The Repeater

The Repeater
43. Anak pembawa kehancuran


__ADS_3

Seperti biasanya kelas F saat ini sedang melakukan rutinitas harian. Sama seperti sebelumnya semua orang berlari, melompat push up, sit up, yang mereka lakukan benar-benar terlihat seperti anggota militer daripada disebut penyihir.


Sebagian besar para siswa muntah saat sedang melakukan aktivitas dan  tak banyak pula yang langsung tidur di lemah karena terlalu capek dengan aktivitas yang seperti itu. Waktu berjalan kini semua orang tergeletak di lemah, mereka semua mengatur nafas dan menatap langit biru dengan pandangan dan wajah yang penuh keringat.


“Sial! Apa yang sebenarnya kita lakukan?” salah satu siswa berambut hitam serta memiliki mata hijau terlihat mengeluh. Dia mengangkat tubuhnya dan kini menatap tajam ke arah Bu Rosemary.


“Bu Rosemary apa ini benar-benar ada gunanya?”


Pemuda itu tampak cemas. Dia sepertinya sangat takut apabila tertinggal oleh para siswa di kelas lain.


“Tentu saja ada gunanya, tapi untuk sekarang aku tak akan membahas kegunaan itu. Yang perlu kalian lakukan adalah bertahan sampai 1 bulan! Jika ada yang merasa keberatan dengan metode ini boleh pergi sekarang!” Bu Rosemary menaikan nadanya, dia akan berubah sangat tegas apabila ada yang menantang ide miliknya.


Bu Rosemary sebelumnya adalah anggota militer kerajaan yang mempunyai bakat di fisik maupun sihir, jadi tentu saja orang hebat sepertinya tak akan melakukan hal percuma dan membuang waktu. Semua orang tahu akan itu, tapi tetap saja tak bisa menerima, mungkin karena tubuh mereka terlalu lemah? Atau justru mereka kurang tekad?


“Jangan bercanda! Aku tak akan mundur apapun yang terjadi, aku kesini bukan untuk bermain, untuk mencapai tujuanku, aku butuh kekuatan maka dari itu aku datang ke akademi ini.” 


Pemuda berambut hitam itu tampak memiliki  tekad yang kuat saat dia berkata tentang ‘tujuan’ mata Leo terbuka lebar, pemuda itu bukan siswa biasa pasti ada alasan kenapa dia mau ke sini, itulah yang terlintas di kepala Leo.


Mendengar perkataan panjang lebar dari pemuda itu membuat Bu Rosemary tersenyum. “Hee, tujuan ya? Aku tak terlalu peduli, tapi pastikan yang kau ucapkan adalah kebenaran River!”


“Baik, lelaki tak akan mengubah tekadnya itulah motoku.” Pemuda berambut hitam yang bernama River itu tampak bersemangat.


Setelah istirahat beberapa menit kelas F kembali melakukan pelatihan iblis oleh Bu Rosemary.


***


Di saat Leo dan Lily melakukan acara pembentukan otot. Razor menatap semua kelas F dari jendela kelas A, ya. Razor duduk di pojok kanan kelas agar bisa melihat teman-temannya melakukan pelajaran dari versi mereka.


Kelas A terletak di lantai paling atas sehingga siapapun dapat melihat dengan jelas kegiatan dari bawah. Para orang di kelas A tentu saja mengolok-olok para kelas F karena pembelajaran bodoh itu.


Sebagian besar ada yang berkata bahwa pelajaran fisik sebenarnya adalah cara guru bernama Rosemary mempermainkan mereka, dan sebagian bahkan terus menatap rendah ke kelas F, semua orang kecuali Razor dan satu orang gadis di sana.


Gadis itu selalu membaca buku serta menyendiri, dia memiliki rambut putih panjang bagaikan salju yang sangat indah, matanya berwarna merah ruby sama seperti milik Razor, sikap yang tenang serta wajah yang terbilang cantik dan putih nan halus. Karena ketenangan dan sifat dinginnya dia dengan cepat menjadi incaran para lelaki bahkan sampai dijuluki dengan sebutan putri es.



Razor bahkan sering menatap gadis itu di tengah pembelajaran, tanda bahwa dia memiliki ketrtarikan kepadanya, tapi ketertarikan itu berbeda dengan yang lain, dia tertarik karena.

__ADS_1


wah, dia benar-benar mirip seperti senior..


Lihatlah, rambutnya putih sama mirip..


Dan sifat keren dan dinginnya pun sangat mirip..


Benar sekali, Razor menatap gadis itu karena sangat mirip dengan Leonardo, tapi ada satu hal lagi yang membuatnya tertarik.


Tapi yang paling menarik adalah mata merah ruby itu..


Dia sama sepertiku dan Gray, anak pembawa kehancuran, benar-benar nama yang membuat nostalgia..


Aku yakin dia pasti juga kesusahan..


Memikirkan hal itu, dia terus menatap ke arah gadis berambut putih itu bahkan tanpa berkedip satu pun, segala ucapan dari guru terabaikan karena dia terlalu fokus akan gadis itu, hingga akhirnya.


Plak


Sebuah kapur barus melayang di kening Razor, membuat lamunannya hilang dan berhenti menatap gadis itu, dia kini menatap ke arah guru yang melemparkan kapur barus itu dengan perasaan tak enak.


“Maaf,” ucap Razor ketika menyadari bahwa guru itu telah terlihat sangat marah dan dia dengan cepat menjadi pusat perhatian satu kelas, kecuali gadis berambut putih itu, dia tampak tak peduli sama sekali, bahkan sebenarnya dia sadar bahwa telah ditatap, namun gadis itu tak peduli.


Tapi ucapan barusan berhasil membuat pipi Razor memerah dengan cepat. “Tidak, kamu salah paham!”


Seisi kelas menjadi ribut karena Razor menatap Ellina dengan sangat lama. Ellina bisa dibilang incaran para pria tentu saja fakta bahwa Razor mantapnya membuat sedikit kegaduhan.


Guru yang menyadari kegaduhan hanya bisa menaikan nadanya. “Berhenti berdebat!”


Hanya dengan satu kalimat sang guru dapat menghentikan kegaduhan. Kini para murid kembali menjadi diam dan kembali menyimak pelajaran. 


Jam istirahat telah dimulai Razor pergi berjalan tanpa arah, dia sangat bosan jika hanya duduk di satu tempat makanya dia pergi walaupun tanpa arah satu pun. Razor melangkah ke luar kelas, dia menuju halaman akademi dan mendapati Ellina yang sedang menyendiri di pepohonan.


Ellina membaca buku sendiri di sana tanpa siapapun dan hanya menatap buku. Karena disana benar-benar sepi, jadi Razor memutuskan untuk menemani Ellina, dia juga mempunyai hal untuk dikatakan.


“Yo, Ellina. Kenapa kamu selalu sendirian?”  Razor duduk di samping Elli.


“Tidak ada alasan khusus, aku hanya suka tempat sunyi.” sahut Ellina dengan datar dan masih membaca buku.

__ADS_1


“Hee, jadi begitu.” Razor tersenyum mendengar jawaban dari Ellina.


Ellina kembali menutup buku karena sadar akan senyuman ramah dari Razor, dia memandang aneh ke arah pria itu. 


“Kenapa kamu bisa tersenyum seperti itu?”


“Kamu sama sepertiku kan? ‘Anak pembawa kehancuran,” ucap Ellina dengan datar dan menatap ke mata merah ruby milik razor.


Razor tak merespon dan masih tersenyum ke arah Ellna.


Ellina menghela napas dan memalingkan wajah dari Razor. “Anak pembawa kehancuran, mereka adalah seseorang yang memiliki mata merah ruby. Dulu pemilik dari mata merah ruby akan di diskriminasi dan diperlakukan kejam, tanpa alasan yang jelas para masyarakat menolak kita para pemilik mata merah, bahkan kedua orang tuaku juga menolakku karena mata merah ini.. Aku yakin kamu juga mengalami hal yang sama, tapi kenapa kamu bisa tersenyum seperti itu?”


“Hem, kamu benar, aku sama sepertimu. Aku adalah anak pembawa kehancuran. Kita para pemilik mata merah ini akan dihakimi serta dibedakan, kami dianggap sebagai pertanda bencana, dan dengan demikian kami telah mengalami penganiayaan yang cukup besar. Padahal kami tak melakukan apapun, tapi hanya karena legenda yang diciptakan para dewa kami dengan cepat ditindas.”


“Aku tahu perasaanmu Ellina. Karena itulah aku tak bisa membiarkanmu sendiri begitu saja, karena terlalu menyedihkan. Mungkin banyak yang menolakmu, tapi-”


“Kamu salah besar. Bukan berarti aku tak percaya dengan siapapun. Aku hanya berpikir mungkin percuma bagi para anak pembawa kehancuran seperti kita merasakan ikatan, atau hubungan dengan siapapun. Pada akhirnya kita sendiri.”


Elli mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, padahal biasanya Ellina tak mungkin berbicara panjang lebar seperti itu, tapi pengecualian untuk Razor mungkin karena dia memiliki nasib yang sama, jadi dia bisa terbuka.


Tapi mendengar perkataan dari Ellina membuat Razor makin yakin, bahwa Ellina memang sangat mirip dengan dirinya yang dulu.Oleh karena itu Razor tersenyum serta mengelus kepala Ellina. “Kesendirian ya? Kalau begitu aku akan menghancurkan kesendirian itu, lagi pula aku adalah anak pembawa kehancuran. Kalau tak menghancurkan sesuatu maka julukannya hanya pajangan.”


"Dan juga julukan seperti anak pembawa kehancuran hanya berlaku di Kerajaan itu kan?"


Mata merah ruby milik Ellina terbuka lebar, dia terharu dengan perkataan Razor. Kini mata yang biasanya terlihat kosong berubah sedikit berkaca-kaca, dia menerima elusan hangat dari Razor karena memang merasakan rasa nyaman tersendiri, tapi entah kenapa dia tak mau menatap Razor. Pipinya pun menjadi merah karena menyadari bahwa dia suka dielus oleh pria yang baru saja dia kenal.


Dia tak banyak bicara dan menerima elusan itu dengan senyuman, tapi dia bergumam dengan nada rendah. “Terima kasih, ucapanmu barusan membuatku senang.”


“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Razor, dia sangat yakin mendengar sesuatu, tapi dia tak terlalu mendengarnya dengan jelas.


Pipi Elina menjadi merona, dia kembali berdiri dan menepis tangan Razor yang mengelus kepalanya. “Bukan apa-apa. Aku hanya bilang kalau waktu istirahat sudah selesai.”


Setelah berkata seperti itu Ellina pergi menjauh dari Razor, dia entah kenapa sangat malu jika Razor tahu apa yang dia katakan sebelumnya. 


Sedangkan Razor dia menatap pundak Ellina yang semakin lama makin menjauh, dia kebingungan. “Sebenarnya dia kenapa?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Author Note


Selamat buat Razor akhirnya dia dapat heroine


__ADS_2