The Repeater

The Repeater
34. Menang atau kalah


__ADS_3

"Hah.. hah.. hah.."


Dengan nafas yang terengah-engah dan tenaga yang telah habis Leonardo berjalan menuju bongkahan es itu, dia ingin menatap Edward yang telah membeku itu. Rasa tak percaya masih ada di hatinya, dia belum yakin bila pertarungan ini berakhir.


Langkah demi langkah dia lakukan, tapi dia terjatuh ke tanah mungkin karena terlalu banyak bertarung atau energinya telah habis. Apapun itu sekarang dia tergeletak di tanah dan nafasnya makin tak beraturan.


Namun pria ini masih berusaha untuk berdiri lagi. Dia menancapkan pedang ke tanah agar dapat mengangkat tubuh lemah itu. Dia berhasil dan sekarang masih berlutut di tanah, tapi tampaknya percuma dia sekali lagi terjatuh.


[Leo, jangan paksakan diri! Pertarungan telah berakhir, lihat musuh dengan serius! Dia telah membeku.]


Aku tahu, tapi.. tapi aku punya firasat buruk..


* Swosh


Sesuatu bergerak sangat cepat membuat angin berhembusan, Leonardo membuka mata lebar karena menyadari sesuatu datang, kali ini memiliki aura jahat, gelap, dan kelam. Perasaan ini dia pernah bertemu sekali.


Semakin dekat dan semakin dekat. Sosok itu terlihat jelas sedang terbang. Membawa sabit di tangan, sekujur tubuh hitam, tanduk di kepala, dan memiliki sayap seperti kelelawar di pundaknya makhluk ini adalah Rukh yang dia lawan beberapa hari yang lalu.


Dia adalah Rukh yang aku dan Razor lawan beberapa hari yang lalu kan? Kenapa dia berada di sini?.


Rukh itu terbang melayang ke arah Edward. Tangan kirinya mengumpulkan energi sihir berupa angin. Angin terus berkumpul di tangan kiri membentuk tombak angin yang terlihat amat tajam.


Leonardo sekali terkejut.


Rukh mengunakan sihir?..


Apapun itu. Situasi ini gawat aku harus melakukan sesuatu.


Leonardo mengangkat tubuh yang tergeletak di tanah, tapi semua terlambat. Dia membuka mata lebar saat melihat hal yang membuat putus asa.


* Brak


Angin tombak itu dilemparkan ke arah es milik Leonardo dan dengan cepat menciptakan angin yang amat kuat, bahkan es milik Leonardo langsung hancur dengan mudah es bagaikan menghancurkan kaca.


Leonardo seharusnya terhempas sangat jauh karena angin itu kuat, namun beruntung dia berada di balik es sehingga dia tak terlalu menerima efek dari angin itu, namun tak merubah fakta bahwa es itu hancur. Dengan kata lain Edward sekarang telah kembali lagi.


Sial! Sial!


Edward terjatuh dari ketinggian. Ini wajar karena saat membeku dia berada di sudut es paling atas. Dia terlihat pingsan dan terjatuh. Namun Rukh itu dengan cepat mengendong pria itu.


Rukh itu menatap tajam ke arah Leonardo yang terkejut. Mata merah rubynya menatap tajam ke arah Leonardo.


"Hebat juga kamu manusia! Ini pertama kalinya aku melihat tuan terpojok hingga seperti ini. Jika aku tak pergi untuk membantu maka pasti dia sudah mati. Tentu saja mati mengginggil."


Tuan? Jadi dia pasti adalah Rukh Edward..


Tapi Razor bilang bahwa dia adalah kumpulan kegelapan kota ini..


"Yah, tapi nasib tak selalu berada di pihak kalian, kami memang kehilangan banyak anak buah bahkan para top 3 sudah kalah total dan aku serta tuan Edward pasti harus pergi. Ini mungkin seperti kami yang kalah, namun jika melihat dari atas seperti ini, aku bisa simpulkan. Kalian juga kalah."

__ADS_1


Leonardo terkejut mendengar apa yang rukh itu katakan. Dia dengan cepat berdiri dan menoleh ke segala arah. Di sana memang tak ada banyak penduduk, tapi semua perumahan terlihat hancur, bangunan yang sebelumnya kokoh semua telah hancur, dan dia yakin tak hanya di tempat ini. Pasti tempat lain sekarang sudah bobrok dan bisa saja banyak korban jiwa yang melayang.


"Perang ini adalah demi menyelamatkan dua gadis kan? Hanya demi dua orang gadis kalian mengorbankan banyak orang di kota ini dan pada akhirnya apa yang kalian dapat? Benar itu kegagalan."


Hati Leonardo terasa tertusuk dia tahu arah pembicaraan ini.


"Pada akhirnya kalian tak dapat menyelamatkan gadis itu, padahal kalian telah mengorbankan banyak nyawa. Kalian sangat egois! Sok melakukan hal baik, tapi pada akhirnya yang kalian lakukan hanya memperparah keadaan. Yah, pada akhirnya kalian sama saja dengan kita."


"Persiapkan diri untuk dibenci. Manusia."


"Pertarungan ini Kamilah pemenangnya!"


Setelah itu tanpa banyak percakapan Rukh milik Edward pergi begitu saja meninggalkan Leonardo yang telah kelelahan dan membisu di sana. Dia terus menatap ke langit mengingat berbagai usaha yang dia lakukan.


Dia susah payah melawan para bawahan Edward, belari seujung kota, melawan Edward dan pada akhirnya Edward masih selamat. Skenario terburuk pun terjadi, Monika mati. Memikirkan itu saja membuat hatinya menjadi panas serta sakit.


Nafasnya menjadi sangat berantakan, dia benar-benar tak mau menerima fakta itu. Tubuhnya mulai melemas dia perlahan menutup mata.


"Woi, senior! Senior!"


Dengan Kepala dan tubuh yang babak belur Leo mantap ke sumber suara, dia melihat Razor yang berlari menujunya. Tubuh dia juga babak belur, pasti dia melawan banyak musuh.


"Bagaimana keadaan di sini? Apakah Monika berhasil selamat? Dan Edward, senior pasti menendang pantat pria brengsek itu kan."


Dengan penuh harapan Razor bertanya, dia belum mengetahui fakta menyakitkan yang menanti. Leonardo juga kesusahan dalam bagaimana cara menjelaskan situasi ini.


"Dia kenapa? Selamat kan?" senyum penuh harapan terlukis di wajahnya.


Leonardo menelan ludah, dia menatap serius ke arah Razor. "Ini agak berat, tapi dengar dengan baik-baik... Monika sudah mati."


"?!"


Memasang wajah terkejut itu yang bisa Razor respon sekarang. Tentu saja dia tak bisa menerima fakta ini.


"Apa kamu serius?!"


"Aku serius Razor, aku... aku mana mungkin bercanda di saat seperti ini."


Razor berdisis karena emosi, dia meletakkan tanganya ke pundak Leonardo dan menatap tajam ke arahnya.


"Jadi, sebenarnya apa gunanya usaha kita selama ini?!" Dia menaikan nada, sepertinya Razor tak terima akan kematian Monika.


Razor menghela nafas untuk menenangkan pikirannya, dia melepaskan tangan dari pundak Leonardo dan membalikkan bada menolak untuk menatap Leonardo.


Dia berlari di dinding perumahan dan memukul tembok dengan sangat keras. Dia melampiaskan semua emosi yang sedang ditahan.


"Sial!" Satu pukulan ke dinding.


"Sial!" Pukulan ke dua.

__ADS_1


"Sial!" Pukulan ke tiga.


""Sialan!!"" Pukulan ke empat.


Pukulan terakhir. Pukulan itu berhasil membuat dinding perumahan menjadi hancur. Dan tangan kanan Razor terus mengeluarkan darah setiap dia memukul dinding.


"Ini semua salahku! Jika saja aku lebih cepat datang mungkin hal seperti ini tak terjadi."


Suasana menjadi mendung, hujan telah turun seolah mengerti dan menyesuaikan dengan kondisi perasaan kedua pemuda ini.


"..Tidak, kamu salah Razor.. Monika mati bukan secara langsung. Dia mati karena lingkaran sihir milik Edward..."


"Lingkaran sihir?"


Razor berhenti memukul dinding dan menatap Leonardo. Karena hujan dia tak tahu betul ekpresi orang itu, dia sedang menangis, atau tidak itu tak terlihat jelas. Tapi yang pasti dari mata putihnya Razor paham bahwa Leonardo sangat merasa kehilangan.


"Ya, lingkaran sihir semua terpasang untuk budak. Lingkaran itu akan bereaksi jika si budak pergi beberapa kilometer dari pemilik."


"Jadi begitu, pantas saja Edward tak mengejar kita.. Benar-benar orang brengsek!!"


"Tapi, tunggu.. Itu aneh! Bukannya selama ini Monika berada di penginapan lalu kenapa efeknya baru mulai sekarang?!"


"Selama ini Edward selalu berada di sisi kita. Dia membuntuti kita semua Razor! Mungkin saja Edward memkai suatu sihir untuk menghilangkan hawa keberadaan.. Kita tak sadar bahwa musuh yang kita cari ternyata tepat di depan mata dan justru sedang mengamati kita.. Sial!"


Leonardo memukul tanah.


"Andai saja aku atau kamu sadar keberadaan Edward. Mungkin ini tak terjadi.. Mungkin Monika masih bisa hidup normal, dia bisa tersenyum seperti gadis normal pada umumnya, dia mungkin bisa melanjutkan petualangan bersama kita, dan dia bisa memakai baju normal yang imut... Tapi! Tapi karena kebodohanku semua ini tak terjadi.. Sial! Sial!"


Leonardo terus memukul tanah, dia sangat merasa sedih dan murka. Tapi ada satu kejanggalan di perasaannya, dia sangat merasa kehilangan, tapi air mata tak menetes satu pun.


".. Jadi bagaimana dengan Edward?! Apa kamu berhasil mengalahkannya?"


[ Tapi ini mungkin seperti kami yang kalah, namun jika melihat dari atas seperti ini, aku bisa simpulkan. Kalian juga kalah. ]


[ Pada akhirnya kalian tak dapat menyelamatkan gadis itu, padahal kalian telah mengorbankan banyak nyawa. ]


Leonardo menelan ludah, di teringat akan kejadian Edward yang dibawa kabur oleh Rukhnya. "Dia kabur.. Dia dibawa kabur oleh Rukh yang kita lawan beberapa hari yang lalu."


"Jadi begitu.. Si bangsat itu kabur seenaknya.. Sial!"


".. Maaf.."


"Senior tak perlu meminta maa-"


Leonardo menutup mata perlahan, tubuhnya terjatuh ke permukaan tanah, dia pingsan karena kejadian tak terduga terus terjadi. Untug saja Razor bergerak cepat dia menahan tubuh yang jatuh itu dan berkata,


"Istirahat yang tenang senior, karena peristiwa selanjutnya akan menjadi lebih berat. Karena salah kita kota ini jadi hancur berantakan, kita pasti akan dibenci satu kota."


Rezor menatap langit yang hujan deras itu dengan pandangan kosong.

__ADS_1


__ADS_2