
Suasana malam yang sunyi. Udara yang dingin. Bulan sabit sedang berdiri tepat di kepala mereka berdua dan memantul di air bawah jembatan. Tidak ada satupun warga di situ, hanya ada Leonardo dan Razor yang masih saling bertatapan tanpa mengatakan satu kata pun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Razor membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan, mata merahnya saling bertatapan dengan mata Leonardo.
Dengan mata sayu Leonardo menatapnya, dia memegang bahu kiri yang penuh oleh darah dengan tangan kanan. "Tentu saja aku mencari keberadaan Edward, dia tidak bisa dibiarkan berkeliaran."
"Apa kau gila?! Tubuhmu masih penuh luka lo! Bahkan untuk berdiri saja kau sempoyongan. kau bisa mati lo. Dan juga dari mana kau tahu tentang peta ini? Aku tidak pernah menyinggung tentang topik itu, lalu bagaimana kau bisa tahu? Tentang ruang bawah tanah juga, bagaimana kau tahu semuanya?!"
"Ingatanku terlintas sekali lagi. Entah dari mana ingatan ini berasal, tapi yang jelas saat aku menatap pohon takdir dengan waktu yang cukup lama, aku tertidur dan bermimpi. Di mimpi itu aku mengingat berbagai hal, tentang peta, ruang bawah tanah dan berbagai hal."
Razor seketika terkejut, dia sangat ingat tidak pernah membahas tentang peta, atau ruang bawah tanah di masa lalu, lalu Bagaimana Leonardo bisa mengingat hal itu. Sebenarnya dari mana ingatan itu berasal?
"Aku tidak pernah membahas tentang itu di masa lalu!"
"Lalu dari mana ingatan ini berasal? Jika tidak dari masa lalu. Sebenarnya ingatan siapa ini? Dan juga di mimpi itu aku melihat peristiwa buruk.... Dalam satu minggu kota ini akan hancur karena ulah Edward."
"Hancur? Apa maksudmu? Jelaskan dengan rinci!"
"Saat itu aku menatap pohon takdir dengan waktu yang cukup lama, kemudian aku tertidur dan bermimpi. Di mimpi itu aku melihat banyak hal...."
Leonardo membuka mulutnya dan mulai menceritakan semua yang berada di mimpi.
**
Di dunia mimpi Leonardo terdampar ke suatu tempat tanpa cahaya, dan hanya ada kegelapan di sana. Di mana pun dia menatap hanya ada kegelapan tanpa ada satu tanda kehidupan.
'Ini di mana?' Pikir Leonardo saat terdampar di dunia tanpa nama.
Leonardo kebingungan wajar saja, dia sebelumnya tertidur dengan santai di kasur yang empuk nan hangat, tapi mendadak dia pindah di dunia serba hitam, Leonardo sempat berpikir bahwa mungkin ini adalah mimpi.
"Akhirnya kamu datang disini."
Terdengar suara gadis yang nyaring, Leonardo menoleh ke arah suara tersebut dan mendapatkan seorang gadis berambut putih dan berpakaian serba putih, tapi entah kenapa dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, wajahnya seperti tertutup oleh kegelapan.
"Kamu siapa? Di mana ini?"
Dia makin dibuat bingung. Di ruangan hitam yang sebelumnya kosong dan sunyi tiba-tiba muncul seorang gadis. Dia makin dibuat bingung saat muka dari gadis itu tidak terlihat jelas, entah karena tidak adanya cahaya, atau karena alasan lain.
Gadis tanpa nama itu tersenyum, dia berjalan lebih dekat ke arah Leonardo.
"Aku belum bisa menyebut indentitasku, suatu saat pasti kau akan mengenalku.... Kedatanganku di sini adalah karena waktunya telah datang. Persyaratan telah terpenuhi, ini saatnya membuka sedikit ingatanmu." Gadis itu meletakkan tangan kanan ke arah kepala Leonardo.
Dan seperti potongan-potongan film, sebuah ingatan terlintas di otak Leonardo, meskipun hanya berupa potongan kecil dan tidak terlalu jelas, tapi dia melihat perang saudara di kota OZ, para penduduk saling bertarung tanpa alasan yang jelas, menimbulkan lautan darah.
Di sepanjang kota hanya ada rasa sakit. Para anak kecil menangis ketika melihat mayat orang tua mereka terbunuh dan dia bisa melihat Razor, Monika, dan Lily terbunuh di peperangan itu. Pemandangan kota sangat tidak enak, di tengah perang saudara terlihat Edward tertawa dengan keras, dia sangat menikmati situasi itu.
'Ini pasti ulah Edward' itulah yang terlintas di otaknya.
Leonardo terbangun, nafasnya berantakan, kepalanya serasa mau meledak. Dia mengatur nafas dan mengangkat tubuh dari kasur.
__ADS_1
"Apa yang barusan mimpi?"
"Tidak, ini terlalu nyata. Mungkin ini salah satu ingatanku." Dia berkata untuk dirinya sendiri.
Leonardo membuka matanya yang terasa berat itu, saat membuka mata tatapannya langsung menuju ke arah lantai. Sekali lagi dia merasa sakit kepala, dan ingatan kecil menerobos otak. Di ingatan itu dia dapat melihat jelas, bahwa ada ruangan bawah tanah dan ada peta di sana.
Di otaknya terus berkata untuk mengambil peta itu, perintah itu tidak mau menghilang di otaknya, jadi Leonardo memutuskan untuk mengambil peta itu.
itulah yang terjadi di mimpi dan saat Razor pergi.
"Jadi begitu... Sungguh sesuatu yang sulit dipercaya, daripada dibilang ingatan itu lebih cocok disebut dengan penglihatan masa depan." Ucap Razor setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Leonardo.
"Penglihatan masa depan? Kalau dipikir-pikir ada benarnya, ini hanya analisis ku, tapi sepertinya aku melakukan kontrak dengan Rukh dan bayarannya adalah ingatan." Hal yang dikatakannya mungkin benar, tapi juga bisa salah. Dia masih tidak yakin.
Razor pun terdiam untuk memikirkan sejenak, tapi tidak menemukan jawabannya. Dia tidak terlalu peduli, lebih baik dia mengurus luka Leonardo yang semakin parah. Razor berjalan mendekatinya untuk mengajak pulang dan beristirahat, tapi Leonardo menolak.
"Aku tidak punya waktu, jika begini terus peristiwa itu akan menjadi kenyataan, ini adalah kesempatan emas untuk merubah masa depan. Seperti yang kau katakan tadi siang, takdir tidak berjalan satu arah. Takdir bagaikan akar pohon yang bercabang, jika ada masa depan di mana kota ini mati, pasti juga ada masa depan di mana kota ini selamat." Leonardo menjelaskan hal itu dengan tatapan sayu, dia terlihat sangat lemah, di tubuhnya pun penuh luka. Darah bisa terlihat jelas di jaket yang dia kenakan.
"Aku menolak! Kembalilah sebentar dan dinginkan kepalamu! Dengan tubuh lemah seperti itu kamu hanya akan mati." Razor membesarkan nada, dia mulai emosi karena temannya itu sangat keras kepala.
"Enyah lah!! Kalau kau mengganggu maka...." Belum selesai bicara Leonardo telah menarik pedang di pundaknya. Dia menatap tajam Razor dan memasang kuda-kuda. Tubuhnya dibungkukan, dan kedua tangannya menggenggam pedang dengan erat. Dia siap bertarung.
Razor berdesis kesal. Dia terpaksa mengambil pedangnya. Dia pun memasang kuda-kuda bertarung. Dia akan menahan diri dan akan mengakhiri pertarungan bodoh ini dengan secepat mungkin.
Dua orang ini saling bertatapan, di jembatan tanpa penghuni. Tanpa satu interaksi dan hanya bertatapan sembari memasang kuda-kuda untuk bertarung.
"Jangan salah kan aku kalau lukamu semakin parah...." Razor menempatkan ujung pedang yang tajam ke tangan kirinya, pedang ia jajarkan dengan Kepalanya, kaki sedikit ditekuk dan matanya menatap tajam Leonardo. Dia berencana melakukan gerakan tusukan dengan kecepatan tinggi.
'Tenang saja kau tidak akan mati Leonardo.' Pikirnya dalam hati. setelah berhasil berdiri tepat di depan Leonardo, tanpa menunggu waktu lama dia langsung menusuk pedang ke arah kaki Leonardo dengan kecepatan luar biasa.
Tapi Refleks Leonardo lebih luar biasa, dia melompat kecil ke belakang untuk menghindari serangan itu. Hal ini tentu saja membuat Razor terkejut untuk beberapa detik, dia tak pernah menyangka serangan terkuatnya bisa dihindari semudah itu. Leonardo tidak Mensia-siakan kesempatan ini, Leonardo menebaskan pedang ke arah Razor yang terlihat memiliki celah.
-Cring
Meskipun terkejut, namun Razor tetaplah petarung kelas atas. Dia dapat memblokir serangan itu dengan pedangnya.
Saat ini dua orang itu saling menggesekkan pedang, hingga memunculkan suara yang bising dan mereka berdua berdua terus mendekatkan wajah masing-masing.
"Aku terlalu meremehkan mu. Walaupun lupa ingatan Leonardo tetap Leonardo. Pengalaman bertarungnya tetap masih membekas. Sesuai dugaan dari tiga terkuat dari Eraser, tidak bisa diremehkan."
Leonardo hanya terdiam mendengar perkataannya, dia menekan pedangnya lebih kuat.
Dulunya Leonardo adalah tiga top terkuat di Eraser, dia berada di posisi ketiga setelah Aliot. Dia memiliki kemampuan yang hebat, bahkan dengan mendengar namanya saja sudah membuat para musuh ketakutan. Kekuatan, keterampilan, kecerdasan, semua aspek yang dia miliki digadang-gadang setara dengan Gray, ketua dari Eraser itu sendiri. Bahkan di organisasi sendiri mengatakan bahwa sebenarnya Leonardo lebih berpotensi daripada Gray, tapi dia hanya menyembunyikan kekuatannya.
Saat itu bahkan dia tak pernah menunjukkan Rukh miliknya dia hanya bermodal pedang, kekuatan elemen dan kekuatan fisik, tapi dia mampu mencapai top tiga terkuat. Hal ini merupakan tanda seberapa kuat dia. Dan ini juga merupakan alasan kenapa dia diwaspadai oleh Eraser sendiri.
Razor yang merupakan urutan sepuluh di Eraser sangat mengagumi Leonardo, oleh karena itu dia mengikuti jejak Leonardo dan terus berlatih dan fokus di pedangnya, dia juga sangat jarang mengeluarkan kekuatan Rukhnya.
Tapi sekarang idolanya tepat berdiri di depannya, tentu saja dia tak akan menahan diri.
__ADS_1
"Hehehe..." Razor masih menahan pedang dari Leonardo dan tertawa kecil.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak terlalu penting. Tapi sungguh kehormatan bagiku karena bisa beradu pedang dengan top tiga Eraser.. Aku tidak akan menahan diri dan menggunakan Rukhku jangan sampai mati lo Leonardo! Acara yang seru baru akan dimulai."
-Blak
Razor menendang perut Leonardo dengan keras, membuat dia tergeletak untuk beberapa detik. Tapi beberapa detik itulah yang dia incar.
Razor mengepalkan tangan ke depan, dia menutup matanya dan mulai merapalkan mantra.
"Wahai Belpo, sang penglihat segalanya, sisi negatif diriku. Dengan ini aku memanggilmu. Berikan aku kekuatan! Pinjamkan aku kemampuanmu! Dengan ini datanglah ke duniaku! Aku memanggilmu.." Tangan kanan Razor mengeluarkan cahaya merah. Di tangan itu keluar lingkaran sihir kecil. Dan sepertinya dia berhasil memanggil sesuatu ke tangannya.
'Berbeda dengan Lily dia tak mengeluarkan manusia, tapi apa yang dikeluarkan?' Leonardo bertanya kepada dirinya sendiri.
Razor membuka tangan kanannya, dia seperti membawa lensa mata dan tanpa menunggu lama dia memasang lensa itu ke matanya.
Mata Razor yang sebelumnya merah sekarang menjadi kebiruan karena tertutup oleh lensa mata. Aura Razor pun sedikit berbeda.
"Cih! Mengecewakan ternyata hanya lensa mata. Bisa apa iitu? Pada akhirnya itu hanya trik...." Leonardo mengangkat tubuhnya dan kembali menerjang Razor.
Leonardo sekali lagi mengayunkan pedang dengan kecepatan luar biasa, manusia normal tidak akan bisa menghindarinya.
tepat saat pedang itu hampir mengenai Razor. Razor menghilang dengan cepat.
"Di mana dia?"
"Aku di sini.." Razor berada di belakang Leonardo, dia bergerak sangat cepat seperti berteleportasi. Razor memukul wajah Leonardo dengan kuat hingga membuatnya terhempas, tubuhnya tertabrak dengan dinding jembatan.
"Sudah cukup! Kamu yang sekarang, tanpa Rukh, bahkan tanpa elemen tidak akan bisa mengalahkanku."
Leonardo tidak mengindahkan perkataan itu. Dia sekali lagi menerjang Razor, tapi Razor menghindari semua serangan dari Leonardo dengan santai.
Tebasan pedangnya yang cepat itu dia hindari dengan sangat mudah. Entah itu dari kiri, kanan, atas, dia berhasil menghindari itu semua dengan sangat mudah.
"Arghh!" Leonardo berteriak keras, dia mengayunkan pedang dengan kekuatan penuh berharap kali ini bisa mengenal Razor.
Tapi Razor menghilang sekali lagi, dia berada di belakang Leonardo. Kali ini Razor tidak menahan diri, dia melapiskan kakinya dengan sedikit petir dan menendang Leonardo hingga melayang dan terjatuh di bawah jembatan. Tubuhnya tergeletak di perairan itu.
Mata Leonardo sedikit demi sedikit tertutup dan dia mulai pingsan.
"Aduh! Aku terlalu berlebihan. Tapi seperti dugaanku, dia kuat. Jika saja dia masih memiliki ingatan tentang bagaimana cara menggunakan elemen, pasti aku sudah kalah..." Ucap Razor menatap ke arah tubuh Leonardo yang tergeletak lemah.
Meskipun kecil, tapi di pipinya terdapat sayatan pedang dan darah terus mengalir dari luka pipi itu. Benar, sebelumnya Leonardo berhasil memberikan luka ke Razor.
Meskipun hanya luka kecil, tapi itu adalah hal luar biasa karena hampir belum pernah ada yang berhasil memberikan luka ke Razor yang sedang mengaktifkan Rukhnya.
Karena Razor pasti bisa menghindari semua serang apapun jenisnya itu. Tapi si Leonardo bisa melukainya.
__ADS_1
Razor melompat dari jembatan dan sekali lagi menggendong Leonardo untuk dibawa ke penginapan lagi.
Kali ini dia berencana untuk mengajarkan Leonardo bertarung. Dengan seperti itu, dia akan bisa menghentikan perang saudara yang Leonardo katakan itu.