
Setelah mendengar arahan dari Gray. Lily, Razor, dan Leonardo langsung pergi ke tempat tujuan yaitu kerajaan Magnostadt, mereka pergi menggunakan kereta kuda yang akan memakan waktu cukup lama mungkin sekitar satu minggu, atau bisa dua minggu.
Saat ini kedua pria sedang sedang berbicara hal serius, sedangkan Lily tampak tertidur pulas. mereka menatap sebuah peta dunia yang diletakkan di tengah meja. Di peta itu tergambar sekitar 4 kerajaan utama dan mereka sedang membahas itu, tidak lebih tepatnya mereka membicarakan ini agar Leonardo mengingat sesuatu.
“Jadi seperti yang ada di peta ini. Di dunia ini memiliki sekitar 4 kerajaan utama dengan beberapa kota di dekatnya. Kerajaan pertama Noa, itu adalah kerajaan di mana para Eraser berkumpul. Yang kedua Magnostadt tempat di mana para penyihir berkumpul. ke tiga adalah kerajaan Fiore kerajaan para non penyihir dan non Eraser alias hanya para sekumpulan orang bisa, tapi jangan remehkan mereka, para warga Fiore kebanyakan adalah para pendekar pedang berkelas dan selanjutnya..”
Ucapan Razor terhenti, dia tampak ragu untuk melanjutkan penjelasannya.
“Yang selanjutnya apa?” tanya Leonardo.
Razor menghela nafas, dia menatap serius ke arah Leonardo seolah mengatakan bahwa ada sesuatu yang bahaya di sana.
"Hah, dengar baik-baik! Kerajaan yang satu ini cukup bahaya. Di kerajaan itu adalah para penyembah dewa takdir.”
“Penyembah dewa ya? Apa yang buruk dari itu?” Dengan wajah penasaran Leo menanyakan hal itu.
“Mereka memang menyembah dewa, tapi mereka akan sangat kejam jika ada orang luar yang memasuki kerajaan mereka, rumor berkata bahwa hanya para penduduk itulah yang paling suci. Selain mereka tak ada yang suci!Jadi bisa dibilang mereka adalah sekumpulan para narsis!”
“Dan tak berhenti di situ, aku juga mendengar kabar bahwa di kerajaan itu ada organisasi kegelapan penyembah dewa takdir dan mereka sangat bahaya, jika ada orang, atau bahkan suatu kerajaan yang menantang prinsip dewa takdir maka mereka akan dimusnahkan.” jelas Razor panjang lebar.
Leonardo tampak paham, namun ada satu hal yang ingin dia katakan, “Apa nama organisasi itu?”
Muka Razor kembali memucat, dari ekspresi wajahnya seolah berkata bahwa dia tak cukup berani untuk menyebut nama organisasi itu, dia tampak sangat ketakutan. Baru kali ini Leonardo melihat Razor yang seperti itu, namun Razor memaksakan untuk menjawab karena dia merasa bahwa informasi itu akan sangat penting.
“Vindice.”
Mata Leonardo terbuka lebar, dia sangat terkejut akan jawaban Razor. ‘Vindice’ kata itu sangat familiar bagi Leonardo, pria itu sebelumnya pasti pernah terlibat dengan organisasi Vindece, tapi dia tak terlalu yakin.
Saat sedang membahas sesuatu yang serius tiba-tiba kereta kuda terhenti dan bergetar, kuda tersebut juga mengeluarkan teriakan yang berisik. Lily langsung bangun karena mendengar kebisingan itu, sedangkan Leonardo dia sudah keluar dari kereta dan mengecek apa yang terjadi di luar.
Ternyata di luar terlihat sekitar 3 orang bandit yang menggunakan jubah bertudung dan membawa senjata tajam, mereka tampak sedang berusaha menghentikan dan mengancam pemilik kereta kuda.
Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama para bandit hanya ingin merampok? Atau ada alasan lain yang lebih bahaya? Orang normal pasti akan memikirkan kemungkinan pertama, namun Leo dia justru berpikir kemungkinan ke dua.
Apalagi saat Leo menatap jubah bertudung yang mereka kenakan dan bandit itu terlihat sedikit kuat.
__ADS_1
Untuk beberapa saat para bandit menyadari keberadaan Leonardo.
"Woi! Jangan keluar di kereta dan mengganggu, atau senjata tajam ini akan melaju ke lehermu lo mas bro."
Leonardo terdiam dia menatap tajam ke arah bandit itu, tak ada rasa takut di tatapannya, namun para badit malah mengolok-olok wajah Leonardo.
"Hahaha, lihat mas itu! Dia terdiam lo." ucap salah satu bandit.
"Dia pasti ketakutan." sahut bandit lainnya.
Mereka sangat lemah, tapi ada apa? Perasaan tak enak ini?..
Perasaan jika menyerang mereka aku akan merasa bersalah..
Kalau aku tak bisa menyerangnya maka akan ku bekukan..
Leonardo berlari cepat hendak menyerang, dia mengumpulkan mana di ujung pedang miliknya dan hendak mengeluarkan sihir es kemudian mengayunkan pedang, tapi es tak muncul satu pun bahkan ayunan pedang Leonardo dihindari dengan sangat mudah.
Melihat gerakan itu para bandit makin tertawa.
Leonardo kebingungan karena dia tak bisa mengeluarkan sihir normal seperti biasanya, pasti sesuatu ada yang salah.
"Hahaha, lihatlah mas bro itu!"
"Dia berusaha menyerang, tapi sangat mudah dihindari lo, hahaha."
Para bandit makin mengolok-olok Leonardo, tapi pria itu tak terlalu peduli dengan ejekan para bandit. Dia sadar satu hal jika sihir tak berguna maka kali ini cukup dengan serang fisik normal, dia juga sudah menyerah untuk mengeluarkan sihir yang bahkan tak muncul.
* Cring
* Cring
* Brak
Leonardo menyerang ketiga bandit itu dengan cepat. Dia menebas pedang ke arah satu bandit dan bandit itu terkepar. Satu bandit lainnya tampak tak Terima kemudian menyerang Leo, tapi dia menahan serangan bandit itu dan menendangnya. Tinggal tersisa satu bandit, dia tampak bergetar ketakutan dan berlutut.
__ADS_1
Bandit itu tak menyangka kalau orang yang dia ejek ternyata sekuat itu. Leonardo berjalan mendekati bandit itu dan dia makin ketakutan.
"T-Tolong ampunilah aku! Kumohon." Bandit itu kini bersujud, tapi Leonardo tak peduli dan makin mendekat.
Bandit tampak makin ketakutan. "Tolong! Aku mohon, aku hanya ingin agar para penyihir di kerajaan itu tak bertambah!"
Leonardo berhenti tepat setelah dia mendengar tentang 'penyihir di tempat itu' kemungkinan besar yang dimaksud adalah kerajaan Magnostadt.
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang kamu ketahui, aku hanya tak ingin para penyihir bertambah di kerajaan Magnostadt! Maka dari itu kami menyerang kereta ini, soalnya tujuan kereta ini sudah jelas yaitu kerajaan Magnostadt."
"Dan jika bicara tentang pengunjung yang ingin pergi ke Magnostadt bisa disimpulkan kalau mereka pasti ingin pergi ke akademis kan? Kami sangat takut jika bibit penyihir bertambah, pasti jumlah dikriminalisasi juga akan bertambah."
Mendengar jawaban panjang lebar, Leonardo tahu satu hal. Para bandit ini pasti adalah warga non penyihir di Magnostadt maka dari itu dia takut akan penyihir.
"Tapi melihat teknik bertarungmu aku yakin. Pasti anda adalah pasukan pedang dari fiore kan?" tanya bandit itu tampak berharap.
"Tidak aku-"
Bandit itu dengan cepat membawa teman-temannya dan kabur, dia memanfaatkan waktu saat Leonardo ingin berbicara.
Bandit itu kini telah kabur dan meninggalkan Leonardo yang terdiam, dia tak ada niat untuk mengejar mereka.
"Senior sebenarnya ada apa?" Razor kali ini keluar melalui kereta kudanya.
Leonardo menggelengkan kepala dan berkata hanya seorang bandit kemudian mereka kembali ke kereta dan duduk dengan santai.
Leonardo masih memikirkan perkataan dari bandit itu.
[Kami sangat takut jika bibit penyihir bertambah, pasti jumlah dikriminalisasi juga akan bertambah.]
Magnostadt, sebenarnya seberapa kejam mereka?..
Leonardo tampak menahan emosinya dengan mencengkram tangannya dan menatap pemandangan lewat jendela.
__ADS_1