The Repeater

The Repeater
35. Setelah pertarungan


__ADS_3

"Leo!"


"Bangunlah Leo!"


Seorang gadis sedang berusaha membangunkan pemuda yang masih tertidur lemah di tempat tidurnya. Meskipun gadis itu berusaha untuk membangunkannya, tapi pemuda itu masih tertidur dengan lemah. Tidak, kata tertidur kurang tepat, pemuda itu terlihat seperti pingsan karena itulah gadis ini sangat khawatir.


Gadis itu memiliki rambut pirang panjang. Mata birunya menatap wajah pemuda yang masih pingsan. Dia makin khawatir bila pemuda bernama Leo itu tak kunjung bangun. Dia sudah duduk di samping tempat tidurnya sejak tadi pagi. Berharap dia cepat bangun, namun tak terwujud.


Air mata menetes di mata biru miliknya, hatinya pun serasa panas bila membayangkan pemuda itu tak akan kunjung bangun. Dia baru saja kehilangan teman berharganya, tak bisa dibayangkan apabila pemuda yang dia cintai ikut berakhir dengan nasib sama.


"Hiks.. hiks.. Leo! Bangunlah dasar bodoh!"


Sambil menyeka air mata yang berjatuhan, dia menggenggam erat tangan pemuda yang pingsan itu menggunakan tangan kanan dengan sangat erat berharap keajaiban terjadi.


Dan keajaiban itu terwujud, Leo sedikit demi sedikit membuka matanya. Dengan tubuh yang sakit di sekujur badannya dia memaksakan diri untuk mengangkat tubuhnya. Perlahan tapi pasti saat ini dia telah berhasil mengangkat tubuhnya, mata putih miliknya bertemu dengan mata biru milik Lily yang penuh air.


"Lily kamu-"


Gadis pirang itu langsung memeluk tubuh pemuda dengan sangat erat, walaupun air mata masih mengalir, dia merasa bahagia setidaknya pemuda ini baik-baik saja.


"Uwaa, Leo.. hiks.. syukurlah kamu baik-baik saja!.. hiks... aku khawatir lo, kenapa kamu tak kunjung bangun dari tadi?! Dasar bodoh!"


Mendengar yang dikatakan Lily, Leo hanya bisa tersenyum. Sama dengan Lily, Leo juga sangat bersyukur jika gadis pirang itu baik-baik saja. Dia melingkari tangannya dan membalas pelukan itu dengan erat.


".. Aku benar-benar bersyukur! Aku takut bila kamu berakhir sama dengan Monika.."


Mata Leonardo kembali terbuka lebar, dia kembali teringat akan kematian Monika itu. Pelukan yang sebelumnya erat perlahan menjadi lemah.


* Klrak


Sebuah pintu terbuka menampilkan sosok laki-laki dengan rambut kuning serta mata merah. Dia membawa beberapa obat seperti p3k di kedua lengannya, begitu dia masuk ia terkejut akan pemandangan pelukan hangat itu.


Sejujurnya dia berpikir bahwa, dia masuk di waktu yang salah, tapi bodoh lah.


"Akhirnya kamu bangun senior."


Razor melangkah mendekati kedua orang yang masih berpelukan itu. Menyadari keberadaan Razor dengan cepat Lily melepaskan pelukan itu dan menatap ke arah Razor dengan ekspresi seolah mengatakan 'aku tak melakukan apapun jadi lupakan', namun Razor hanya menjawab dengan helaan nafas.


Dia meletakkan p3k ke meja dan duduk di kursi dengan kasur Leonardo.


"Yo, apa kamu tahu. Senior tertidur lebih dari 4 hari lo."


Berusaha bersikap santai dan tenang itulah yang dilakukan Razor, padahal hatinya berkata lain.


"Jadi begitu, lebih dari 4 hari ya."


Sifat tenang Razor kembali dia sudah tak bisa membohongi ekspresinya labih dari itu. Dia menatap Leonardo dengan serius.


"Senior, apa kau masih ingat yang terjadi beberapa yang lalu?" Razor memastikan karena Leonardo mempunyai luka di bagian kepala yang cukup parah


Leo mencengkram selimut yang berada di kasurnya dengan erat, dia melampiaskan emosi di cengkraman itu.


"Ya, tentu saja aku ingat! Kegagalan itu.. Itu semua salahku!"


"Tidak, itu tak sepenuhnya salahmu."


Benar, ini bukan salah senior, jika saja aku sadar keberadaan Edward. Ini semua tak akan terjadi.


Dan juga, senior lupa ingatan. Dia pada akhirnya sama dengan pemula, seharusnya aku tak terlalu mengandalkan dia..


Razor membuka mata, dia menatap Leonardo dengan pandangan sedih.


"Omong-omong, senior daripada memikirkan ini. Lebih baik kamu pergi ke makam Monika bersama Lily.. Monika pasti akan senang jika kalian berkunjung."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu situasi kembali menjadi canggung, entah sengaja atau tak disengaja Razor telah membuka topik yang tak seharusnya.


Makam Monika, mendengar itu tentu saja Leonardo maupun Lily menjadi terdiam. Lily menjatuhkan air matanya, gadis ini masih tak ingin menerima fakta kelam. Bahkan saat dia dan Razor berada di makam beberapa hari yang lalu, saat Leo masih tertidur lemas. Gadis itu terus menangis tanpa henti.


Leo juga sama, dia tak mau menerima fakta kejam itu, dalam hatinya juga rusak penuh kesedihan dan amarah. Tapi anehnya seberapa besar kesedihan yang dia miliki. Dia tak bisa meneteskan air mata.


Tapi Leonardo pada kenyataannya belum melihat makam Monika. Jika itu akan menyenangkan roh Monika maka dia akan menjenguknya.


"Ya, kau benar. Dia pasti akan senang bila kita berkunjung. Ayo Lily!"


Mencoba bersikap tenang, dia berdiri dari kasurnya dan memegang kepala Lily yang masih masih menangis, dia mengelus Kepala dengan halus.


Leonardo ingin menunggu hingga Lily selesai menangis baru mereka berdua akan pergi. Setelah beberapa saat akhirnya Lily berhenti menangis, dia mengelap air mata menggunakan tisu.


"Aku sudah membaik. Ayo Leo!"


Meskipun mengatakan itu, tapi kantong mata Lily sangat merah, siapapun akan sadar bahwa dia baru menangis. Tapi Leonardo tak mempersalahkan hal itu.


"Omong-omong, Razor apa kamu tak ikut?" tanya Leo.


Razor menggelengkan kepala. "Aku tidak dulu. Melihat makam itu, rasanya menusuk hatiku."


"Jadi begitu, kapan-kapan datanglah ke makam. Monika pasti akan senang jika kita bertiga menjenguk."


Setelah itu Lily dan Leonardo pergi meninggalkan Razor yang terdiam di tempat duduk. Razor menatap pundak mereka yang semakin lama semakin menghilang.


Setelah di rasa kosong, pria itu mengutarakan kata hati yang sedari tadi dia tahan.


"Sial! Aku benar-benar menyedihkan.. Menyedihkan! Monika, gadis itu bahkan baru saja belajar tersenyum, tertawa, mengenal rasanya pertemanan, dan dia baru saja merasakan cinta lo! Kenapa semuanya berakhir seperti ini."


Razor masih terpukul akan kematian Lily. Yah, siapapun pasti akan merasakan itu.


"Selain itu, bahkan kota ini telah berantakan. Dan hasilnya seperti ini! Monika pada akhirnya mati."


Lily dan Leonardo berjalan menuju makam yang dimaksud Razor. Sepanjang jalan mereka melihat beberapa bangunan yang sebelumnya kokoh telah hancur, banyak penduduk yang menatap mereka berdua dengan sinis dan berbagai percakapan tak enak di denger juga menyerang telinga mereka.


"Sial! Ini semua salah dua orang itu, kota kita jadi hancur."


"Itu benar, jika saja mereka tak ikut campur dan mengikuti apa yang tuan Edward katakan ini semua tak terjadi."


"Kita sendiri mengikuti orang itu bukan karena suka. Ini demi keselamatan bersama, karena itulah kami berlagak kejam dan pura-pura tak melihat kejahatan yang mereka lakukan. Seperti itulah cara kami bertahan hidup."


"Tapi bukankah kita harus berterima kasih? Berkat mereka akhirnya si Edward pergi lo."


"Jangan bercanda! kamu pikir berapa banyak nyawa melayang karena kemarahan Edward."


Di tengah perjalanan mereka berdua, tidak lebih tepatnya Leonardo menyadari. Bahwa semua warga di kota OZ bukan berarti jahat, yang salah itu Edward. Para warga melakukan apa yang ia mau demi keselamatan mereka sendiri. Dulunya banyak yang memberontak, namun pada akhirnya mereka semua mati.


Dan Leonardo menyadari bahwa setelah mereka kabur, sebagian para penduduk warga dibunuh secara masal oleh Edward, tak peduli anak-anak, orang tua, perempuan, bahkan yang masih selalu setia kepada Edward, mereka semua dibunuh hanya demi menghilangkan emosi Edward.


Benar-benar orang yang kejam..


Leo mengigit bibirnya sekali lagi.


""Ini semua salah kalian!!""


Sura jeritan anak kecil bergema sangat besar. Hingga membuat kedua orang itu menghentikan langkah dan menatap anak kecil itu.


Dia terlihat menangis sepertinya kejadian pilu terjadi kepadanya. Anak kecil itu melemparkan batu kecil dan menatap tajam Leo maupun Lily.


Seorang anak perempuan mungkin kakaknya memeluk anak itu, dia berkata.


"Tenanglah Teo!"

__ADS_1


Anak bernama Teo itu mendorong kakaknya. Dia berjalan tepat di depan Leonardo.


"Ini semua salah kalian! Jika saja kalian diam dan tak mengganggu acara eksekusinya.. Ibu.. Ibu pasti masih hidup. Tepat setelah kalian kabur, ibuku dibunuh oleh para bawahan Edward, mereka bilang itu demi tanda jangan memberontak lagi." Air mata mengalir deras ke pipi anak itu. Lily yang mendengar pun juga merasa iba dan mengis.


"Itu benar! Nenek juga mati karena ulah kalian!" Salah satu perempuan di sana terlihat marah.


"Anak-anak ku juga jadi korban, apa kalian paham? Mereka hanya anak kecil. Mereka kebetulan berada di dekat tempat eksekusi karena ingin bermain dan pada akhirnya mati." Seorang ibu menangis dan berteriak.


"Anak ku juga sama. Dia kehilangan tangannya, dan mata kanannya!" Kali ini seorang pria tua.


Tak berhenti di situ banyak sekali para warga yang menjadikan dua orang itu sebagai pelampiasan emosi. Mereka semua melemparkan batu ke arah dua orang itu.


Namun baik Lily atau Leonardo hanya terdiam menerima amarah itu.


Hingga tiba-tiba suara keras yang sangat mereka kenal bergema. Dia dengan cepat berada di samping Leonardo maupun Lily.


"" Cukup di situ, para warga!!"" Suara ini adalah milik Allan. Dia melindungi dua orang itu.


Seketika para warga terhenti. Allan semua orang di kota ini kenal dengannya, dia selalu menghasut para warga untuk memberontak, namun warga menolak karena takut akan amarah Edward.


Mereka semua menatap terkejut ke Allan.


"Operasi ini kami juga bersalah! Tidak mereka orang yang bahkan berasal dari luar kota bahkan mau memberontak, mereka menyadari kebusukan kota ini. Tapi kenapa selama ini kalian hanya diam dan menatap saja."


"Banyak para budak yang berasal dari kota Oz, tidak dulunya kota ini Warmate.. Para budak berasal dari pihak kami, kalian mencemooh mereka. Meskipun itu hanya sandiwara agar selamat dari Edward, namun kalian tetap saja sampah!"


""Mereka berdua yang bertarung untuk kota ini lebih baik dari kalian yang mengikuti EDWARD!""


Mendengar dialog panjang lebar dari Allan membuat sebagian warga terdiam, namun kecuali satu pria yang seumuran 40 tahun.


"Jangan bercanda! Kami mengikuti Edward bukan karena suak.. Kami para warga OZ ingin melakukan sesuatu, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya menambahkan korban."


""Cukup tentang hal itu!!""


Semua warga membuka mata lebar.


"Edward sekarang telah pergi. Ini semua karena perjuangan dua orang ini.. Yang kehilangan bukan hanya kalian.. Temanku Jhon juga mati, teman mereka Monika juga sama!"


"Berhenti merengek dan mari buat kota ini lebih baik! Dasar warga bodoh!"


Semua warga terdiam, tapi ada satu kakek yang cukup tua menghampiri Allan. Dia terlihat sangat tua.


"Haha, anak Allan. Aku tak menyangka bahwa kamu sudah berubah seperti ini! Padahal dulu kamu hanya anak nakal. hahaha."


"Kakek Tenzo? Anda.. Anda masih hidup?"


"Hahaha, tentu saja. Setelah kebakaran beberapa tahun yang lalu aku pergi di desa dekat sini. Aku awalnya hidup dengan tenang.. Tapi setelah beberapa tahun aku mendengar kabar bahwa kota Warmate telah kembali dengan nama baru yaitu OZ."


"Aku mencoba kembali ke kota, tapi itu sangat berbeda semua tampak tak waras. Dan sekarang separuh harapan muncul. Kalian para anak muda bertarung demi mengusir Edward. Itu benar-benar hal yang indah."


"Allan, kamu yang sekarang akan bisa menjadi pemimpin yang baik."


Allan hanya tertawa kecil menganggap itu candaan.


"Itu benar, anak cerewet yang selalu memaksa kita untuk memberontak! Kamu satu-satunya yang paling peduli akan kota."


"" Oleh karena itu Allan, jadilah pemimpin baru kami.""


Para warga di sana terlihat tersenyum kembali dan menatap Allan penuh harapan.


Dengan wajah yang malu Allan menerima itu.


"Jadi pemimpin ya? Baiklah akan kulakukan."

__ADS_1


Para warga bersorak-sorak dan tampak bahagia begitu pun dengan Allan. Ditengah kebahagiaan itu Lily dan Leonardo tersenyum hangat. Mereka saling memegang tangan dan kembali menuju ke tempat tujuan. Kedua orang itu merasakan rasa hangat yang baru di kota ini, ke duanya sangat yakin bahwa kota OZ tempat pertama kalinya mereka bertemu serta tinggal saat kecil pasti akan kembali lagi menjadi lebih baik.


__ADS_2