
Pagi itu setelah sarapan, Cia Yonggan sudah bersiap akan pergi ke pasar tradisional di Shangwa. Dari sini ke pasar itu membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Jalan menuju tempat tinggal Cia Yonggan ini bukanlah jalur jalan raya yang biasa digunakan oleh orang-orang. Dari sini menuju ke jalan raya dibutuhkan setidaknya tiga puluh sampai empat puluh menit perjalanan. Untuk membeli kentang dan mengurus truk pengangkut ke lahan pertaniannya serta membeli kebutuhan makanan dan rumah tangga, dia perkirakan akan memakan waktu empat jam. Apabila dia berangkat pukul delapan pagi ini, kemungkinan sebelum jam makan siang dia sudah kembali, jadi dia sempat untuk makan bersama siang ini dengan Gao Mei Gui.
"Mei Gui, kamu tunggulah aku pulang. Nanti setelah aku membawa pulang daging, kamu bisa memasak daging kesukaan mu untuk santapan kita siang ini," kata Cia Yonggan saat berjalan ke arah mobil milik Gao Mei Gui.
"Aih, aku sudah tak sabaran ingin makan kwetiau daging sapi. Yonggan, kamu jangan lama-lama ya," kata Gadis itu sengaja memonyongkan bibirnya, membuat Cia Yonggan gemas.
"Iya, aku pasti takkan lama," jawab pemuda itu sambil membuka pintu depan mobil.
Tapi saat dia menoleh ke belakang, dia mendapati Gao Mei Gui memberikan gestur seakan minta dipeluk, dia melebarkan kedua tangannya ke arah Cia Yonggan.
Cia Yonggan hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum lalu berjalan kembali ke arah gadis itu dan memberikan gadis itu pelukan hangat. Mereka berpelukan begitu untuk waktu yang lama.
"Kamu ini bertingkah seperti aku akan pergi jauh saja. Sebentar aku juga akan pulang, tak perlu seperti ini," Cia Yonggan berkomentar sambil masih memeluk gadis itu.
Dia pun sebenarnya berat melepaskan pelukan ini, tapi bagaimanapun hidup terus berjalan, tak mungkin hanya akan berpelukan seperti ini.
"Aku hanya tak ingin berpisah dengan mu, apakah salah?" balas gadis itu sewot.
"Tidak, kamu tidak salah," Cia Yonggan buru-buru menimpali.
"Kalau begitu kamu jangan lama-lama. Apapun yang terjadi di luar sana, kamu harus segera pulang," kata Gao Mei Gui memberikan penekanan yang jelas, sebab ini adalah perpisahan pertamanya sejak pertama dia bertemu dengan pemuda itu.
"Tentu saja, kamu tunggu saja aku disini, jangan kemana-mana," jawab Cia Yonggan lagi.
Setelah Cia Yonggan mengucapkan itu, barulah Gao Mei Gui melepaskan pelukannya.
Sementara Cia Yonggan mulai menaiki mobil dan mengemudikannya sambil melambaikan tangan keluar dari jendela mobil yang dibalas dengan berat oleh Gao Mei Gui.
__ADS_1
Sebenarnya Gao Mei Gui merasakan sesuatu yang ganjil sejak pagi ini, jantungnya terus-menerus berdebar-debar. Dia berpikir mungkin dia sedang kurang enak badan setelah seminggu ini selalu menemani Cia Yonggan bekerja di bawah terik matahari. Dia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya barang sejenak sebelum dia membersihkan piring bekas sarapan pagi ini.
Cia Yonggan saat ini terus mengemudi dengan kecepatan sedang. Di sisi kiri dan kanan badan jalan ini terdapat hamparan kebun teh yang luas. Memang di sekitar lereng gunung Mangdang ini banyak orang-orang berkebun teh, wortel dan kentang, karena memang cocok tumbuh di dataran tinggi.
Di depan sana terlihat sebuah hutan kecil. Setelah melewati hutan itu, maka tak lama lagi dia akan sampai di jalan raya.
Setelah melewati sebuah belokan di hutan ini, Cia Yonggan melihat jalan di depannya terdapat dua buah mobil berhenti pada kedua sisi badan jalan. Terlihat empat orang pria sedang sibuk membuka roda salah satu dari mobil itu. Dia menduga salah satu mobil ini kemungkinan mengalami pecah ban lalu mobil satu lagi memberikan bantuan.
Begitu mobilnya sampai disitu, dia terpaksa menghentikan laju kendaraannya. Dia hendak turun memeriksa keadaan mobil yang tengah mengalami pecah ban, siapa tahu dia dapat membantu.
Namun baru saja dia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba dia melihat dari arah belakang, empat mobil melaju ke arahnya, dua di depan dan dua di belakangnya.
Dua mobil di depan berhenti di kiri dan kanan mobil yang dikendarai Cia Yonggan, sementara dua mobil lainnya berhenti di belakangnya. Alhasil, dia dikepung oleh enam mobil sekaligus, sama sekali tak ada celah untuk keluar dari kepungan mobil-mobil itu.
Cia Yonggan mulai merasakan gelagat yang tak beres, apalagi dari hutan kiri dan kanan bermunculan puluhan pria berpakaian preman. Puluhan preman itu masing-masing menenteng senjata di tangannya, ada yang membawa tongkat pemukul, rantai besi, kunci roda dan berbagai alat lainnya yang biasa digunakan para preman untuk tawuran. Dia memperkirakan setidaknya mereka ini ada tiga puluhan orang.
"Cepat turun dari mobil!!" orang-orang itu mulai berteriak murka.
Maka dia menuruti saja permintaan mereka, dengan santai dia turun dan bertanya. "Ada apa ini? Mengapa kalian menghalangi jalan ku?"
"Jangan banyak tanya!! Kamu orang yang bernama Cia Yonggan, bukan?" salah seorang preman itu bertanya dengan galak.
"Iya. Apa yang kalian inginkan?" Cia Yonggan bertanya karena tak mengerti apa maunya pihak lawan ini.
"Kalau begitu kamu harus ikut kami," kata preman tadi tegas.
Melihat jumlah mereka yang banyak apalagi dibekali senjata di tangan masing-masing, Cia Yonggan merasa tak punya pilihan kecuali mengikuti mereka.
__ADS_1
"Kemana kalian hendak membawa ku?" tanya Cia Yonggan lagi.
"Banyak bacot! Hey kamu, kamu, kamu. Cepat ikat dia," berkata lagi pria tadi memerintahkan tiga orang bawahannya untuk mengikat Cia Yonggan.
Tiga orang berjalan mendekati Cia Yonggan, mereka seperti sudah bersiap-siap untuk mengikat pemuda itu, sebab orang yang akan mereka ringkus tak menunjukkan gejala akan memberikan perlawanan sedikitpun.
"Hey hey. Tunggu dulu, mengapa harus ikat segala? Ikut ya ikut. Ayo mau dibawa kemana saja, tapi tak perlu harus diikat," Cia Yonggan berusaha berkelit dari ketiga orang yang ingin mengingatkannya dengan tali.
"Banyak bacot! Lumpuhkan dia!" pria tadi memberikan perintah lagi kepada para bawahannya yang lain.
Sontak saja belasan preman langsung menyerbu dan memukulkan senjata di tangan mereka ke arah Cia Yonggan. Cia Yonggan kaget, tak menyangka keadaan akan berubah menjadi kacau begini, sepertinya memang dia sudah ditargetkan untuk dilumpuhkan pihak lawan.
Mau tak mau Cia Yonggan terpaksa harus meladeni pengeroyokan ini. Sedapat mungkin dia berupaya untuk menghindari senjata yang terus-menerus mengarah pada seluruh bagian tubuhnya. Dia terus menghindar sambil berusaha mencari celah bisa melarikan diri dari sini. Dia sadar, dia seorang diri takkan mampu meladeni tiga puluhan preman dengan senjata di tangan mereka.
Tapi para preman ini seperti sudah mengetahui gelagat Cia Yonggan, belasan preman lain yang tak ikut menyerangnya malah memperketat ruang geraknya. Ini bukan main-main lagi.
Dia memutuskan kalau dia tak bisa lolos, maka dia harus memberikan perlawanan maksimal. Maka dia mulai melakukan serangan balik. Tinjuan dan tendangannya sempat bersarang di tubuh beberapa orang pengeroyok dan membuat mereka terjengkang. Tapi saat dia berhasil memukul mundur beberapa pengeroyok, maka dia pun harus rela menerima resiko, para preman lainnya dengan keras memukulkan senjata di tangannya ke badan Cia Yonggan, membuat tubuhnya terasa ngilu sampai ke tulang.
Dipukul dengan senjata tumpul berkali-kali, membuat hati Cia Yonggan kesal, mau membalas pasti mereka juga mengayunkan senjata itu ke arah yang menjadi sasaran pukulannya, yang menyebabkan dia terus berbenturan dengan senjata di tangan lawan, tidak membalas juga malah menjadi sasaran empuk. Sial.
Dia terus berupaya keras memberikan perlawanan, sampai tubuhnya sendiri tak tahan lagi, dia sudah merasakan kesakitan pada tulang-belulangnya akibat pukulan dari senjata-senjata lawan. Sampai pada suatu pukulan keras yang mendarat tepat di bagian kepala belakangnya, menyebabkan dia pusing, dunia di sekelilingnya seakan berputar-putar dan matanya mulai berkurang-kunang, sebelum akhirnya ambruk di badan jalan itu.
"Prang!!"
Tepat di saat itu gelas di tangan Gao Mei Gui tiba-tiba saja terjatuh saat dia mencuci piring bekas sarapan mereka pagi ini. Dadanya semakin berdegub kencang, bahkan lebih kencang dari saat tadi pagi.
"Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba gelas ini melompat dari tangan ku?" dia mulai cemas.
__ADS_1
Buru-buru Gao Mei Gui membersihkan serpihan pecahan gelas itu, lalu dia menelepon Cia Yonggan tapi tak diangkat sang empunya. Dia terus mencoba menghubungi Cia Yonggan namun tetap tiada jawaban, sampai pada panggilan yang ketujuh kali, nomor Cia Yonggan tak aktif lagi. Namun demikian, dia tetap mencoba, dia benar-benar takut suatu hal buruk menimpa kekasihnya itu.
"Yonggan, apakah kamu baik-baik saja?" dia semakin cemas.