
Leonardo menatap ruangan kesehatan ya telah sepi. Dia sedikit merasakan rasanya penyesalan setelah mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi, namun mau bagaimana lagi. Cepat atau lambat fakta pasti akan terbongkar dari pada terus berharap lebih baik beritahu kenyataan lebih awal. Itu adalah pemikiran Leonardo.
"Huh,"
Leonardo menghela napas, menatap kasur yang kosong.
"Sepertinya aku lebih baik melihat pertandingan Lily atau Razor."
Mengucapkan itu Leonardo membalikkan badan dan berjalan menjauh dari tempat ruang kesehatan.
Dia berjalan dan akhirnya mendengar suara keributan, merasakan firasat buruk Leonardo mempercepat langkah menuju stadiun pertandingan.
Tap
Tap
5 menit berlalu Leonardo telah sampai di tempat pertandingan. Seperti biasanya di sana sangat ramai dengan sorakan. Dan di grub F dia melihat River dan teman lainnya.
Leonardo berdesis kesal, meskipun canggung dia harus melihat pertandingan ini lagi pula ini adalah pertarungan Lily dan Laxus.
"Oi! Razor kenapa kamu bisa kalah?"
Leonardo berjalan mendekati Razor. Dia melihat wajah yang babak belur dan terlihat seperti kelelahan.
"Ya, bagaimana aku harus bilang. Pertarungan sebelumnya adalah aku dan Lily. Aku tak ingin menyakiti dia jadi aku mengundurkan diri." sahut Razor.
"Dasar bodoh! Lily sekarang harus melawan Laxus kan?"
Leonardo tampak tak terima, mungkin dia sangat khawatir dengan Lily.
__ADS_1
"Maaf, aku serius. Aku mengalah karena tak ingin bertarung dengan 'kekasih anda' Lily." Sahut Razor tampak bersalah, walaupun di bagian kekasih dia tak berbicara secara langsung dan hanya di dalam hati.
"Dan juga aku tak menyangka bahwa petarung selanjutnya adalah Laxus. Aku kira Elli akan menang, sial!"
'Pertama-tama lihatlah jadwal pertarungan, dasar bodoh' batin Leonardo.
"Yosh, pertandingan ronde ke tiga dimulai!!"
Sang juri berteriak sebagai tanda dimulainya pertandingan. Semua orang baik Leonardo maupun yang lain langsung terfokus ke arah Lily dan Laxus yang hendak bertarung.
"Ini gawat si rambut pirang itu tak mungkin menang."
River mengigit bibir mengingat bahwa dia saja tak bisa melawan sang Laxus. Laxus memiliki level yang beda.
"Cih, hahaha. Musuhku ternyata gadis lagi setelah Ellina selanjutnya kamu gadis kecil. Tapi aku lagi dalam kondisi baik. Aku tak tertarik denganmu, jadi cepatlah mengundurkan diri." kata Laxus dengan nada yang cukup keras bahkan para penonton dapat mendengar perkataan itu.
'Itu benar Lily, mundurlah! Tak perlu memaksakan diri' pikir Leo.
"Tidak mau."
Jawaban lantang yang dapat membuat semua orang terkejut, bahkan Leo juga sempat terkejut. Siapapun tahu kekuatan Laxus, gadis itu tak memiliki kesempatan untuk menang itulah yang ada dipikiran penonton, tak ada yang berharap dia menang.
'Apa yang kamu katakan dasar bodoh'
Leo melebarkan mata tak menyangka dengan jawaban dari Lily. Sebenarnya apa yang dipikirkan Lily kenapa dia malah memutuskan untuk melawan Laxus? Jawabannya sederhana dan simpel.
"He, kenapa kamu tak menyera" tanya Laxus mengangkat kedua bahunya.
"Ini hanya pemikiranku saja, tapi kalau tak salah kamu berkerja dengan Edward?"
__ADS_1
Lily bertanya balik, mencoba untuk mengecek apakah pikirannya benar.
"Ya, aku bekerja sama dengan dia. Memang ada masalah?"
Gigi Lily mengigit bibirnya tanda dia sedikit marah dengan jawaban itu. "Aku dengar kamu menjual seorang bayi yang berambut orange apa itu benar?"
"Ya.. Terus?"
"Jadi begitu.. Kalau begitu pemikiranku benar."
Semua tampak kebingungan tak paham akan arah pembicaraan, kecuali Leonardo dan Razor. Mereka berdua paham dengan maksud perkataan Lily, kemungkinan besar dia sedang membahas Monika.
"Kamu sudah membuat teman perempuanku menderita, menangis, dan bahkan sampai hampir lupa cara tersenyum cukup dengan alasan itu aku tak akan mundur. Setidaknya sampai aku berhasil melancarkan satu pukulan ke wajahmu."
Penonton tampak memandang rendah Lily mereka terlihat ketawa karena menganggap perkataan Lily adalah hal yang lucu dan mustahil dilakukan, tapi tak berlaku bagi Leo dan teman lainnya, mereka justru terlihat kagum akan perkataan Lily terutama Leonardo.
Tatapan mata khawatir dan rencana untuk menghentikan Lily hilang setelah mendengar tekad dari Lily, sekarang wajah yang ada di muka Leo adalah senyum kebanggaan, meskipun dia tetap merasa khwatir, tapi dia menerima tekad dari Lily.
Tekad Lily sangatlah hebat bagi Leonardo, dia tahu setatus persen bahwa akan kalah, bahkan seharusnya dia mungkin melancarkan satu serang pun ke Laxus.
Tapi Lily tak peduli, dia akan tetap melawan Laxus meskipun dia akan mengalami luka yang fatal, dia akan melakukan apapun untuk temannya Monika yang telah tewas. Dia sangat menghargai Monika kare itu Lily sangat marah ke arah Laxus.
Hal ini memberikan perasaan pribadi yang hangat bagi Leonardo, dia tersenyum hangat ke arah Lily.
"Huh, dasar bodoh jika kamu menyerah mungkin tak akan menerima rasa sakit, tapi kamu malah memutuskan untuk melawan. benar-benar bodoh."
"Aku tak peduli dengan tanggapanmu, kalah pun aku tak peduli asalkan bisa memukulmu dalam satu serangan saja aku sudah sangat puas." Senyuman penuh ambisi tergambar di wajah Lily, membuat sebagian orang kembali menatap remeh ke Lily.
'Dan juga aku tak akan membiarkan orang sepertimu Melawan Leonardo, dia terlalu bahaya. Aku takut jika sesuatu terjadi kepada Leo saat melawan iblis ini.'
__ADS_1
Masih ada satu alasan lagi, kenapa Lily sangat keras kepala. Yaitu demi melindungi Leonardo, dia tak mau jika Laxus melawan leo. Tapi tentu saja dia tak akan mengatakan itu secara tegas, karena akan memalukan
Desisan keluar dari mulut Laxus. "Kalau begitu mari kita lihat."