awalnya sedikit malu karena lekuk tubuhnya di balik pakaian itu sedikit membayang.
"Hihihi... Terima kasih, Yonggan," kata Xiao Meilin sambil duduk di kursi kayu itu.
Belum sempat dia mengatur posisi duduk, Cia Yonggan sudah melingkarkan sebuah selimut tebal di tubuhnya. Jadilah sekarang Xiao Meilin duduk berselimut menghadapi hidangan di atas meja itu.
"Aku rasa udara disini terlalu dingin bagi mu, sehingga kamu enggan untuk mandi, Cici. Biarlah agar tak kedinginan, kamu pakai selimut ini saja," kata Cia Yonggan sambil tersenyum.
Dengan cara yang tak membuat Xiao Meilin malu, dia beralasan bahwa cuaca disini terlalu dingin untuk menutup tubuh bagian atas Xiao Meilin.
"Terima kasih. Aku memang merasa kedinginan," kata Xiao Meilin bersyukur pemuda itu dapat mengerti apa yang mengganjal di hatinya.
"Yonggan, apa rencana mu hari ini?" Xiao Meilin memancing.
Apakah benar secepat itu pemuda ini melupakan urusan menemui gadisnya? Kalau dilihat saat tak sadarkan diri saja dia tak henti mengigaukan nama gadis itu, sekarang mengapa dia seperti telah melupakannya?
"Tentu saja aku akan ikut menumpang bersama mu kembali ke Kota Nanping, Cici. Aku harus dapat menemui Mei Gui. Apakah kamu sudah siap untuk berangkat, Cici?" jawab Cia Yonggan dengan pasti.
"Tapi bagaimana dengan cedera mu? Tidakkah masih terasa sakit?" dia masih saja penasaran.
Sambil mengangkat kedua bahunya, Cia Yonggan berkata. "Seperti yang kamu lihat, Cici. Aku sudah pulih."
"Tapi.. Tapi bagaimana mungkin? Kalaupun bisa pulih setidaknya membutuhkan waktu yang lama, seperti yang dikatakan dokter waktu itu," Xiao Meilin masih tak percaya.
"Entahlah, Cici. Aku rasa ini terjadi berkat benda terang yang ku pegang semalam," Cia Yonggan menjawab santai. Lalu dia menambahkan. "Oh ya, Cici, apakah kamu masih ingat akan sosok naga semalam itu? Tidakkah itu mengerikan menurut mu? Aku sebenarnya masih bertanya-tanya, bagaimana kita berdua bisa selamat dari dia itu?"
"Yonggan, semalam ada.. Ada seseorang yang datang. Kalau dia tak datang tepat waktu, aku sudah.. Kita sudah.." kata Xiao Meilin gugup.
Dia tak tega menyebutkan Cia Yonggan hampir saja merenggut nyawanya kalau orang tua itu tak datang tepat waktu. Bukan salah dia, toh pada waktu itu Cia Yonggan sedang tak sadarkan diri dan energi yang meluap-luap dari dalam tubuh Cia Yonggan itu seperti ingin mencari pelampiasan, menghancurkan apa saja, membunuh siapa saja orang yang ada di dekatnya.
Cia Yonggan dengan kekuatannya yang baru, tentu saja dapat mengetahui isi hati Xiao Meilin. Tak ada sesuatu apapun yang dapat disembunyikan Xiao Meilin dari dirinya kini.
__ADS_1
Maka buru-buru dia berdiri dan membungkukkan badannya. "Cici, aku minta maaf yang sebesar-besarnya, bukan maksud ku ingin mencelakai mu. Maafkan aku, Cici."
"Tidak apa-apa, Yonggan. Aku mengerti," semakin heran Xiao Meilin, mengapa Cia Yonggan dapat menebak isi hatinya.
"Cici, ceritakan pada ku, orang tua itu siapa?" Cia Yonggan lanjut bertanya.
"Dari mana kamu tahu dia itu seorang yang tua?" tanya Xiao Meilin.
Cia Yonggan kembali duduk di kursinya dan berkata. "Cici, biarlah ku katakan pada mu. Aku.. Aku merasakan ada yang berbeda sejak bangun tadi pagi. Sepertinya aku bisa mendengar apa yang tak kamu katakan di permukaan. Entah ini ada hubungannya dengan benda terang yang semalam berada di tangan ku."
"Sepertinya memang begitu," Xiao Meilin akhirnya dapat mempercayai apa yang dikatakan sang biksu semalam dengan sepenuhnya.
Lalu Xiao Meilin menceritakan apa yang dia alami selama Cia Yonggan pingsan akibat meleburnya ketiga zat antara diri Cia Yonggan, mustika naga serta naga itu menjadi satu. Dia menceritakan juga tentang ramalan biksu itu yang telah mengetahui sosok naga sejati akan lahir, sejak lebih dari lima tahun yang lalu.
Bahwa diri Cia Yonggan yang sekarang bukan lagi seperti Cia Yonggan yang dahulu. Dirinya sudah merupakan orang yang berbeda, orang paling beruntung, mendapatkan kekuatan ajaib dari sang naga yang hanya ada di cerita-cerita dongeng.
Satu-satunya yang tak diceritakan oleh Xiao Meilin kepada Cia Yonggan adalah mengenai keterlibatan keluarga Shu di Beijing yang telah bersusah-payah mencari jejaknya sampai ke Kota Nanping. Dia hanya berfokus kepada sosok orang tua itu saja.
"Woow... Apakah kamu sedang mendongeng, Cici? Apakah aku ini benar merupakan naga berwujud manusia? Hahaha.. Kamu sepertinya termakan perkataan orang tua itu," dia berusaha tak mempercayai ucapan Xiao Meilin.
Namun bagaimanapun, tak dapat dia pungkiri, dengan dapat mendengarkan isi hati Xiao Meilin saja, itu sudah merupakan suatu bukti baginya.
"Bukankah kamu sudah merasakannya sendiri? Mustika yang ada di dalam diri mu itulah yang membuat kamu memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh orang lain," kata Xiao Meilin sewot.
"Katakan pada ku, Cici. Orang tua itu sejenis apa? Apakah dia peramal, pertapa, atau biksu seperti kelihatannya?" Cia Yonggan penasaran dengan sosok orang tua tersebut.
"Entahlah, aku tak tahu. Dari penampilannya, dia adalah seorang biksu," jawab Xiao Meilin. Lalu dia bertanya. "Mengapa kamu menanyakan dia orang tua itu?"
"Entahlah, Cici. Aku hanya penasaran saja, bagaimana dia dapat mengetahui secara akurat peristiwa yang akan datang," kata Cia Yonggan seperti sedang berpikir. Lantas dia menambahkan. "Cici, jangan-jangan dia itu bukan manusia!?"
Xiao Meilin menjadi bergidik ngeri membayangkan dirinya telah bertemu sosok gaib, apalagi dia sempat bercakap-cakap dengan sosok itu dalam keremangan malam yang hanya berpenerangan cahaya senter ponselnya.
"Ih, apa-apaan sih? Tidak lucu tahu!" balas Xiao Meilin jutek.
Namun pemuda itu malah tertawa dengan keras. "Hahahahaha..!!"
Begitulah Cia Yonggan mencairkan suasana di hati Xiao Meilin. Dia sekarang benar-benar telah berubah menjadi periang, membuat siapa saja yang ada di dekatnya turut riang.
Setelah membersihkan piring kotor dan memperbaiki kembali pintu yang kemarin malam sempat jebol, kini kedua muda-mudi itu sudah naik ke atas mobil. Cia Yonggan duduk di belakang kemudi mobil mewah ini, sementara Xiao Meilin duduk dengan masih berselimut kain tebal di sampingnya. Seumur hidup, baru kali ini Cia Yonggan dapat merasakan duduk di balik kemudi sebuah mobil mewah dan hari ini adalah hari dimana dia dapat sekaligus mengemudikannya.
"Are you ready?" katanya sambil menoleh ke samping.
"Sure!" Xiao Meilin dengan tersenyum manis merespon tingkah pemuda itu.
__ADS_1