The Repeater

The Repeater
41. Kelas F


__ADS_3

Beberapa saat setelah Leonardo melaksanakan ujian. Saat itu dia sangat yakin telah melakukan dengan baik, namun sihir tak bisa muncul dengan normal, saat dia mendapatkan kelas F sebagai orang pertama tentu saja dia diejek serta ditertawakan, tapi Leonardo tentu tak peduli dan kembali ke tempat teman-temannya, daripada memikirkan ejekan Leo lebih memikirkan apa yang terjadi.


Dia terus berpikir dan terdiam, menyaksikan beberapa peserta yang mengeluarkan kemampuan sihir mereka sendiri. Waktu terus berjalan dan akhirnya giliran Lily datang. Saat Lily melakukan ujian, dia dengan sengaja melemahkan kekuatan sihirnya agar bisa masuk kelas F, tentunya ini agar dia bisa bersama Leo.


Razor tampak kesal, dia berkata, “Kalian pasti sengaja! Jahat, jahat sekali meninggalkanku di kelas A sendiri.”


Lily tersenyum dan bersembunyi di pundak Leo. “Ara ara, maaf habisnya kami orang lemah tak pantas berada di kelas hebat seperti A, apalagi bersama tuan Razor si peringkat 10 di organisasi.”


“Berisik! Jangan sebut rangking disaat seperti ini!”


Dan mereka berdua terus berdebat untuk beberapa menit.


Setelah itu mereka berpisah untuk menuju kelas masing-masing. Saat ini Lily dan Leo sedang duduk di kursi depan kelas. Banyak muka asing di sana, dan kelas F daripada disebut penyihir mereka lebih mirip seperti seorang anak kecil yang lemah. Kebanyakan dari mereka terlihat sangat lemah, tak punya otot, dan terlihat tak memiliki tenaga.


Klark!


Sebuah pintu kayu terbuka menampilkan seorang guru perempuan. Tapi sekali lagi, dia tak terlihat seperti penyihir, padahal sebagian besar guru di sini memakai seragam seperti para penyihir, memakai baju hitam dan topi. Namun guru ini tidak, rambutnya terlihat berantakan, baju yang dia pakai terlalu terbuka bahkan belahan dada dapat terlihat jelas, mukanya terlihat garang, dia benar-benar tak seperti penyihir.


Brak


Guru perempuan itu memukul meja, dia menatap tajam kearah murid-muridnya. “Baiklah para anak lemah! Saya adalah guru wali kalian, nama saya Rosemary.”


Setelah itu acara sekolah dimulai, karena ini hari pertama jadi para murid memperkenalkan diri masing-masing, sebagian besar nama tak bisa diingat oleh Leonardo, namun ada satu orang yang menarik perhatiannya.


Dia adalah Bryan. Dia memiliki rambut berwarna coklat, menggunakan topi, serta memiliki mata, pria ini adalah seseorang yang berada di ingatan Leonardo. Saat ini pria itu sedang duduk sendiri di pojok kelas menatap jendela.


“yosh, sesi perkenalan sudah selesai. Karena sebagian besar dari kalian adalah orang luar, jadi aku yakin kalian pasti capek. Jadi pelajaran akan dimulai besok. Untuk sekarang mari memutuskan pasangan kamar kalian.” ucap guru Rosemary.


“Bu Rosemary, apa maksud dari pasangan satu kamar?” tanya salah satu siswa di sana.


“Seperti namanya, kalian akan berpasangan dengan seseorang untuk satu kamar, karena ini adalah akademi dengan fasilitas kamara, tapi tentu saja kalian akan dibedakan sesuai dengan jenis.”


Lily tampak kecewa, sepertinya dia berharap dapat satu kamar dengan Leonardo. Acara pemilihan pasangan telah dimulai, entah takdir, atau semacamnya Leonardo berpasangan dengan Bryan, sedangkan Lily bersama Laina siswi perempuan dengan rambut merah Panjang.


“Baiklah untuk hari ini cukup sekian. Istirahatlah dengan tenang!” Karena merasa telah selesai bu Rosemary pergi dari kelas meninggalkan kelas.

__ADS_1


Setelah kepergian guru Rosemary kelas dengan cepat menjadi ramai, ditengah keramaian Bryan berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke suatu tempat, kalau dilihat dari arahnya mungkin dia ingin pergi ke kamar.


Leonardo menatap pundak Bryan yang semakin menjauh, dia masih tak menyangka dapat bertemu seseorang yang muncul di ingatannya lagi.



"Hah." Lily menghela nafas dengan kasar.


"Ada apa Lily?" tanya Leonardo yang sedang duduk di sampingnya.


"Tidak ada apa-apa." Dia berbohong, Lily sebenarnya kecewa tak bisa satu kamar dengan Leonardo, tapi mana mungkin Lily mengatakan hal seperti itu.


"Apa kamu serius?" Leonardo tak bodoh, dia tentu saja sadar ada yang salah dengan Lily, walaupun dia tak tahu apa itu.


"Tentu saja! Kenapa aku harus berbohong?" jawab Lily dengan wajah yang cemberut.


Dasar bodoh! Aku ingin satu kamar denganmu kenapa hal sepele seperti itu kamu tak paham? pikir Lily.


"Lily!"


Liana memliki rambut panjang berwarna merah yang cantik, mata kuning, dan wajah putih, dia terlihat seumuran dengan Lily, saat ini Liana telah berada tepat didepan ke dua orang itu.


"Kamu Liana?"


Lily mencoba untuk memastikan, dia tentu tak terlalu yakin apalagi ini pertama kalinya Lily bertemu dengan Liana.


"Ya, aku Liana teman sekamarmu."


"Jadi Lily ayo pergi ke kamar sekarang!"


Liana menarik tangan Lily menggeret tubuh Lily menuju kamarnya, tanpa menunggu persetujuan dari Lily dia asal menggeretnya.


"Tunggu Liana!"


Liana tak mendengar, dia menarik tubuh Lily. Leonardo setengah tersenyum melihat itu, biasanya dia akan khawatir, tapi karena Liana terlihat tak berbahaya, jadi Leonardo membiarkan Lily pergi bersamanya.

__ADS_1


Lagi pula Leonardo punya hal yang lebih penting, yaitu mengejar Bryan sosok yang pertama kali muncul di ingatannya. Mungkin Bryan tahu sesuatu, jadi dia memutuskan untuk berdiri dari tempat duduk dan pergi ke kamar, dia juga berencana untuk beristirahat.


Langkah demi langkah dia lakukan hingga akhirnya dia sampai di depan pintu kamarnya. Dia membuka pintu dengan tenang dan mendapatkan Bryan sedang membaca buku di meja.


Menyadari keberadaan Leo Bryan menatap ke arahnya, mata brawn Hazelnya bertatapan dengan mata putih Leo untuk beberapa detik. Hanya saling menatap dan tak ada komunikasi.


"Yo, apa kita pernah bertemu di suatu tempat?"


Leonardo langsung bertanya ke inti, dia benar-benar sudah tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya, tapi sangat disayangkan Bryan tak terlihat ingat akan Leo.


"Tidak, ini mungkin pertama kali kita bertemu."


Bryan menutup buku, memegang dagunya dan mencoba berpikir untuk beberapa saat hingga akhirnya mata dia terbuka lebar seolah mengingat sesuatu.


"Oh, kita pernah bertemu sebelumnya."


"Serius? Di mana?" Kini Leonardo telah bersemangat tatapan lesuh karena kecewa kini telah berubah.


"Ini sudah beberapa bulan yang lalu, tapi aku sangat ingat kita bertemu di Item shop, di kerjaan Noa kan?"


Leonardo sekali lagi kecewa, kalau masalah itu dia sudah tahu, karena saat dia melupakan ingatannya dia langsung bertemu dengan pria bertopi, Leonardo hanya tak menyangka ternyata orang itu adalah Bryan.


Jawaban yang diinginkan oleh Leo bukan hal yang seperti itu, jika Bryan tak mengenalnya lalu kenapa dia ada di ingatannya? Itulah yang ingin dia tahu, tapi apapun yang dilakukan seperti akan percuma, sekarang Leonardo masih terdiam di dekat pintu menatap ke arah Bryan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


-Author note


Jadi si Bryan adalah orang yang ada di chp 2 kerajaan Noa.


Hanya mengingatkan Leonardo mempunyai ingatan tentang Bryan yang muncul di CHP 1, jadi akhirnya dia bertemu seseorang yang ingin dia cari.


Dan ada satu saran dari author jangan lupa kalau Leonardo ada pengulang waktu, dia saat ini sedang dimasa lalu mencoba mengubah takdir, tapi sayangnya dia melupakan ingatannya karena alasan tertentu.


OKE BYE

__ADS_1


__ADS_2