
Mata Cia Yonggan tak dapat berpaling dari benda bulat itu yang seperti magnet saja, menarik dia untuk terus mendekat. Terus berjalan turun, Cia Yonggan akhirnya sampai ke depan meja yang terletak di ruang bawah tanah itu. Tanpa dapat ditahan, kedua tangannya meraih benda itu. .
Dia mengangkat benda itu dan mendekatkan ke wajahnya untuk memgamati lebih dekat. Kesan pertama yang dia lihat, permukaan benda itu terasa kaku dan kasar. Namun ketika dia memberikan penekanan dengan jari-jari tangannya terasa benda itu sedikit kenyal, agak menyerupai kekenyalan telur penyu ketika dipegang.
Benda itu mengeluarkan cahaya putih temaran yang dapat menerangi seluruh ruang bawah tanah ini, sementara permukaannya berwarna coklat kehitaman-hitaman. Ini tentu saja aneh.
"Mengapa bisa begini?" semakin penasaran Cia Yonggan.
Dia terus membolak balik benda itu. Sampai kemudian dia menyadari, ternyata permukaan berwarna gelap itu bukanlah permukaan asli benda ini, namun itu adalah kertas timah. Ya, benda itu dibalut dengan kertas timah.
"Aha, ternyata begitu," seru Cia Yonggan.
Dia berpikir, benda terang dibalut kertas timah begini, pasti punya cahaya yang lumayan terang, apabila kertas timah pembungkus itu dilepas.
"Siapa tau bisa dijadikan penerangan sampai aliran listrik kembali normal," katanya.
Berpikir begitu, segera dia membuka kertas timah itu. Lapis demi lapis. Setiap kali dia berhasil membuka satu lapis kertas timah, semakin cahaya yang dikeluarkan benda itu terasa lebih terang daripada sebelumnya. Setidaknya ada tujuh lapis kertas timah yang dijadikan sebagai pembungkus.
Dan begitu lapisan terakhir terbuka, maka selarik cahaya maha terang menusuk penglihatannya. Cahaya itu benar-benar terang, sehingga mata Cia Yonggan tak kuat untuk melihatnya, tanpa sadar dia melemparkan benda itu sembarangan. Tapi benda itu seperti pacet saja, terus melekat dan tak mau lepas dari tangannya.
Sementara Xiao Meilin yang berada di ruang makan dengan jelas dapat melihat cahaya super terang yang memancar keluar dari kamar yang dimasuki oleh Cia Yonggan tadi. Cahaya itu menembus ke luar melewati ventilasi udara.
"Apakah aliran listrik sudah normal lagi?" dia berkata sendiri.
Sekejap kemudian dia menyadari, mengapa cahaya itu hanya berasal dari satu ruangan itu saja? Kalau listrik sudah normal, tentunya ruangan tempat dia saat ini juga ikut terang. Selain itu cahaya yang keluar dari kamar itu terlalu terang, tak sebanding dengan cahaya bola lampu umumnya, bahkan cahaya yang dihasilkan oleh lampu sorot sekalipun.
"Yonggan," dia lantas memburu ke arah depan.
Di waktu bersamaan saat Cia Yonggan melepaskan kertas pembungkus itu, di dalam hutan kecil tak jauh dari lokasi pohon tumbang tersambar petir tadi, tampak seseorang yang tadinya duduk terpekur tiba-tiba membuka kedua matanya. Agaknya benda yang dipegang oleh Cia Yonggan saat ini mempunyai sinyal yang terhubung dengan dirinya. Hal itulah yang membuat dia terjaga dari semedinya.
"Inilah saatnya. Amitohud.." dia melantunkan doa sambil berdiri.
Sosok itu merupakan seorang tua dengan kepala gundul. Tubuhnya yang tak lagi muda itu terlihat sangat enerjik saat dia berdiri, menandakan tubuhnya masih bugar.
Lalu dengan tergesa-gesa dia melangkahkan kakinya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Benda terang yang dipegang Cia Yonggan itu ternyata juga membangunkan sesosok lainnya. Namun berbeda dengan orang tua tadi, mata sosok ini menyala terang bagaikan api saat tiba-tiba terbangun. Sosok itu bukanlah manusia dan tak diketahui entah tergolong hewan atau bukan.
"Grrrrrrrrhhhhh..." dengan menggeram marah, dia bangkit.
Kepalanya seperti kepala ular, dan sekujur tubuhnya bersisik, namun dapat berdiri dengan dua kaki, sementara pada bagian atas tubuhnya terlihat dua kaki lainnya. Di punggungnya terlihat empat sayap yang panjang. Makhluk itu merupakan makhluk yang hanya ada pada cerita dongeng Tiongkok. Itu adalah naga!
Sebentar dia menggeliat, kemudian berdiri. Saat makhluk itu berdiri, terdengar suara bergemerincing benturan benda logam. Dia menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan sayapnya berkali-kali yang mengakibatkan semakin riuhnya suara gemerincing.
Sang naga ternyata berada di dalam sebuah gua yang dipenuhi dengan berbagai rupa logam mulia dan batu mulia di sekelilingnya. Mulai dari koin emas, emas batangan, batu permata, zamrud sampai berlian ada di situ. Semuanya itu terdiri dari berbagai ukuran. Batu-batu mulia di sekelilingnya mengeluarkan cahaya berpendar yang membuat seluruh isi gua ini menjadi terang.
__ADS_1
Tinggi gua itu tak dapat menopang keseluruhan panjang sang naga. Setidaknya naga ini memiliki panjang dua puluh lima sampai tiga puluh meter dan berbobot paling tidak tiga atau empat ton.
Dengan kedua kaki belakangnya, dia berjalan membungkuk menuju pintu gua. Kemana dia bergerak, maka di situlah terdengar suara gemerincing. Pintu gua ini terletak di celah batu terjal, di bawahnya adalah jurang yang dalam. Tak diketahui entah butuh berapa lama bagi tetesan-tetesan air hujan yang tengah turun untuk bisa sampai ke dasar jurang itu.
Dia melompat keluar dari pintu gua dan mengepakkan sayap, kemudian terbang ke atas permukaan. Dari sini, di depan hutan yang ada di atas permukaan gua ini, dia melihat cahaya terang yang keluar dari rumah Cia Yonggan, ke situlah dia terbang.
Cia Yonggan saat ini dengan tetap memejamkan mata karena tak kuat melihat cahaya yang dikeluarkan benda itu, masih berkutat untuk membuang benda yang ada di tangannya ini. Benda itu terus melekat, tak peduli bagaimanapun Cia Yonggan mengeluarkan tenaga untuk melemparkan benda itu, tetap dia tak berhasil.
Sekejap kemudian, benda itu seperti ada yang menarik dari arah lain, tiba-tiba dengan sangat kuat benda itu menarik Cia Yonggan ke arah undakan batu. Kekuatan tarikan benda itu benar-benar tak dapat dia tahan, juga tak dapat melepaskan diri darinya. Maka mau tak mau Cia Yonggan terpaksa mengikuti tarikan benda itu yang mengakibatkan dirinya terjatuh tersandung salah satu anak tangga batu ini.
"Bugh..!!"
"Aaaaaaarrrrgghhhhh...!!" dia berteriak kesakitan akibat dadanya terbentur dengan kerasnya anak tangga batu itu.
Belum habis rasa sakit akibat cedera yang dideritanya, sekarang dadanya yang masih sakit itu terbentur dengan keras. Tak terkira sakit yang dia rasa saat tubuhnya terus diseret paksa di sepanjang undakan anak tangga itu. Sepertinya tulang rusuk Cia Yonggan yang patah akan semakin parah karena terus-menerus berbenturan dengan tangga batu.
"Dug dug dug dug dug dug dug...!!!!"
Namun begitu, benda di tangannya tersebut tak juga kunjung berhenti. Hanya beberapa detik, dirinya telah diseret paksa keluar dari ruangan bawah tanah. Seperti memiliki mata, benda itu terus menyeret tubuh Cia Yonggan yang tengah terbaring telungkup ke arah pintu kamar.
"Yonggan, apakah kamu baik-baik saja?" Xiao Meilin yang ingin menghampiri Cia Yonggan di kamar itu kaget saat mendengar teriakan kesakitan Cia Yonggan disusul suara bergedebuk belasan kali.
Dia hampir sampai ke pintu kamar saat tiba-tiba tubuh Cia Yonggan datang merayap seperti ular, dengan menelungkup di lantai, kepala menengadah, tubuhnya terus bergerak ke depan. Merayap seperti ular saja. Tangannya memegang sebuah benda yang sangat terang, membuat seluruh rumah ini menjadi terang benderang.
"Yonggan, kenapa dengan mu?" Xiao Meilin dengan reflek mengangkat kedua tangannya karena tak kuat dengan cahaya itu.
"Awwwww..."
"Bugh..!"
"Aaaarrrrrggg..!!" semakin Cia Yonggan berteriak kesakitan akibat tertimpa tubuh Xiao Meilin.
Dan tubuhnya yang terus bergerak di lantai itu semakin mendapatkan siksaan, karena bobot tubuh Xiao Meilin mengakibatkan tekanan gesekan antara dadanya dengan permukaan lantai semakin besar.
Xiao Meilin menggeliat ingin melepaskan diri dari atas tubuh pemuda ini. Dia berguling ke kanan, dan tangannya mencengkeram kedua kaki Cia Yonggan berharap dapat menghentikan laju pemuda itu. Namun usahanya tak membuahkan hasil, sebaliknya dirinya bersama Cia Yonggan sama-sama diseret paksa dengan posisi sama-sama menelungkup. Kedua muda-mudi itu seperti tidur berjejer memanjang saat ini, bedanya tubuh keduanya terus bergerak ke depan.
Benda terang itu terus menyeret mereka dan bergerak menuju ke pintu belakang bangunan ini. Sesaat sebelum benda itu menabrak pintu, Cia Yonggan membuka kedua matanya.
Secara ajaib, benda yang tadi punya kekuatan super, menarik paksa dirinya dan Xiao Meilin, tiba-tiba seperti kehilangan kekuatannya.
"Hhhh... Hhh... Hhh..." dengan tersengal Cia Yonggan memaksakan diri membiasakan matanya dengan cahaya terang yang ada di depannya itu.
"Cici, kamu baik-baik saja?" Cia Yonggan bertanya sambil menoleh ke bawah, ke arah kakinya.
Namun baru saja dia menoleh, benda itu kembali menarik mereka ke arah pintu.
__ADS_1
"Blang...!!!
Terdengar suara pintu dijebol.
Benda itu memecahkan pintu belakang dan kembali menyeret kedua orang itu ke arah belakang rumah, tepat di lokasi lahan pertanian yang baru selesai digarap Cia Yonggan beberapa waktu lalu.
Cia Yonggan kembali menatap benda bercahaya itu. Dan seperti tadi, kekuatan tarikan benda yang ada di tangannya itu memudar kembali. Dia akhirnya paham, dia harus terus menatap benda ini, kalau tidak maka benda itu akan menarik dia. Ternyata di situ rahasianya.
"Cici, aku tak bisa melepaskan benda ini dari tangan ku dan aku harus terus menatapnya, kalau tidak dia akan kembali menarik ku. Kamu lepaskan saja aku dan berdirilah dahulu, Cici" katanya kepada Xiao Meilin.
"Kalau memang bisa lepaskan mu, aku pasti sudah melakukannya, tapi tangan ku tak bisa lepas dari kaki mu ini. Iiiiiiiiiikhhh..." katanya sambil berusaha menarik tangan kirinya dari kaki Cia Yonggan, namun tak bisa lepas.
Kedua tubuh mereka seperti dua magnet kutub Utara dan kutub selatan, begitu keduanya bersentuhan, sulit terlepas lagi. Xiao Meilin dapat melepaskan tangan kanannya selagi tangan kirinya bersentuhan dengan tubuh pemuda itu. Sebaliknya apabila dia meletakkan tangan kanannya, dia dapat melepaskan tangan kirinya, namun tangan kanannya tak bisa lepas. Begitupun sebaliknya.
"Lihat, aku tak bisa lepas," kata Xiao Meilin lagi.
"Kalau begitu kamu cobalah berdiri, Cici. Aku tak bisa berdiri, dada ku sangat sakit. Aku ingin berdiri tapi tidak bisa.." dia ingin meminta gadis itu membantunya berdiri tapi dia terlalu malu menunjukkan kelemahan dirinya pada orang lain.
Xiao Meilin tentu saja paham. Dengan cekatan dia berjongkok. Setidaknya dia sudah memahami keadaan. Maka secara bergantian, dia menyentuh kaki Cia Yonggan dengan tangan kanan kemudian melepaskan tangan kirinya. Cara itu dia lakukan beberapa kali sampai akhirnya dia telah berjongkok di samping pemuda yang matanya tak bisa lepas dari benda terang yang ada di tangannya itu.
Secara perlahan dia menarik tubuh Cia Yonggan berdiri bersamanya. Hujan yang masih terus mengguyur membuat tanah becek, mereka berdiri dengan tubuh basah kuyup dan penuh lumpur. Angin makin terasa kencang dan petir semakin menggelegar saat kedua orang berhasil berdiri.
"Yonggan, hujan semakin deras. Sebaiknya kamu coba berjalan ke rumah, apakah bisa kita membawa kembali benda itu masuk?" Xiao Meilin berteriak, seperti berlomba dengan suara hujan deras dan angin kencang.
"Sepertinya bisa, Cici, asalkan aku terus menatapnya, maka akan bisa mengendalikannya," jawab Cia Yonggan dengan percaya diri.
Dengan sebelah tangan masih menempel pada punggung Cia Yonggan, Xiao Meilin mengedarkan pandangan ke sekeliling. Cahaya benda di tangan Cia Yonggan ini benar-benar luar biasa. Seluruh tempat ini menjadi terang benderang, bahkan benda ini dapat menerangi hutan yang ada di belakang sana. Entah apakah selanjutnya di belakang hutan itu juga dapat diterangi oleh cahaya ini.
Namun tiba-tiba matanya melihat sesosok bayangan besar seperti turun dari langit. Dengan mata merah dia memelototi cahaya yang ada di tangan Cia Yonggan. Sosok itu adalah naga yang tadi terbang menuju ke rumah ini.
"Grrrhhhh..." suara geramannya membuat Xiao Meilin bergidik.
"Yonggan..." Xiao Meilin menyembunyikan dirinya di belakang punggung Cia Yonggan yang lebar.
"Cici.. Suara apa itu?" Cia Yonggan bertanya gugup, karena dia tak dapat menatap ke lain arah selain pada benda yang ada di tangannya ini.
Dengan menggigil, entah karena kedinginan akibat diguyur hujan, ataukah karena melihat makhluk mitos itu.
"Yonggan.. Coba.. Coba.. Coba kamu.. Kamu berputar sedikit ke arah kanan.." dia terus bersembunyi di belakang punggung Cia Yonggan, tapi matanya sedikit mengintip, berharap apa yang dilihatnya ini tidak nyata adanya.
Cia Yonggan sedikit berputar ke kanan.
"Sudah..." bisik Xiao Meilin tak berhenti menggigil. Lalu dia menambahkan. "Lihat secara lurus.. Antara.. Antara benda itu dengan yang ada di depan mu."
Sekarang posisi Xiao Meilin, Cia Yonggan dan benda yang ada di tangannya tegak lurus dengan sosok yang terdengar seperti menggeram di telinga Cia Yonggan tadi. Dengan begini, maka karena cahaya terang itu Cia Yonggan dapat melihat makhluk itu dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Itu.. Itu.. Itu.. Apakah itu naga?" Cia Yonggan berteriak kaget.