The Repeater

The Repeater
9. bunga dan pohon takdir


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang Lily ceritakan. Gadis bernama monika itu mengeluarkan air mata, ia merasa iba dengan apa yang diceritakan olehnya, siapa juga yang tidak akan sedih bila mendengar cerita menyedihkan seperti itu, lagi pula Monika sangat paham akan perasaannya dan dia sangat bersyukur bahwa saat itu Lily terselamatkan oleh seseorang. Jika tidak Lily pasti bernasib sama sepertinya.


Monika terus menangis hingga ingusnya sedikit keluar melalui kedua hidungnya, dan ia memeluk erat gadis yang duduk didepannya, dia ingin memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lily pun tersenyum kecil melihat kelakuan dari Monika, dia membalas pelukan itu sembari sesekali mengelus pundak Monika dari belakang.


Hari telah berubah menjadi siang hari, matahari terbit tepat di atas kepala. Di sepanjang jalan diisi oleh pedagang dan pelanggan yang saling berkerumunan. Kemana pun mata memandang, kota diisi oleh keramaian, kehangatan, dan kedamaian. Tapi ironisnya kota ini tidak terlihat sebaik itu, kota Oz lebih busuk, luarnya memang terlihat bercahaya, tapi tidak untuk hati para penduduk mereka bahkan memperjual beli manusia. Pasti tidak ada yang menyangka kota ini sebusuk itu. Sebenarnya ini tidak seratus persen salah kota OZ, ini semua salah Edward karena memperjual beli budak.


Dia tengah keramaian terdapat dua sosok seseorang yang mengenakan jaket coklat dengan tudung hingga menutupi wajah, mereka terlihat sedang berjalan bersama, mereka berjalan tanpa menoleh ke kanan ke kiri dan hanya menoleh ke bawah seolah tidak mau identitas mereka terbongkar. Dua orang ini tidak lain adalah Monika dan Lily.


Sebelumnya mereka berencana untuk keluar dan membeli sedikit makanan serta mencari informasi, tapi karena kegaduhan di restoran kemarin membuat mereka harus lebih waspada, bahkan sepanjang perjalanan terdapat poster muka mereka bertiga, mulai dari Leonardo, Lily, dan Monika memiliki poster muka di sepanjang jalan. Sepertinya mereka bertiga benar-benar menjadi buronan sekarang.


Apa yang mereka lakukan kemarin adalah hal tidak termaafkan bagi penduduk sekitar, pencurian budak, mungkin itu sudut pandang warga, tapi hal seperti itu merupakan hal tabu di dunia ini. Tidak hanya di kota OZ, hampir seluruh dunia memiliki sistem perbudakan, tapi di kota OZ yang terparah lagipula kota inilah tempat penjualan budak berada, ini semua ulah Edward, dialah yang menciptakan sistem sampah seperti perbudakan. Budak dulunya memang ada, tapi tidak sebanyak sekarang.


Karena alasan itulah mereka berdua memutuskan untuk menyamar, sangat berbahaya bila penduduk mengetahui muka mereka.


Mereka berdua terus berjalan hingga tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang pria pedagang bunga, dia dikerumuni oleh banyak pelanggan baik itu pria maupun laki-laki, Lily tidak terlalu memperhatikan pedagang itu dan terus melangkah, namun Monika berhenti sejenak untuk menatap suasana itu.


Dia bukannya ingin membeli bunga, tapi ia hanya merasa mirip dengan para bunga. Bunga itu bernama, "Dod Bloem", Bunga ini cukup langka hanya diperjualbelikan di kota OZ hal inilah yang membuat banyak wisatawan maupun penduduk membelinya, bunga ini berwarna kemerahan dan terlihat Indah, tapi ada satu cerita yang ironis. Bunga itu sebenarnya sudah mati, bunga Dod Bloem hanya bisa hidup ditempat asal mereka sekali dicabut maka bunga itu akan mati. Meskipun mati, tapi bunga itu tetap terlihat indah, para pelanggan bodoh hanya mementingkan keindahan mereka pasti tidak berpikir bahwa bunga itu mati.


Lily terhenti, dia menatap ke belakang dan mendapatkan Monika sedang menatap ke arah pedagang. Dia tak tahu apa yang sedang Monika, lihat. Lily berjalan ke arah Monika dengan hati-hati, agar identitasnya tidak terbongkar.


"Monika kenapa kau berhenti?"


Monika tidak merespon, dia masih terhanyut akan pikiran sendiri dan masih menatap pedagang itu, Lily yang penasaran memutuskan untuk menatap apa yang sedari tadi Monika lihat.


"Apa kau ingin bunga?" Tanya Lily setelah menyadari apa yang sedang Monika lihat.


"Tidak. Bukan seperti itu, aku hanya berpikir betapa miripnya aku dengan bunga itu."


"Apa maksudnya?"


"Bunga itu hanya bisa mekar di satu tempat, tapi para pedagang mencabut bunga itu padahal apabila bunga itu dicabut sama saja artinya membunuh bunga itu. Bukankah itu sedikit mirip denganku? Dulunya aku pun diambil oleh seseorang, mereka membunuh kedua orang tuaku dan mengambil paksa diriku. Aku yang sudah mati secara mental di jual, aku sangat mirip dengan bunga itu, aku hanya bisa hidup di satu tempat apabila di petik aku akan mati.... Dan juga kemanapun aku pegi pada akhirnya aku akan-"


Tanpa menunggu Monika selesai berbicara, Lily pergi dan berjalan menuju kerumunan itu. Ia ikut membeli satu pasang bunga merah, kemudian membawakannya ke arah Monika. Dia memasangnya tepat di telinga Monika sebagai hiasan.


"Hm, terlihat lebih cantik bukan?" Lily tersenyum lebar setelah memasang bunga itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Bunga itu mungkin sudah mati, tapi jika dipakai seperti ini maka akan mekar di hatimu maupun orang-orang yang melihatmu."

__ADS_1


Monika tersenyum manis mendengar apa yang Lily katakan, entah di mana dia belajar kata-kata itu, dia terlihat seperti lelaki di klub malam hari.


"Bisa tersenyum tuh, itu tandanya kamu belum mati secara mental. Hidupmu mungkin sudah menyakitkan, tapi tenang saja ada aku dan Leonardo, kami pasti akan selalu ada untukmu."


"Terima kasih." Monika berterima kasih paling tulus, ini pertama kalinya dia mengeluarkan senyuman setulus itu.


Tapi senyuman itu pudar karena tiba-tiba pikiran buruk melintas di otaknya.


'Kalian sangat baik ya, tapi apapun yang kalian lakukan percuma.. Pada akhirnya aku hanya bunga Dod Bloem, pada akhirnya aku akan mati' Pikirnya membuat senyuman tadi menghilang.


"Kenapa kamu terdiam?"


"Tidak apa-apa." Monika memaksakan diri untuk tersenyum, dia menggelengkan kepala ke arah kanan dan kiri.


"Kalau begitu ayo melanjutkan perjalanannya." Lily Mengenggam tangan kanan Monika dan pergi ke suatu negeri tempat.


***


Di suatu kamar kosong, jendela terbuka lebar, membuat cahaya siang memasuki ruang itu. Terlihat seorang pemuda dengan pakaian serba hitam duduk di dekat kasur, ia terus menjaga seorang pria yang tertidur lemah di kasur putih.


Sudah sangat lama semenjak dia tertidur seperti itu. Seharusnya dia bisa bangun sekarang, tapi apa yang membuatnya terus tertidur.


"Akhirnya kau bangun, Leonardo," Sapa Razor.


"Razor? Kenapa aku masih di-" Leonardo memaksakan diri untuk berdiri dari kasur, tapi dia dengan cepat hampir terjatuh.


"Jangan paksakan diri, Istirahat lah!" Ucap Razor, sembari mengangkat tubuh Leonardo dan menaruhnya kembali ke kasur.


Leonardo mengikuti sarannya dan kembali menggeletakan tubuh ke kasur, dia menatap jendela sembari menunggu Razor yang sedang menyiapkan secangkir teh untuknya.


Di kepalanya masih penuh akan kejadian kemarin. Pertemuannya dengan Rukh berbentuk manusia dengan sayap, ingatan masa kecilnya. Semua serasa campur aduk di hatinya.


"Ini tehnya silakan dinikmati." Razor membawa dua cangkir teh satu untuk Leonardo dan satu dirinya sendiri.


"Terima kasih." Leonardo menikmati tehnya, dia sesekali menghela nafas puas. Pandangannya masih menatap ke arah jendela.


Di luar jendela memperlihatkan satu pohon yang amat besar, dan para penduduk berkerumun untuk mengelilingi pohon itu.


"Razor, pohon apa itu?"

__ADS_1


"Itu adalah pohon takdir, salah satu pohon paling terkenal di dunia ini, pohon itu hanya berada di berbagai kota bahkan bisa di hitung dengan jari, kota OZ adalah salah satu yang memiliki pohon takdir."


"Kenapa disebut pohon takdir?"


"Legenda mengatakan bahwa waktu atau takdir tidak berjalan satu arah."


"Apa maksudnya? Jelaskan dengan rinci!"


"Waktu, masa depan, takdir tidak berjalan satu arah. Semua memiliki garis masing-masing, seperti akar pohon yang bercabang, masa depan juga bercabang. Contohnya ada masa depan di mana seseorang mati, tapi ada juga masa depan di mana orang tersebut terselamatkan." Razor melanjutkan acara minum tehnya.


"Jadi seperti itu. Mirip seperti dunia pararel ya?"


"Kau bisa menyebutkannya seperti itu."


"Tapi kenapa mereka mengelilingi pohon itu. Ini terlihat seperti memuja pohon. Pada akhirnya itu hanya pohon kan? Apakah mereka bodoh?"


Blur!


Razor mencipratkan teh yang ia minum melalui mulutnya, dia terkejut serta heran dengan apa yang Leonardo katakan. Dia menghela nafas dan menjelaskan situasi lagi.


"Tentu saja pohon itu dipuji. Karena pohon itu diciptakan sendiri oleh dewa takdir."


"Dewa takdir?" Leonardo semakin kebingungan, dia benar-benar tidak bisa mencerna apa yang Razor katakan.


Razor mengelus kepalanya dan menghela nafas malas sekali lagi.


"Hal seperti ini pun kamu lupakan ya? Benar-benar merepotkan. Baiklah dengarkan dengan seksama Leonardo! Di dunia ini ada banyak makhluk hidup seperti Rukh dan lain-lain, bahkan keberadaan seperti dewa itu ada. Salah satunya adalah dewa takdir. Nanti kamu juga akan mengetahui banyak makhluk lain di sepanjang jalan, jadi cukup itu saja yang kukatakan.. Tapi aku akan memberikan peringatan untukmu, jangan sesekali melawan dewa takdir! Dia yang paling bahaya dari semua para dewa."


Leonardo menganggukan kepala, dia mengambil tehnya dan meminum lagi. Pandangannya masih menatap ke arah pohon itu dan keramaian.


Di hatinya entah kenapa terasa sangat familiar, terutama setelah mendengar kata dewa takdir dia sangat familiar dengan topik itu.


'Sudah kuduga jika aku mengikuti eraser pasti ingatanku akan kembali'


***


Di suatu ruang tanpa waktu, tanpa cahaya, bahkan kehidupan tidak berada di sana, hanya terdapat dunia serba hitam di sana dan satu orang gadis yang memakai pakaian serba putih.


Gadis itu duduk di kursi yang mengambang dan menikmati secangkir kopi.

__ADS_1


"Ingatanmu sedikit demi sedikit kembali Leonardo. Tapi ingatlah satu hal ini! Jawaban yang kau cari, ingatan, dan segalanya, semua tidak akan berakhir dengan baik. Hehehe, aku semakin tidak sabar, apa yang akan kau lakukan ketika mengingat segalanya? Apakah kau akan kembali lagi ke sisi sini? Atau kau akan melakukan hal gila itu lagi? Aku benar-benar menantikannya, Leonardo."


__ADS_2