
Kembali lagi Ke Leonardo dan lain-lain. Mereka semua sekarang sedang berlari di tengah kota menghindari kejaran para musuh.
Leonardo menggenggam tangan Monika yang dari tadi terlihat pucat, lemas, dan tak berdaya. Dia sempat berpikir mungkin terjadi sesuatu dengan Monika, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.
Seharusnya seperti itu. Tapi Leonardo mengingat ucapan dari Lily beberapa waktu yang lalu.
[Tidak bisa... Leo ... kita tak boleh pergi. Kalau kita pergi sesuatu yang buruk akan terjadi.]
'Apa yang sebenarnya dia maksud? Mungkin Lily tahu sesuatu.'
Leonardo memutar tubuh, dia kembali menatap Lily. Tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, dia bahkan terlihat sama seperti Monika pucat, lemas dan terus menatap ke bawah.
'Dia sama saja. Aku merasa bersalah, tapi aku akan menanyakan'
Leonardo membuka mulut yang serasa berat itu.
"Lily apa maksud dari ucapanmu tadi?"
Gadis pirang itu memperlambat langkahnya. Seolah terkejut mata biru itu terbuka lebar.
"Itu-"
Belum selesai berbicara segerombolan bawahan Edward terus mengejar mereka, bahkan ada yang telah mengayunkan pedang dan hampir mengenai Lily yang terdiam.
Tangan Leonardo sangat cepat dia langsung menarik gadis pirang itu agar berada di pelukannya hal ini dilakukan supaya serangannya meleset. Setelah itu Leonardo melancarkan satu pukulan keras ke pipi orang tersebut. Dia terjatuh di tanah.
Leonardo mengambil kesempatan itu untuk kembali berlari. Kali ini dia tak tertarik lagi dengan ucapan Lily beberapa saat yang lalu, karena dia sadar mungkin itu pembicaraan yang susah dikatakan yang lebih penting adalah kedua gadis itu sedang berada di genggamnya.
Mereka terus berlari, menerobos beberapa orang yang mengganggu, menghancurkan beberapa kios kios, namun jumlah musuh seperti tak berkurang dan terus bertambah.
"Senior, kalian pergilah terlebih dahulu biar aku yang atasi para bawahan ini."
Leonardo hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia sangat yakin bahwa Razor pasti bisa menahan mereka tanpa kesusahan, jadi dia meninggalkan Razor sendirian melawan para kroco dari Edward.
Sekarang Lily, Monika, Leonardo dan Raphael berlari jauh meninggalkan Razor yang sedang bertarung di belakang. Di sepanjang jalan nafas Monika semakin tak normal, wajah miliknya menjadi sangat pucat menyadari ada yang salah dengan gadis itu dan suasana telah sepi Leonardo menghentikan langkah dan menatap ke arah Monika.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Leonardo, dia memegang kening Monika dan merasakan panas yang luar biasa.
'Sangat panas apa dia demam? Tidak aku rasa demam tak akan mengeluarkan panas seperti ini.'
Nafas Monika semakin parah, kedua pipinya memerah dengan kondisi seperti itu dia memaksa untuk tersenyum, dia menatap Leonardo dengan mata lemas.
"Hah... hah... aku tidak apa-apa hanya sedikit lelah?"
"Mau istirahat nona Monika?" Raphael berjalan ke arah Monika. Namun dijawab dengan gelengan kepala.
"Tidak... yang lebih penting ayo pergi sekarang!"
Mata Monika terlihat sangat lemas, seperti orang yang tak memiliki tenaga, namun dari tatapan itu memiliki rasa semangat yang masih tinggi, jadi Leonardo terpaksa mengikuti apa yang diinginkan gadis ini. Karena dia tahu sebanyak apapun Leonardo berusaha Monika pasti akan menolak.
"Ya, ayo!"
Mereka bertiga saling bertatapan, memunculkan wajah khawatir dan kembali berlari. Sebenarnya disepanjang langkah kaki, Leonardo maupun Raphael entah kenapa merasakan firasat yang buruk. Sedangkan Lily dia tampak sangat khawatir dan sedikit ketakutan. Leonardo tahu mungkin saja Lily tahu sesuatu, namun dia tak berani bertanya karena kasihan kepada Lily.
"...."
Hening meskipun musuh tak mengejar, namun kali ini semua orang merasakan firasat yang buruk dan dapat merasakan hawa negatif mereka tak tahu betul, namun perasaan ini sangat tak enak untuk dibahas.
"Hah... hah... hah..."
Pandangan Monika makin kabur, jalannya mulai sempoyongan, nafas pun berantakan.
"Monika kamu yakin tak apa-"
Belum selesai bicara Leonardo melihat bibir Monika yang mengeluarkan darah segar yang terus mengalir. Mata Leonardo dan teman lainnya melebar, padahal dia tak menerima serangan apapun, namun dari mana dia mendapatkan luka itu.
"hehe.. kalian jangan menatapku seperti itu.. aku baik-baik saja."
__ADS_1
'Aku berharap seperti itu, namun Monika wajahmu tak mengambarkan itu.'
Leonardo memperlambat langkahnya. Dia berencana untuk berhenti sejenak.
"Monika sepertinya kita memang lebih baik untuk istirahat dulu!" Leonardo masih mencoba membujuknya.
Nafas yang tak beraturan sekali lagi menganggunya, bahkan kali ini Monika tak menjawab seolah mengisyaratkan bahwa untuk berbicara pun sangat sakit.
"... ne.. semuanya.."
Semua orang menatap ke Monika. Gadis itu terlihat tersenyum tulus dari lubuk hatinya. Mungkin semua akan terharu, namun tidak untuk mereka. Semua tak bisa berhenti menatap bibir yang penuh darah itu.
"... terima kasih semuanya..."
Mata Monika tertutup rapat, perlahan tubuhnya terjatuh lemas di tanah. Semua orang menatap tubuh itu dan tak percaya. Bahkan Lily sudah kebanjiran air mata dan langsung memeluk tubuh Monika. Di saat seperti ini hanya ada satu kemungkinan besar yaitu Monika sudah mati.
Bahkan tanpa terkena serangan, dia mati.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Semua orang tak mengetahui jawaban itu. Tidak Leonardo merasa mungkin Lily tahu sesuatu, tapi sekali lagi melihatnya yang menangis serta memeluk mayat Monika membuat hatinya serasa ditusuk puluhan pedang, walaupun rasa dihatinya sangat rusak dan sedih, anehnya pria itu tak bisa meneteskan satu pun air mata maupun ekspresi sedih. Dia benar-benar kosong.
"Monika!"
Monika! Hikss.. hikss"
"Kamu bercanda kan Monika? Kamu tak akan mati hanya karena hal itu kan? Maaf Monika! Maaf, Semuanya salahku!"
Mencoba menenangkan Lily, Leonardo ingin memegang kepala gadis itu, namun dia berhenti. Dia merasakan hawa keberadaan yang tak asing dan mencengkram.
"Hee... akhirnya mati juga budakku yang satunya."
Edward berjalan ke arah mereka, dia tersenyum penuh ejekan.
Rasa amarah merasuki Leonardo, di situasi seperti ini dia sangat tahu. Pasti Edward telah melakukan sesuatu. Dia mengenggam pedang dengan sangat erat bahkan hingga mengeluarkan darah tanpa menunggu waktu lama dia berlari sangat cepat bahkan hingga rambut teman-teman yang berdiri disampingnya terhembus dan langsung mengayunkan pedang mengarah ke leher Edward.
"Kenapa kamu tiba-tiba marah?"
"BERISIK! INI PASTI ULAHMU KAN EDWARD! BENARKAN?!"
"Hahaha... apa yang tiba-tiba kamu katakan? Oh, aku paham. Ini tentang gadis yang mati itu kan?"
Mendengar ucapannya Leonardo makin menekan ganggang pedang, berharap dapat mengenai leher Edward. Namun percuma. Tatapan Leonardo penuh emosi.
"Tenanglah! Aku tak melakukan apapun? Dan mungkin gadis pirang itu tahu sesuatu?"
Leonardo berhenti menyerang dia menatap ke belakang, pandangannya menatap jelas ke Lily yang menangis.
[Tidak bisa... Leo ... kita tak boleh pergi. Kalau kita pergi sesuatu yang buruk akan terjadi.]
Tunggu, apa ini ada hubungannya dengan ucapan Lily..
"Woi! Lily budakku, kenapa kamu tak menjelaskan situasi ini? Oh, aku paham kamu tak ingin disalahin kan?" Edward tersenyum mengejek, namun Leo membiarkan itu. Dia masih menatap mata Lily yang berkaca-kaca.
"Bukan.. bukan seperti itu aku hanya.."
"Apanya yang bukan?! Yang membunuh gadis itu bukan aku ataupun siapapun.. Itu adalah kamu.. hahaha.." Edward masih tertawa dan mengolok-olok Lily.
Air mata Lily terus menetes,
"Tidak! Aku tak melakukan hal yang salah.. Aku hanya ingin membebaskan Monika dari rasa sakitnya, aku tak menyangka hal-"
"Tak menyangka?! Itu salah, kamu hanya tak mau menerima kenyataan.. Kamu berpura-pura lupa dengan aturan budak itu."
"Aturan di mana semua budak akan mati jika pergi terlalu jauh dengan majikannya."
[jika mereka menjauh dari pemiliknya meskipun hanya beberapa kilometer maka jantung mereka akan hancur dan mereka mati. Apapun yang kau lakukan percuma!]
__ADS_1
'Benar juga Lily dulu pernah berkata seperti itu, tapi selama ini meskipun kita telah bersembunyi Monika tak mengalami apapun. Jadi aku melupakan ucapan itu. Kenapa efeknya baru mulai sekarang.. Jangan bilang!..' Leo sudah sadar sesuatu.
"Semua adalah salahmu dasar anak bodoh! karena keinginanmu yang ikut campur itulah alasan kenapa gadis itu mati!" Edward menaikan nadanya.
Kali ini Lily tak bisa berkata-kata, air mata telah bercucuran dia mematung dan terlihat seperti frustasi, gadis ini pasti merasakan rasa bersalah akan hal yang bahkan bukan salahnya.
Leonardo sebenarnya ingin memukul Edward, namun sekarang yang terpenting ada Lily, dia harus melakukan sesuatu agar dia tenang.
Leo berjalan ke arah Lily. Namun Lily tampak makin menangis dan ketakutan, dia berpikir bahwa Leonardo akan menghakiminya.
Tak mau menatap Lily memutuskan mengalihkan pandangannya.
"Maaf... maaf.. Leo ini semua salahku aku benar-benar minta maaf.. maaf Leo-"
Pelukan hangat meraba tubuh Lily. Leonardo memeluk tubuh mungil gadis ini agar tenang, dia tak lupa mengelus pundaknya.
"Tidak kamu tak bersalah Lily... semua akan baik-baik saja ada aku."
Leonardo memperkuat pelukannya.
"Yang salah justru aku Lily... Maaf... Kemungkinan Edward sudah berada di sekitar kita setiap hari, dia pasti sadar semua aktivitas kita dan membiarkannya, mungkin dia menikmati senyuman kita sebelum menghancurkannya. Itu alasan kenapa lingkaran sihir Monika tak berfungsi sejak kemarin. Ini juga menjawab kenapa si badut ini dari tadi tak berencana mengejar dan mengirim anak buah, dia hanya ingin membunuh Monika secara tak langsung dan merusak mentalmu. Jadi tenanglah."
Leonardo melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Lily menggunakan tangan kanannya dengan sangat lembut. Lily bisa merasakan kehangatan dari tangan pria itu. Leo terus menyeka air mata itu dan tersenyum hangat ke arah Lily yang menangis.
"Aku tak suka Lily yang menangis. Melihat tangisanmu entah kenapa menyayat hatiku. Aku lebih suka kamu yang tersenyum."
"Kamu tak bersalah Lily. Yang salah adalah aku, seandanya aku sadar bahwa Edward selalu ada di dekat kita mungkin aku bisa membunuhnya dan hal seperti ini tak terjadi.. Kamu tak bersalah, jadi tersenyumlah!"
Leonardo berhenti menyeka air mata Lily dan berdiri, sebelum melanjutkan pertarungan dia mengelus kepala Lily agar semakin tenang.
"Lily kamu pergilah! Biar aku yang urus dia."
"Tapi leo-"
"Raphael, kamu tahu kan?"
"Yap, aku akan membawa nona ke tempat aman."
"Pastikan hal itu jadi kenyataan, jika tidak mungkin kamu bisa jadi targetku selanjutnya."
"Aku paham... ayo nona.."
Raphael menggendong Lily, serta mayat Monika dan pergi dari tempat ini. Lily terus memberontak, namun Raphael lebih kuat, dia makin menggendong serta memeluknya dengan lebih erat.
Saat ini kondisi telah sepi hanya ada dua orang. Yaitu Leonardo dan Edward yang saling bertatapan dengan penuh kebencian. Angin menerpa rambut kedua orang tersebut, suasana sekarang menjadi sangat mencengkram.
Edward tersenyum dan menepuk tangan.
"Hebat... tak kusangka kamu setenang itu, padahal teman kalian sedang mati. Tapi hebat sekali kamu bisa tenang. Aku salut denganmu. Kamu bahkan menyadari bahwa aku selalu berada di dekat kalian, yah, walaupun kau telat menyadarinya."
Leonardo tak merespon, dia terus menatap ke arah bunga merah yang selalu dipakai oleh Monika di telinganya. Dia tak tahu jenis apa bunga itu, namun melihat bunga itu makin membuat emosi meluap, dia semakin sadar bahwa Monika benar-benar telah mati.
"Kamu terus menatap bunga itu ya?... Oh, apa kamu tahu? Bunga itu bernama Dod Bloem bunga merah yang akan mati bila di cabut. Entah kenapa sangat mirip ya dengan gadis rendahan itu."
Leo melebarkan mata, dia makin emosi. Hawa dingin, aura putih dan angin kencang mengitari sekitar bahkan tanah sampai membeku hingga sekitar 10 meter.
"Berisik Edward! Kamu bilang aku 'tenang?' mana bisa aku tenang, saat temanku mati di depan mata."
"Lalu kenapa tadi kamu berprilaku seolah tak terjadi apa-apa? Dan menyuruh gadis itu pergi?"
"Itu karena aku tak ingin Lily melihat scene dan sifat burukku ini."
"He, apa maksudmu?"
"Sudah jelas, scene dimana kepalamu terpenggal. Itulah yang akan terjadi beberapa saat kedepan."
Edward tersenyum lebar, dia sekarang menikmati suasana yang terjadi.
__ADS_1
"Sungguh menarik."