The Investor

The Investor
Bab 46 : Wei Heng yang Menderita


__ADS_3

Di dalam rumah, Wei Chung terlihat mengenakan setelan olahraga dan sedang bersiap keluar pagi ini. Seorang wanita paruh baya berkosmetik tebal membawakan sepatu olahraga berwarna putih untuk Wei Chung.


"Suami ku, hendak kemana kamu pagi ini? Ini kan akhir pekan, mengapa tidak bersantai di rumah saja?" wanita yang ternyata istri Wei Chung itu bertanya sembari memakaikan sepatu ke kaki suaminya.


Wei Chung yang duduk di kursi kecil memandang istrinya yang sedang berjongkok di depannya. "Istri ku, pagi ini ada acara launching sebuah dealer mobil yang baru membuka cabang di Kota Nanping. Mereka adalah mitra perkumpulan ku di masa mendatang. Maka aku harus menghadiri acara pembukaan itu."


"Kalau begitu kamu baik-baik menjaga hubungan dengan relasi, ya. Kakak Gao baru beberapa waktu yang lalu dibunuh orang, kamu harus jaga diri baik-baik," berkata lagi istri Wei Chung.


Dia mana tahu perbuatan keji yang dilakukan oleh suaminya. Dia dalam kesehariannya membuka salon kecantikan, tentu saja dia setiap hari sibuk berada di situ. Mengelola usahanya sembari merawat diri agar selalu terlihat muda di mata suaminya. Ketakutan seorang wanita paruh baya tentu saja menghadapi masa penuaan, dimana kulit mulai mengeriput dan flek-flek hitam bersemi pada wajah.


Wei Chung sedikit banyak merasa tersindir dengan perkataan istrinya. Tapi dia maklum karena memang istrinya tidak mengetahui akan seluk beluk keadaan. Yang dikatakan istrinya itu semata hanya karena perhatiannya terhadap dirinya.


"Istri ku, kamu jangan khawatir," jawab Wei Chung tersenyum penuh cinta.


Orang sekejam Wei Chung ini ternyata punya cinta yang mendalam kepada sang istri. Siapa yang akan menyangka dia ini memiliki sifat kejam di balik kelembutan sikapnya itu?


"Istri ku, bagaimana kalau nanti siang kita makan berdua di restoran?" Wei Chung mengangkat dagu wanita itu dan memandang kedua bola matanya.


"Benarkah? Wah.. Aku tentu mau, Suami ku," kata wanita itu berbunga-bunga.


Wei Chung kemudian mencium dahi wanita itu sambil berkata. "Kalau begitu kamu tunggu di salon, ya. Aku akan datang menjemput mu sebelum jam makan siang nanti."


"Baiklah, Suami ku. Aku pasti menantikan mu," katanya mengikuti Wei Chung yang mulai berdiri dari kursinya.


Pasangan paruh baya itu kemudian berjalan bergandengan tangan menuju ke pintu depan.


Begitu tiba di luar, Wei Chung bertanya. "Apakah Wei Heng masih tidur?"


"Sepertinya begitu," jawab istrinya. Kemudian dia menambahkan. "Eh, Suami ku, semalam Wei Heng pulang tidak larut malam lagi, tidak seperti biasanya. Begitu pulang dia langsung masuk kamar. Mukanya itu, lho, masam, seperti mau marah saja."


"Tumben sekali?" kata Wei Chung heran mendengar kabar kalau anak sulungnya itu pulang tak larut malam seperti biasanya.


Sudah menjadi kebiasaan Wei Heng setiap malam pergi bersenang-senang dengan teman-teman sebayanya maupun anggota perkumpulan Hei Laohu. Kebiasaannya selalu pulang ke rumah setelah lewat jam malam dengan keadaan mabuk. Bahkan pernah sekali waktu dia tertidur di teras runah, karena saking mabuknya.


"Herannya, dia berjalan seperti terpincang. Dan kalau diperhatikan malah seperti mengangkang," jelas istrinya sambil mengingat kejadian saat Wei Heng pulang semalam.


"Eh. Benarkah begitu?" Wei Chung heran.


Ada apa dengan putranya itu? Pulang dengan berjalan mengangkang. Sepertinya telah terjadi sesuatu kepadanya. Ingin dia menanyai Wei Heng saat ini juga, barangkali dia terlibat masalah.


Tapi demi melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan hampir jam setengah sepuluh, maka dia mengurungkan niatnya itu. Dia harus datang menghadiri acara launching dealer mobil sebelum jam sepuluh pagi ini.


Maka dia berjalan menuju ke mobilnya yang mesinnya sudah dia nyalakan sejak tadi dan membuka pintu.

__ADS_1


"Kamu bangunkan dia, Istri ku. Coba tanyakan pada dia, apakah dia tidak kenapa-kenapa. Nanti tolong kabari aku kalau kalian sudah selesai berbicara," kata Wei Chung sebelum akhirnya duduk di belakang kemudi mobil.


"Baiklah, Suami ku," jawab istrinya di luar pintu mobil.


"Kalau begitu aku berangkat dulu. Sampai nanti," katanya dan mulai menjalankan mobil.


Wanita itu melambaikan tangannya dan melihat mobil Wei Chung menghilang dari gerbang rumah, barulah dia melangkah masuk kembali ke dalam rumah.


Di halaman rumah inilah kemarin terjadi penganiayaan terhadap Ou Julong serta pertarungan orang banyak menghadapi Guan Zheng seorang. Biasanya kaki tangan Wei Chung berkumpul disini setelah jam makan siang sampai menjelang malam. Kalau jam segini biasanya mereka yang bebas dari jam shift kerja, masih tertidur di kediaman masing-masing.


Dan biasanya pintu gerbang depan memang selalu terbuka, kecuali pada waktu malam hari. Masih sepagi begini tak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh, siapa yang berani macam-macam di rumah pemimpin Perkumpulan Hei Laohu yang baru?


Cia Yonggan sedang berjalan menuju ke gerbang rumah itu saat sebuah mobil putih terlihat keluar dan menghidupkan lampu sen kanan. Kebetulan lalu lintas pengendara tidak sedang padat di akhir pekan ini, sehingga mobil yang dikendarai Wei Chung itu dapat langsung berbelok ke arah kanan dan berjalan menjauhi posisi Cia Yonggan saat ini.


Cia Yonggan mana tahu bahwa orang yang mengendarai mobil itu adalah Wei Chung. Dengan perlahan dia menengok ke arah dalam gerbang. Begitu dilihat tiada satu orang pun di halaman rumah, dia melangkah cepat memasuki pekarangan itu, seperti takut dilihat orang.


Secara tak sengaja matanya menyapu ke tempat parkir mobil, dimana sedang berjejer setidaknya lima mobil kelas menengah. Salah satu mobil itu adalah kepunyaan Gao Mei Gui!


Tidak salah lagi, ke sinilah dia dibawa waktu itu. Orang-orang Hei Laohu mengeroyoknya di jalan dan membawa dirinya beserta mobil Gao Mei Gui kemari. Pantas saja mobil Gao Mei Gui tak berada di tempat parkir apartemen kediamannya, ternyata Wei Chung masih menyimpannya disini.


Biarlah untuk sementara. Dia masih memiliki urusan dengan pemilik rumah ini. Maka dia berjalan ke arah pintu depan dan ingin segera masuk ke dalam.


Namun sebelum dia masuk, tiba-tiba dari dalam terdengar suara pintu kamar dibuka dan ditutup kembali. Lalu seorang wanita paruh baya dengan bedak dan lipstik tebal keluar dari dalam kamar dan berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua.


Cia Yonggan buru-buru menyembunyikan diri di balik dinding di samping pintu masuk. Dia kesini bukan untuk mencari persoalan dengan seorang wanita paruh baya, tentu saja dia tak ingin kedatangannya dipergoki wanita itu yang dia yakini adalah istri Wei Chung.


"Tok tok tok!! Heng Erzi, ini sudah hampir jam setengah sepuluh, mengapa tak juga bangun?" terdengar suara wanita itu meninggi menggedor pintu kamar Wei Heng.


Cia Yonggan buru-buru menutup kembali pintu kamar itu dan mengendap-endap bersembunyi di bawah undakan anak tangga. Dia ingin mendengar dari sini saja. Toh, dengan jarak yang tak cukup jauh antara dirinya dengan sumber suara itu, pastilah dia dapat mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Heng Erzi, kamu dengar tidak? Tok tok tok!!" kembali wanita itu memanggil dengan suara tinggi sambil menggedor pintu kamar Wei Heng.


"Ibu, jangan ganggu aku! Aku sedang tak ingin diganggu saat ini," terdengar suara Wei Heng menyahut.


"Heng Erzi, kalau kamu tidak membuka pintu ini, ibu akan menelepon ayah mu untuk menyuruh orang kemari untuk mendobrak pintu ini, bagaimana?" terdengar suara wanita itu mengancam akan mendobrak paksa pintu kamar anaknya.


"Iya, iya, iya," terdengar suara Wei Heng malas-malasan dan membuka pintu kamarnya.


Tadi Cia Yonggan sempat kecewa begitu mendapati Wei Chung sedang tidak ada di rumah saat ini. Namun ketika dia mendengar suara Wei Heng yang malas-malasan begitu, dia menjadi bersemangat kembali. Sebuah ide lantas menyeruak begitu saja di benaknya.


Dia kembali berlari dan membuka pintu kamar Wei Chung, masuk ke dalam. Kamar ini cukup besar dan terawat serta tertata rapi. Namun dia tak punya banyak waktu mengamati lebih rinci lagi, langsung saja dia berlari ke depan cermin besar yang ada di dalam kamar itu. Sepertinya itu adalah cermin bersolek istri Wei Chung. Dia sudah tahu apa yang akan dia ambil disana yaitu bedak pupur dan maskara. Kedua benda itu yang saat ini diperlukannya.


"Ada apa dengan mu ini? Jam segini masih tidak keluar kamar. Apakah kamu akan berada di dalam kamar seharian? Dengar ya, lihat itu ayah mu, tak peduli usianya sudah mulai beranjak tua, tapi dia pagi-pagi sudah rajin keluar rumah, beraktifitas. Entah siapa yang kamu tiru ini," terdengar suara wanita itu berceloteh memarahi anaknya.

__ADS_1


Tapi orang yang dituju hanya diam saja, seperti tak memiliki gairah untuk berbicara sama sekali.


"Heh, kamu kalau orang tua bertanya tolong dijawab, jangan menjadi anak durhaka. Tidak sopan sekali!" masih saja terdengar wanita itu marah-marah.


Cia Yonggan sambil mendengarkan mereka itu, dia terus-menerus membuka setiap pintu kamar yang ada di lantai dasar ini. Berharap dia dapat menemukan Gao Mei Gui, kalau seandainya gadis itu memang disekap oleh Wei Chung.


"Ada apa dengan mu? Mengapa kamu tidur lagi? Bangun! Lihat ibu, sini!" sepertinya dia berusaha menarik anaknya itu dari pembaringan untuk mencegahnya tidur kembali.


Begitu pintu terakhir dibuka Cia Yonggan, pintu yang berada di paling belakang rumah ini, terpampang sebuah pemandangan tak asing baginya. Inilah ruangan seluas lapangan basket yang dijadikan tempat menggantung tubuhnya waktu itu. Di sini dia dan Mo Kat bertarung kala itu. Dengan pantulan sinar matahari yang masuk dari bawah atap ruangan itu sekarang jelas terlihat berjejer beraneka ragam senjata disana. Juga ada gawang kecil yang diletakkan pada dua sudut berbeda ruangan. Sepertinya ruangan ini dijadikan multi fungsi oleh Wei Chung, tempat berlatih bela diri dan lapangan futsal.


Dia menutup kembali pintu itu dan suara wanita di lantai atas masih tak berhenti menceramahi Wei Heng. Sekarang Cia Yonggan menaiki undakan anak tangga menuju ke lantai dua untuk kembali memeriksa kamar-kamar yang ada disitu.


"Katakan pada Ibu, apa masalah mu?" kali ini terdengar wanita itu sedikit melunak.


"Ibu, tadi aku bilang tak ingin diganggu, apakah kamu tidak mengerti?" suara Wei Heng terdengar putus asa.


"Ibu mengerti, Anak ku, makanya ibu datang kesini," timpal wanita itu.


"Tidak, ibu takkan mengerti. Ini.. Ini.. Ini mengenai laki-laki, Ibu, aku malu harus mengatakan pada mu," ujar Wei Heng.


Lama wanita itu terdiam, kemudian dia mengalah. "Baiklah, kalau begitu kamu berbicara dengan ayah mu saja, ya. Nanti setelah dia pulang, kalian berdua bicara sesama lelaki."


"Iya, Ibu," jawab Wei Heng.


"Kalau begitu Ibu berangkat ke salon dulu. Kamu jangan lupa makan, mengerti?" dia mengingatkan anaknya.


"Aku mengerti, Ibu," kata Wei Heng mengiyakan.


Lalu wanita itu menutup pintu kamar Wei Heng dari luar dan berjalan ke lantai bawah. Sebentar masuk ke kamarnya, kemudian keluar pintu depan dan menutupnya dari luar. Dia berjalan melenggak lenggok dengan menjinjing sebuah tas tangan mewah. Tak lama kemudian, suara mobilnya terdengar meninggalkan gerbang utama rumah itu.


Tinggallah Wei Heng seorang di rumah itu dan tentu saja Cia Yonggan yang tak diduga oleh siapapun juga, berada di salah satu kamar lantai dua. Dia sedang memoles dirinya dengan bedak pupur yang tadi dia ambil dari kamar orang tua Wei Heng.


Cia Yonggan sudah memasuki seluruh kamar di rumah ini namun sepertinya Gao Mei Gui tak berada disini. Dua kamar paling pojok yang dia masuki terakhir, merupakan kamar anak-anak perempuan Wei Chung. Tentu saja itu kamar perempuan, karena banyak boneka serta dekorasi ala perempuan-perempuan muda dimasa kini, seperti poster bintang K-Pop dan dinding yang serba beraneka hiasan berwarna pink tertata rapi.


Dia telah selesai memoles dirinya dengan sedemikian rupa. Kini wajah Cia Yonggan keseluruhannya berwarna putih, sementara pada bagian kelopak matanya berwarna hitam pekat karena polesan maskara. Siapa saja yang melihat dia pasti mengira Cia Yonggan adalah hantu yang sedang gentayangan!


Dengan pelan dia membuka pintu kamar We Heng yang tadi hanya ditutup dari luar oleh ibunya. Wei Heng terlihat sedang meringkuk kesakitan di sudut ranjang. Kedua tangannya tak henti-hentinya memegangi area selangkangannya. Sepertinya pemuda itu masih merasakan kesakitan akibat semalam mendapatkan siksaan dari Mo Kat.


"Krieeeeek.." bunyi pintu terbuka nyaring di telinga Wei Heng.


Bukankah ibunya telah pergi? Barusan suara mobilnya terdengar meninggalkan rumah ini. Lalu siapa yang membuka pintu?


Dia langsung menoleh ke arah pintu. Dan alangkah kagetnya dia, melihat sosok bermuka putih itu, berdiri dengan melotot ke arahnya. Apalagi bulatan pada mata itu,, membuat sepasang mata yang menatapnya itu terlihat semakin menakutkan. Saking kagetnya, dia sampai terlonjak dari tempat tidur.

__ADS_1


Dia menunjuk ke pintu itu dengan sangat ketakutan. Apalagi wajah hantu itu terlihat seperti orang yang dibencinya, Cia Yonggan.


"Han.. Han.. Hantu.. Hantu Cia Yonggan...!!."


__ADS_2