
Sementara langit di sekitar Gunung Mangdang menjelang senja ini terlihat mendung. Sekumpulan awan hitam tampak membayangi kawasan Gunung Mangdang. Angin pun bertiup kencang membuat pepohonan di sekitarmya turut bergoyang. Kilat di langit turut menghiasi awas pekat itu. Sesekali terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga. Alam menunjukkan gejala sewaktu-waktu dapat saja mengamuk dan memporak-porandakan semua makhluk di sekitar situ.
Di kediaman Cia Yonggan saat ini Gao Mei Gui sambil mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri sembari menantikan kabar dari Ou Julong yang sejak pergi tadi hanya mengirimkan sebuah pesan saja di aplikasi WeChat.
"Paman telah menemukan mobil mu. Tunggu saja kabar selanjutnya, ya," itulah isi pesan Ou Julong kepadanya sekitar satu jam lalu.
Meski di luar terasa akan turun hujan disertai angin kencang, namun dia terlihat tenang. Yang menjadi kekhawatirannya hanya suara petir. Baginya suara petir terasa mengerikan di pendengarannya.
Sebentar lagi kwetiau yang sudah dia idam-idamkan sejak beberapa hari ini akan segera matang dan siap disantap. Pamannya Ou Julong yang membawakan dia bahan makanan pagi tadi untuk keperluan beberapa hari ke depan.
Dia sedang menyalin kwetiau yang telah matang ke dalam panci saat sayup-sayup ia mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah.
"Siapa yang datang?" pikirnya sambil tetap melanjutkan aktivitasnya membawa mangkok berisi kwetiau itu ke meja makan.
Tak lama terdengar suara laki-laki berteriak memanggil namanya dari depan sambil mengetuk pintu dengan keras, seolah-olah berlomba dengan suara angin kencang. "Tok.. Tok.. Tok..!! Mei Gui, buka pintu. Tok.. Tok.. Tok..!!"
Terkesiap Gao Mei Gui, pikirnya, siapa lagi kalau bukan Cia Yonggan yang datang. Pastilah pamannya Ou Julong berhasil menemukan pemuda itu dan memaksanya pulang. Dengan perasaan bahagia bercampur gemas, dia terburu-buru menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.
"Yonggan," setengah berlari dia menyusul ke depan.
Namun setelah pintu terbuka, dia malah kaget. Pasalnya orang ini bukanlah orang yang dia harapkan kedatangannya.
"Kamu.. Kamu.." dia berseru tak percaya dengan penglihatannya.
"Ya, ini aku, Mei Gui," orang itu ternyata adalah putra Wei Chung, Wei Heng adanya.
"Wei Heng, mengapa kamu bisa ada disini?" dengan wajah jutek gadis itu bertanya tanpa mempersilahkan Wei Heng masuk.
"Mei Gui, aku jauh-jauh dari Nanping kemari, mengapa tak dipersilahkan masuk terlebih dahulu?" Wei Heng berkata.
__ADS_1
Gao Mei Gui bukanlah gadis bodoh. Bagaimana Wei Heng bisa tahu tempat ini. Bahkan Ou Julong saja dia yang memberitahukannya. Selain Ou Julong dan Hao Zhao, tak ada orang lain yang mengetahui tempat ini. Tak mungkin kedua orang itu akan memberitahukan keberadaanmya kepada Wei Heng ini.
"Tidak, tidak. Kamu katakan dulu, mengapa kamu bisa tahu tempat ini?" Gao Mei Gui curiga dan bersikukuh tidak mempersilahkan pemuda itu masuk.
Dia sangat paham akan watak cabul Wei Heng. Kalau bukan ada apa-apanya, tak mungkin dia datang saat menjelang malam begini. Naluri wanitanya memaksa dia harus mengusir Wei Heng sesegera mungkin dari tempat ini.
"Aku kesini untuk menyampaikan pesan Cia Yonggan. Dia berpesan.." sengaja Wei Heng menggantung kalimatnya untuk memancing reaksi gadis itu.
"Yonggan?" sejenak gadis itu terpaku.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Wei Heng untuk mendorong pintu itu lebih lebar dan menyelusup masuk memaksa Gao Mei Gui mundur ke belakang.
"Benar, Cia Yonggan yang meminta ku kesini. Semalam kami bersenang-senang, apakah dia tidak memberitahukan kepada mu?" katanya meyakinkan. Kemudian dia melanjutkan. "Ah, ya, dia kehilangan handphone tadi malam. Hahaha..!! Dasar masih amatir, begitu bertemu perempuan langsung lupa segalanya."
"Apa.. Apa maksud mu?" Gao Mei Gui bertanya heran.
Dia mulai menghubungkan perkataan Wei Heng ini dengan suara-suara yang dia dengar semalam saat dia berhasil menghubungi nomor Cia Yonggan. Tapi bagaimanapun, nalurinya tetap saja menolak Cia Yonggan melakukan hal-hal cabul seperti itu. Dia harus mendengarkan secara langsung keterangan dari pemuda itu.
"Tidak.. Tidak.. Kamu pasti berbohong. Cia Yonggan tak mungkin seperti itu," Gao Mei Gui menggelengkan kepalanya tak percaya.
Dengan tersenyum jahat, Wei Heng melanjutkan. "Dan Tahukah kamu, Mei Gui? Dia benar-benar amatiran, saat sedang bersama perempuan lain, dia malah tak mematikan handphonenya, sebaliknya mengangkat telepon mu. Hahahaha..!!!"
"Cukup..!! Diam kamu..!! Aku tak percaya pada mu. Keluar dari sini," Gao Mei Gui marah, berjalan menuju pintu dan mengusir Wei Heng.
Sebaliknya Wei Heng menghalangi Gao Mei Gui dengan sebelah tangan memaksa gadis itu menghentikan langkahnya. Dengan sebelah tangannya yang lain, Wei Heng menutup pintu dengan keras.
"Blang..!!" terdengar suara pintu dibanting dengan keras.
"Wei Heng, kalau kamu tak mau keluar, biar aku yang pergi dari sini," Gao Mei Gui berusaha menyingkirkan tangan Wei Heng yang menghalanginya.
__ADS_1
Sebagai seorang gadis dia merasakan adanya gelagat buruk saat ini. Kedatangan Wei Heng kesini pasti memiliki maksud tidak baik kepadanya.
"Hehehehe.. Tak seorang pun dari kita yang akan pergi dari sini, Mei Gui," Wei Heng tak dapat lagi menyembunyikan wajah mesumnya.
Kesempatan tak datang dua kali. Saat ini gadis yang sudah dia cintai sejak lama itu sedang tak berdaya. Hanya ada mereka berdua saja disini, inilah kesempatan yang telah dia tunggu sejak lama. Gadis itu harus bisa dia miliki malam ini. Setelah itu, apapun yang akan dilakukan oleh Lu Meng, sang direktur perusahaan pengawalan Naga Laut, dia tak akan ambil pusing lagi. Toh dia juga takkan dapat melawan kehendak orang yang bahkan tak dapat ditentang oleh ayahnya itu.
Mendengar itu, Gao Mei Gui bergerak mundur. Dia sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Wei Heng terhadapnya.
"Wei Heng, kamu jangan mencoba macam-macam pada ku," Gao Mei Gui terlihat was-was.
"Mei Gui, terus terang saja. Seperti yang kamu tahu, aku sudah lama tergila-gila pada mu, tapi tak sekalipun kamu mengerti perasaan ku. Apakah aku begitu buruk di mata mu? Katakan pada ku, apa kekurangan ku, hah?" Wei Heng perlahan berjalan ke depan mendesak gadis itu untuk terus berjalan mundur hingga terpojok ke dinding.
Gao Mei Gui tak tahan lagi. Dia lantas menampar Wei Heng yang tak dapat dihindari oleh pemuda itu membuat Wei Heng sempoyongan ke belakang.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Gao Mei Gui. Dia tak seperti gadis kebanyakan, yang apabila menghadapi masalah begini akan lari ke dalam kamar, sebaliknya Gao Mei Gui berlari ke arah pintu depan. Pikirnya, di luar setidaknya dia dapat berlari ketimbang hanya bersembunyi di dalam kamar yang sewaktu-waktu dapat didobrak oleh pemuda cabul itu.
Namun baru beberapa langkah dia berlari, Wei Heng berhasil menangkap salah satu pergelangan tangan gadis itu dan menariknya sehingga Gao Mei Gui masuk ke dalam pelukannya. Dengan paksa dia menciumi wajah gadis yang terus memberontak itu.
Setelah beberapa kali dia berusaha untuk menciumi gadis itu, namun tak kunjung membuahkan hasil. Gao Mei Gui terus saja memberontak dengan segenap tenaha. Mau tak mau Wei Heng dongkol juga. Maka dia melepaskan pelukannya dan menampar Gao Mei Gui dengan keras.
"Plak..!!"
Gao Mei Gui sampai terjatuh terjengkang akibat tamparannya itu. Sedikit darah menghiasi bibir tipisnya yang kelihatan pucat pasi saat ini.
"Mei Gui, kamu terlalu memaksa ku untuk berbuat kasar!!" Wei Heng menghardik marah sembari menggapai Gao Mei Gui yang terbaring dan kembali dia menarik gadis itu kemudian dia membopong tubuh gadis itu.
"Terkutuk kamu, Wei Heng. Aku takkan pernah memaafkan mu, aku tak rela!" Gao Mei Gui yang telah berada dalam bopongannya itu terus meronta menggerakkan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya meloloskan diri dari dekapan Wei Heng.
Namun apalah daya, tenaganya tak mampu untuk melawan kekuatan pemuda yang sedang bernafsu seperti Wei Heng ini. Dengan perlahan Wei Heng berjalan ke arah pintu kamar. Dia sangat senang membayangkan malam ini akan menjadi malam yang terindah baginya setelah dia berhasil mendapatkan tubuh Gao Mei Gui.
__ADS_1
Tepat selangkah lagi dia akan sampai di pintu kamar itu, tiba-tiba pintu depan yang tak terkunci dibuka oleh seseorang dari luar, menyusul masuk seorang pria tinggi kurus. Sambil berjalan perlahan, pria itu memelototi Wei Heng dengan wajah dingin.
"Brengsek. Lepaskan dia," suaranya pelan namun tegas.