
Setelah kepergian Wei Heng, Cia Yonggan langsung membersihkan riasan di wajahnya. Dia mencuci wajahnya di kamar mandi. Saat dia menatap cermin yang ada di dalam kamar mandi itu, baru terpikirkan olehnya bagaimana tadi dia bisa melakukan gerakan sangat cepat menangkap pergelangan kaki Wei Heng kemudian mengangkatnya hanya dengan sebelah tangan tanpa merasa pegal?
Normalnya seseorang yang kuat sekalipun akan membutuhkan dua belah tangan untuk mengangkat tubuh Wei Heng dengan posisi terbalik begitu. Apalagi kaki dan tangan Wei Heng yang terus-menerus meronta ingin melepaskan diri, tentu membutuhkan tenaga lebih bagi seseorang untuk menahannya.
Dia mengangkat kedua tangannya ke depan wajahnya dan membentuk kepalan tinju. Sepertinya ada yang aneh dengan kekuatan kedua tangannya ini. Apakah ini merupakan keajaiban lainnya setelah meleburnya naga dan mustika naga itu ke dalam tubuhnya?
Tak ingin percaya begitu saja, dia mengayunkan tinjunya pada cermin yang ada di depan.
"Prang..!!"
Cermin itu pecah berkeping-keping. Pecahannya berserakan ke atas permukaan wastafel tempat dia mencuci muka tadi.
"Wooow..!!" dia berdecak kagum.
Bukan pecahan cermin itu yang membuat dia takjub, melainkan efek terhadap dirinya usai dia menghancurkan cermin itu. Tangannya sama sekali tidak merasakan kesakitan, meski pada buku-buku jarinya tertancap serpihan-serpihan kaca dan sedikit berdarah.
Akhirnya dia percaya. Kini dirinya memiliki kekuatan menakjubkan yang akan sulit dihadapi oleh orang lain, bahkan oleh Mo Kat yang jago bela diri sekalipun. Dia menjadi semakin bersemangat mengejar Mo Kat dan menghabisi orang itu.
Ya, Mo Kat, orang yang pernah mengalahkan dia dalam duel. Meski itu dikatakan duel, tapi merupakan duel yang bisa disebut tidak adil. Saat itu kedua belah tangannya masih kesakitan akibat dipukuli dengan senjata tumpul oleh para bawahan Wei Chung saat akan menangkapnya. Belum lagi dia seharian digantung, tentu menyebabkan persendian tangannya menjadi semakin kekurangan tenaga. Kini tibalah saatnya untuk menuntut pembalasan terhadap Mo Kat.
Bahkan sekarang pun ingin sekali rasanya dia menunggu kepulangan Wei Chung ke rumahnya ini, agar dia bisa menghukum pria itu. Tapi setelah mengetahui Gao Mei Gui akan dibawa orang ke Taiwan, dia lebih memilih mengabaikan urusannya dengan Wei Chung terlebih dahulu. Ada urusan yang jauh lebih penting lagi, yaitu menyusul Gao Mei Gui.
Tidak diketahui apakah Mo Kat telah berangkat membawa gadis itu ke Taiwan atau belum. Jika masih belum, kemungkinan besar saat ini Gao Mei Gui masih berada di ibukota Provinsi Fujian, Kota Fuzhou. Tapi kalau Mo Kat sudah terlebih dahulu menyeberangi Selat Taiwan, maka akan lebih menyulitkan dia menelusuri jejak Gao Mei Gui di Taiwan sana.
Perlu diketahui, Kota Nanping ini merupakan wilayah setingkat prefektur yang berada di bawah otoritas pemerintahan Provinsi Fujian. Dari sini ke Kota Fuzhou memerlukan waktu tempuh paling lama tiga jam apabila menggunakan mobil. Sementara kalau menggunakan speedboat melewati jalur Sungai Minjiang, bisa memakan waktu empat jam, karena banyak terdapat belokan-belokan sungai.
Untuk menuju ke Taiwan, selain bisa ditempuh dengan pesawat, jalur laut merupakan alternatif paling memungkinkan. Karena letak Kota Fuzhou sangat dekat dengan ibukota Taiwan, Taipei. Hanya perlu menyeberangi Selat Taiwan. Itu pun bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi laut pribadi seperti speedboat.
Juga hubungan antara negara Tiongkok dengan Taiwan terbilang rumit dan unik. Menurut Tiongkok, Taiwan adalah bagian dari wilayah provinsinya. Sebaliknya Taiwan mengklaim sebagai negara berdaulat yang merdeka dari Tiongkok. Tiongkok tidak memberlakukan kewajiban passport bagi warga Taiwan yang ingin datang ke Tiongkok dan menggantikannya dengan keterangan surat izin masuk warga Taiwan yang dikeluarkan oleh pemerintah Tiongkok. Pemerintah Taiwan juga memberlakukan hal yang sama terhadap warga Tiongkok yang ingin datang ke Taiwan.
Artinya Cia Yonggan tidak perlu mengurus passport terlebih dahulu, jika ingin menyusul Gao Mei Gui ke Taiwan. Dirinya hanya perlu mengurus kelengkapan berkas administrasi seperti kartu tanda pengenal diri.
Maka dia segera menggeledah kamar Wei Heng. Dia menemukan dompet beserta surat-surat penting dirinya bertebaran di dalam laci meja kamar itu beserta kunci mobil Gao Mei Gui. Namun dia tidak dapat menemukan ponsel miliknya di kamar ini.
Sebelumnya Wei Heng telah menyita dompet, kunci mobil serta ponsel Cia Yonggan. Dimana ponsel itu sendiri sudah dibanting sampai hancur oleh Wei Heng usai memperdengarkan suara-suara aneh kepada Gao Mei Gui lewat sambungan telepon agar gadis itu berpikiran bahwa Cia Yonggan sedang bermain gila dengan perempuan lain kemudian melupakan keinginannya untuk melanjutkan hubungan dengan Cia Yonggan.
Hampir seluruh isi ruangan, termasuk lemari dibongkar Cia Yonggan, tapi ponsel itu tak juga ditemukan. Hanya ponsel Wei Heng saja yang tertinggal di atas meja, karena Wei Heng tak sempat terpikirkan hal lain lagi saat lari terbirit-birit meninggalkan rumahnya. Tentu saja ponsel Wei Heng tak akan ada gunanya bagi Cia Yonggan, toh untuk mengaksesnya memerlukan sidik jari Wei Heng, bukan sidik jarinya. Maka dia mengabaikan ponsel Wei Heng itu.
__ADS_1
Di Tiongkok, satu ponsel dan nomor seluler berarti segalanya. Orang-orang tak lagi menggunakan uang cash, transaksi jual beli dilakukan secara non tunai. Semuanya dilakukan dengan hanya mengakses ponsel milik pribadi dan menscan barcode yang tersedia di setiap tempat perbelanjaan. Setiap transaksi akan secara otomatis memotong saldo di rekening bank pemilik ponsel. Aplikasi pembayaran Alipay dan aplikasi percakapan WeChat adalah dua developer kenamaan dalam urusan transaksi keuangan di Tiongkok.
Tanpa ponselnya, dapat dikatakan Cia Yonggan adalah orang paling miskin di Tiongkok saat ini. Entah bagaimana dia akan mengisi perut saat lapar nanti. Entah bagaimana dia akan mengisi bahan bakar jika seandainya mobil Gao Mei Gui yang dikendarainya itu kehabisan bahan bakar di perjalanan ke Kota Fuzhou.
"Aiya...." Cia Yonggan hanya dapat berkeluh kesah.
Meski begitu, Cia Yonggan tak ingin lagi membuang waktu. Semakin cepat dia pergi, semakin memperpendek jarak dia dengan Gao Mei Gui. Dia segera meninggalkan rumah Wei Chung dan memacu mobil Gao Mei Gui menuju ke Kota Fuzhou, tak peduli jarum indikator tangki bahan bakar mobil itu menunjukkan hanya seperempat tangki terisi bahan bakar.
Jalan penghubung antara Kota Nanping dan Kota Fuzhou terdapat banyak sekali terowongan yang membelah perbukitan. Kepiawaian negara Tiongkok dalam membangun infrastruktur tak dapat dipungkiri, bahkan dunia pun mengakuinya.
Sudah genap berumur dua puluh empat tahun, tak sekalipun Cia Yonggan pernah bepergian ke Kota Fuzhou. Kota Nanping adalah tempat terjauh yang dia kunjungi kalau dihitung dari kampung halamannya. Namun dia tak menjadi khawatir, sebab Sungai Minjiang bermuara di Kota Fuzhou. Dia hanya perlu menyusuri jalan di sepanjang sungai ini. Meski dia tahu mobil ini takkan pernah bisa sampai ke kesana akibat stok bahan bakar yang tak mencukupi. Kapan perlu berlari pun akan dia tempuh demi bisa sampai ke Kota Fuzhou.
Benar saja, baru setengah perjalanan, mobil itu mulai memperlihatkan gejala akan mogok. Garis indikator tangki bahan bakar sudah berada di titik paling bawah. Dia segera menepi, kalau tidak mobil-mobil yang melaju kencang di belakangnya bisa saja menabrak dia.
Setelah mematikan mesin mobil, mencabut kuncinya dan mengunci pintu mobi, tanpa membuang waktu lagi dia mulai berlari. Ya, Cia Yonggan berlari dengan kencang di sepanjang pinggir jalan. Bahkan kecepatannya mencapai 25 kilometer per jam. Kecepatan lari segitu adalah di atas kecepatan berlari rata-rata manusia dewasa.
Usain Bolt, pelari asal Jamaica yang diketahui sebagai pemegang rekor dunia berlari paling kencang, 43 kilometer per jam. Namun sang pemegang rekor itu berlari hanya beberapa menit menjelang garis final.
Cia Yonggan tidak demikian. Dia sanggup berlari nonstop dengan kecepatannya itu, tanpa berhenti dan tiada merasa kelelahan. Bahkan setelah berlari selama satu jam pun, dia masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Hanya saja keringat terlihat membasahi sekujur tubuhnya dan dia mulai merasa haus karena telah banyak mengeluarkan energi dan keringat dari dalam tubuhnya.
Dia sendiri sadar akan kekuatan yang dia punyai kini dan tak lagi merasa heran. Ini pastilah akibat peristiwa ajaib kemarin malam. Dia hanya perlu merasa bersyukur kepada sang pencipta karena telah dipilih menjadi orang yang dipercaya memiliki kekuatan ajaib ini. Entah kekuatan apalagi yang dia miliki. Biarlah waktu yang menjawab.
Namun berbeda dengan pengemudi yang baru saja mendahului lari Cia Yonggan. Pengemudi itu merasa terkejut saat melirik kaca spion melihat orang di belakang, tengah berlari di pinggir jalan.
Dia segera menepikan mobil SUV mewah itu kira-kira seratus meter di depan dan membuka pintu mobil. Kemudian kaki jenjang itu terlihat menapak di tanah. Sekarang terlihat seorang gadis tinggi dan ramping. Dia mengenakan pakaian casual dengan kaos putih sepusar serta celana jeans di atas lutut, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah dan kakinya yang panjang.
"Yonggan!!" sambil membuka kaca mata hitamnya, dia berteriak kepada pemuda yang sedang berlari ke arahnya itu.
Gadis itu terlihat bahagia begitu melihat Cia Yonggan.
Cia Yonggan sedari tadi memang pandangannya lurus ke depan, langsung dapat mengetahui siapa orang tersebut.
Maka dengan tersenyum senang dia menyahut. "Cici!!"
Siapa lagi dia kalau bukan Xiao Meilin.
"Bagaimana kamu bisa sampai kesini?" Xiao Meilin bertanya heran.
__ADS_1
Bukankah tadi pagi dia meninggalkan Cia Yonggan di dekat kediaman Wei Chung, di Jinshan, Kota Nanping untuk mencari kekasihnya, bagaimana bisa sekarang dia sudah berada disini dengan berlari?
Cia Yonggan mengangkat kedua bahunya dan menjawab. "Seperti yang kamu lihat, Cici. Aku berlari."
Xiao Meilin mengernyitkan dahinya. Dengan ekspresi begini, gadis itu terlihat menggemaskan bagi siapa saja yang tengah memandangnya.
Cia Yonggan tahu pasti, Xiao Meilin hendak memberikan dia tumpangan, karena gadis itu sedianya akan pulang ke kediaman orang tuanya di Kota Fuzhou, untuk berkumpul sejenak dengan keluarganya pada libur akhir pekan ini. Dia mempercayakan pekerjaannya di Kota Nanping kepada asistennya untuk sementara waktu.
Cia Yonggan yang ingin cepat sampai ke Kota Fuzhou langsung bergerak membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Xiao Meilin duduk di bangku penumpang yang direspon oleh tatapan aneh oleh Xiao Meilin.
"Cici, ayo masuk. Nanti aku jelaskan di perjalanan saja," kata Cia Yonggan.
Gadis itu tak membantah. Sedikit banyak dia sudah paham karakter Cia Yonggan. Memang terlihat tidak sopan, karena dia sama sekali belum menawarkan tumpangan kepada pemuda itu, tapi dia itu sudah begitu percaya diri akan diberikan tumpangan.
Memang dirinya sudah mengetahui akan kepandaian Cia Yonggan membaca pikiran orang, diungkapkan atau tidak sama sekali toh tak ada bedanya.
"Cici, mengapa kamu selalu hadir di saat aku sedang mengalami kesulitan?" Cia Yonggan berseloroh saat sudah duduk di belakang kemudi yang direspon dengan senyuman manis oleh Xiao Meilin.
Baru beberapa meter mobil itu melaju, Xiao Meilin bertanya kepada Cia Yonggan. "Yonggan, aku boleh memberikan saran, tidak?
"Katakan saja, Cici. Aku tidak keberatan," jawab Cia Yonggan.
"Begini, kamu memang memiliki kepandaian itu, tapi tidak seharusnya tindakan mu mendahului apa yang akan dikatakan oleh orang lain," gadis itu memulai apa yang ingin dia katakan.
"Maafkan aku, Cici. Aku bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja aku sedang..." Cia Yonggan menjadi malu karena dicap tidak sopan oleh Xiao Meilin.
"Bukan begitu maksud ku, Yonggan," Xiao Meilin buru-buru memotong. Kemudian dia melanjutkan. "Maksud ku, meski kamu sudah dapat mengetahui apa yang dipikirkan orang, kamu cobalah sedikit bersabar menunggu lawan bicara mu mengatakannya. Akan terasa aneh bagi orang lain apabila kamu sudah bertindak sebelum orang lain itu mengatakan apa yang ingin dia katakan."
Cia Yonggan terdiam. Benar juga apa yang dikatakan gadis itu. Mungkin bagi Xiao Meilin, tindakannya itu tidak mengherankan, namun tentu tidak sama dengan orang lain yang belum mengenalnya.
Xiao Meilin menyentuh lembut sebelah tangan Cia Yonggan yang tengah memegang tuas persneling dan menerangkan. "Yonggan, kamu akan banyak berbicara dengan orang di masa mendatang. Berpura-puralah seakan kamu tidak mengetahui apa-apa, meski sebenarnya kamu tahu fakta yang sebenarnya. Ini demi kebaikan mu. Kalau kamu selalu menebak isi hati orang lain dengan begitu mudahnya, maka tak perlu lagi kamu berbicara dengan orang lain, cukup baca pikirannya saja. Namun itu akan membuat percakapan mu dengan lawan bicara kelak menjadi canggung."
"Terima kasih, Cici. Saran mu sangat bagus," Cia Yonggan menoleh ke samping sambil menatap Xiao Meilin.
"Oh, ya. Kamu belum menanyakan kemana aku akan pergi dan dalam rangka apa ke Kota Fuzhou," Xiao Meilin memancing sambil tersenyum.
"Benar juga. Hahahaha.."
__ADS_1
Keduanya tertawa geli. Cia Yonggan belajar mengikuti saran Xiao Meilin, maka keduanya pun terlibat percakapan di sepanjang perjalanan ke Kota Fuzhou.