The Repeater

The Repeater
12. Elemen dan Mana


__ADS_3

Leonardo terbangun dari pingsannya, seperti sebelumnya dia sekarang berada di penginapan milik Razor dan sedang terkapar lemah di kasur. Pakaian yang dia kenakan telah dilepas oleh Razor karena basah terkena air. Bagian tubuh atasnya kini tertutup oleh perban, sedangkan tubuh bagian bawahnya masih memakai celana. Saat ini pikiran Leonardo sudah sedikit lebih tenang.


Dia sedikit demi sedikit mengangkat tubuhnya yang masih luka, badannya disandarkan ke arah pojok kasur. Dia menatap dinding dan mengingat mimpinya maupun kejadian kemarin. Setelah kekalahannya dengan Razor, Leonardo menyadari bahwa ia masih lemah.


'Jika saja aku tidak dihentikan Razor pasti sekarang aku akan mati. Jalankan melawan Edward, kemampuanku saat ini bahkan tidak cukup untuk melawan Rukh yang muncul beberapa hari lalu. Terima kasih untuk Razor, karena dia aku jadi sadar betapa lemahnya diriku..' Itulah yang terlintas dibenak pikirannya saat ini. Leonardo menyadari betapa bodohnya dia semalam. Leonardo berpikir bahwa saat ini dia masih sangat lemah. Untuk menghentikan perang saudara yang ada di mimpi, dia membutuhkan kekuatan, tapi tidak tahu bagaimana cara agar meraih kekuatan itu.


Clak!


Pintu terbuka, Razor berdiri di dekat pintu masuk dan membawa perban serta obat-obatan menggunakan kedua lengannya, dia berencana mengganti perban Leonardo dengan yang baru. Tapi dia mengurungkan niat itu karena merasa canggung. Mengingat kemarin malam mereka berdua sempat bertarung. Dia juga khawatir apabila Leonardo memberontak sekali lagi. Karena alasan itu dia enggan untuk melangkah dan memilih berdiam diri sembari mengamati gerak-gerik Leonardo, dan ia siap menghentikannya bila melakukan hal bodoh, tapi selama apapun Razor menunggu Leonardo hanya diam dan menatap ke arah dinding dengan tatapan kosong.


Razor berjalan ke arahnya, dia merasa bahwa Leonardo telah menjadi lebih tenang. Dia duduk di salah satu kursi dekat kasur dan meletakan kotak berisi perban di bawah kakinya. Dia menatap Leonardo dengan santai.


Seolah tidak menyadari keberadaan Razor. Leonardo masih menatap ke arah tembok, dengan mata kosong dia masih memutar ingatan mengenai mimpinya kemarin. Mau seberapa keras usahanya untuk menghilangkan memori itu tetap percuma. Ingatan itu akan terus tergiang di otaknya. Seolah memberi isyarat bahwa dia harus segera melakukan sesuatu, atau dia akan menyesal.


Kepalanya semakin pusing, rasanya seperti ingin meledak. Dia memegang kepala menggunakan kedua lengannya agar mengurangi rasa sakit yang dia terima. Dia bahkan berteriak kesakitan dan sedikit memberontak.


Razor makin khawatir ketika melihatnya, dia memutuskan untuk membuka mulut. "Leonardo! Apa kau baik-baik saja?"


Mata putih Leonardo kembali terbuka lebar. Setelah Razor mengeluarkan suara akhirnya memori itu pudar, tapi kepalanya tetap sedikit sakit, jantungnya pun tidak mau berhenti berdetak. Dia mengatur nafas dan menjadi lebih tenang.


"A-aku tidak apa-apa." Nafas Leonardo telah menjadi normal.


Razor tersenyum lega saat melihat teman sekaligus idolanya telah menjadi tenang.


"Kalau begitu aku akan menggantikan perbanmu oke." Razor mulai melepas perban yang sudah terlihat kotor dan telah mengeluarkan bau tidak sedap.


Perban yang kotor dan penuh darah akan diganti dengan yang baru. Razor saat ini sedang mengoleskan obat ke perban tersebut dan memasangnya lagi di perut serta tubuh Leonardo yang penuh luka. Leonardo hanya terdiam saat dia dipasang perban.


'Padahal tubuhnya penuh luka seperti ini, tapi hebat sekali dia bisa menghindari serangan cepatku. Dan juga dia bisa melukai pipiku walau hanya goresan kecil. Jika saat itu dia dalam kondisi prima mungkin yang tergeletak sekarang adalah aku. Dia juga lupa ingatan, namun dia bertarung dengan sangat hebat.. Ah, top tiga memang luar biasa. Jika dia mengingat cara menggunakan elemen pasti dia sangatlah kuat.' Pikir Razor saat memasang perban di tubuh Leonardo. Razor tidak percaya bahwa orang ini bisa bergerak selincah itu walaupun tubuhnya terluka. Dia semakin mengidolakan orang yang sedang dia rawat.


Leonardo baru menyadari sesuatu yang kurang di tubuhnya. Dia melirik ke leher dan sadar bahwa syal yang biasa ia kenakan tidak ada.


"Syalku di mana?!" Suara Leonardo terdengar panik. Dia tidak mau sesuatu terjadi akan syalnya. Meskipun dia tidak memiliki satupun memori dengan syal, tapi dia sangat yakin bahwa barang itu penting baginya.


Tangan Razor menunjukkan ke arah meja yang berada dekat dengan mereka berdua. Meja itu terletak di pojok ruang kanan. "Tenang saja, aku menaruhnya di sana."


"Huh, aku lega." Helaan nafas keluar dari mulut Leonardo, dia sangat bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan syalnya.


Melihat Leonardo yang selalu memakai syal coklat di manapun dia berada membuat Razor tertarik, dia selalu bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan syal itu.


"Sebenarnya aku tak terlalu ingat tentang syal itu, tapi saat aku mengenakannya rasanya hangat pasti ini adalah pemberian dari orang yang sangat penting bagiku karena itu aku tak mau terjadi sesuatu dengan syal ini." Leonardo menjawab apa yang ada di benak pikiran Razor.

__ADS_1


Razor akhirnya tahu alasan kenapa syal itu sangat penting, tapi tetap saja seseorang yang memberikan syal itu tidak bisa hilang dipikirkannya dia semakin tertarik.


Tapi dia berusaha melupakan ketertarikan itu dan memasang perban ke tubuh Leonardo lagi. Aktivitas itu terus berlanjut tanpa adanya komunikasi, dan pada akhirnya selesai.


Razor menghela nafas lega, dia menyeka keringat yang berjatuhan di mukanya.


"Kemarin kenapa kau bisa mengeluarkan petir di kakimu.. Dan setelah kau memasang lensa mata pergerakanmu menjadi lebih cepat, sebenarnya apa yang terjadi saat itu." Leonardo telah memikirkan hal itu dari tadi, tapi dia tidak kunjung menemukan jawabannya, jadi dia memutuskan untuk menanyakan secara langsung.


Razor membuka matanya lebar, dia senang akhirnya Leonardo tertarik tentang hal itu. Dia pun berdebar membayangkan bahwa mulai sekarang dia akan melatih seseorang yang dia idolakan.


"Jika di dunia ini ada yang namanya Rukh. ada juga yang disebut sihir. Elemen adalah salah satu kekuatan dari sihir. Elemen sendiri terdiri dari beberapa tipe, mulai dari api, air, es, angin, tanah, petir, dan kegelapan. Sebenarnya sihir tidak hanya mengeluarkan elemen saja, masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan sihir, tapi aku tidak terlalu bisa menjelaskan karena aku bukan spesialisasinya.." Razor menjelaskan panjang lebar, seolah-olah dia adalah seorang guru sekarang.


Leonardo menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia memperhatikan dan memahami apa yang temannya itu katakan.


'Sihir ya? Bukan hanya Rukh saja, tapi banyak hal tak terduga yang kulupakan.' Pikir Leonardo setelah mendengar penjelasan dari Razor.


"Kalau berbicara soal elemen. Apa yang biasanya kugunakan dulu?"


"Kamu dulunya adalah pengguna Elemen es. Sedangkan aku seperti yang kau tahu aku menggunakan petir dan tanah."


"Kita bisa memiliki lebih dari satu elemen?"


"Dan mengenai kekuatan lensa yang kemarin. Itu adalah kekuatan Rukhku sendiri, kekuatannya adalah membaca gerakan dan mempercepat gerakan pengguna. Rukh memiliki keunikan masing-masing dan kekuatannya sendiri, bentuk dari Rukh pun bervariasi tidak berhenti di bentuk manusia saja, ada Rukh yang berwujud senjata maupun barang."


Mata Leonardo sedikit lebih serius dia menatap Razor dan mencengkram tangannya. Dia sudah memutuskan untuk belajar menggunakan elemen dan banyak hal lagi ke Razor.


"Bagaimana cara mempelajari Elemen, tolong ajari aku!"


Senyum terlukis di wajah Razor. Akhirnya waktu yang dia tunggu telah datang. Dia akan melatih seseorang yang dia kagumi.


"Baiklah. Segera gunakan pakaianmu dan kita akan pergi...." Razor melemparkan jaket yang biasa Leonardo pakai.


Tanpa menunggu waktu lama Leonardo memakai jaket itu dan berdiri dari kasurnya, dia menatap serius ke arah Razor sebagai tanda bahwa dia telah siap. Razor sekali lagi tersenyum dia berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah ikuti aku..." Razor berjalan ke arah tembok. Dia meletakan lengannya ke arah dinding itu, dia menutup matanya dan fokus merapal kan mantra.


Leonardo terdiam menyaksikan apa yang akan terjadi.. Setelah beberapa saat dinding yang sebelumnya datar bergeser ke kanan dan menampilkan tangga yang menuju ke bawah. Leonardo bertanya-tanya dipikirannya, dia ingin tahu apa yang terjadi.


Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Leonardo. Razor menjawab pertanyaan yang melekat di otaknya. "Ini adalah sihir tanahku, bisa menciptakan ruangan sesuai yang aku suka.. Yah, walaupun aku sebenarnya merasa bersalah dengan pemilik penginapan ini, tapi aku menggunakan kekuatan ini untuk menciptakan dua tempat. Satu ruang bawa tanah yang pernah kau masuki dan yang kedua adalah ini. Tempat ini kubuat khusus untuk berlatih.. Ayo turun ke bawah!" Setelah selesai menjelaskan Razor menuruni tangga itu, dia berjalan santai dan diikuti oleh Leonardo yang berada dibelakangnya.


Setelah sampai di tangga di paling bawah, suasana terlihat sangat luas. Lilin tembok mengitari semua ruangan, meskipun tempat ini sepi tanpa barang, tapi luas ini sangat cocok untuk tempat berlatih. Ruangan pun tidak pengap meskipun berada di bawah tanah, tapi ruangan ini cukup memiliki udara.

__ADS_1


Razor berjalan di tengah ruangan itu, sedangkan Leonardo masih berdiri di dekat tangga, dia masih menyaksikan ruangan itu.


"Leonardo, berhenti melihat-lihat dan ke sinilah!" Razor melambaikan tangan, dia menyuruh Leonardo agar segera ke tempatnya.


Leonardo menganggukkan kepala dan berjalan ke arah tengah ruangan itu.


"Jadi apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara menggunakan elemen? Dan bagaimana teknik pedang yang hebat? Dan .."


"Oke, oke, Stop! Bertanyalah satu-satu."


Razor menarik nafasnya dan mulai menjelaskan dengan bahasa sesimple mungkin.


"Jadi cara menggunakan elemen adalah dengan Bomm,.. wamm... Cress.. Jadi seperti itulah cara memakai sihir." Razor meletakan kedua tanganya ke dadanya, berpose sombong.


"??"


'Jangan bilang kalau dia tidak pintar mengajar' pikir Leonardo. Wajar saja siapa yang akan paham dengan penjelasan seperti itu.


"Kau tidak paham? Menyedihkan, baiklah akan kujelaskan sekali lagi caranya adalah Blomm.. waamm.. dan cress.. Kemudian teriakan jurus andalanmu.. Seperti rasenggan, chidori, atau getsu ga tensh-"


Pukulan melayang ke pipi Razor membuat pipinya benjol, pelaku dari pemukalan itu tidak lain adalah Leonardo. Dia sudah dibuat emosi dengan cara ajar Razor yang tidak waras. "Berhenti bercanda dan seriuslah!"


"Tapi senior itu yang paling kutahu lo." Ucap Razor menatap Leonardo dengan wajah yang dibuat seolah-olah sedih, dia juga memegang pipinya yang benjol.


Emosi Leonardo telah meledak. Dia mengambil pedangnya dan menghunuskan pedang itu. "Jangan sebut aku senior kutebas lo." Aura membunuh Leonardo keluar membuat Razor ketakutan.


"Oke, oke, aku paham. Kembalikan pedang itu ke sarungnya!" Seru Razor sembari melindungi tubuhnya. Dia ketakutan jika ditebas oleh Leonardo.


Pria itu mengembalikan pedang ke tempat semula dan menatap ke arah Razor dengan tatapan serius, kali ini dia berharap bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tidak ingin mengecewakan idolanya Razor mulai kembali serius, situasi sekarang menjadi lebih berat.


"Baiklah pertama-tama akan kujelaskan prinsip dasar sihir.. Di dalam tubuh manusia memiliki aliran yang biasa disebut dengan mana. Kita mengumpulkan mana di satu titik dan memberikan perintah di mana itu, bayangkanlah sesuatu yang sesuai elemenmu. Karena berhubungan elemen Senior adalah es maka bayangkan lah es! Kumpulkan semua mana di satu titik dan berbisik lah di dalam hati. Beri perintah mana itu untuk membentuk hal yang kau inginkan sekian." Kali ini Razor menjelaskan dengan serius, acara canda tawa telah berhenti.


"Jadi begitu, terdengar sedikit simpel ya?"


"Secara teori memang simpel, tapi untuk praktek tidak, Seharusnya kita para Eraser tidak perlu menggunakan sihir, cukup menggunakan Rukh, namun jika sihir ditambah dengan pengguna Rukh maka akan muncul kekuatan yang luar biasa."


"Dan aku akan menambahkan satu hal. Memberi perintah kepada mana sama saja kau harus memahami dirimu di bagian paling dalam... Agak susah untuk dijelaskan, tapi mana sendiri juga bisa dibilang bagian dari diri pengguna sendiri, maka dari itu Eraser. Pengguna sisi negatif manusia sangat cocok menggunakan sihir."


"Memahami dirimu bagian paling dalam? Jadi mana hampir mirip seperti Rukh? Jadi mana adalah salah satu bagian dari sisi pengguna sendiri?" Leonardo menanyakan hal yang membingungkan menurutnya, dia merasa aneh dengan prinsip itu. Baik Rukh maupun mana terlihat saling memiliki ikatan.


"Bisa dibilang seperti itu... Baiklah percakapannya sampai di sini, mari mulai latihannya!"

__ADS_1


__ADS_2