The Repeater

The Repeater
6. Fragment ingatan


__ADS_3

Langit menjadi hitam pekat, lampu-lampu perumahan pun mati, udara dingin mengitari seorang pria berambut silver yang sedang berada di tengah perumahan kosong di gang tanpa nama, rumah-rumah di sana terlihat tidak berpenghuni, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Cat dinding terlihat memudar tergantikan oleh warna hitam pekat.


Di mana pun Leonardo berjalan, dia tidak bisa menemukan apapun. Sebenarnya pria itu ingin mencari informasi tentang ingatannya dan pria bertopeng bernama Edward itu, tapi dia tidak menemukan apa pun.


Ia terus melangkah dengan pandangan menatap ke bawah, di tengah perumahan yang sepi, dia tidak sengaja berpapasan dengan salah satu rumah di sana yang terlihat menarik perhatiannya.


Rumah itu sebenarnya tidak terlihat layak dipakai, dinding terkelupas, lantai yang terbuat dari kayu pun juga terlihat tergores dan bolong-bolong, pintunya pun terlihat tergores oleh sesuatu benda tajam.


Meskipun rumah itu terlihat bobrok, tapi bisa membuat Leonardo menghentikan langkah dan menatap rumah itu. Di hatinya penuh rasa kangen dan perasaan yang campur aduk ketika menatap rumah itu.


Mata putih Leonardo terus menatap rumah itu, meskipun dia tidak paham dengan perasaannya, tapi yang jelas timbul rasa nostalgia yang amat besar. Pria itu melangkahkan kakinya dan berjalan menuju rumah itu. Saat tangannya hendak membuka pintu dari rumah bobrok itu, seketika ingatan kecil membanjiri otaknya.


Seorang anak kecil berambut silver dengan senyuman di wajahnya sedang berlari-lari mengelilingi perumahan ini. Dia baru saja membuat onar hingga warga emosi dan mengejarnya


"Tunggu anak sialan!" Seorang pria tua berlari mengejar anak itu dengan membawa tongkat di tangan kanannya.


Anak itu menutupi telinganya dengan kedua tangan dan terus berlari mengabaikan teriakan dari para warga yang mengejarnya. Para warga terus menyebut nama anak kecil itu dengan Leonardo.


Mata putih Leonardo membesar, air mata berjatuhan mengenai pipinya. Dia tidak menyangka bahwa perumahan ini adalah tempat dia tinggal saat kecil. Dia terus mengusap air matanya.


Leonardo memutuskan untuk memasuki rumah itu karena sangat yakin akan mendapatkan suatu informasi di situ.


Saat dia melangkah masuk semua terlihat berantakan, atap dari kayu terlihat hancur, sampah berserakan, dinding yang sebelumnya putih sekarang berkarat, aroma di ruangan itu pun terasa sangat tidak sedap.


Tapi Leonardo tidak mempedulikan kondisi rumah itu dan terus melangkah.


Memasuki beberapa kamar, sebagian besar dari kamar memiliki debu yang amat banyak, jaring Laba-laba bahkan ketika memasukinya saja sudah menempel di tubuh Leo. Namun di salah satu kamar, dia menemukan foto yang menarik perhatiannya.


Foto itu terletak di lemari baju yang warnanya telah pudar menjadi warna coklat dan penuh debu maupun sarang Laba-laba. Foto yang penuh debu itu di ucap menggunakan lengan baju Leonardo agar terlihat lebih jelas.


Ketika telah bersih foto itu menampilkan sosok anak kecil berambut silver yang di pangku oleh seorang wanita tua berambut pirang dengan panjang sebahu, mereka berdua tersenyum lebar dan sedang duduk dikursi suatu kursi yang mewah.


Melihat foto itu membuat Leonardo meneteskan air mata karena anak kecil itu adalah dirinya saat kecil, dia mengelus foto itu dan sekali lagi ingatannya terlintas.


Leonardo kecil berlari di suatu ruangan yang terlihat mewah dengan gembira. Dia sedang mengitari ruangan tersebut seperti mencari seseorang.


Hingga akhirnya dia menemukan seseorang yang dia cari, orang tersebut sama dengan yang di foto tadi. Dia memiliki rambut pirang sebahu dan menggunakan gaun merah, saat Leonardo kecil menemukan wanita itu sedang menatap lukisan di lorong yang panjang. Dia mempercepat larinya dan memeluk wanita itu.

__ADS_1


Tidak ada tanda penolakan dari wanita itu, dia membalas pelukan dari Leonardo kecil.


"Ada apa nak?"


"Tidak apa-apa, bu. Aku hanya ingin memeluk anda!" Sahut Leonardo kecil dengan senyuman.


Mereka berdua saling tersenyum dan membalas pelukan makin erat.


Air mata Leonardo berjatuhan. "Jadi, dia ibuku?" Ucapnya sambil mengusap air mata.


Dia menatap banga foto itu, akhirnya Leonardo berhasil mendapatkan ingatannya meskipun hanya sedikit. Tapi dia sangat senang, mengingat kenangan itu membuat hatinya tentram dan hangat.


Seharusnya seperti itu, tapi ingatan sekali lagi membanjirnya, namun kali ini bukan ingatan yang baik.


Sebuah komplek perumahan terbakar, semua penduduk berlari panik, daerah dipenuhi oleh asap-asap membuat atmosfermotfer menjadi berat bahkan untuk bernapas pun susah.


Penduduk berlarian untuk menyelamatkan diri, rumah-rumah pun terlihat hancur bahkan tidak sedikit yang hingga berjatuhan.


Ditengah kerusuhan itu Leonardo kecil sedang berlari mencari keberadaan ibunya.


"Ibu?


"Kamu dimana?"


Anak itu terus berlari di tengah kebakaran, menerobos penduduk dan hanya terus berlari tidak peduli apa yang terjadi.


Dihatinya saat itu campur aduk, kota yang sebelumnya tentram, damai. Tiba-tiba mengalami kebakaran sebenernya apa yang terjadi? Seperti itulah pikirannya saat itu.


Tapi Leonardo kecil tidak terlalu memikirkannya. Yang paling penting adalah mencari keberadaan ibu yang menghilang.


Dia terus berlari di tengah asap, membuatnya sesak dan hampir pingsan. Tapi hanya bermodal tekad yang membuat anak itu bisa bertahan. Hingga akhirnya dia menemukan ibunya.


Ibu Leonardo saat itu tertimbun oleh  atap rumah yang sedikit terbakar. Tanpa pikir panjang dia berusaha mengangkat atap itu dengan sekuat tenaga. Tapi percuma tenaga Leonardo saat kecil tidak kuat untuk menyelamatkan ibunya.


"Cukup! Leonardo pergi dan tinggal ibu!"


Air mata Leonardo berjatuhan. "Mana mungkin aku melakukan itu! Aku masih ingin bersama ibu."

__ADS_1


Ibu Leonardo menyeka air matanya dengan tangan yang lemah. Dia tersenyum ke arah anaknya tanpa berkata satu kata pun.


Tangan yang mengusap air mata itu semakin lemah hingga akhirnya terjatuh.


"Aku mencintaimu anakku." Itu adalah ucapan terakhir dari ibu Leonardo sebelum tertidur lemas.


Leonardo kecil berteriak histeris dan pergi dari tempat kejadian, dia terus berlari tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi, disepanjang jalan dia menangis.


Leonardo sekali menangis ketika mengingat peristiwa itu, dia memeluk fotonya lebih erat karena perasaan campur aduk.


Saat dia sedang memeluk foto itu, terdengar suara mengerikan yang sangat nyaring. Leonardo yang penasaran memutuskan segera keluar untuk mencari sumber suara.


Dan terkejutnya dia saat melihat sosok mengerikan di luar perumahan, di situ terlihat jelas makhluk yang menyerupai manusia sedang berdiri tepat di depannya, dia memiliki sayap di kedua bahu, sekujur tubuh berwarna hitam, mata merah, rambut hitam dan tanduk di kepalanya. Di tangannya juga membawa sabit.


Tanpa pikir panjang makhluk itu menyerang Leonardo menggunakan sabitnya. Tapi percuma, pria ini menundukkan kepalanya hingga serangan monster itu meleset.


Kemudian Leonardo berlari dari tempat itu, monster itu hanya terdiam melihatnya. Satu detik. Hanya butuh waktu satu detik untuk monster itu berada di depan Leo lagi.


Seolah sedang berteleportasi, makhluk ini langsung berada di depan Leo.


Blak!


Tendangan keras mengenai kepala Leo hingga membuatnya mental jauh, tak berhenti disitu. makhluk hitam itu sekali lagi muncul di tubuh belakang Leo yang masih terhempas dan memukul tubuh belakangnya dengan keras.


Membuat Leonardo terhempas ke perumahan, saking kuatnya pukulan itu, rumah tersebut langsung hancur ketika terkena tubuh Leo yang mental.


"Apa? Apa-apaan monster ini?" Pikir Leonardo terbaring lemah di tanah. Pandangannya mulai kabur, kepalanya meneteskan cairan merah yang membuatnya semakin kesakitan. Bahkan tulang rusuknya patah. Untuk berdiri pun sangat susah baginya.


makhluk itu berjalan santai ke arah Leonardo dengan sabit yang telah diseret, mata merahnya menatap ke arah Leo yang terbaring lemah.


"Apa aku akan mati di sini? Jangan bercanda! Ingatanku bahkan belum kembali." Pikir Leonardo ketika melihat Monster itu sedang berjalan ke arahnya.


makhluk hitam itu tersenyum mengerikan ke arah Leonardo yang terbaring. Dia mengangkat sabitnya dan hendak menusuk ke arah perutnya.


Sabit itu semakin dekat ke arah perut Leonardo, hanya tinggal satu CM saja mungkin bisa mengenai perutnya, tapi aktivitas dari makhluk itu terhenti ketika menyadari keberadaan seseorang di belakangnya.


"Siapa?" Leonardo memaksakan untuk membuka matanya, untuk melihat sosok yang berada di belakang monster ini.

__ADS_1


Dia seorang pria berambut kuning, mata merah, dan terlihat membawa tas besar. Entah apa isinya.


Pria itu membuka tas besar itu yang berisikan pedang. Dia menatap tajam ke arah monster itu dan menerjangnya.


__ADS_2