The Repeater

The Repeater
14. Latihan 2


__ADS_3

Razor dan Lilly saling bertatapan tanpa mengatakan satu katapun, mereka berdua tidak menyangka bahwa akan bertemu di tempat seperti ini. Pada dasarnya mereka berdua jarang berbicara bahkan untuk berpapasan pun sangat jarang. Jika semisal Lilly tidak dekat dengan Leonardo pasti Razor tidak akan mengenal gadis itu. Karena saking mengidolakannya Leonardo, Razor pernah membuntutinya dan menemukan fakta bahwa Leonardo sedang bersama seorang gadis yang tak lain adalah Lilly. di sinilah dia mulai mengenal Lilly.


Begitupun dengan Lilly, dia sebelumnya pernah menyadari bahwa Razor membuntuti mereka, jadi dia sedikit mengenal pria itu. Walaupun hanya mengenal nama dan wajahnya.


Sebenarnya ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Dan juga kenapa kalian berdandan seperti orang konyol?" Razor membuka topik, dia berharap dapat memecahkan situasi canggung ini.


"Jangan sebut 'konyol!' Aku juga punya alasan tersendiri." Lilly menaikan nadanya, dia dibuat emosi oleh perkataan dari Razor.


Sekali lagi mereka bertiga menjadi pusat perhatian para pelanggan. Mereka menatap tiga orang itu dengan tatapan dingin nan sinis seolah-olah sedang menatap hewan menjijikan, atau hama pengganggu, apapun itu tatapan mereka sangat tak enak untuk dipandang. Menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian Razor sedikit malu, pipinya memerah seketika. Dia lantas menutup mulut Lilly menggunakan kedua tangannya sembari membisikan sesuatu.


"Dasar bodoh! Berhenti memperparah keadaan kamu benar-benar membuatku malu..' Razor menurunkan nadanya, dia berusaha agar apa yang dia katakan tidak terdengar oleh orang lain.


Tapi entah apa yang merasukinya, gadis ini malah makin emosi, dia menepis kedua tangan Razor dan menatap tajam ke arahnya.


"Ini salahmu karena mengatai gaya seorang gadis dengan kata 'konyol' padahal kamu tidak tahu alasannya." Tidak seperti sebelumnya, kali ini Lily berusaha menurunkan suara agar tidak menjadi pusat perhatiaan, tapi emosinya tetap saja terlihat jelas.


Razor yang sedari tadi disalahkan karena alasan yang tidak masuk akal mulai tidak terima, dia ikut naik darah dan ingin mengatakan sesuatu, tapi terpotong karena seorang kasir telah menyiapkan pesanan mereka. Dia menaruh empat tas kertas berwarna coklat yang berisi masing-masing satu roti, dari jarak yang tidak terlalu jauh Razor dapat mencium aroma roti yang memikatnya, di samping kanan tas kertas, tersusun empat botol air yang terlihat segar. Kasir itu mulai menatap kedua orang yang terlihat ingin berdebat dengan tatapan sendu, ia menghela nafas malas.


"Tolonglah tuan. tidak cukup dengan gadis gaya aneh, kamu pun juga ikut berdebat. Tolonglah jangan membuat restoran menjadi ramai lagi, dan segera bayar pesanan anda," Kasir itu berkata dengan nada santai dan sopan, tapi isi dari perkataanya sungguh menusuk hati Razor maupun Lily.


Merasa semakin dipermalukan Razor memutuskan untuk segera membayar pesanan itu dan pergi dari tempat ini. Setelah membayar pesanannya Razor membawa empat tas berisi roti menggunakan kedua lengannya, karena tangannya telah penuh dia menatap kearah kedua gadis yang berdiri di samping kanannya, tanpa perlu berbicara pun mereka berdua tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Aku tahu! Bahkan tanpa kau tatap pun akan kuambil." Lily berjalan kearah meja kasir yang berada di dekatnya, dia mengambil botol tersebut. Aktivitas itu di ikuti oleh gadis yang berdiri di dekatnya, dia tidak lain adalah Monika.


"Kau benar-benar tidak imut sama sekali." Ejek Razor, dia sudah mulai terbawa emosi.


"Berisik!!"


Monika dari tadi kebingungan, dia tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, siapa sosok pria yang berdiri di dekatnya, kenapa dia terlihat dekat dengan Lily. Sebenarnya dia ingin menanyakan hal ini langsung, tapi dia kehilangan kesempatan untuk bertanya karena sedari tadi mereka berdua terus bertengkar dan mengabaikannya.


Razor pun juga sedikit penasaran dengan sosok gadis itu. Dia menatap serius ke arah gadis itu berharap dia bisa mengenal wajahnya, tapi percuma. Yah, wajar karena ini pertemuan pertama mereka, jadi tidak mungkin Razor bisa kenal dengan gadis itu.


'Apa ada orang seperti itu di Eraser?' Pria ini masih mengira bahwa Monika adalah anggota dari Eraser, dia terus memandang wajah gadis itu dari setiap sudutnya.

__ADS_1


'Tidak sepertinya bukan. Dia terlihat seperti gadis normal. Yah, setidaknya dia lebih feminim daripada si Lilly.' Razor makin mendekatkan wajahnya ke arah Monika berharap mendapatkan petunjuk mengenai sosok gadis itu.


Monika yang melihat seorang pria terus menatap dan mendekati wajahnya tanpa alasan yang jelas membuatnya menjadi malu. Pipinya sedikit memerah, dia pun memalingkan mata ke arah lain.


Lilly menutupi Monika dengan tubuhnya dia merentangkan kedua tangannya dan berlagak seperti sedang melindungi anak kecil.


"Jangan menatap Monika.. Dasar mesum!" Entah disengaja, atau tidak Lily menaikan nadanya, membuat para pelanggan menatap ke mereka lagi, kali ini tatapan mereka lebih terfokus ke arah Razor. Para pelanggan memulai sesi gosipnya dan memperramai seisi Restoran.


Lily mengejek Razor dengan senyuman diwajahnya. Dari ekspresinya seperti berkata 'rasakan itu'


Razor menepuk kepalanya, dia menghela nafas malas. Dia benar-benar muak akan kelakuan gadis itu, dan tatapan para pelanggan.


"Ayo pergi!" Razor membalikkan tubuh dan pergi dari restoran, dia diikuti oleh dua orang gadis itu, mereka menghiraukan tatapan sinis dan merendahkan dari pelanggan.


Saat ini mereka bertiga sedang berjalan ditengah kota. Hari semakin panas dan gerah, tapi mereka tetap berjalan ditengah keramaian kota itu.


"Jadi kenapa kalian di tempat seperti itu dan kenapa berpakaian seperti itu?" Razor memulai percakapan, kali ini emosinya sudah tenang dan nadanya pun kini semakin merendah.


"... Itu karena kami menjadi buronan.." Lilly menjawabnya dengan nada sangat santai, seolah tidak sadar apa yang dia katakan bukan masalah sepele.


"Aku tidak melakukan apapun, Leonardo berusaha menyelamatkan Monika dan aku terlibat kemudian kami bertiga menjadi buronan. Makanya aku berpakaian mencurigakan seperti ini."


"..."


'Pada akhirnya kau sadar kalau pakaianmu mencurigakan.' Pikir Razor.


'Tapi kalau begitu berarti gadis bernama Monika itu dulunya adalah budak?' Gumam Razor, dia sekali lagi menatap kearah Monika.


Razor mengganti pandangannya dan menatap ke depan. "Aku paham.. Sebenarnya aku sudah dengar cerita itu langsung dari Leonardo, tapi aku tak menyangka kalau Lilly ikut terlibat."


Lilly menghentikan langkah, kini wajahnya menjadi serius karena mendengar nama Leonardo di sebut. Gadis ini menarik kerah Razor dan menggoyangkannya.


"Kau tahu di mana dia berada?! Tolong beritahu aku! Dia tidak kembali ke penginapan, jadi aku khawatir dan mencarinya!" Kali ini Lilly merengek, dia menggoyangkan kerah Razor dengan brutal.


"Oke.. Oke.. Aku tahu, bisa berhenti menggoyangkan kerahku?"

__ADS_1


Lilly dengan senang hati melepaskan genggamnya dari kerah itu, dia sekarang menatap penuh harapan ke arah Razor.


"Jadi di mana dia?" Mata Lilly bersinar terang, dia sangat berharap akan jawaban yang memuaskan.


'Senior aku tak tahu kalau seleramu seperti ini." Gumam Razor dalam hati, dia mengatur nafas dan menatap Lilly.


"Dia sekarang beristirahat ke penginapanku. Jadi ikutlah jika ingin bertemu dengannya." Razor kembali membalikkan badan dan segera menuju ke arah penginapan.


Lilly tersenyum lega dia memegang lengan Monika yang berada di sampingnya dan pergi menyusul Razor.


Setelah melewati beberapa rute panjang, dan beberapa kios maupun penduduk akhirnya mereka sampai di penginapan Razor.


Razor berjalan memasuki ke penginapan itu, dia terus melangkah ditemani oleh dua orang gadis yang berada di belakangnya. Langkah mereka terhenti di suatu pintu berwarna hijau. Itu adalah kamar milik Razor. Sepertinya tidak ada penghuni lain kecuali Razor di sini. Meskipun masih tersisa banyak kamar, tapi Razor sendiri di penginapan ini.


Razor merogoh sakunya untuk mecari kunci. Dia mulai membuka pintu dan menampilkan kamar miliknya. Kamar itu sangat sederhana hanya ada satu kasur putih besar, meja di pojok, dan satu kursi, benar-benar tanpa barang mewah.


Dua orang gadis itu masih berdiri tepat di pintu masuk. Mereka berdua memutar bola mata untuk melihat berbagai sudut kamar.


"Hmm, sangat simpel ya.." Lilly membuka mulutnya dengan nada seperti mengejek, dia masih belum mau kalah dengan kejadian di restoran tadi. Tingkahnya yang tidak mau kalah benar-benar kekanak-kanakan.


"Hah.. Semua kamar laki-laki simpel.. Cukup diam dan tunggulah di sana!" Razor berjalan ke arah tembok mengabaikan ejekan dari Lilly.


Sama seperti saat bersama Leonardo, pria itu meletakkan tangannya ke arah dinding dan memejamkan mata.


Dinding itu sekali lagi bergeser dan menampilkan tangga yang menuju ke arah bawah, Lilly dan Monika kagum dengan barusan yang terjadi. Tanpa sadar mereka mendekati Razor dan berdiri dibelakangnya, bersiap untuk menuju ke tempat selanjutnya.


"Jadi Leonardo ada di bawah?"


"Ya, dia di bawah. Dia sedang latihan, berhenti berbicara dan ayo turun!" Razor mulai menuruni tangga itu diikuti oleh kedua gadis yang berada dibelakang.


Mereka bertiga terus melangkah untuk menuruni tangga, dan semakin bawah mereka turun maka tempat tersebut semakin gelap, bahkan para anak tangga pun tidak terlalu terlihat jelas jika tidak fokus.


Tapi kegelapan itu sirna dan tergantikan oleh cahaya lilin saat mereka telah sampai di lantai bawah.


Di sana lilin terpasang di sekeliling ruangan yang cukup luas dan di tengah ruangan itu terdapat Leonardo sedang menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang yang berada di tempat ini. Dia terlihat tertidur pulas.

__ADS_1


Mereka bertiga yang melihat itu membiarkannya untuk tertidur sebentar agar beban dan rasa lelah dari pria yang sedang bersandar itu segera menghilang.


__ADS_2