The Investor

The Investor
Bab 12 : Persekongkolan Jahat


__ADS_3

"Kamu jangan memikirkan itu dulu untuk saat ini, Paman Ou. Lihat situasi dalam beberapa waktu ke depan. Siapa yang akan percaya begitu saja kalau tiba-tiba aku datang menghadap perkumpulan mu dan menyatakan mendapat wasiat dari mendiang paman Gao? Tidak akan ada yang akan percaya pada ku," dia memberikan jawaban klise untuk menolak menjadi pemimpin Perkumpulan Hei Laohu.


"Mudah saja. Bukankah Kakak Gao juga meninggalkan wasiat lain, kamu harus menjaga putrinya. Itu berarti kamu harus menikahi keponakan ku, Cia Yonggan. Dengan begitu apakah masih ada yang keberatan?" kata Ou Julong terdengar masuk akal.


Tapi bagaimanapun Cia Yonggan menganggap perkataan Ou Julong itu melantur. Memang Gao Li Liang mengatakan untuk menjaga Gao Mei Gui, tapi baginya menjaga bukanlah berarti harus menikahi gadis itu. Di samping itu dia baru bertemu gadis itu semalam. Bagaimana mungkin keduanya bisa langsung menikah begitu? Bagaimana nanti jika seandainya mereka tidak cocok?


"Aku rasa untuk urusan yang satu itu tidak bisa dilakukan begitu saja, Paman Ou. Menikah itu bukan soal urusan satu orang saja, tapi urusan dua orang berbeda jenis yang memiliki kesamaan visi. Untuk yang ini, sebaiknya tanyakan juga kepada Nona Gao. Apalagi dia masih dalam masa berkabung, bagaimana mungkin dia akan setuju untuk menikah?" sanggah Cia Yonggan yang tak dapat lagi diprotes oleh Ou Julong.


"Baiklah kalau begitu," kata Ou Julong. Kemudian dia kembali mengeluarkan smartphonenya. "Cia Yonggan, sebaiknya kita saling bertukar kontak, nanti kita saling berkabar kalau ada perkembangan."


"Ya, tentu," Cia Yonggan juga mengeluarkan ponselnya yang kalah canggih dari kepunyaan Ou Julong kemudian menscan nomor Wechat Ou Julong dengan barcode.


Saat bersamaan, dari kejauhan seseorang melambaikan tangan ke arah Ou Julong, itulah bawahannya yang sudah datang menjemput dia.


"Cia Yonggan, aku pergi dulu, kamu segera temui Mei Gui di atas. Oh ya, kalian seharian belum makan, biar aku pesankan makanan dan mengirimkannya ke alamat Mei Gui," katanya yang lalu memesankan beberapa hidangan melalui smartphonenya.


"Terima kasih, Paman Ou," kata Cia Yonggan yang baru menyadari sejak kemarin dia belum makan apapun dan sekarang perutnya mulai bernyanyi minta diisi begitu mendengar akan ada hidangan.


Ou Julong menepuk pelan bahu pemuda itu. "Kamu terlalu sungkan. Oh ya, mobil mu sudah diamankan oleh anggota ku, dimana mobil itu harus diantarkan?"


Cia Yonggan juga baru sekarang ingat, dia belum melihat mobil tuanya itu sejak terjadi insiden tabrakan semalam.


"Paman Ou, bilang pada bawahan mu untuk mengantarkan saja ke basement King Palace Hotel, segera aku akan ke sana setelah ini," katanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu. Sampai jumpa lagi," pungkas Ou Julong.


Ou Julong lalu melangkah pergi ke arah mobil dimana bawahannya sudah menunggu.


Cia Yonggan memandangi mobil itu hilang dari kejauhan, barulah dia memasuki gedung apartemen itu untuk menemui Gao Mei Gui.


Dadanya berdegub kencang membayangkan akan berduaan saja dengan gadis itu di kamar apartemennya.


Setelah sampai di depan pintu kamar gadis itu, dia menekan tombol bel, tak lama pintu dibukakan oleh Gao Mei Gui.


Gao Mei Gui saat ini mengenakan jubah mandi dan rambutnya basah, dia baru saja selesai mandi dan belum sempat berpakaian.


"Masuklah," katanya mempersilahkan Cia Yonggan masuk.

__ADS_1


Cia Yonggan melihat Gao Mei Gui dalam balutan jubah mandi dan rambut basah terlihat segar dipandang. Dia meneguk ludah, kelelakiannya sedikit tergerak. Ini bukan kali pertama dia melihat seorang perempuan dalam balutan jubah mandi dan rambut basah, sebagai seorang pelayan room service di hotel kenamaan di kota ini, tentu saja dia sudah sering melihat pemandangan serupa dari para tamu wanita di hotel itu. Bahkan pernah beberapa kali tamu-tamu wanita di kamar hotel itu seperti memancing dia untuk bertindak kurang ajar. Tapi Cia Yonggan bukanlah tipe pemuda cabul yang mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu syahwat.


Namun keadaan dia sekarang ini berbeda, di tempat kerjanya, para tamu itu tak ada yang dia kenali, sementara Gao Mei Gui adalah gadis yang sudah dia kenal, dan memang kedatangannya kali ini atas permintaan gadis itu.


"Kamu mau berdiri sampai kapan disitu?" kata Gao Mei Gui lagi saat orang yang dipersilahkan masuk masih saja berdiri bengong di luar.


"Eh, iya, masuk ya masuk," Cia Yonggan berkata gugup.


Setelah dia masuk, Gao Mei Gui mengunci pintu dan mengajak Cia Yonggan memasuki ruang tamu.


Apartemen gadis ini cukup besar untuk ditinggali seorang gadis lajang. Ruang tamunya lumayan luas dan dari sini Cia Yonggan dapat melihat segala perabotan di sini tertata dengan rapi, menandakan gadis ini rajin membersihkan tempat tinggalnya.


Sebuah pigura berukuran besar tergantung di dinding. Dua orang merupakan ayah dan anak perempuannya berlatar belakang bukit salju sedang tersenyum ke arah kamera, seperti layaknya foto kedua orang itu sedang tersenyum ke arahnya. Itu adalah momen Gao Mei Gui dan mendiang ayahnya saat berlibur dulu.


"Kamu mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat dan handuk di kamar mandi," kata Gao Mei Gui tiba-tiba.


"Mandi? Tapi aku tak punya pakaian ganti," Cia Yonggan berusaha menolak secara halus.


"Apakah perlu baju ganti untuk mandi?" dia memandang sinis dan berlalu menuju ke kamarnya, meninggalkan Cia Yonggan sendiri disana.


Setelah mandi, Cia Yonggan kembali berpakaian dan terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Saat dia keluar dari kamar mandi, Gao Mei Gui melambaikan tangan dari arah dapur dan telah menyiapkan dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.


Gadis itu sudah berganti pakaian rumahan dengan baju kaos longgar dan celana pendek saja, memperlihatkan kaki jenjangnya. Wajah tanpa hiasan kosmetik itu terlihat lebih alami saat ini dengan bibir berwarna merah delima meski tanpa polesan lipstik sama sekali.


"Uh.. Aku lapar, tapi tak tahu akan memasak apa," kata Gao Mei Gui berjalan ke arah kulkas. Sambil membuka lemari pendingin, dia bertanya. "Katakan padaku, Yonggan, makanan apa yang kamu sukai?"


"Ummm... Kamu tak perlu repot memasak, tadi paman Ou sudah memesankan makanan untuk mu, mungkin sebentar lagi datang," jawab Cia Yonggan.


Baru saja dia mengucapkan itu, terdengar suara bel pintu berbunyi.


"Ah, itu pasti dia, biar aku ambilkan," katanya.


Cia Yonggan kembali dengan membawa berbagai macam hidangan yang takkan mungkin bisa mereka habiskan berdua. Gao Mei Gui berkerut kening melihat banyaknya makanan yang dipesankan oleh Ou Julong ini.


"Ayo makan," kata Cia Yonggan sambil tersenyum.


***

__ADS_1


Di sebuah rumah di sudut Kota Nanping, Wei Chung terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Di seberang meja, duduk putranya, Wei Heng.


"Tuan Lu, usaha bawahan mu tadi malam telah membuahkan hasil. Tua bangka Gao itu sudah dipanggil menghadap raja akhirat pada pagi ini," kata Wei Chung melaporkan situasi.


Orang di seberang telepon adalah Lu Meng, direktur perusahaan pengawalan Naga Laut di Taiwan. Dia terdengar gembira mendengar berita yang disampaikan oleh Wei Chung ini.


"Hahaha.. Bagus bagus. Aku memang sudah mendapatkan kabar dari Mo Kat pagi ini. Kalian berdua layak diganjar dengan penghargaan karena telah bekerjasama dengan baik," kata Lu Meng senang.


"Tuan Lu terlalu memuji," Wei Chung buru-buru menyangkal, meski di dalam hatinya, dia senang dengan pujian yang dilontarkan Lu Meng padanya.


"Kalian memang telah berjasa, tak perlu merendah," kata Lu Meng lagi. Kemudian nada bicaranya menjadi lebih serius, "Tuan Wei, apakah kamu sudah menentukan kapan akan melakukan aksi selanjutnya? Masih ada dua orang target yang harus dibereskan, aku harap Tuan Wei dapat menyusun rencana sesegera mungkin, aku akan memerintahkan Mo Kat kembali untuk membantu mu."


Wei Chung ragu sejenak sebelum dia menjawab. "Tuan Lu, mengenai Master Mo itu... Aku rasa sebaiknya jangan muncul disini dulu untuk sementara waktu."


Ternyata orang yang dia sebut sebagai Master Mo itu bernama Mo Kat, bawahan Lu Meng ini.


"Kenapa?" Lu Meng memburu dengan pertanyaan.


"Semalam seorang pemuda memergoki aksi Master Mo bersama bawahannya. Pemuda itu sempat bergebrak dengan Master Mo. Aku khawatir pemuda itu akan mengenali Master Mo kalau mereka bertemu lagi," kata Wei Chung menjelaskan.


Lu Meng terdiam sesaat sebelum kemudian berkata. "Apakah kamu tahu siapa pemuda itu? Apakah dia merupakan anggota Hei Laohu?"


"Tidak. Dia bukan bawahan kami. Dia hanya seorang pekerja rendahan di King Palace Hotel, tapi dia merupakan kenalan dekat Gao Li Liang dan terlihat akrab dengan putrinya," papar Wei Chung sambil melirik ke arah putranya yang memasang tampang masam.


"Gao Li Liang memiliki seorang putri? Apakah dia termasuk ancaman di masa depan?" Lu Meng bertanya dengan penuh selidik.


"Tidak. Dia orang tak pernah terlibat urusan ayahnya, kamu tenang saja, Tuan Lu. Yang aku khawatirkan justru pemuda yang dekat dengan dia itu. Dia pandai bertarung dan menurut ku kepandaiannya tidak berada di bawah Master Mo," ucap Wei Chung menjelaskan kekhawatirannya terhadap Cia Yonggan.


Lu Meng terdiam beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Kemudian dia berkata dengan tegas. "Tuan Wei, aku orang yang tidak suka meninggalkan bibit masalah di masa mendatang. Untuk itu kamu cari kesempatan untuk menyingkirkan pemuda itu dan kamu segerakan menyusun strategi terhadap kedua orang pemimpin Xiongmeng de Shizi dan Bao."


Mata Wei Chung berbinar mendapatkan instruksi dari Lu Meng, maka dia menjawab. "Baik Tuan Lu, saya akan mengabari kembali begitu ada perkembangan disini."


Namun kemudian wajahnya kembali berubah tidak senang ketika dia mendengar kalimat Lu Meng selanjutnya.


"Dan kamu harus mengirimkan putri Gao Li Liang itu untuk menemani ku setelah kamu berhasil memimpin Kota Nanping kelak!"

__ADS_1


__ADS_2