
beberapa hari telah lewat. Eksekusi akan dimulai beberapa jam lagi. Sebelum eksekusi dilaksanakan Leonardo dan Razor ingin menyelamatkan kedua temannya. Rencana akan dilaksanakan siang hari. Saat ini dua orang tersebut sedang berjalan kaki di kerumunan kota, tentunya menggunakan jubah agar tak diketahui, mereka telah siap menjalankan tugas tersebut.
"Senior, aku telah memikirkan ini sejak malam. Tapi kenapa kamu menolak tawaran para revolusioner?"
"hm, seharusnya kamu tahu dari argumenku kemarin. Aku tak ingin korban semakin banyak."
"Aku tahu, tapi ini terlalu gegabah. lawan kita tak hanya Edward, tapi kemungkinan para warga juga akan menyerang. Dan tak hanya itu, Edward pasti juga punya bawahan yang kuat."
Leonardo menghentikan langkah sementara. "Alasannya bukan hanya itu. Apakah kau lupa dengan mimpi itu?'
"Tidak aku masih ingat. Bukannya aku tak percaya, tapi tetap saja ini terlalu ceroboh."
Leonardo tak merespon dia mengambil dan menatap ke arah jam sakunya. Jam 12.00 tinggal sekitar satu jam sebelum waktu eksekusi dimulai.
"Berhenti mengeluh! Kita tak punya banyak waktu."
Leonardo menambahkan kecepatan dan berlari Mendengar jawaban dari Leonardo membuat Razor menghela nafas, dia mau tak mau harus mengikuti keinginan temannya ini. Lagi pula yang dikatakan Leonardo benar, mereka tak punya banyak waktu karena beberapa jam lagi eksekusi akan dilakukan.
Dua lelaki itu terus berlari dan pada akhirnya sampai di tempat eksekusi akan dilakukan, semua orang terlihat berkumpul disatu titik mereka tersenyum dan mengejek dua orang gadis yang hendak dieksekusi. Mereka menikmati ini seolah adalah pertunjukan.
'dasar tak waras' Leonardo berjalan menerobos kerumunan meskipun emosinya bisa meledak kapanpun.
Leonardo masih menatap ke arah dua orang gadis yang terikat di kayu itu. Berbeda dengan yang kemarin mereka telah membuka mata dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari rantai, namun percuma tenaga mereka tak cukup.
"Sial! Ini benar-benar gawat bukan?!" Lily terlihat panik dia terus memberontak. Berusaha untuk melepaskan diri dari kayu serta bogrol yang menganggu.
"Percuma Lily. Hari ini kita akan mati." Berbeda dengan temannya, Monika gadis berambut hitam itu mengeluarkan ekspresi putus asa.
"Jangan berkata seperti itu Monika!"
Melihat dua orang yang berusaha melepaskan diri malah membuat suasana penonton menjadi ramai. Semua orang mulai tertawa dan mengolok-olok dua gadis itu.
"Lihatlah mereka! Berusaha untuk kabur, hahaha.. Menyedihkan."
__ADS_1
"Duh, kasihan.. Aku makin tak sabar melihat mereka mati."
"hahaha.. cepatlah mati dasar sampah."
"Siapapun percepat eksekusinya. Aku jadi kasihan melihat dua gadis berusaha melepaskan diri, ini beneran menyakiti hati.... Bercanda, hahahaha."
Mereka semua tertawa dan terus mengolok-olok Lily dan Monika.. Leonardo sudah geram ingin rasanya dia segara melakukan sesuatu, tapi dia tak bodoh. Tentu saja Leonardo dan Razor memiliki rencana jadi dia tak bisa bertindak seenaknya.
Rencana kedua orang ini cukup simpel, saat eksekusi hendak dilakukan Razor akan melepaskan elemen petir dengan kekuatan besar ke langit hingga bisa membuat semua orang mengubah pandangan ke arahnya setelah itu Leonardo akan menerobos masuk dan menyelamatkan Lily serta Monika. Oleh karena itu Leonardo dari tadi menunggu hingga petir Razor menyambar.
'Masih belum Razor?' gumam Leonardo di dalam hati, dia menunggu petir itu sebagai tanda mulainya rencana.
Saat Leonardo sedang menunggu, terlihat dua orang pria yang membawa masing-masing satu pedang di dadanya. Mereka menaiki panggung, sepertinya dua orang itu adalah eksekutor.
"Atas perintah tuan Edward kami berdua akan memulai eksekusi sekarang!" ucap salah satu pria tersebut, yang direspon oleh sorakan semua orang yang menonton.
Setelah selesai berbicara mereka menghunuskan pedang dan bersiap untuk memulai acara eksekusi, suma orang tampak tak sabar dan menantikan ini. Kecuali Leonardo, dia terlihat makin murka.
Tepat saat kedua pedang itu hendak mengenai Monika dan Lily, sebuah petir menyambar dengan kuat, menciptakan suara yang sangat besar. Semua orang yang berada di sana menatap ke arah sumber suara tersebut bahkan eksekutor pun berhenti melakukan eksekusi dan menatap ke arah petir.
Sekitar beberapa detik berlalu mereka terhenti dan menatap petir tersebut. Waktu beberapa detik itu tak dibuang sia-sia oleh Leonardo.
Lelaki berambut silver itu langsung berlari kencang dan melompat setinggi mungkin menuju panggung tempat eksekusi. Leonardo melancarkan satu pukulan keras ke arah Pria eksekutor yang sempat menusuk Lily.
Blak!
satu pukulan mendarat keras ke pipi orang tersebut. Teman eksekutor yang satunya terlihat terkejut karena menatap seorang pemberontakan. Dia menodongkan pedang dan berlari untuk menusuk Leonardo.
Gerakan lari itu terlihat sangat lambat bagi mata putih Leonardo. Jika dibandingkan dengan milik Razor, gerakan ini seperti terhenti.
Oleh karena itu Leonardo menghindari dengan sangat gampang, selesai menghindari Leonardo tak lupa memberi serangan berupa tendangan. Hanya butuh waktu sekitar 5 detik baginya untuk menumbangkan dua eksekutor.
"Leonardo?" Lily membuka mata lebar, dia tak menyangka akan diselamatkan lagi.
__ADS_1
Semua orang kembali menoleh ke panggung dengan tatapan terkejut. Wajah emosi terlukis di ekspresinya. Tak ada yang menyangka bahwa ada yang orang bodoh yang ingin menghentikan eksekusi ini.
"Brengsek berani-beraninya dia menghentikan eksekusi!" salah satu penonton berteriak keras.
"Jangan menganggu saat enak-enak!! kalau begini aku tak bisa melihat dua sampah itu tergeletak kan."
Leonardo tak merespon ada hal yang lebih penting dilakukan. Dia membalikkan badan untuk menatap temannya yang sedang terbogrol di kayu. Mereka berdua benar-benar tak bisa bergerak. Luka terlihat memar dan lainnya terlihat di sekujur wajah. Namun dia tenang setidaknya dua orang itu selamat dan masih membuka matanya.
"Kenapa kamu di sini Leo?!"
Lily mengeluarkan suara nada tinggi. Bukan berarti dia tak mau diselamatkan, dia hanya khawatir jika sesuatu akan terjadi kepada pria ini.
"Dasar bodoh! Tentu saja menyelamatkan kalian berdua."
"Sebenarnya ada apa di Kepalamu? Kenapa kamu seenaknya keluar!? Apakah kau tak tahu seberapa khawatirnya aku!? dan juga kamu itu.... Ah sudahlah" Merasa akan melukai hati Lily, Leonardo memutuskan untuk berhenti berbicara.
Namun, daripada dibilang melukai hati. Lily malah tersenyum manis seolah tak bersalah, dia cukup senang bahwa Leonardo ingin menyelamatkan dan khawatir dengannya.
Merasa akan membuang waktu, Leo memutuskan untuk menebas kayu-kayu yang menganggu dan melepaskan bogrol di kedua tangan Lily maupun Monika. Dia tak menggunakan kunci asli, namun menciptakan kunci sendiri menggunakan elemen es yang dipelajarinya beberapa hari lalu.
Selain untuk membekukan lawan. Sihir es juga bisa untuk menciptakan berbagai benda apapun sesuai pengguna. Jika ingin pedang mereka bisa menciptakan tanpa batas menggunakan esnya. Sebenarnya hampir semua elemen bisa seperti ini, namun es sedikit istimewa karena sifatnya yang padat dan keras membuatnya cocok sebagai sarana untuk membentuk kan sesuatu. Sihir pembentukan itulah spesialis dari Es.
"Ayo pergi!" Setelah bogrol terlepas Leonardo mengenggam tangan kedua gadis itu dan hendak membawa mereka untuk kabur.
Namun sepertinya Lily menolak, dia menepis tangan Leo. "Maaf.. Maaf.. Ini semua salahku." Sebutir air mata menetes di pipi gadis itu.
Leo terhenti, dia menyeka air mata dengan sangat lembut. Lily dapat merasakan kehangatan dari tangannya, dia terus mengelus dengan lembut dan tenang, namun meskipun begitu air mata masih menetes. "Tidak apa-apa ini bukan salahmu." Leonardo berusaha meyakinkan, dia sekali lagi menegang tangan kecil dari gadis pirang ini.
Namun sakali lagi Leonardo terhenti. Tangannya ditarik oleh Lily. "Tidak bisa... Leo... Kita tak boleh pergi!! Kalau kita pergi sesuatu yang buruk akan terjadi."
Tak paham dengan apa yang dimaksudkan Leonardo menatap ke gadis pirang itu. Air mata masih mengalir melewati pipinya dan dari wajahnya terlihat sangat bersalah serta menyesal. Padahal dia sama sekali tak bersalah, namun Leonardo merasakan bahwa apa yang dikatakan Lily adalah Serius.
Meskipun dia tak bisa mencerna apa yang dia maksud, jadi dia berhenti untuk sementara dan menatap Lily dengan sorotan mata serius. "Apa maksudmu?"
__ADS_1