The Investor

The Investor
Bab 52 : Don't Judge a Book by It's Cover


__ADS_3

Cia Yonggan jadi terbengong. Dia benar-benar tak menduga sama sekali, Mo Kat yang dia kira adalah orang yang harus dia musnahkan, ternyata telah berbuat banyak kebaikan kepada dirinya. Bahkan dia juga telah menyelamatkan Gao Mei Gui dari niat cabul Wei Heng.


Jadi yang dia lihat dari pikiran Wei Heng sebelumnya, telah salah sama sekali. Bagaimana bisa dia seceroboh ini? Andai sebelumnya dia tahu Wei Heng telah berupaya melakukan hal memalukan seperti itu kepada Gao Mei Gui, tentu dia tak akan melepaskan pemuda cabul itu.


"Mei Gui, maafkan aku.. Aku kira dia itu.. Dia.. Dia.." Cia Yonggan kehabisan kata-kata.


Gao Mei Gui memandang Cia Yonggan, dengan berurai air mata dia menyudutkan pemuda itu. "Dia apa, Yonggan? Dia kenapa? Apakah karena malam itu kamu melihat dia mengeroyok ayah ku?"


Cia Yonggan kembali teringat peristiwa malam itu. Memang Mo Kat ini diutus oleh sekutu Wei Chung untuk menghabisi ayah Gao Mei Gui, Gao Li Liang.


"Benar. Dia yang membunuh ayah mu, Mei Gui," Cia Yonggan masih berusaha mencari pembenaran atas tindakannya.


Gao Mei Gui menyeka air mata dengan punggung tangannya lalu menimpali. "Yonggan, mengenai ayah ku. Aku sudah berkali-kali mengingatkan dia dulu, untuk meninggalkan posisinya di perkumpulan bawah tanah. Terus terang saja aku katakan, aku tidak menyukai dia bergaul dengan para berandalan itu. Dan aku sudah lama menyadari, cepat atau lambat, dia akan mati dibunuh orang. Dunia bawah tanah itu keras, Yonggan."


Mendengar itu, Cia Yonggan hanya terpaku. Rasanya tak benar kalau gadis ini menyalahkan ayahnya dan sebaliknya membela pembunuh ayahnya.


"Yonggan, kamu harus paham, kelahiran, jodoh dan maut tidak dapat kita hindari. Jika sang pencipta telah berkehendak demikian, kita sebagai manusia bisa melakukan apa untuk mencegahnya? Jika bukan Kakak Mo Kat, orang lain yang pasti akan melakukannya. Dan kalaupun memang dia telah mencelakai ayah ku, tapi dia telah berusaha menebus dosa-dosanya dengan menyelamatkan kamu dan aku. Janganlah menaruh dendam, Yonggan. Dendam hanya akan menghancurkan hati kita," sambung Gao Mei Gui lagi.


Bagai tersambar petir Cia Yonggan mendengar itu. Kalimat terakhir Gao Mei Gui sama persis dengan apa yang dikatakan oleh ibunya di dalam mimpi itu. Ibunya berpesan kepadanya jangan pernah menjadi seorang berkepribadian pendendam. Bagaimana bisa kebetulan begini?


Dan Cia Yonggan sendiri sudah lama paham akan kelahiran, perjodohan dan kematian tidak dapat untuk dihindari. Bahkan dia sendiri telah mengalami perjodohan dengan mustika naga tanpa dapat dicegah atau dipaksa oleh siapapun.


"Satu hal lagi, Yonggan. Apa yang akan kamu lakukan jika seandainya aku diawasi orang, diancam akan dibunuh, dengan kata lain disandera? Agar aku terlepas dari ancaman itu, kamu harus melakukan banyak pembunuhan, mau tidak?" Gao Mei Gui tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang membuat Cia Yonggan bingung.


"Mei Gui, aku.. Aku.. Tidak mengerti," jawab Cia Yonggan terputus-putus.


"Kakak Mo Kat mau bekerja pada atasannya di Taiwan adalah karena terpaksa. Orang itu mengawasi dan mengancam adiknya. Jika Kakak Mo Kat tidak menuruti kehendaknya, maka adiknya yang akan dia sakiti. Apakah kamu sudah paham? Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada Xiaolian ini," kata Gao Mei Gui seraya mengarahkan layar ponsel yang dia pegang itu ke muka Cia Yonggan.


Cia Yonggan menatap layar itu. Usia gadis itu berkisar antara dua puluhan tahun, sedikit lebih muda dari Gao Mei Gui. Dia terlihat ketakutan di seberang sana dan sedang serius menatap kepadanya. Matanya menyiratkan permohonan.


"Apakah benar demikian?" Cia Yonggan menanyakan.


Ditanya begitu, gadis itu malah menangis. Sepertinya ada trauma yang dialami gadis itu. Apapun itu, tentu dia telah mengalami suatu peristiwa yang sangat besar.


Dengan sesenggukan dia menguraikan kepada Cia Yonggan. "Benar, Kakak. Sejak bulan lalu aku dikurung orang, kadang tak diberi makan, kadang ada juga yang datang memukuli ku. Baru selama seminggu belakangan aku dilepaskan, meski tidak benar-benar bebas. Kemanapun aku pergi selalu dipantau orang. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Jika Kakak Mo berbuat kesalahan, pasti aku yang menjadi tempat pelampiasan dipukuli orang. Hingga akhirnya kemarin aku bisa kabur dari Kota Taipei, Kakak Mo Kat yang mengatur kenalannya membawa ku ke Kota Bushan. Rencananya Kakak ku akan menyusul hari ini dan kami akan hidup di Korea demi keselamatan kami. Tapi..."


Dia tak sanggup meneruskan kalimatnya, dia menangis tersedu-sedu. karena dia sudah putus harapan. Kakaknya seorang, Mo Kat, telah terjun ke dalam laut demi menghindari pemuda ini. Selain kakaknya, siapa lagi yang bisa menyelamatkan dia? Apalagi dia tidak memiliki apa-apa saat ini. Bagaimana dia bisa hidup di negara yang sama sekali asing baginya?

__ADS_1


Dia awalnya menunggu kakaknya menyusul ke Kota Bushan, Korea dengan Gao Mei Gui. Bahkan semalam dia dan Gao Mei Gui telah berbicara banyak lewat panggilan video. Sempat dia mengira Gao Mei Gui ini adalah calon kakak iparnya, tapi setelah dijelaskan, ternyata Gao Mei Gui dan dia memiliki nasib yang tak jauh berbeda, hanya hidup sebatang kara di dunia, maka kakaknya berniat membawa Gao Mei Gui sekalian untuk menyelamatkannya dari ancaman orang yang sebelumnya telah menganiaya dia.


Cia Yonggan kini benar-benar dihantui rasa bersalah. Dia tidak menyangka ternyata ada peristiwa sepelik ini di balik ini semua. Mo Kat yang awalnya dia kira sebagai seorang kriminal, ternyata bekerja demi keselamatan adiknya ini. Pantas saja Mo Kat tadi ingin memberitahukan sesuatu kepadanya, tapi sama sekali tak diberikan kesempatan olehnya.


"Dan kamu tahu, tidak? Aku juga akan dijadikan persembahan oleh Wei Chung untuk orang Taiwan. Maka Kakak Mo Kat itu secara khusus mendatangi kediaman mu dan ingin membawa ku bersembunyi sejauh mungkin. Untuk sementara dia akan mempertemukan aku dengan adiknya ini, Mo Xiaolian di Kota Bushan. Kakak Mo Kat juga telah berjanji kepada ku, nanti setelah kamu sudah pulih, kita akan dipertemukan kembali," Gao Mei Gui menambahkan


Cia Yonggan sudah tak tahan lagi. Perasaan bersalah ini benar-benar menghantui sampai ke sanubarinya. Dia yang salah. Dia terlalu egois dengan tak memberikan Mo Kat kesempatan untuk berbicara. Dia tak ubahnya sebagai seseorang yang menilai orang lain dari penampilan luar semata. Dia hanyalah seorang pendendam yang tak layak untuk diampuni. Maka dia berlutut ke arah laut untuk meminta maaf kepada Mo Kat yang keberadaannya tak diketahui lagi.


"Orang bermarga Mo, aku benar-benar salah. Aku telah salah sangka terhadap mu. Mohon maafkanlah aku, maafkan aku," dia bersujud berkali-kali.


Melihat hal itu, Gao Mei Gui yang selalu tegar cepat meraih pundak kekasihnya dan berkata. "Yonggan, yang telah terjadi biarlah berlalu. Sekarang mari fokus kepada apa yang tertinggal. Tiada guna menyesali diri begini."


Sifat Gao Mei Gui yang tegar begini selalu mendapatkan tempat di hati Cia Yonggan. Dia tak pernah menyesali apa yang telah terjadi. Dia selalu berpikir ke depan. Memang begitulah sifat seorang Gao Mei Gui sejak awal dia mengenal gadis itu.


Maka Cia Yonggan menuruti perkataan gadis itu. Dia sebagai lelaki harusnya bisa lebih tegar dibandingkan Gao Mei Gui ini.


"Benar, Mei Gui, mari fokus ke depan," katanya sambil berdiri. Kemudian dia bertanya kepada nakhoda kapal. "Tuan Nakhoda, bisakah kita berkeliling untuk mencarinya? Siapa tahu dia masih mengapung."


Sang nakhoda buru-buru menjawab. "Oh, ya, tentu. Mari kita putari tempat sekitar sini."


Dia kemudian masuk kembali ke dalam anjungan kapal bersama ABK dan mulai menjalankan kapal itu.


"Xiaolian, kami akan mencari Kakak Mo Kat, panggilan terpaksa harus dimatikan terlebih dahulu. Nanti kami akan mengabari mu lagi!" Gao Mei Gui sampai berteriak karena suara mesin kapal yang meraung.


"Baiklah, Kakak," jawab Mo Xiaolian di seberang telepon.


Kemudian kapal itu berputar menyisir sekitar perairan sini, berharap dapat menemukan tubuh Mo Kat. Banyak kapal berseliweran masuk dan keluar dermaga. Belum lagi agak ke tengah laut, kapal-kapal ekspedisi dan kapal-kapal tanker yang tengah mengantri untuk keperluan bongkar muat barang.


Namun setelah setengah jam mereka berputar-putar, tak ada tanda-tanda akan menemukan tubuh Mo Kat.


Nakhoda menyarankan mereka untuk menghubungi tim pencarian dan pertolongan agar pencarian bisa dilakukan dalam radius yang lebih besar ketimbang hanya dilakukan oleh mereka sendiri.


Namun mengingat dirinya dan Mo Kat yang awalnya akan menyelundup ke Korea, membuat Gao Mei Gui terpaksa menolak saran nakhoda. Belum lagi kekhawatirannya mengenai kabar yang akan tersiar keluar, tentu akan terdengar oleh atasan Mo Kat di Taiwan, ataupun oleh Wei Chung di Kota Nanping.


"Aku rasa tidak perlu, Tuan Nakhoda. Sebaiknya kita kembali ke dermaga Fuzhou saja," kata Gao Mei Gui.


"Tapi bagaimana dengan Tuan Mo?" nakhoda seperti tak terima.

__ADS_1


Cia Yonggan yang sudah mengerti situasi, lantas menjawab. "Tuan Nakhoda, silahkan hubungi tim pencarian dan pertolongan, dengan syarat, antarkan kami terlebih dahulu. Lalu saat tim bertanya tentang identitas orang yang ingin diselamatkan, kamu berikan nama orang lain. Karena nama orang itu tidak boleh terekspos keluar. Bagaimana, apakah kamu setuju?"


Nakhoda yang telah menyimak pembicaraan Cia Yonggan dan Gao Mei Gui serta gadis di seberang telepon tadi sedikit banyak sudah paham bahwa keadaan orang-orang ini tidak boleh terekspos keluar. Tapi rasa kemanusiaannya menuntut dia untuk menyelamatkan Mo Kat, meski harus memberikan informasi palsu kepada tim pencarian dan pertolongan.


"Baiklah, begitu saja, Tuan," jawabnya.


Cia Yonggan dan Gao Mei Gui lantas kembali ke dermaga. Sementara nakhoda menghubungi tim pencarian dan pertolongan.


"Mei Gui, kamu akan menyelundup ke Korea?" Cia Yonggan bertanya saat mereka berjalan di sekitar dermaga.


"Benar. Kakak Mo Kat dari kediaman mu langsung membawa ku kemari. Mana sempat mengambil passport di apartemen. Dan kalaupun aku tidak mengambil jalur ilegal begitu, takutnya akan dengan mudah dapat dilacak orang Taiwan itu," kata Gao Mei Gui menjelaskan.


"Lalu bagaimana kalian akan melewati pemeriksaan di tengah laut? Bukankah pengawalan di Semenanjung Korea sangat ketat? Mana bisa menyelundup begitu saja," Cia Yonggan kembali bertanya.


Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara akhir-akhir ini semakin memanas menyebabkan pemeriksaan di perairan Semenanjung Korea menjadi diperketat. Angkatan laut dari kedua negara yang tengah bersitegang itu selalu mondar mandir menjaga perbatasan wilayah masing-masing. Belum lagi negara tetangga Korea Selatan, yaitu Jepang, yang selalu dijaga oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat, selalu bolak balik di Selat Korea, selat yang memisahkan Korea Selatan dan Jepang.


Tak hanya itu, pasukan keamanan tentara Tiongkok juga tak pernah berhenti berpatroli di perbatasan perairan dengan ketiga negara tersebut. Dapat dikatakan, perairan yang akan dilewati oleh Gao Mei Gui itu merupakan wilayah yang paling banyak dijaga oleh angkatan bersenjata.


"Mengenai itu aku tidak tahu, Yonggan. Kakak Mo Kat katanya punya kenalan petinggi angkatan laut Korea. Dia yang akan membantu menyelundupkan kami ke Korea," terang Gao Mei Gui.


Mo Kat sampai memiliki petinggi di angkatan laut Korea, itu adalah hal yang menakjubkan bagi Cia Yonggan. Ternyata orang itu punya koneksi tak sedikit, tak heran dia dapat menyuruh orang untuk membawa kabur adiknya ke Korea sana.


"Yonggan, kamu sebaiknya pikirkan bagaimana membawa Xiaolian kesini," kata Gao Mei Gui.


Cia Yonggan sebelumnya sudah sempat memikirkan solusi terhadap adik Mo Kat ini. Sebagai permintaan maaf, dia sendiri yang akan menjemput Mo Xiaolian ke Kota Bushan.


"Ah, iya, tentu, Mei Gui. Tapi kita harus pulang dulu ke Kota Nanping. Aku tidak memiliki passport. Aku rasa aku harus meminta bantuan Direktur Hao, setelah itu aku sendiri yang akan menjemput dia ke Bushan. Kamu kabari saja dia. Semoga besok sudah bisa berangkat kesana," kata Cia Yonggan menerangkan rencananya.


"Ide yang bagus, Yonggan. Tapi kamu tak bisa pergi tanpa aku. Aku akan ikut kali ini. Takkan ku biarkan lagi kamu pergi kemudian menghilang tanpa kabar. Setidaknya kalau nanti kamu menghilang, maka kita tetap bersama," kata gadis itu sedikit tersenyum.


Dia tak dapat lagi membayangkan akan ditinggalkan seperti pada waktu dua hari yang lalu. Meski hanya dua hari, namun itu terasa seakan sangat lama bagi Gao Mei Gui.


Cia Yonggan yang mengerti akan maksud kekasihnya, balas tersenyum sambil berkata. "Aku takkan pernah meninggalkan kamu lagi dalam waktu yang lama."


Saat mereka sudah berada di area parkir, Gao Mei Gui terlihat menoleh kesana-kemari. Dia mengira dirinya dan Cia Yonggan berjalan tanpa sadar sampai kesini, akan menemukan mobilnya disini. Tapi setelah dia celingak-celinguk, dia tak mendapati keberadaan mobilnya.


"Yonggan, dimana mobilnya?" dia bertanya.

__ADS_1


Cia Yonggan menjawab sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Mei Gui, terpaksa kali ini aku merepotkan mu. Kita harus menumpang dengan taksi dan membeli bahan bakar. Mobil mu tengah kehabisan bahan bakar dan ada di perbatasan Kota Fuzhou dan Kota Nanping."


Gao Mei Gui membeliakkan matanya seakan-akan dia tak terima mobilnya ditinggal begitu saja di daerah perbatasan kota.


__ADS_2