The Investor

The Investor
Bab 38


__ADS_3

Cia Yonggan yang baru saja ditubruk mustika naga belum sempat pulih dari keterkejutannya. Dia tak menyadari sang empu mustika sedang mendatanginya dengan kecepatan penuh dan bersiap melahap dia beserta Xiao Meilin hidup-hidup.


Ledakan energi supranatural yang begitu dahsyat tadi tak sanggup ditampung oleh tubuhnya yang hanyalah seorang manusia biasa. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, khususnya pada bagian perutnya, tempat dimana mustika naga tadi itu meledak.


Dia merasakan seperti sesuatu sedang bergerak liar di dalam perutnya. Agaknya mustika naga tadi itu terjebak di dalam perutnya dan tak dapat lagi keluar, sementara energi magnet saling tarik menarik antara benda itu dan sang naga makin terasa besar. Energi saling tarik itulah yang menyebabkan benda di dalam perutnya itu bergerak kesana kemari, menghasilkan rasa sakit yang tak terhingga bagi Cia Yonggan.


Sementara Xiao Meilin tak sempat lagi bertanya lebih banyak. Demi melihat kilatan cahaya petir di langit, dengan jelas dia dapat melihat makhluk itu sedang menuju ke arah mereka dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan dia tak sempat lagi menutup matanya saat bayangan makhluk itu bertubrukan dengan mereka.


"Wuuuuuuzzzz..!!"


"Blassssssss.."


Bayangan makhluk itu bertubrukan dengab Cia Yonggan, mengakibatkan dia dan Xiao Meilin terlempar beberapa meter ke belakang. Namun bayangan naga yang menubruknya tadi hilang lenyap begitu saja. Hanya selang beberapa detik setelahnya, cahaya maha terang yang tadi menyebar ke segala penjuru arah, kembali lagi kesini, berkumpul pada satu titik, yaitu di tubuh Cia Yonggan. Mengakibatkan pemuda itu pingsan seketika.


Sekarang antara naga dan mustika naga itu menyatu di dalam tubuh Cia Yonggan. Dirinya ingin melepaskan mustika itu, sebaliknya mustika itu tak bisa lepas darinya. Di sisi lain mustika itu juga tak bisa lepas dari sang naga, mengakibatkan ketiganya melebur menjadi satu. Naga beserta mustikanya saat ini sedang terkungkung di dalam tubuh Cia Yonggan. Mustika dan naga itu telah memilih dia sebagai wadah reinkarnasi. Naga telah terlahir kembali di tubuh Cia Yonggan, di tubuh seorang pemuda yang belum dicemari oleh nafsu syahwat dunia, karena sang naga hanya memilih pemuda perjaka untuk dia dilahirkan kembali. Dan itu hanya ada di dalam sosok Cia Yonggan!


Dengan menyatunya naga dan mustika itu di dalam tubuhnya, menghasilkan energi dahsyat di dalam tubuh Cia Yonggan, seperti ingin meledak dan menghancurkan segala apa yang ada di sekitarnya.


Tubuh Cia Yonggan dan Xiao Meilin saling tumpang tindih di tanah berlumpur itu. Tampak keduanya berlumuran lumpur, namun bedanya sekujur tubuh Cia Yonggan menjadi bercahaya terang seperti layaknya cahaya mustika naga yang tadi dipegangnya.


Xiao Meilin yang masih belum bisa terlepas dari tubuh Cia Yonggan itu berusaha bangkit duduk. Dia memandang takjub tubuh Cia Yonggan yang bercahaya terang. Sementara pemuda itu tampak tak sadarkan diri. Seluruh tempat ini menjadi terang benderang. Dan sumber cahaya itu adalah tubuh pemuda ini, pemuda yang secara tak sengaja pada pagi tadi dia selamatkan tengah mengapung di permukaan sungai!


Sekejap kemudian barulah dia tersadar kembali dari rasa takjubnya. Dia mengguncang tubuh Cia Yonggan dengan kedua tangannya.


"Yonggan, bangunlah!" "


Sepengetahuan Xiao Meilin, pristiwa tadi hanya berlangsung beberapa detik saja. Dia takkan mempercayai peristiwa barusan, jikalau dia tak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Naga yang tadi menubruk mereka dari angkasa, begitu bertubrukan dengan tubuh Cia Yonggan, tiba-tiba raib begitu saja, seolah-olah peristiwa barusan itu hanyalah ilusi semata.


"Yonggan!"


"Yonggan!"


"Bangun, Yonggan. Ku mohon, bangunlah...!"

__ADS_1


Berkali-kali dia mengguncang tubuh pemuda itu, namun tak ada tanda-tanda Cia Yonggan akan tersadar kembali.


Kemudian dia memeriksa denyut nadi Cia Yonggan.


"Dia masih hidup!" ada perasaan lega saat dia menyadari pemuda itu masih hidup.


Lalu dia kembali mengguncang tubuh Cia Yonggan


"Yonggan, ayo bangun. Kamu jangan menyiksa ku begini."


Dia sudah mulai tak tahan dengan air hujan yang terus menerus mengguyur tubuhnya. Ingin dia berlari kembali ke rumah itu, tapi dia tak bisa lepas dari tubuh pemuda ini yang sepertinya memiliki magnet saja terhadap dirinya.


Tak ingin menyerah begitu saja, dia menegakkan tubuhnya dan menarik tubuh pemuda itu. Seharian ini sudah dua kali dia menarik tubuh pemuda itu. Pertama adalah saat dia menyelamatkan Cia Yonggan di bawah jembatan Shuinan tadi pagi. Berbeda dengan kali yang pertama, dimana tubuh pemuda itu dia tarik dari permukaan air, terasa tak begitu berat. Namun kali kedua ini, dia menarik tubuh Cia Yonggan di daratan, tentu bobotnya menjadi lebih berat, apalagi tubuh pemuda itu dipenuhi lumpur basah begini.


Hanya beberapa langkah dia berhasil menarik tubuh Cia Yonggan. Dirasa tak cukup kuat lagi, sambil mengatur nafas dia terduduk di tanah dengan tangan yang masih tak bisa ia tarik meninggalkan tubuh pemuda itu.


Seandainya tadi dia tak memberikan perintah kepada kedua bawahannya untuk meninggalkan tempat ini, tentu tenaga kedua laki-laki itu dapat dia andalkan. Dan dia tak perlu berlama-lama diguyur hujan begini, mana angin kencang lagi.


"Ah, benar-benar sial," Xiao Meilin hanya dapat menggerutu dalam hati saja.


Kembali Xiao Meilin terduduk untuk mengatur nafas. Hanya beberapa langkah lagi, maka dia sudah dapat lolos dari guyuran hujan yang dingin ini. Dia mengusap wajah pemuda itu, menyingkirkan sisa-sisa lumpur pada wajahnya yang tak tersapu bersih oleh guyuran air hujan.


"Sedikit lagi, Yonggan. Ku harap kita bisa saling terlepas begitu kamu sadar kembali," katanya pelan.


Dia tak dapat membayangkan bagaimana jika selamanya dia tak dapat melepaskan diri dari daya tarikan tubuh Cia Yonggan terhadap dirinya. Apakah selamanya tubuhnya dan pemuda ini menyatu seperti ini? Kalau hal itu terjadi, maka tiada lagi rahasia di dirinya yang dapat dia sembunyikan dari pemuda ini. Memikirkan ini membuat dia malu.


Tengah sibuk dengan lamunannya sendiri, tiba-tiba kedua tangannya seperti ada yang mencengkeram. Itu adalah tangan Cia Yonggan. Cengkeraman pemuda itu begitu kuat pada pergelangan tangannya, membuat dia kesakitan.


"Yonggan, apa yang kamu..?" di berusaha melepaskan cengkeraman tangan pemuda itu.


Dan tiba-tiba kedua mata Cia terbuka! Mata itu juga bercahaya terang, menatap dia dengan garang.


"Akh.. Lepaskan!" Xiao Meilin menjerit kesakitan akibat cengkeraman itu.

__ADS_1


Cia Yonggan dalam ketidaksadarannya mengeluarkan energi dari dalam tubuhnya yang membuat sukma Xiao Meilin serasa terhisap keluar melewati pergelangan tangannya. Jika ini dibiarkan, maka Xiao Meilin dapat saja terbunuh oleh energi yang ada di dalam tubuh pemuda ini.


"Aduh... Sakiiiiit..." tak ada yang dapat dilakukan oleh Xiao Meilin selain berharap pemuda itu dapat tersadar mendengar keluhan kesakitannya.


"Amitohud. Sang naga telah terlahir kembali."


Tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di samping Xiao Meilin yang tengah kesakitan. Dia tak menyadari entah bagaimana cara orang itu bisa sampai kesini.


Dengan tergesa-gesa dia berjongkok di samping Xiao Meilin dan melakukan beberapa gerakan di depan tubuh pemuda itu. Dia menotok beberapa bagian di wajah Cia Yonggan, kemudian dadanya, terakhir pada bagian nadinya.


Aksi kilat orang itu terbukti ampuh melepaskan Xiao Meilin dari cengkeraman Cia Yonggan. Bahkan sekarang gadis itu telah sepenuhnya dapat melepaskan diri dari energi tarikan tubuh Cia Yonggan. Sementara pemuda itu kembali terlihat tak sadarkan diri.


Lalu orang itu menambahkan beberapa totokan pada bagian perut Cia Yonggan. Hanya berselang beberapa saat, tubuh Cia Yonggan yang bercaya super terang tadi menjadi kembali seperti sedia kala.


"Yang maha welas asih masih menyayangi kita semua. Amitohud," dia memejamkan mata dan mendekap sebelah tangan di depan dada sambil merapal mantra.


Xiao Meilin masih terlihat shock. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya, jika orang tua berpakai biksu ini tak muncul.


"Tuan... Biksu... Te.. Terima kasih," Xiao Meilin terbata-bata.


"Berterima kasihlah kepada yang maha agung yang telah mengatur ini semua. Semua tak ada yang kebetulan," kata orang itu yang ternyata adalah seorang biksu.


"I.. Iya.." Xiao Meilin tak tahu harus merespon bagaimana.


Ada yang aneh pada biksu ini, meski hujan lebat mengguyur di tempat ini, namun tak setetes pun air hujan yang singgah di tubuhnya. Bahkan jubah kuning yang dia pakai tak terlihat basah sedikit pun.


Setelah dia merapal beberapa mantra, biksu itu memalingkan muka ke arah Xiao Meilin dan berkata. "Nona Xiao, saya sudah tua, tenaga sudah tak kuat lagi. Dapatkah kamu membantu memapah dia?"


Xiao Meilin yang dimintai tolong tentu saja kaget. Dirinya tak mengerti bagaimana biksu ini mengenalinya.


"Ada pertanyaan sebaiknya tanyakan di dalam saja," imbuh biksu itu yang menyadari Xiao Meilin sedang menggigil kedinginan.


"Baik, Biksu," Xiao Meilin mengiyakan.

__ADS_1


Lalu bersama biksu itu, Xiao Meilin memapah tubuh Cia Yonggan masuk ke dalam rumah melewati pintu yang telah rusak akibat diterjang benda mustika barusan.


__ADS_2