The Investor

The Investor
Bab 33


__ADS_3

Wei Heng hanya mampu terdiam begitu melihat orang yang baru masuk itu. Matanya membelalak tak percaya. Ada rasa tak percaya bercampur ketakutan di wajah Wei Heng begitu menyadari siapa yang datang.


Sebaliknya Gao Mei Gui sangat senang akan kedatangan orang itu. Dia belum pernah melihat orang dengan muka dingin begini sebelumnya, namun dia yakin kedatangan orang ini dengan maksud menghalangi perbuatan Wei Heng. Kalau tidak, tak mungkin dia muncul tepat di saat genting seperti ini.


"Kakak, tolong aku.." Gao Mei Gui makin bersemangat meronta membebaskan tubuhnya dari dekapan Wei Heng.


Sambil berjalan masuk perlahan, pria itu tanpa ekspresi terus memelototi Wei Heng, namun orang yang di tatap hanya diam mematung di tempat semua, tak juga mau melepaskan mangsanya yang hampir saja dapat dia terkam


Melihat Wei Heng tak mengacuhkannya, pria itu mendengus kesal. "Aku bilang lepaskan, ya lepaskan."


Belum habis kalimatnya, kaki kanannya sudah menyepak ke arah ************ Wei Heng yang tak terlindungi karena kedua tangan pemuda itu masih berusaha membopongang Gao Mei Gui.


"Bugh..!!" dengan telak kaki pria itu mendarat keras tepat di ************ Wei Heng yang disusul oleh teriakan kesakitan pemuda cabul itu.


"Aaaaaarghhh.. Burung ku..!!" Wei Heng sontak melepaskan Gao Mei Gui dan buru-buru mendekap selangkangannya yang kesakitan.


Akibatnya Gao Mei Gui pun terjatuh ke lantai, buru-buru dia merangkak dari situ menuju ke sudut ruangan dan duduk meringkuk disanai. Dia merasa shok, apabila orang asing ini tak datang entah bagaimana dia menghadapi dunia di hari-hari berikutnya.


"Master Mo, apa-apaan kamu ini? Ini sakit sekali, tahu," Wei Heng berjingkrak kesakitan.


"Apakah itu tadi kurang?" dia bertanya mengeje.


Wei Heng yang ditanya tentu saja menjadi geregetan. Pertanyaan macam apa itu. Namun mau tak mau dia terpaksa menjawab, orang ini benar-benar tak dapat dia pandang sebelah mata. Bahkan ayahnya saja yang merupakan ketua perkumpulan bawah tanah di Nanping segan dengan Mo Kat.


"Sudah cukup, sudah cukup," katanya masih menahan rasa sakit.


"Kalau begitu lepaskan tangan mu dari situ, dan minta maaf pada Nona Gao sambil bersujud," kata Mo Kat sambil menunjuk ke arah Gao Mei Gui.


"Aku.. Aku.. Master Mo.." dia melepaskan dekapan tangannya dari selangkangannya dan menatap Mo Kat dengan waspada, lalu menoleh ke arah Gao Mei Gui.


Tapi dia merasa enggan untuk meminta maaf sambil bersujud kepada Gao Mei Gui. Bukankah gadis itu hampir saja dia miliki, mengapa dia harus meminta maaf padanya. Dia kembali menoleh Mo Kat, seakan-akan menyatakan keberatannya.


Melihat keraguan Wei Heng ini, Mo Kat lantas mengayunkan kakinya menyapu kedua pergelangan kaki Wei Heng. Aksi Mo Kat ini di luar dugaan, Weng Heng sama sekali tak menduga akan kembali mendapatkan serangan. Satu-satunya yang dia sadari tubuhnya serasa melayang, sedetik kemudian jatuh terjerembab, memaksa dia mendekap kapalanya yang baru saja berbenturan dengan lantai yang keras.


"Aduh..!! Tolong, Master Mo, kamu.." dia menatap Mo Kat dengan rasa tak percaya.

__ADS_1


Mo Kat begitu melihat Wei Heng terjerembab ke lantai lantas melompat ke udara dan mendarat tepat di ************ ************ Wei Heng. Nampaknya Mo Kat benar-benar geram akan kelakuan pemuda cabul itu dan memang berniat memberikan dia pelajaran yang tak akan dia lupakan sampai mati.


"Bugh.. Bugh.. Bugh..!!"


Berkali-kali dia melompat di atas ************ Wei Heng. Meski pemuda itu berusaha menghalangi dengan kedua tangannya, tetap tak dapat memblokir kaki Mo Kat yang menyasar testisnya.


"Aaaaaaarggghhh..!! Ampuni aku Master Mo, aku memang bersalah, maafkan aku..!!" Wei Chung memelas sambil berusaha menghindari serangan bertubi-tubi itu.


Namun Mo Kat seperti tak mendengarkan, dia terus saja mengincar ************ Wei Heng dengan kedua kakinya. Dapat dipastikan, setelah ini alat reproduksi Wei Heng tak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya.


Gao Mei Gui dari sudut sana hanya memandangi Wei Heng yang disiksa. Dia paham maksud tuan penolongnya ini, dengan ini, maka Wei Heng tak akan dapat lagi berbuat cabul di masa yang akan datang. Ini adalah buah yang layak dia tuai akibat perbuatannya sendiri.


Wei Heng hampir saja pingsan kalau Mo Kat tak menghentikan serangannya itu. Serangan Mo Kat ini benar-benar menyakitkan. Dia menangis, meraung di lantai sembari tangannya tak bisa lepas dari selangkangannya. Mo Kat benar-benar keterlaluan, apakah dia tak memandang ayahnya dengan sebelah mata pun, sampai-sampai tega menurunkan tangan keji kepadanya?


"Masih tak mau meminta maaf?" kembali Mo Kat berbicara dengan nada dingin.


Meski dia Wei Heng sedang kesakitan, namun dia harus melaksanakan perintahnya. Maka dengan merangkak dia menghampiri Gao Mei Gui dan bersujud di hadapan gadis itu.


"Mei Gui, maafkan aku, aku salah, maafkan aku, maafkan aku," katanya sambil membenturkan kepalanya ke lantai.


"Sudah cukup. Cepat pergi dari sini. Ku beri waktu satu menit, kalau tidak, kamu tanggung sendiri akibatnya," Mo Kat berbicara tenang tapi sulit untuk dibantah.


Mendengar itu, Wei Heng yang sadar diri buru-buru berlari keluar dan menaiki mobilnya lalu sesegera mungkin memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.


Setelah Wei Heng pergi, barulah Gao Mei Gui berdiri menatap punggung Mo Kat dan menyapanya. "Kakak."


Mo Kat yang masih menoleh ke arah luar memandangi kepergian mobil Wei Heng itu memutar tubuh dan mata mereka bertemu.


Ada perasaan ngeri begitu Gao Mei Gui melihat wajah dingin pria itu. Itu adalah wajah seseorang yang tak kenal belas kasihan. Sepertinya orang ini tak asing dengan urusan bunuh membunuh. Maka dia bersiap menghadapi kemungkinan besar yang lebih buruk lagi. Dia sama sekali tak mengenali pria itu. Entah apakah setelah dia lolos dari kandang harimau, dia malah akan masuk ke kandang singa. Namun demikian, dia berusaha untuk bersikap tenang.


Dengan membungkuk dia berkata kepada Mo Kat. "Kakak, terima kasih atas budi pertolongan mu..."


Namun belum habis kalimatnya, tiba-tiba Mo Kat bersujud kepada Gao Mei Gui. "Adik, aku minta maaf yang sedalam-dalamnya. Aku benar-benar banyak berdosa kepada mu. Aku telah banyak membuat mu menderita."


Melihat hal itu Gao Mei Gui terkejut setengah mati. Ada apa dengan orang ini, tiba-tiba bersujud meminta maaf kepadanya, padahal mereka belum pernah berjumpa sebelumnya, bagaimana orang asing itu mengaku telah berdosa kepadanya?

__ADS_1


"Kakak, aku tak mengerti apa yang kamu katakan. Berdirilah, aku menjadi tidak enak. Kamu telah menyelamatkan aku dari.." sambil berkata demikian Gao Mei Gui menggapai Mo Kat, memaksanya untuk berdiri.


Sebaliknya Mo Kat tak bergeming sama sekali. Bagaimanapun Gao Mei Gui berusaha menarik tubuh Mo Kat, tetap dia tak berhasil memaksa Mo Kat berdiri.


"Biar ku katakan kepada mu, Adik. Akulah orang yang telah menyebabkan ayah mu terbunuh pada waktu itu," Mo Kat berkata penuh sesal.


Mendengar itu Gao Mei Gui semakin terkejut. Jadi orang asing yang menyelamatkannya ini adalah pembunuh ayahnya. Orang yang telah membuat dia hidup menjadi sebatang kara.


"Apa?!"


Tak peduli apa lagi, sambil menangis histeris Gao Mei Gui lantas memukuli punggung Mo Kat yang masih bersujud dengan kedua tangan dan kakinya. Dia lampiaskan segala kekesalannya kepada Mo Kat. Bagaimanapun dia tak terima apa yang telah diperbuat orang ini. Hati siapa yang akan tenang melihat pembunuh ayahnya berada di depan mata?


"Bugh bugh bugh plak plak plak.."


Bertubi-tubi dia layangan tendangan dan tamparan ke tubuh Mo Kat, namun apa daya, sampai dia kehabisan tenaga sekalipun, Mo Kat tetap tak bergeming dari posisinya, tubuhnya keras seperti batu saja, sehingga malah mengakibatkan orang yang memukulinya yang menjadi kesakitan.


Sampai akhirnya Gao Mei Gui hanya mampu terduduk sambil menangis terisak-isak, tak tahu lagi apa yang akan dia lakukan kepada pembunuh ayahnya ini.


"Dan aku juga orang yang telah mencelakai Cia Yonggan," dia kembali mengakui perbuatannya.


Belum habis keterkejutannya, sekarang Mo Kat kembali membuat kejutan lain yang oleh Gao Mei Gui direspon dengan suara tangisan semakin menjadi-jadi.


"Yonggan...... Huhuhuhuhu..."


Orang ini benar-benar menakutkan. Aksinya menghukum Wei Heng tadi bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan yang diperbuatnya kepada kedua orang yang dia cintai, ayahnya dan kekasihnya.


"Adik, aku dengan setulus hati, dengan sadar meminta maaf atas apa yang telah ku perbuat. Aku memiliki urusan mendesak yang harus diselesaikan secepat mungkin. Setelah ini terserah kamu ingin menjatuhkan hukuman apa saja kepada ku, aku akan memenuhinya," Mo Kat menengadahkan kepala untuk melihat respon gadis itu.


Gao Mei Gui masih saja menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar. Air matanya terlihat telah membasahi wajahnya yang dia tutupi dengan kedua telapak tangannya, sampai meluber melewati telapak jari-jari tangannya yang lentik.


"Maka dengan sangat terpaksa, suka tak suka, aku harus membawa mu pergi dari sini," dia mulai berdiri.


Gao Mei Gui sontak membuka kedua telapak tangan dari wajahnya. Dengan mata sembab dia menatap Mo Kat.


Sambil mendelik marah dia bertanya. "Kemana kamu akan membawa ku?"

__ADS_1


"Yang pastinya bukan ke Kota Nanping, namun ke tempat yang jauh ke seberangan lautan. Percayalah, ini demi kebaikan mu sendiri," Mo Kat meraih kedua tangan Gao Mei Gui yang hanya bisa pasrah itu.


__ADS_2