The Repeater

The Repeater
31. Pertarungan balas dendam


__ADS_3

Angin terus berhembusan, dengan adanya es yang membeku disekitar membuat hawa menjadi dingin. Jika orang normal mungkin akan bergetar dan mengigil, namun tampaknya ini tak berlaku bagi dua orang pria yang saling menatap itu.


Kedua mata tajam saling bertatapan, tanpa satu kata pun dan hanya ada kebencian di kedua mata pria itu. Hembusan angin makin kuat, rambut mereka bergoyang-goyang.


Di situasi seperti ini Leonardo sudah tak bisa menahan rasa amarahnya. Dengan gerakan sangat cepat bahkan hingga tubuhnya terlihat seperti menghilang dia menyerang leher Edward. Gerakan itu sangatlah cepat, mata normal tak mungkin bisa merespon.


Sayangnya yang Leonardo lawan bukanlah manusia normal, dia adalah iblis berkulit manusia. Dengan mudah Edward menahan tebasan itu bahkan dia menahan hanya menggunakan pisau kecil. Tidak lebih tepat bila disebut dengan pisau bedah.


* Cring


Percikan bunga api terlihat setelah pedang dan pisau kecil milik Edward bertemuan.


Dalam sepersekian detik itu juga Leonardo langsung menggerakkan kakinya untuk menendang dagu Edward keatas, tapi Edward sudah melompat terlebih dahulu sebelum kaki itu menyentuh dagunya.


Edward berputar kebelakang di udara dan mendarat dengan sempurna sementara itu Leo juga mundur untuk menjaga jarak dari musuhnya.


'Pergerakannya sangat cepat!' batin Leo. Dia sedikit tahu kenapa Edward disebut bahaya.


Tapi fakta bahwa Edward menggunakan pisau menganggu Leonardo. Dia merasa terhina, apalagi menyadari bahwa pisau yang ia pegang adalah pisau bedah.


"Kau cukup meremehkan ya bahkan sampai memakai pisau bedah." ucap Leonardo.


Mendengar itu Edward malah tertawa kecil. "Hee, jangan salah paham. Aku bukan berarti menahan diri lo, justru seharusnya kamu berterima kasih. Karena pedang bukanlah gaya bertarungku. Pisau kecil ini adalah senjata utamaku."


"Persiapkan dirimu Leonardo.."


* Swosh


* Cring


Edward melemparkan pedang bedah itu ke arah dada Leo. Untung dia dapat menahannya dengan ayunan pedang hingga pisau kecil milik Edward berbelok dan terjatuh.


Namun tak berhenti di situ, pisau selanjutnya mengarah dengan cepat ke arah Leonardo kali ini dia tak bisa menangkis dengan pedang seperti tadi. Melompat ke kanan hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.

__ADS_1


Pisau kecil itu memang dapat dihindari, yah walaupun berhasil menyayat pipi Leonardo hingga darah terus mengalir. Setidaknya pisau itu tak mengenai jantungnya.


"Wow, lumayan. Tak kusangka kamu bisa menghindari pisau cepat itu.. Tapi bagaimana dengan ini."


Edward melemparkan pisau bedah itu dengan jumlah yang sangat banyak. Leonardo menghindari pisau itu dan menebas beberapa yang bisa dia respon. Namun dia tak bisa menghindari dengan sempurna, pipi, lengan, maupun kaki pasti terkena goresan.


'Cih! Ini lebih menyusahkan dari pada si gendut tadi. Pisau bedah ini sangat kecil, warnanya juga putih sehingga susah untuk dilihat dan yang paling penting. Pisau ini bergerak dengan sangat cepat.'


"Jika kamu pikir pisau itu adalah semua yang kupunya maka kamu salah besar."


Setelah berkata demikian, api mengelilingi Leonardo. Tidak lebih tepatnya, sebuah tali tak kasat mata yang mengelilingi tubuh Leo mulai terbakar. Benang itu adalah benang yang dikaitkan langsung dengan pisau bedah itu. Pisau bedah yang dilempar masing-masing memiliki benang tipis.


Benang tipis yang terbakar itu membuat Leo tak bisa bergerak. Karena jika dia bergerak dia pasti akan terkena api, selain itu benang tak kasat mata juga terlihat tajam. Jadi Leo memutuskan berhenti sejenak. Dan berpikir.


'Jadi begitu, sepertinya dia adalah penggunaan sihir api. Dia sengaja melemparkan pisau dengan benang tipis kemudian membakarnya. Musuh yang terperangkap dalam kebakaran maka akan sesak nafas dan mati.. Hehehe, namun itu tak berlaku bagiku, api lemah seperti ini dengan mudah kubekukan.'


Leo memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang, saat dia melakukan itu dengan cepat semua benang membeku bahkan hingga apinya pun ikut membeku.


"Wow, kalau ini benar-benar diluar dugaan."


""Haa!""


Edward menyeringai, dia menggerakkan tangan kanan ke arah Leo. Dan tanpa terduga sebuah api hitam yang sangat panas menerjang Leonardo yang berada di udara.


Leo berhasil menghindari api hitam milik Edward, meskipun pundaknya sedikit terkena dan dia terjatuh. Namun tanpa kenal lelah Leonardo berdiri lagi dan memegang pedangnya.


* Cring


* Cring


* Cring


Suara benturan terus mengitari tempat yang digunakan untuk bertarung. Leonardo telah berusaha keras mengayunkan ke kanan dan ke kiri, ke atas bahkan terkadang ke bawah. Namun semua dapat ditahan dengan mudah oleh Edward.

__ADS_1


'Sial! Sial! Tak peduli seberapa kali aku menyerang orang ini dapat menahan dengan mudah'


'Apa yang harus kulakukan'?


Kegiatan masih berlangsung dengan pedang dan pisau kecil yang saling bertemun menciptakan suara nyaring dan membuat percikan warna orange.


Leo melompat mundur dia memiliki rencana. Setelah jarak Leonardo dan Edward sudah cukup jauh, Leonardo dengan cepat mengayunkan pedang dan mengeluarkan sihir es yang berjalan sangat cepat. Sihir itu sama kuat dengan yang dikeluarkan saat berlatih, jadi mungkin Edward tak bisa menghindari setidaknya itu yang dia pikirkan-


Edward malah tersenyum, dia mengeluarkan api hitam lagi kali ini dengan sangat banyak. Api itu sangat kuat dengan cepat es yang memiliki tinggi sekitar 15 meter langsung meleleh dan api hitam menerobos dengan diameter 4 meter. Api itu mengarah ditengah es kemudian menuju Leonardo.


Sebelum api itu mengenai Leonardo dia memutuskan untuk melompat tinggi agar terhindar. Tapi Sangat disayangkan Edward ikut melompat tinggi kemudian mendaratkan satu pukulan yang dilapisi oleh kegelapan ke pipi Leo.


* Brak


Tubuh pria itu terhempas, dia berguling beberapa kali, menghancurkan beberapa kios bahkan hingga merobohkan beberapa dinding kokoh milik perumahan. Tubuhnya sekarang mati rasa matanya mulai menutup perlahan.


'Sial! Kuat sekali dia, apakah aku akan berakhir di sini? Tubuhku mati rasa.'


Di tengah rasa keputusasaan Separuh cahaya melintas. Cahaya itu tak lain merupakan ingatan tentang Lily, dia kembali mengingat senyuman manis gadis itu, sifatnya, wajahnya, rambut pirang miliknya dan tentu saja senyuman miliknya tak akan terlupakan.. Mengingat gadis pirang itu membuat dia membuka mata lagi, dia tersenyum membayangkan apa yang akan Lily katakan bila dia kalah. Dengan tubuh babak belur dan bisa pingsan kapan saja dia siap kembali bertarung.


'Aku tak boleh kalah, jika aku kalah dan mati disini siapa yang akan menjaga Lily? Meskipun aku tak berhasil menyelamatkan Monika setidaknya biarkan aku melindungi senyuman itu.'


Tatapan sayu Leonardo kini berubah menjadi semangat lagi. Dia meludahkan darah yang ada di mulutnya dan menyeka darah itu. Pedang panjang nan putih itu sekali lagi di todongkan ke arah Edward, dengan kuda-kuda bertarung Leonardo siap menantang musuhnya lagi.


Melihat kegigihannya Edward menjadi makin semangat, dia tersenyum dan mengeluarkan aura yang sangat berbeda dari beberapa saat yang lalu. Aura gelap dan pekat dengan cepat menusuk tubuh Leonardo. Kali ini Edward sudah serius, bahkan burung-burung yang beterbangan menjadi jatuh karena aura pekat milik Edward.


Tubuhnya penuh oleh aura hitam kegelapan. "Kali ini aku akan serius, jadi persiapkan dirimu, atau.."


Senyuman mengerikan terlukis diwajahnya. "Aku akan membunuhmu tanpa sengaja."


Aura membunuh sangat pekat, siapapun pasti akan ketakutan dan bergetar kecuali Leonardo. Dia menyeka darah di pipinya dan menatap tajam Edward.


"Aku siap kapan saja.. Pada akhirnya aku akan memenggal kepalamu."

__ADS_1


Dua orang tersebut saling tersenyum. Tapi senyuman yang Leonardo berikan adalah murni dari kebencian, sedangkan senyuman milik Edward adalah senyuman senang karena menemukan mangsa yang sepadan. Tanpa menunggu aba-aba keduanya saling menerjang dan kembali bertarung.


__ADS_2