
Gao Mei Gui tak bisa memejamkan matanya barang sekejap pun malam ini. Hati kekasih mana yang takkan gelisah saat orang yang dicintai hilang lenyap bagai ditelan bumi, tanpa kabar berita, bahkan nomornya pun tak bisa dihubungi. Dia terus berusaha meyakinkan di dalam hatinya bahwa orang yang dia cintai sedang baik-baik saja dan akan kembali pulang pada waktunya. Tapi sekuat apa pun dia meyakinkannya, tetap saja sisi hatinya yang lain berkata bahwa Cia Yonggan sedang dalam bahaya.
"Yonggan, kamu sudah sampai di Shangwa? Tadi aku mengalami suatu hal aneh, tiba-tiba gelas di tangan ku pecah begitu saja, kamu cepat pulang ya..."
Itu adalah pesan WeChat pertama yang dia kirimkan ke nomor Cia Yonggan pagi ini setelah nomor pemuda itu tidak aktif.
Bahkan sampai saat ini sudah ada puluhan pesan yang dia kirimkan menanyakan keadaan pemuda itu, seperti dia akan pulang jam berapa, mengapa handphonenya tak aktif, apakah sudah makan atau belum. Namun semua pesan itu masih centang satu yang menandakan pesan belum masuk ke nomor tujuan. Dia tak melakukan panggilan telepon lagi, karena dia sadar, selagi pesannya belum terkirim, maka nomor yang dia tuju masih tetap tak bisa dihubungi.
Namun dia tak pernah menyerah mengirimkan pesan kepada Cia Yonggan. Dalam anggapannya, suatu waktu semua pesannya tiba-tiba terkirim secara ajaib dan dapat dibaca Cia Yonggan apabila dia terus-menerus mengirimi pemuda itu dengan pesan chat.
Saat ini pun Gao Mei Gui sedang mengetikkan lagi sebuah pesan di ruang obrolan itu.
"Aku mulai cemas, aku tak bisa tidur tanpa bersandar pada bahu mu. Kamu cepatlah pulang," lalu dia menekan tombol kirim.
Ajaibnya, begitu dia menekan tombol kirim, semua pesan yang telah dia kirimkan termasuk pesan terakhir ini kesemuanya berubah dari centang satu menjadi centang dua meski statusnya masih belum dibaca si empunya.
Dia terbelalak, untuk sekejap di dalam hatinya muncul rasa syukur dan bahagia yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Tanpa menunggu pesannya dibaca orang, dia langsung saja menekan tombol panggil.
"Tuuut.. Tuuut.."
Panggilan itu tersambung, tapi masih belum diangkat.
Dia mencoba menghubungi lagi.
"Tuuut.. Tuuu.."
Orang di seberang mengangkat panggilannya
__ADS_1
Dia berdebar-debar.
"Ha.. Ha.. Halo Yonggan," saking senangnya dia menjadi gugup.
Tapi tiada jawaban dari seberang telepon. Sebaliknya dia hanya mendengar suara krasak krusuk tak jelas, disertai suara ******* dan nafas yang memburu. Itu adalah suara yang berasal dari seorang pria dan wanita, seperti kedua orang di seberang telepon itu habis berlari kencang.
Gao Mei Gui meski tergolong awam dalam percintaan, namun dengan kemajuan teknologi era modern seperti saat ini, segala sesuatu dapat diakses dengan mudah di internet, dia tentu sudah mengerti akan perhubungan sebadan antara pria dan wanita.
"Yonggan! Yonggan! Ha.. Ha.. Halo, Yonggan, kamu disitu?" dia mulai panik dan mukanya menjadi merah, pikirannya mulai berseliweran kemana-mana.
"Aaah.. Sayang.. Kamu benar-benar luar biasa, aku benar-benar puas," saat ini terdengar suara seorang wanita di ujung sana.
Gao Mei Gui menjadi marah mendengar ini, namun dia masih bisa menahan dirinya sambi terus mendengarkan.
"Hmm.. Hmm.." terdengar lagi suara laki-laki berguman tak jelas seperti mulutnya sedang tersumpal oleh sesuatu.
Kembali suara wanita di seberang berkata.
"Tut.. Tut.. Tut.."
Sambungan telepon tiba-tiba terputus.
Gao Mei Gui langsung menangis.
Dia tak menduga ternyata begini kelakuan Cia Yonggan, orang yang telah dia percayai untuk menjaga dirinya, menjaga hatinya, menjaga cintanya. Pantas saja pemuda itu dia tak mengajak dia ikut ke Shangwa pagi ini, ternyata itu hanya alasannya saja untuk bisa bermain-main dengan wanita lain dan meninggalkan dia sendiri di tempat sunyi ini.
Bahkan karena mencemaskan pemuda itu, dia belum makan sama sekali, satu-satunya yang dia lakukan adalah selalu melihat layar handphonenya, berharap pemuda itu tiba-tiba memberi kabar, tapi ternyata begini akhirnya.
Meski sambungan telepon tadi hanya terjadi beberapa detik, bahkan satu menit pun tak sampai, namun itu telah menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"Aaaaarrrghh..!! Hu.. Hu.. Hu.. Kenapa kamu begitu tega?" dia menangis berteriak-teriak seperti orang kesurupan di ranjang kayu itu.
Dia baru sekali ini menjalin hubungan percintaan, ternyata begini rasanya bercinta, sakit rupanya, tak seindah yang dibayangkannya kemarin. Siapa yang dapat menduga, orang yang selalu memperlakukan dia dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang bisa berselingkuh darinya? Dan siapa yang menduga orang yang terlihat alim seperti Cia Yonggan itu ternyata punya hubungan dengan perempuan lain.
Saat ini dia juga tersadar, tadi malam dia telah mengirimkan pemuda itu uang sebanyak seratus ribu yuan untuk membantunya memodali pembukaan usaha bertani kentang. Memang bukan atas permintaan Cia Yonggan, bahkan dia yang bersikeras memberikannya pada pemuda itu dengan dalih investasi, tapi tak seharusnya juga pemuda itu menipu uangnya untuk bermain-main dengan perempuan lain.
Ataukah menurut pandangan pemuda itu cinta hanya seharga seratus ribu yuan saja? Pemuda itu tega menipu hati seorang gadis yatim piatu seperti dia ini demi uang seratus ribu yuan?
"Ayah.." dia tiba-tiba menjadi teringat pada ayahnya.
Ayahnya selalu menyebut Cia Yonggan dengan sebutan menantu menjelang ajalnya dulu. Dia menjadi sebegini dekat dengan Cia Yonggan adalah karena wasiat yang ditinggalkan ayahnya. Dia sebegitu percaya bahwa ayahnya takkan pernah salah menilai pemuda itu sebelumnya, namun kini kepercayaannya itu menjadi luntur.
Apapun yang terjadi, dia tak seharusnya menyalahkan ayahnya yang telah mempercayakan dirinya kepada pemuda itu. Bisa saja pemuda itu juga menipu ayahnya dan dirinya sekaligus.
Memikirkan ini, semakin membuat dia menangis tersedu-sedu. Dia menangis sampai air matanya tak dapat lagi mengalir dan tertidur dengan sendirinya.
Sementara di salah satu kamar hotel di Kota Nanping, Wei Heng begitu memutuskan sambungan telepon Gao Mei Gui terkekeh penuh kemenangan. Dia kemudian membanting handphone milik Cia Yonggan itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Dia saat ini sedang ditemani seorang perempuan di atas ranjang, perempuan itu memakai make up tebal yang terlihat mulai luntur dari wajahnya.
"Hahaha.. Akting mu ternyata bagus juga, manis," katanya sambil mencubit gemas dagu perempuan itu.
"Hihihi.. Aku memang sejak kecil bercita-cita ingin menjadi artis, tapi sayangnya keinginan ku itu tak terwujud," perempuan itu menimpali dengan gaya centil yang dibuat-buat.
"Terima kasih, manis, mari kita rayakan keberhasilan malam ini, apakah kamu siap?" katanya lagi.
"Tentu saja aku siap. Hihihi.."
Hati Wei Heng sangat gembira saat ini. Dia sengaja menahan handphone Cia Yonggan demi untuk membuat Gao Mei Gui beranggapan bahwa Cia Yonggan adalah pemuda bajingan.
__ADS_1
Tadi dia sudah mendengarkan suara Gao Mei Gui di balik telepon. Dia juga mendengar ada nada gugup dan penasaran dari Gao Mei Gui. Memang itulah yang dia inginkan. Setelah Gao Mei Gui mengetahui bahwa Cia Yonggan adalah pria kurang ajar, dapat dipastikan gadis itu akan melupakan Cia Yonggan. Bahkan dengan ketidaktahuan gadis itu akan keadaan Cia Yonggan yang sebenarnya, pasti dia akan berpikiran bahwa Cia Yonggan telah mengkhianati dan melarikan diri darinya.
Dengan begitu, dia selanjutnya akan lebih mudah mendekati Gao Mei Gui. Dia tak akan menyimpan lagi perasaannya yang selama ini belum dia ungkapkan. Suka atau tidak, gadis itu harus bisa dia miliki.