The Investor

The Investor
Bab 11 : Wasiat itu Ternyata Didengar Ou Julong


__ADS_3

Saat ini Cia Yonggan sedang menyetir mobil Gao Mei Gui ke pelataran parkir apartemen tempat tinggal gadis itu. Dia bersama Ou Julong mengantarkan Gao Mei Gui pulang. Ou Julong yang duduk di depan bersamanya sedari tadi sudah tak sabar ingin bertanya, tapi Cia Yonggan masih tetap mengisyaratkan kepadanya untuk diam dulu, yang artinya dia tak ingin hal yang akan mereka bicarakan diketahui oleh Gao Mei Gui.


Sementara Gao Mei Gui juga ingin berbicara lebih banyak dengan Cia Yonggan, khususnya mengenai wasiat terakhir sebelum ayahnya meninggal dunia. Hanya mereka berdua yang mendengarkan wasiat ayahnya waktu itu, tentu saja dia tak ingin percakapan itu didengar oleh Ou Julong.


Ayahnya pernah meminta dua hal kepada Cia Yonggan. Pertama, mengambil alih kekuasaan bawah tanah, kedua, untuk menjaga dirinya. Itu artinya Cia Yonggan harus menyibukkan diri dengan urusan gerombolan yang pernah dipimpin ayahnya itu, sekaligus menjaga dia. Ditambah lagi ayahnya selalu menyebut Cia Yonggan sebagai menantu, tentu saja dia mengerti maksud ayahnya. Ayahnya ingin pemuda itu mengendalikan Perkumpulan Hei Laohu sekaligus menjadikan dia sebagai istrinya, namun dia terlalu malu untuk mengungkit masalah ini di hadapan orang lain.


Juga secara pribadi dia tak setuju apabila Cia Yonggan bertindak menggantikan ayahnya di perkumpulan bawah tanah. Dia baru saja kehilangan ayahnya yang dia cintai, dan dia tak ingin hal serupa juga terjadi pada Cia Yonggan. Bagaimana jika itu terjadi? Bukankah Cia Yonggan yang diberikan kepercayaan oleh ayahnya untuk menjaga dia, menjadi gagal?


Maka dia segera berkata kepada Ou Julong dari deretan kursi belakang. "Paman Ou, kamu setelah ini pulanglah, aku masih ada urusan yang harus dibicarakan dengan Cia Yonggan, terpaksa aku harus menahan dia untuk sementara waktu."


Ou Julong mendengar ini agak kaget, bukankah dia juga memiliki urusan dengan pemuda ini? Dan gadis itu dengan seenaknya saja hendak menguasai pemuda itu sendirian.


"Mei Gui, sebenarnya paman juga memiliki urusan mendesak dengan dia. Ini adalah urusan antara kaum lelaki, kamu takkan mengerti. Sebaiknya kamu istirahatlah dulu, ada apa-apa nanti bisa dibicarakan lagi," Ou Julong berusaha membantah.


Tapi Gao Mei Gui bersikeras tak mau melepaskan pemuda itu.


"Paman, jika kamu memiliki urusan antara sesama lelaki dengan dia, maka aku punya urusan antara seorang gadis dan seorang pemuda. Dimana-mana urusan kaum perempuan harus dinomorsatukan, Paman. Apakah kamu tidak pernah mendengar akan hal itu?" katanya memasang tampang sebal dan melipat tangan ke dada.


"Ini..." Ou Julong tak dapat lagi membantah.


Cia Yonggan juga bingung, dia juga ingin bicara dengan kedua orang ini, namun tentunya harus memisahkan satu di antaranya, karena memang urusannya berbeda.


Dia lantas memberikan usul untuk mendahulukan urusan Ou Julong.


"Nona Gao, kami berbicara dulu, nanti kita juga bisa membicarakan urusan kita setelah itu. Bagaimana?" dia sambil melirik gadis itu melalui kaca spion dalam mobil.


"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan saja urusan mu, setelah ini kita tidak punya urusan," Gao Mei Gui makin sebal, membuang muka ke samping.


Kedua orang pria ini, mengapa tak mau mengalah kepada gadis malang seperti dia?


"Bagaimana kalau kamu beritahukan nomor kamar mu, nanti aku akan menyusul. Bukankah Paman Ou juga punya banyak urusan setelah ini?" kata Cia Yonggan yang tak ditanggapi oleh gadis itu.


Setelah mobil itu berhenti, Gao Mei Gui dengan cepat membuka pintu mobil, lalu pamit kepada Ou Julong.


"Paman, aku naik dulu. Sampai jumpa lagi," tanpa menoleh kepada Cia Yonggan dia pergi begitu saja.

__ADS_1


Namun beberapa langkah kemudian dia membalikkan badan dan berseru. "Lantai 10 blok C nomor 32!"


Wajahnya memerah setelah memberitahukan nomor kamarnya kepada Cia Yonggan, namun ada sedikit senyum di wajahnya saat dia kembali berjalan memasuki gedung apartemen itu. Ini kali pertama baginya menerima seorang tamu laki-laki.


"Cia Yonggan, aku tak pernah melihat keponakan ku itu bertingkah aneh seperti ini. Jangan-jangan dia sedang jatuh cinta kepada mu," kata Ou Julong tanpa blak-blakan.


Tentu saja Cia Yonggan terkejut dengan ucapan ngawur Ou Julong ini. "Paman Ou, apa yang kamu katakan ini? Bukankah kita memiliki urusan sendiri yang harus dibicarakan?"


"Cia Yonggan, dengar ya, dia sekarang tinggal sebatang kara. Ayahnya merantau kesini waktu masih muda, ibunya meninggal saat melahirkan dia. Ayahnya itu meski bajingan di luaran sana, tapi tak pernah berpikir untuk mencarikan ibu sambung baginya. Sekarang dia hidup seorang diri, aku orang tua ini takkan sanggup untuk menjaganya," Ou Julong menjelaskan sedikit latar belakang Gao Mei Gui. Setelah diam sesaat, dia kemudian menyambung. "Kamu tolong jangan mangkir dari wasiat kakak Gao."


Cia Yonggan makin kaget mendengar Ou Julong mengatakan tentang wasiat Gao Li Liang. "Paman Ou, apa maksud mu?"


Ou Julong menarik napas panjang kemudian berkata. "Aku telah mendengar semua apa yang dikatakan kakak Gao pagi ini sebelum dia meninggal dunia, sejak kalian berdua orang muda beranjak dari sofa itu, aku sudah terbangun. Ingat, aku ini seorang anggota perkumpulan bawah tanah, harus terus siaga, takkan ku biarkan musuh mengintai di saat aku sedang tertidur lelap. Maka kamu tak perlu lagi berpura-pura pada ku."


"Paman Ou, Bagaimana... Bagaimana menurut mu?" Cia Yonggan menjadi terbata-bata tak tahu entah dia minta restu atau bagaimana.


Dia awalnya berpikir takkan memberitahukan mengenai wasiat Gao Li Liang kepada orang lain, cukup hanya dia dan Gao Mei Gui yang mengetahui, namun ternyata Ou Julong sudah mendengar semuanya.


"Bagaimana? Tentu saja wasiat orang meninggal harus dipenuhi, kalau tidak rohnya akan bergentayangan menghantui mu setiap malam. Kamu harus mengambil tampuk pimpinan Perkumpulan Hei Laohu! Kamu memiliki kemampuan bela diri yang cukup bagus, ditambah lagi kamu masih muda. Pasti perkumpulan kami akan menjadi lebih berjaya di bawah kepemimpinan mu kelak," kata Ou Julong.


Cia Yonggan hanya bisa melongo mendengar Ou Julong bicara panjang lebar bahkan mengaitkan wasiat kepada roh bergentayangan. Pria ini sepertinya masih percaya akan takhayul.


"Paman Ou, kamu jangan terlalu gegabah. Salah melangkah takutnya nyawa mu lah yang jadi taruhan," Cia Yonggan berusaha mengingatkan.


"Apa maksud mu? Aku dapat menggerakkan dua ratus orang lebih apabila dia mencari gara-gara dengan ku," Ou Julong makin marah.


"Paman, dengar dulu penjelasan ku," Cia Yonggan kembali meyakinkan. Kemudian sambungnya. "Saat ini Perkumpulan Hei Laohu mu terpecah menjadi empat bagian, masing-masing dari kalian memiliki bawahan langsung. Bisa saja salah satu atau kedua bagian lainnya itu tak berpihak pada mu. Kalau kamu bertindak gegabah, takutnya belum mengungkapkan fakta, malah kamu yang jadi korban terlebih dahulu."


Ou Julong tercekat. Benar juga apa yang dikatakan pemuda ini. Tak tertutup kemungkinan Wei Chung akan berusaha mengambil alih posisi ketua, lalu merayu Po Yang dan Guan Zhen dan menyudutkan dia.


"Cia Yonggan, lalu menurut mu apa yang harus ku lakukan?" dia mulai agak melunak.


"Paman Ou, apakah Wei Chung mengetahui perihal kamu telah melihat rekaman CCTV?" Cia Yonggan balik bertanya.


"Tidak. Dia tidak tahu. Aku langsung pergi mencari Direktur Hao dan memintanya menunjukkan rekaman CCTV saat semua orang sibuk dengan urusan kakak Gao," jawab Ou Julong.

__ADS_1


"Bagus. Sebaiknya kamu jangan memberitahukan kepada siapapun kalau sudah melihat wajah kelima orang itu. Dengan begitu dia hanya akan berpikir akulah satu-satunya orang yang telah mengetahui wajah pengeroyok itu. Kamu ikuti saja permainan Wei Chung itu, dia maunya apa, akan segera terungkap. Ingat, sekali lagi jangan mengambil tindakan gegabah," kata Cia Yonggan memperingatkan.


"Tapi aku tidak bisa hanya diam begitu saja. Aku ini laki-laki, takkan ku biarkan orang lain menginjak-injak harga diri ku!" Ou Julong kembali merandek marah.


"Ini bukan persoalan ditindas atau tidak. Ini jauh lebih rumit daripada yang kamu pikirkan, Paman Ou. Di belakang Wei Chung ada kekuatan besar yang membantunya," ujar Cia Yonggan.


"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu?" Ou Julong bertanya penasaran.


Cia Yonggan sejenak melirik ke sekeliling, takut ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. "Ku beritahu kamu, tadi malam sebelum mobil kita bertabrakan, aku secara tak sengaja mendengar Wei Chung berbicara dengan seseorang bernama Master Mo di telepon. Aku tahu nama pengeroyok itu dari Wei Chung saat dia menelpon di parkiran dekat mobil ku. Dari nadanya, orang itu sangat disegani oleh Wei Chung. Dan dari pembicaraan mereka, Wei Chung berusaha meyakinkan orang itu bahwa usaha mereka malam itu membuahkan hasil."


"Apa??" Ou Julong kali ini benar-benar marah.


Kepalanya serasa mendidih! Mungkin kalau Wei Chung hadir disini saat ini, dia akan menebas putus leher orang itu.


Dia membuka pintu dan keluar dari mobil itu lalu menelpon seseorang. "Kamu jemput aku di Apartemen Youjia. Cepat!"


Setelah memberikan perintah kepada bawahannya, dia kemudian menyimpan smartphonenya kembali ke dalam kantong bajunya.


"Apa yang kau lakukan, paman Ou?" Cia Yonggan juga keluar dari pintu mobil sebelahnya lagi dan berjalan menghampiri Ou Julong.


"Tentu saja aku akan mencincang pengkhianat itu dan memberikan potongan dagingnya sebagai makanan ikan di sungai Jianxi. aku akan berdosa bila tak membalaskan dendam kakak Gao," balasnya dengan mata berapi-api.


Cia Yonggan menjadi serba salah menghadapi pria ini.


Dia hanya bisa berkeluh kesah. "Hhh.. Sudah ku katakan tadi, kamu saat ini sedang berada di posisi yang lemah, belum lagi kemungkinan apabila kalian terpecah, wilayah kekuasaan kalian akan diambil alih oleh Perkumpulan Xiongmeng de Shizi atau Perkumpulan Bao, tentu akan menguntungkan pihak lain. Tolong berpikirlah dengan jernih, Paman Ou."


Ou Julong terdiam. Sepertinya masuk akal apa yang diucapkan pemuda itu.


"Tak hanya itu, kamu juga perlu memikirkan keluarga mu. Bagaimana kalau lawan juga menargetkan keluarga mu karena membuat keributan? Ingat, keluarga mu pasti selalu berharap kamu setiap hari pulang dengan selamat dan berkumpul bersama. Dan satu lagi, kalau kamu ingin cepat mati, lalu siapa yang akan menghukum penjahat itu? Dan bagaimana kamu akan menghadap paman Gao di akhirat kelak?" Cia Yonggan sengaja menyerang sisi terdalam Ou Julong dengan memanfaatkan kepercayaannya terhadap takhayul.


Ucapan Cia Yonggan sontak membuat Ou Julong tersadar. Dia menundukkan wajahnya, mulai berguman sendiri.


"Kakak, aku berdosa padamu. Aku hampir gelap mata dan hampir membahayakan semua orang. Aku berdosa aku berdosa," katanya kemudian menampar wajahnya berkali-kali.


Cia Yonggan berusaha menghentikan pria itu, dia menangkap kedua tangan Ou Julong. "Sudahlah paman Ou. Kamu ikuti saja apa yang ku katakan, ini demi kebaikan mu, keluargamu, Nona Gao juga."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan wasiat Kakak Gao? Apakah kamu bersedia menggantikan posisinya?" dia tiba-tiba menanyakan ini.


"Sial." Cia Yonggan hanya bisa mengumpat di dalam hati.


__ADS_2