The Investor

The Investor
Bab 40


__ADS_3

Tempat itu sedang ramai berkerumun para preman-preman anggota perkumpulan Hei Laohu. Setidaknya saat ini berdiri sekitar tiga puluhan orang yang mendengar kesaksian Ou Julong barusan. Semuanya melongo tak percaya.


"Ketua Wei ternyata yang mendalangi pembunuhan Ketua Gao."


"Ternyata begitu alasan mengapa kemarin kita diperintahkan meringkus pemuda itu."


"Iya, dia ternyata mengetahui semuanya."


"Sulit dipercaya, ya."


"Iya, benar-benar tak bisa dipercaya."


"Orang bermarga Mo itu kan sering datang kemari."


"Ssst.. Ssst.. Sssst...!!"


Seperti dikomadoi, mereka berbicara satu sama lain yang membuat tempat itu menjadi ramai dangan komentar-komentar mereka. Namun khalayak yang hadir juga takut-takut kalau komentar mereka didengar sang pimpinan.


"Diam semuanya!" terdengar suara Wei Chung membentak marah. Lalu dia merandek ke arah Ou Julong. "Kamu Ou Julong, tetap tidak memiliki bukti apapun atas apa yang kamu tuduhkan itu."


"Sudah cukup. Aku yakin Ou Julong tak berdusta. Ternyata kamu dalang di balik ini semua, Wei Chung," Guan Zheng tak lagi memanggil Wei Chung dengan sebutan kakak, sebagai tanda dia tak lagi menghargai posisi Wei Chung sebagai ketua di perkumpulannya itu.


Wei Chung paham orang sudah tak lagi mempercayainya. "Guan Zheng, kamu dengarkanlah dahulu penjelasan dari ku, jangan hanya dengarkan keterangan sebelah pihak saja. Baiklah, biar aku katakan kepadamu..."


"Aku bilang sudah cukup!" sambil membentak dia melayangkan kaki kirinya pada tenggorokan Wei Chung.


Namun Wei Chung memiliki reflek yang cukup bagus. Dengan sigap dia memblokir tendangan Guan Zheng dengan kedua tangannya sembari mundur selangkah ke belakang.


Melihat serangannya luput, Guan Zheng mau tak mau sedikit terkesiap. Itu adalah tendangan yang mendadak, tak lantas orang seperti Wei Chung yang dia ketahui bukanlah ahli seni bela diri dapat menangkis dengan reflek begitu.


Sementara para bawahan Hei Laohu yang melihat ketuanya dapat menangkis serangan dadakan orang, serempak berseru takjub.


"Whoa...!!"


"Hmh.. Ternyata selama ini kamu menyembunyikan kepandaian sendiri, Wei Chung. Kamu benar-benar penuh kepalsuan," kata Guan Zheng geregetan.


"Guan Zheng, apa yang kamu bicarakan? Aku baru berlatih seni bela diri beberapa waktu belakangan ini. Coba tenangkan dirimu dahulu, ini semua bisa kita diskusikan baik-baik, kok," kata Wei Chung berusaha membela diri.


Guan Zheng yang menyadari kelicikan pihak lawan, lantas berpikir bagaimana cara dia dan Ou Julong dapat keluar dari sini dahulu, setelah itu barulah membuat perhitungan dengan Wei Chung. Apalagi melihat dari perut Ou Julong terus-terusan mengalir darah, terlalu lama dibiarkan, dikhawatirkan dia akan kehabisan darah.


"Baiklah. Kalau begitu izinkan aku mengundurkan diri dari sini untuk menenangkan diri," Guan Zheng berusaha mengalah selangkah demi keselamatan Ou Julong.


Dia buru-buru memapah kembali tubuh Ou Julong untuk dibawa pergi dari sini.


"Apakah kamu ingin membawa dia?" Wei Chung bertanya.


"Tentu saja. Apakah aku layak disebut manusia kalau membiarkan saudara ku ini mati kehabisan darah?" tegas Guan Zheng.


Mendengar itu, Ou Julong menjadi terharu. Dia sebenarnya tak ingin melibatkan orang lain, cukup dirinya saja yang menanggung kerugian ingin membalaskan dendam mendiang Gao Li Liang. Namun ternyata Guan Zheng yang telah lama bergaul dengan dirinya ini memiliki rasa kesetiakawanan yang tiada duanya.


"Guan Zheng. Tidak apa-apa, kamu pergilah. Jangan ikut campur. Biarlah aku berkumpul dengan Kakak Gao dan menantunya yang bermarga Cia itu di akhirat. Pasti akan senang dapat berkumpul lagi dengan Kakak Gao. Kamu pergi saja sana," perkataan Ou Julong ini begitu tulus.


"Kamu jangan banyak bicara. Ayo," tak menghiraukan perkataan Ou Julong, dia memaksa Ou Julong untuk melangkah.


Kedua pria itu berjalan ke arah mobil Guan Zheng diiringi tatapan puluhan orang itu. Tak ada yang berani menghalangi langkah Guan Zheng, apabila tidak mendapatkan perintah dari sang pemimpin.


Beberapa langkah lagi akan sampai ke pintu mobil itu, tiba-tiba Wei Chung berteriak. "Berhenti!"

__ADS_1


Guan Zheng menghentikan langkahnya, jantungnya berdebar-debar, ini biasanya menjadi pertanda baginya sesuatu yang tak diharapkan akan terjadi.


Dia menoleh ke belakang. "Ada apa lagi?"


Di belakang, Wei Chung berjalan menyusul ke arahnya sambil berkata. "Kamu tak boleh membawa dia."


Guan Zheng tak merespon larangan Wei Chung. Sebaliknya dia kembali melangkahkan kaki dengan menyangga tubuh Ou Julong. Dia membuka pintu mobil belakang dan mendorong Ou Julong untuk masuk ke dalam mobil yang mau tak mau diikuti oleh Ou Julong.


Sesaat Ou Julong masuk ke dalam mobil, Wei Chung dengan diikuti oleh Po Yang dan tiga puluhan anak buahnya datang menghampiri Guan Zheng.


"Guan Zheng, aku peringatkan, kamu tak bisa membawa dia itu pergi dari sini," Wei Chung berkata dengan nada menekan.


Bagi Wei Chung, Guan Zheng sepertinya akan sulit dia yakinkan apabila kali ini dia berhasil pergi dari sini. Tentu konflik internal di perkumpulan mereka akan segera pecah. Guan Zhen dan Ou Julong memiliki setidaknya seratusan bawahan yang bisa diperintah. Ini tidak baik. Dan apabila kabar dirinya yang menjadi dalang pembunuhan Gao Li Liang terdengar ke luar, tentu akan mencoreng citra dia di depan khalayak ramai, khususnya bagi para anggota Perkumpulan Bao dan Perkumpulan Xiongmeng de Shizi. Bukankah kedua perkumpulan itu sudah hampir dapat dia kuasai? Bahkan Perkumpulan Bao sudah berhasil dia hasut pasca kematian Hong Gan selaku pemimpin perkumpulan itu. Dan bukankah pihaknya dengan Perkumpulan Bao akan bersama-sama menyerang Perkumpulan Xiongmeng de Shizi dalam waktu dekat ini? Tentu saja itu takkan terjadi apabila kedua orang ini membuka mulut di luaran sana.


Maka sengaja dia mempersulit Guan Zheng. Toh kalaupun dia tak yakin bisa mengungguli Guan Zheng dalam berduel, dia masih memiliki banyak anak buah di sekelilingnya, apa yang perlu ditakutkan.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Guan Zheng dengan acuh tak acuh membuka pintu depan mobil.


"Kalau kamu tak menuruti kata-kata ku, berarti kamu juga pemberontak, sama seperti dia itu," sambil Wei Chung menuding ke arah mobil tempat Ou Julong tengah berbaring.


"Bagus. Aku ini pemberontak. Lalu apa yang bisa kamu lakukan terhadap pemberontak ini?" kata Guan Zheng menantang.


"Tentu saja harus dihukum mati," Wei Chung mendorong sebelah kakinya ke depan untuk menutup kembali pintu depan mobil yang baru terbuka setengah.


Melihat orang bertingkah di depannya, Guan Zheng serta merta melayangkan tangan kirinya memukul rahang Wei Chung.


Tapi Wei Chung agaknya sudah siap dengan serangan itu. Dia kembali memblokir pukulan tangan Guan Zheng dengan kedua tangannya.


Tak berhenti di situ, Guan Zheng menyepak kaki Wei Chung yang mendorong pintu mobilnya dan memaksa Wei Chung menarik kembali kakinya dari pintu mobil dan mundur beberapa langkah ke belakang.


Agaknya dia kurang perhitungan akan Guan Zheng ini. Tadi saat berbenturan dengan hanya sebelah tangan Guan Zheng saja, telah membuat kedua tangannya menjadi kesemutan.


"Sudah kepalang tanggung. Dia sendiri yang mencari mati," pikirnya.


Maka serentak semua bawahan Hei Laohu yang ada di situ menyerbu ke depan. Di mata para begundal ini, perintah pimpinan adalah nomor satu, tak peduli apakah pimpinan itu berada di pihak benar atau salah.


Bukannya buru-buru melarikan diri, sebaliknya Guan Zheng malah maju ke depan, menerjang Wei Chung. Ya, orang itu harus dapat dia taklukkan kalau ingin selamat pergi dari tempat ini.


Layaknya terbang, Guan Zheng menerjang Wei Chung dengan sebelah kaki. Wei Chung buru-buru kembali berusaha memblokir tendangan Guan Zheng dengan kedua tangannya.


"Dug."


Kedua tulang tangan Wei Chung kembali terasa kesakitan saat bertemu dengan kekuatan tendangan terbang Guan Zheng. Kembali dia terpukul mundur beberapa langkah ke belakang.


Guan Zheng kembali ingin mengejar targetnya, namun tiga puluhan orang itu telah sampai kemari dan melayangkan pukulan secara bertubi-tubi. Mau tak mau dia terpaksa melepaskan Wei Chung dan berbalik menangkis serta menghindari pukulan orang banyak.


Para pengeroyok ini masing-masing memegang tongkat pemukul di tangan, bahkan ada yang memegang golok. Sepertinya ini tak main-main.


Terbukti kehandalan Guan Zheng dalam bertempur. Meski dikeroyok orang sebanyak itu, dia tak gentar. Dia menyepak, meninju, menerjang kesana-kemari yang menyebabkan beberapa pengeroyoknya mengaduh kesakitan.


"Aduh!"


"Akh..!"


"Aduh mak, keparat itu mematahkan hidung ku!"


Mereka berteriak-teriak kesakitan.

__ADS_1


Guan Zheng terus saja memukul apa saja yang bisa dia pukul. Semakin banyak yang mendapatkan pukulan darinya, semakin cepat pula dia bisa pergi dari sini. Ketiga puluhan orang pengeroyok itu terlihat tak berdaya di hadapan Guan Zheng. Meski mereka bersenjata, tak sekalipun pukulan senjata mereka berhasil masuk ke badan Guan Zheng. Seperti layaknya Guan Zheng yang mengeroyok orang sebanyak itu.


Dia tak menyadari, Po Yang berlari ke dalam rumah dan kembali dengan membawa beberapa golok di pangkuannya.


"Ini, ambillah," dia membagikan golok kepada beberapa bawahannya.


Sekarang bertambah beberapa orang dengan senjata golok di tangan. Bagi mereka, ini membangkitkan rasa percaya diri untuk menghabisi lawan. Semangat mereka menjadi berkobar.


"Rasakan ini!"


Guan Zheng baru menyadari, sekarang orang-orang ini lebih banyak memiliki senjata tajam di tangannya ketimbang senjata tumpul seperti tadi. Sebisa mungkin dia menghindari sabetan senjata tajam yang tak henti-hentinya mengincar semua bagian tubuhnya.


Pertarungan kali ini terlihat berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini hanya sesekali terdengar lenguhan kesakitan begitu pukulan Guan Zheng mengenai pengeroyoknya, tak riuh lagi seperti tadi. Sebaliknya Guan Zheng terlihat sering terdesak ke belakang karena menghindari sabetan senjata tajam.


Namun bagaimanapun uletnya seorang Guan Zheng dalam menghindar, tetap saja dia terserempet sabetan beberapa senjata tajam di tubuhnya, khususnya kedua tangannya. Meski tak terlalu dalam namun luka-luka itu terasa pedih yang membuat pergerakannya menjadi lebih lamban.


Dia berpikir, kalau sudah begini, bagaimana dia dapat meloloskan diri lagi. Sambil terus menghindar mundur, sekejap dia melirik ke arah mobilnya untuk memperhitungkan langkah. Saat dia melirik ke sana, dia melihat Po Yang sedang berlari mendekati mobil itu dengan senjata golok di tangan.


"Keparat!" Guan Zheng menggumam marah.


Tak berpikir panjang, dia lantas berlari ke arah mobilnya dan menerjang Po Yang dengan tendangan terbang seperti dia menyerang Wei Chung tadi.


"Bugh!"


"Aduh!"


Po Yang yang sedang bersiap membuka pintu belakang mobil itu tak menyadari serangan datang dari sisi kirinya. Dengan telak bahu dan lengan kirinya terkena terjangan kaki Guan Zheng yang membuat dia terjatuh ke arah kanan.


Guan Zheng tak ingin lagi membuang-buang waktu. Dia lantas membuka pintu depan mobil dan bergegas masuk serta menghidupkan mesin mobil.


Saat para bawahan Wei Chung sampai ke sini, Guan Zheng sudah menginjak pedal gas dalam-dalam, menyebabkan suara berdecit keras di tempat.


"Brrrrrrrmmmm.."


"Ciiiiit...!!"


"Kejar! Jangan biarkan mereka lolos!" Wei Chung langsung memerintah.


Serentak mereka berpencaran menaiki mobil mana saja dan pergi mengejar mobil Guan Zheng.


Wei Chung berlari menghampiri Po Yang yang seperti linglung akibat tendangan Guan Zheng tadi. Dia sendiri sudah merasakan bagaimana kekuatan tendangan Guan Zheng. Apalagi Po Yang ini yang mendapatkan tendangan telak pada lengan dan bahunya, tentu terasa menyakitkan.


"Kamu tidak apa-apa?" dia bertanya sambil meraih tangan Po Yang untuk bangkit.


"Tidak apa-apa, Kakak Wei, tendangan dia mana berarti bagiku. Aduh..!" begitu Po Yang berdiri, Wei Chung tiba-tiba merenggut tangan kirinya.


"Sudah baikan?" Wei Chung yang menyadari lengan bawahannya yang terkilir hanya dengan sekali sentakan telah dapat memulihkan kembali tangan Po Yang dari terkilir.


"Sudah, terima kasih, Kakak Wei," Po Yang menyengir malu.


"Po Yang, aku percayakan tugas ini kepada mu. Tangkap mereka, hidup atau mati. Kamu paham?" kata Wei Chung.


"Siap, laksanakan. Kalau begitu aku ikut mengejar mereka," jawab Po Yang menyanggupi.


"Sebarkan berita di luaran bahwa mereka itu memberontak dari peraturan perkumpulan," tambah Wei Chung lagi.


"Tentu, Kakak Wei, mereka itu memang pemberontak," seru Po Yang.

__ADS_1


"Oh ya, ada satu hal lagi. Apabila mereka berhasil meloloskan diri, maka jangan biarkan satu orang pun anggota keluarganya yang lolos. Bunuh mereka semua" kata Wei Chung dengan berapi-api.


__ADS_2