The Investor

The Investor
Bab 20 : Tenggelamkan Dia ke Dalam Sungai


__ADS_3

Malam itu juga tubuh Cia Yonggan digotong ke dalam mobil oleh dua orang anggota Hei Laohu, masing-masing dari mereka mengangkat tubuh bagian kaki dan tangannya. Nadinya berdenyut halus, jantungnya berdetak sangat pelan dan nafasnya pun sangat pendek.


"A Long, apakah menurut mu orang ini masih hidup atau sudah mati?" orang yang menggotong kaki Cia Yonggan bertanya pada temannya.


"Sepertinya dia masih hidup, aku bisa merasakan sedikit denyut nadinya di sini," jawab orang yang dipanggil A Long itu.


Mereka terus menggotong tubuh itu menuju mobil pick up yang telah menunggu di depan rumah. Begitu sampai di belakang mobil, mereka melempar tubuh Cia Yonggan ke dalam bak mobil itu, layaknya melemparkan karung semen saja. Lalu A Long bergegas kembali ke dalam rumah Wei Chung.


"Ketua, semua sudah siap," katanya memberikan laporan.


Wei Chung yang sedang berdialog dengan Mo Kat di ruang tamu rumah itu hanya sedikit mengangguk. Lalu dia melirik ke arah putranya, Wei Heng yang duduk di sebelahnya.


"Kamu bereskan dia," katanya memberikan perintah.


"Baik, Ayah. Aku akan menjalankan sesuai rencana," Wei Heng menjawab dengan menunduk sambil bersiap-siap bangkit dari tempat duduknya.


Dia takut mengangkat wajahnya, sebab apabila dia melakukannya, maka dia langsung dapat berhadapan dengan wajah Mo Kat yang duduk di seberang meja. Orang itu sedari tadi tak pernah berhenti mengejeknya, entah apa yang dia inginkan darinya.


"Tunggu dulu," kata Mo Kat tiba-tiba menahan Wei Heng berdiri. Lalu dia menoleh kepada Wei Chung dan bertanya. "Tuan Wei, apa yang akan kamu lakukan pada pemuda itu?"


"Master Mo, Tuan Lu telah mengeluarkan perintah untuk melenyapkan dia, maka itulah yang akan ku lakukan," Wei Chung menjawab.


"Kalau itu sudah perintah Tuan Lu lalu bagaimana lagi," dia bergumam sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dia kembali bertanya "Dengan cara bagaimana kamu akan melenyapkan dia?"


"Anak buah ku akan menenggelamkan dia di Jembatan Shuinan malam ini juga, biar dia menjadi makanan ikan di Sungai Minjiang," Wei Chung menjelaskan.


Mo Kat sedikit tercekat mendengar ini. Menenggelamkan orang untuk dijadikan makan ikan bukanlah sekedar membuang mayat seseorang ke dalam sungai, metode ini yaitu menenggelamkan orang ke dalam sungai dengan disertai pemberat pada tubuh tersebut, seperti batu atau besi dan benda berat lainnya. Dapat dipastikan mayat tersebut benar-benar tenggelam dan tak pernah muncul ke permukaan air, sehingga jasadnya jadi makanan ikan di bawah permukaan air.

__ADS_1


Terdapat kelebihan dari metode ini, seperti jasad akan sangat sulit ditemukan oleh pihak kepolisian dan karena daging dari jasad tersebut sedikit demi sedikit habis dilalap ikan, menjadikannya tak mengeluarkan bau bangkai seperti yang biasa ditinggalkan oleh mayat. Dapat dipastikan orang yang menjadi korban metode pembunuhan seperti ini benar-benar hilang tak meninggalkan jejak.


"Ide mu ini cemerlang sekali, Tuan Wei, tidak tahu apakah ini memang sudah kebiasaan kalian orang-orang gerombolan bawah tanah di kota ini dalam melenyapkan musuh dengan menenggelamkannya ke sungai?" Mo Kat memuji.


"Hehehe... Master Mo terlalu memuji," Wei Chung terkekeh senang. Setelah itu dia menyambung. "Cara membunuh orang dengan menenggelamkannya ke sungai adalah cara lama yang sudah tak digunakan lagi di Nanping ini, sejak pemimpin bawah tanah terdahulu, namun aku akan mempertimbangkan apakah cara ini akan dihidupkan kembali setelah aku berhasil menjadi pemimpin di kota ini."


Mo Kat manggut-manggut, dia tak menduga orang seperti Wei Chung ini memiliki pemikiran kejam begini. Dia dapat membayangkan, di bawah permukaan Sungai Minjiang dan Sungai Jianxi ini ke depannya akan dipenuhi dengan kerangka manusia selama kepemimpinan Wei Chung di perkumpulan bawah tanah Nanping kelak.


"Lalu apakah kamu akan menyuruh putra mu untuk mengurus mayat dia itu?" Mo Kat bertanya lagi sambil melirik Wei Heng, terkesan meremehkan pemuda itu.


"Iya, benar Master Mo. Dia memang kurang becus melaksanakan tugas. Anak ini tahunya hanya bersenang-senang, tak tahu cara melakukan pekerjaan, tapi aku yakin dia takkan gagal kali ini hanya mengurus orang yang sudah hampir mati itu," kata Wei Chung dengan nada menyesal.


"Ehem. Begini, Tuan Wei. Jujur saja aku tak percaya putra mu ini akan mampu membereskan hal ini. Dia tak bisa membedakan yang mana urusan pribadi dan yang mana urusan organisasi. Dia terlalu benci pada pemuda itu karena cemburu buta, sehingga terkesan sembrono. Aku khawatir dia bukannya menyelesaikan, sebaliknya malah kembali mengacau," Mo Kat secara gamblang menyampaikan ketidakbecusan Wei Heng.


Wei Heng yang dituju tentu saja menjadi gusar melihat Mo Kat yang tak pernah berhenti meremehkan dia.


Maka dia berkata kepada ayahnya. "Kamu tenang saja, Ayah, aku pasti berhasil kali ini. Aku pasti..."


"Untuk memastikan perintah Tuan Lu berhasil, maka aku terpaksa turun tangan kali ini, takkan ku biarkan putra mu ini kembali mengacau," jawabnya sengaja menyebut nama atasannya, Lu Meng untuk membuat Wei Chung gentar.


"Baik. Baiklah kalau begitu, Master Mo, aku serahkan saja kepada mu, biar sekalian kamu bisa memberikan laporan kepada Tuan Lu," kata Wei Chung langsung setuju.


"Kalau begitu aku langsung berangkat. Sampai nanti," dia langsung berdiri dan berjalan keluar.


Setelah Mo Kat pergi, Wei Heng protes kepada ayahnya yang lebih mempercayai orang lain daripada dia anaknya sendiri.


"Ayah, mengapa kamu malah menyerahkan tugas ini kepada dia?" ucapnya tak puas.

__ADS_1


Wei Chung yang ditanya hanya menjawab singkat. "Kalau bukan kamu yang selalu membuat kekacauan, mana mungkin aku lebih mempercayai orang lain?" lalu dia berlalu meninggalkan Wei Heng sendirian.


Wei Heng yang mendapatkan perlakuan acuh dari ayahnya itu menjadi semakin marah. Mengapa orang-orang ini meremehkannya? Bukan Mo Kat yang tak pernah berhenti memandang rendah dia, sekarang ayahnya pun mulai meremehkannya. Yang paling tidak bisa diterimanya adalah Cia Yonggan yang dia benci itu juga memandang sebelah mata padanya, terbukti dua kali pemuda itu mempermalukan dia.


"Sial," umpatnya.


Dia lalu mengeluarkan sebuah handphone yang sedari tadi mati dari kantong celananya, itu adalah handphone milik Cia Yonggan yang disita oleh bawahan ayahnya. Dia ingin membalas perbuatan Cia Yonggan yang telah mempermalukan dia malam ini dengan barang kepunyaan Cia Yonggan sendiri, yang dia perlukan saat ini hanyalah seorang wanita untuk melengkapi pembalasannya. Tak peduli apapun, pokoknya Cia Yonggan harus membayar rasa sakit hatinya, bahkan tak peduli apakah pemuda itu masih hidup atau sudah mati.


Dia berjalan keluar dan menaiki mobilnya menuju ke tempat hiburan malam.


Sementara Mo Kat bersama dua orang bawahan Wei Chung baru saja sampai di taman di bawah Jembatan Shuinan. Jembatan ini adalah jembatan penghubung antara Distrik Ziyun yang menjadi wilayah kekuasaan Perkumpulan Hei Laohu dengan Distrik Sihe yang dikuasai oleh Perkumpulan Bao. Di bawah jembatan ini terdapat taman terbuka yang sering dijadikan orang-orang Nanping lari pagi.


Mo Kat memerintahkan dua bawahan itu untuk mengangkat tubuh Cia Yonggan ke pinggir sungai lalu dia mengikat kedua kaki pemuda itu menggunakan tali tambang, sementara pada sisi tali yang lain, dia mengikat lagi sebuah batu besar. Tubuh Cia Yonggan dan batu itu saat ini terhubung melalui tali tambang sepanjang lima meter.


Begitu selesai, dia perintahkan kembali kedua orang itu untuk membuang tubuh Cia Yonggan ke dalam sungai, sementara dia masih menahan batu besar di daratan.


"Byur..!!"


Tubuh Cia Yonggan sesaat tenggelam ke dalam air lalu mengambang ke permukaan, karena batu yang akan menjadi media sebagai pemberat tubuhnya masih ditahan oleh Mo Kat.


"Kalian tunggu aku di mobil," katanya kepada kedua orang itu.


Mereka sejenak saling pandang, lalu berjalan menuju ke mobil pick up yang digunakan mengangkut tubuh Cia Yonggan tadi.


Mo Kat termenung beberapa waktu, dia terus-menerus memandang tubuh Cia Yonggan yang sudah tak bergerak lagi. Lalu dia membuka ikatan tali pada batu penahan tubuh Cia Yonggan dan mengulur ikatan itu sepanjang lima meter lagi, kemudian mengikatkan kembali batu itu, setelahnya dia tanpa ragu menceburkan batu tersebut ke dalam sungai.


"Byur..!!"

__ADS_1


"Mati atau hidup, tergantung kepada peruntunganmu mu," dia berucap lirih.


Lalu Mo Kat meninggalkan tubuh Cia Yonggan yang ternyata tidak tenggelam, sebaliknya malah kembali mengambang ke permukaan air!


__ADS_2