The Investor

The Investor
Bab 31


__ADS_3

Xiao Meilin yang mendengar jawaban pasti Cia Yonggan mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Lama dia terlihat merenung seperti mengaitkan segala sesuatu antara hubungan Cia Yonggan dan Gao Mei Gui dengan perkumpulan Hei Laohu.


Bukankah Cia Yonggan hanyalah kekasih putri mendiang pemimpin Hei Laohu, sama sekali tak ada hubungannya dengan perkumpulan itu, lalu mengapa pemuda itu dianiaya orang sampai babak belur begini, bahkan sempat akan ditenggelamkan? Hei Laohu baru-baru ini berganti pemimpin, jangan-jangan pemimpin Hei Laohu yang baru ini tidak suka akan hubungan kedua muda-mudi itu dengan alasan tertentu, tapi apa alasannya?


Lama dia termenung, tapi bagaimanapun, dia tak bisa menduga alasan apa sebenarnya yang melatarbelakangi peristiwa yang menimpa Cia Yonggan. Dia sendiri enggan untuk ikut campur urusan orang, apalagi urusan perkumpulan bawah tanah yang tak jauh dari tindakan kriminal. Dengan menyelamatkan Cia Yonggan ini saja secara tidak langsung dia sudah terseret ke dalam urusan perkumpulan bawah tanah. Tapi sudah kepalang tanggung, dia sudah sejauh ini, takkan mungkin dia tega mengusir pemuda itu dari kediamannya seperti ini.


Di lain pihak, Cia Yonggan kaget juga saat Xiao Meilin menyebutkan dirinya mengigaukan nama Gao Mei Gui dalam ketidaksadarannya. Apakah benar ada hal semacam itu, atau itu hanya karangan Xiao Meilin semata?


Maka mau tak mau ingatannya kembali melayang kepada gadis itu. Apakah Gao Mei Gui berada dalam keadaan sehat, atau malah sebaliknya, pihak Wei Chung atau anaknya si pecundang Wei Heng itu mendatangi Gao Mei Gui ke kediamannya? Bukan tidak mungkin hal itu dapat terjadi. Dia dikeroyok oleh anak buah perkumpulan Hei Laohu saja sudah membuktikan bahwa gerak geriknya telah dipantau. Artinya keberadaan Gao Mei Gui saat ini telah terekspos! Setelah dia tersingkir begini, akan lebih mudah bagi lawan untuk membekuk Gao Mei Gui. Tapi apa yang akan mereka lakukan terhadap gadis itu?


Memikirkan ini dia lantas berkata kepada Xiao Meilin. "Cici, terima kasih telah menolong ku. Jika tak ada Cici, dapat dipastikan aku saat ini telah menghadap raja akhirat."


"Cia Yonggan, kamu jangan terlalu berbasa-basi, aku rasa memang kamu belum ditakdirkan untuk mati muda. Kalaupun bukan aku, seorang lain pasti akan menemukan kamu juga," dengan wibawanya yang besar Xiao Meilin kembali menatap Cia Yonggan. Lalu gadis itu berdiri tegak dan menyambung. "Sebaiknya kamu istirahat saja dahulu, Cia Yonggan. Hal-hal lain nanti saja dibicarakan. Dokter yang menangani mu tak lama lagi akan datang, kamu tunggu saja."


Lalu Xiao Meilin memutar tubuh lalu berjalan menuju ke pintu kamar. Namun baru saja dia hendak memegang gagang pintu, terdengar Cia Yonggan berkata.


"Cici, jangan pergi dulu. Aku.. Aku.. Uhuk..!! Uhuk..!!" Cia Yonggan berusaha bangkit duduk sambil berbicara, namun malah membuat dia terbatuk dan kehilangan keseimbangan.


Secara naluriah Xiao Meilin berlari kembali ke pembaringan itu dan menangkap tubuh Cia Yonggan yang sepertinya akan jatuh dari pembaringan.


"Kamu jangan banyak bergerak dulu. Bukankah tadi perawat sudah mengatakan, kamu harus banyak istirahat, paham?" Xiao Meilin berkata panik sambil merengkuh punggung pemuda itu dengan sebelah tangan dan mencondongkan tubuh ke badan Cia Yonggan untuk mendudukkan pemuda itu.


Dia tak sadar saat ini posisinya dengan Cia Yonggan begitu dekat. Kalau dilihat sekilas oleh dari sisi lain, kelihatannya kedua orang ini tengah berpelukan.


Cia Yonggan lebih dulu menyadari, posinya dan Xiao Meilin saat ini salah, takutnya gadis itu akan beranggapan dia sengaja bertingkah seolah-olah akan jatuh untuk mencari keuntungan.


"Cici, tidak enak dilihat orang..." kata Cia Yonggan lirih.


Xiao Meilin makin panik. Semburat merah langsung nampak di pipinya. Dia sendiri tak memahami, hanya karena reflek melihat pemuda itu hampir jatuh, maka dia tak memikirkan hal-hal lain lagi, kecuali mencegah pemuda itu jatuh dari pembaringan.


Maka buru-buru dia melepaskan dekapannya pada punggung Cia Yonggan, setelah itu dia langsung melelototi pemuda itu. "Itu murni karena reflek saja, tolong kamu jangan berpikiran yang bukan-bukan."


"Cici, bukan begitu maksud ku. Hayaaaa.." Cia Yonggan juga menjadi serba salah.


"Sudahlah. Hal apa tadi yang ingin kamu katakan?" Xiao Meilin berusaha menekan rasa malunya dengan mengalihkan pembicaraan.


"Cici, maafkan aku, aku ingin pamit dari sini," kata Cia Yonggan seperti memelas.


Xiao Meilin mengernyit tak percaya, dengan kondisi tubuh demikian, Cia Yonggan malah ingin pergi. "Kamu jangan bercanda. Dengan keadaan begini hendak pergi kemana? Lagian di luar sana tidak aman, takutnya musuh-musuh mu tahu bahwa kamu masih hidup. Dan ku beritahu pada mu, disini adalah tempat teraman, takkan ada yang berani menyantroni tempat ku ini."


"Justru itu, Cici. Aku tak ingin merepotkan mu, dan tak ingin menyeret mu ke dalam masalah pribadi ku. Maafkan aku," kata Cia Yonggan. Kemudian dia melanjutkan. "Seseorang bijak dulu pernah berkata, tempat teraman adalah tempat yang paling berbahaya. Sebaliknya tempat yang sekiranya dianggap berbahaya adalah tempat yang aman."

__ADS_1


Cia Yonggan tentu saja enggan menyebutkan kegelisahan hatinya akan keselamatan gadisnya, Gao Mei Gui.


Sejenak Xiao Meilin berpikir. Yang dikatakan pemuda itu ada benarnya. Dia sendiri hanyalah seorang gadis, tentu tak ingin terlibat masalah dengan perkumpulan bawah tanah.


"Apakah kamu yakin?" Xiao Meilin bertanya.


"Tentu saja aku sudah yakin, Cici," Cia Yonggan menjawab pasti.


"Kalau memang begitu keinginan mu, aku tak dapat lagi menahan mu disini. Apapun resikonya, tentu kamu sudah sangat paham, bukan? Termasuk pengobatan mu akan tertunda sehingga masa pemulihan mu menjadi lebih lambat apabila kamu pergi dari sini," sengaja dia menekankan proses pemulihan diri Cia Yonggan agar pemuda itu menarik kembali niatnya.


Tapi hal yang dia harapkan tak terjadi, sebaliknya pemuda itu dengan mantap menjawab. "Aku sudah paham, Cici."


Dia memang tak dapat lagi menunda untuk segera pulang dan bertemu dengan kekasihnya, bagaimanapun keadaannya. Pastilah gadis itu sedang gelisah menantikan kedatangannya. Selain itu ada sesuatu yang lain dalam dirinya yang terus saja mendesaknya untuk segera kembali ke rumahnya.


Dengan pasrah Xiao Meilin menjawab. "Kalau begitu kamu tunggu saja disini, aku akan perintahkan orang untuk memapah mu dan mengantar mu pulang."


Cia Yonggan menjadi tak enak karena sudah banyak merepotkan gadis ini. "Cici, tidak perlu, aku dapat berjalan sendiri. Biar aku pulang sendiri saja."


Xiao Meilin berkerut kening dan berkata dengan nada meremehkan. "Dengan kondisi mu yang begini? Hahahaha.. Jangan bercanda."


Lalu dia bergerak ke luar kamar dan menutup pintu kamar itu.


"Apakah dia sedang menertawakan ku? Ah, sial. Terlalu meremehkan," Cia Yonggan yang ditinggal di kamar itu hanya mampu merutuk dalam hati.


Tak ada masalah. Toh kakinya tak cedera, hanya terkadang pernafasannya saja tersumbat kalau dia berbicara agak keras, meski memang rasa sakit itu mengirimkan sinyal kepada organ tubuh lainnya yang menyebabkan dia kesulitan untuk bergerak.


Dengan perlahan dia membuka pintu itu. Dan dengan berpegangan pada dinding, dia berjalan menuju tangga yang sudah terlihat sejak dia keluar dari kamar ini.


Dia tak tahu saat ini dia berada di lantai tiga. Dan juga tak disadarinya di dekat tangga itu ada pintu lift yang seharusnya dapat dia pergunakan untuk turun. Sebaliknya ia malah berjalan menuruni undakan anak tangga.


Disinilah dia baru sadar, tempat ini sangat luas. Seluruh dinding bangunan ini adalah beton kuat dan dari sini dia dapat melihat ke bawah, ke ruangan utama lantai dasar itu benar-benar mewah.


"Cici itu bukanlah gadis biasa. Tentu dia keturunan orang kaya," begitu pikir Cia Yonggan.


Butuh waktu setidaknya hampir seperempat jam bagi dia untuk sampai ke pintu utama ruangan bangunan ini. Sepanjang jalan menuju kemari, tak seorang pun manusia yang ditemuinya, termasuk kedua perawat tadi.


Begitu dia keluar pintu utama, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Disusul keluar dua orang pria dari kiri dan kanan pintu depan.


"Ah, anda sudah berada disini, Tuan. Nona Xiao memerintahkan kami untuk mengantar anda. Ayo cepat naik," kata salah seorang pria itu yang membukakan pintu belakang mempersilahkan Cia Yonggan untuk naik.


Cia Yonggan tak lagi berbasa-basi. Tak enak menolak niat baik orang. Ada kendaraan untuk dia pulang ke kampung halamannya di pelosok sana, tentu akan lebih mempercepat dia.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," kata Cia Yonggan sembari masuk dan perlahan beringsut di jok belakang itu untuk memposisikan duduknya.


Lalu kedua pria itu pun segera membuka pintu depan dan duduk di jok depan. Pria yang duduk di samping kemudi menjulurkan kepalanya ke belakang untuk berbicara dengan Cia Yonggan.


"Maaf, Tuan. Nona Xiao tadi belum menyebutkan alamat kemana kami harus mengantar anda," kata pria itu.


"Rumah saya di lereng Gunung Mangdang, Pak," Cia Yonggan menjawab.


"Hah? Gunung Mangdang?" dia heran.


"Benar, Pak, kediaman saya di situ," kata Cia Yonggan.


"Baiklah. Kalau begitu kami antar anda kesana. A Fei, ayo jalan," katanya kepada pria di belakang kemudi.


Kedua pria ini sebenarnya agak penasaran, mengapa rumah pemuda itu sebegitu jauh dan mengapa dia bisa berada di kediaman Nona Xiao ini. Namun sebagai bawahan, mereka tak berani untuk mencari tahu seluk beluk persoalan sang majikan.


Sesaat sebelum pria yang dipanggil A Fei itu menjalankan mobilnya, terdengar handphonenya berbunyi. Dia melirik layar handphonenya dan melihat itu adalah panggilan dari Xiao Meilin.


Segera dia menjawab panggilan itu. "Ya, Nona."


Hening.


"Katanya di lereng Gunung Mangdang, Nona," jawab pria itu.


Hening lagi.


"Baik, Nona."


Lalu panggilan itu terputus.


"Nona Xiao ingin ikut," katanya kepada rekan di sampingnya.


Cia Yonggan hanya menyimak dan tak tahu harus berbuat apa. Dia juga tak bisa menolak apabila majikan tempat ini ingin mengantarnya juga.


Sembari menunggu kedatangan Xiao Meilin, Cia Yonggan mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil ini. Baru dia sadari ternyata ini adalah sebuah mansion, tak heran begitu terasa luas. Dan halaman mansion ini juga luas, setidaknya dua klub pemain sepakbola dapat bertanding di halaman mansion ini. Berhiaskan bunga-bunga tertata rapi di taman itu, makin mempercantik mansion ini kalau dilihat dari depan.


Tak lama, Xiao Meilin muncul dari pintu utama mansion. Pria di samping kemudi telah siaga membukakan pintu untuk dia.


Cia Yonggan menyadari gadis itu saat ini terlihat lebih segar, sepertinya dia baru saja mandi dan dia mengenakan pakaian santai namun mewah. Wajahnya hanya dipoles dengan sedikit kosmetik saja, tak menor sama sekali, namun malah membuat Xiao Meilin terlihat lebih cantik alami.


"Cici, kenapa kamu juga ikut?" tanya Cia Yonggan begitu gadis itu sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Aku ingin melihat pemandangan dari lereng Gunung Mangdang sana. Katanya udara disana lebih sejuk dibandingkan di tempat ku ini, apakah salah? Lagian besok libur. Ayo berangkat, Pak," dia menjawab sambil memerintahkan supir untuk berangkat.


Mobil itupun melaju ke arah Gunung Mangdang yang kalau dilihat dari sini, sedang diselimuti awan hitam, sepertinya di sekitar situ akan dilanda hujan deras.


__ADS_2